Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 29. Perayaan Pertama


__ADS_3

Kedatangan Lek No dan Bulek Ratih ke rumah dinas Satrio segera diketahui Ninuk. Tak sampai dua jam kemudian gadis tomboi itu sudah muncul di depan rumah Satrio dengan motor Scoopy kesayangannya yang berwarna maron itu.


" Masuk, aja!"  Panggil Asti , melihat sepupunya itu ragu- ragu karena hanya berdiri di depan pintu depan.


" Assalamu'alaikum!"salam Ninuk sambil membuka pintu.


Di dalam ada terdengar sambutan dari salam Ninuk. Tampak Asti duduk di lantai dengan alas karpet bersama Bu lek Ratih dan Bude Prapti. Sementara di ruang belakang ada percakapan Satrio dan Lek No. Di meja makan yang tak terlalu besar itu tampak disajikan bermacam panganan dan semangkuk asinan buah.


" Kalau sudah sholat Dzuhur langsung makan saja, Ninuk. Kami baru saja selesai makan." Ujar Bude Prapti yang segera menyiapkan piring dan sendok untuk Ninuk makan yang diambilnya dari rak piring di dapur.


Ninuk hanya mengangguk, sambil mencuci tangganya. Dia segera mengambil piring dan menyendok nasi, sayur dan lauk - pauknya.  Gadis remaja itu tampak sangat menikmati setiap sendok makanan yang masuk ke dalam mulutnya.


Maklum setelah kelas 12 SMA , para guru mulai menyiapkan berbagai latihan soal untuk ujian akhir dan persiapan UN. Tiap hari soal dan mengerjakan soal. Makanya dia nekat menyusul ke rumah Mas Satrio saat mendengar orang tuanya ada di sini dan menginap lagi.


"Ibu sama Bapak nginap berapa hari, di sini ?" tanyanya kepo.


Maklum di kamar kostnya dia hanya mempunyai penanak nasi kecil, dan sebuah panci serbaguna dari listrik. Sehari-hari dia makan nasi dengan mie instan dan membeli lauk matang. Kadang Ninuk bosan dengan menu itu. Apalagi dia harus berhemat dengan uang jajan dalam satu bulannya.


"Cuma semalam aja, kok. " Ujar Lek No. " Bagaimana sekolahmu , Ninuk?"


"Lagi persiapan ujian, Pak, Bu. Ujian tinggal 2 bulan lagi!"


Ternyata mereka sedang membahas soal nujuh bulan untuk Kehamilan Asti. Walaupun acara itu hanya berupa selamatan sederhana, dengan mengadakan pengajian. Namun orang tua Satrio dan kerabatnya harus diberi tahu.

__ADS_1


Belum lagi, semua orang di kompleks perumahan ini juga harus diundang, minimal mendapat berkat dari acara selamatan itu.


" Biar kita pesan nasi boks saja untuk diberikan kepada tetangga dan tamu undangan. Nanti untuk tamu dan undangan baru Bulek Ratih yang masak gimana?" Ujar Satrio memberi jalan keluar.


" Ya, begitu aja. Biar tidak repot! " bisik Asti. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana Bulek Ratih akan masak berbagai jenis makanan di dapur rumah dinas yang kecil dan sempit ini.


Belum lagi dia hanya mempunyai peralatan masak yang sekedarnya saja. Dari kompor gas yang hanya satu tungku, wajan ala anti lengket dan dua buah panci untuk masak sayur yang cukup hanya untuk 1 liter.


Lain halnya peralatan masak di dapur mereka di desa. Tak perlu kompor. Biasanya mereka membuat tungku di halaman dapur yang terbuka. Bahan bakar kayu kering cukup tersedia banyak di sana. Segala alat masak dari wajan, dandang dan kuali besar dari baja sudah dibeli Bude Ayu bertahun- tahun yang lalu. Sebab Bude Ayu, Bulek Ratih dan Bu Haji Anissa selalu membuat berbagai masakan untuk dibagikan kepada orang banyak dalam kegiatan keagamaan juga perayaan tertentu di desa


Kata orang desanya disebut pemberian untuk acara merayakan maulid Nabi Muhammad Saw, sampai menyiapkan hidangan besar untuk para bapak- bapak yang bekerja bakti memotong Qur'an di hari Raya Idul adha.


Bahkan Bu Kades Fitri Rini, sering mempercayakan trio ibu Desa Sendang Mulyo itu untuk menyiapkan hidangan tumpeng di perayaan kemerdekaan RI atau makan - makan di acara rembuk desa. Kalau sudah dikerjakan Bude Ayu, Ibu Haji Anissa dan Bulek Ratih semua beres....


Mereka juga sering dimintai tolong oleh beberapa warga saat ada acara akikahan dengan memotong kambing. Bila bayi yang lahir berjenis laki- laki harus menyiapkan dua ekor kambing sebagai Syaratnya. Sedangkan bila lahir bayi perempuan hanya memerlukan satu ekor kambing.


" Asti, Mbak Sasya akan menghandle nasi boks itu dari katering langganannya.." Berita dari Satrio itu mengejutkan Asti.


" Apa nggak merepotkan Mbak Sasya? dari Solo kan lumayan jauh dari kota ini !"


"Tenang aja, katanya katering langganan Mbak Sasya ada yang baru buka cabang di kota ini bulan lalu, jadi ini pesanan perdana dari Mbak Sasya."


Segala rencana untuk acara tujuh bulanan atau mitoni dalam bahasa Jawa, menjadi semakin matang. Apalagi ada orang tua Satrio yang kini menjadi orang tua buat Asti.

__ADS_1


Ibu Widya memang lebih suka acara itu lebih banyak untuk mendoakan agar calon cucunya lahir dengan selamat.


Acara itu akan dilangsungkan pada pukul 13.00. Setelah Satrio dapat izin pulang lebih dahulu. Pria itu langsung mengganti seragamnya dengan baju Koko yang sudah disiapkan oleh Asti.


Rumah ini sudah dipenuhi oleh para tetangga Asti dari desa dan beberapa ibu tetangga yang tergabung bersama Asti dalam kelompok pengajian di seberang perumahan.


Para ibu- ibu itu mengaji bersama - sama dipimpin oleh seorang Ustazah muda. Setelah itu wanita berparas manis itu mengisi ceramah yang lebih banyak memberikan wejangan pentingnya pendidikan agama untuk mendidik anak di dalam sebuah keluarga.


Ibu- ibu itu menikmati hidangan soto segar yang disiapkan oleh Bulek Ratih dan Bude Prapti setelah menyajikan kue- kue dan minuman.


Satrio tidak terkejut ketika Asti dan Ustazah Hanifah itu berbicara berdua dengan akrab. Sesekali wanita yang juga mendirikan PAUD di sebelah masjid besar itu mengelus perut besar Asti sambil membacakan doa.


Suasana semakin meriah ketika datang rombongan tamu berseragam polisi. Mereka semua bekerja sekantor dengan Satrio dan mendapat undangan.


" Selamat, Bu. Semoga lancar sampai melahirkan nanti! "Doa bapak - bapak itu.


Asti menjawab doa dan hanya dengan mengatupkan kedua tangannya di dada untuk membalas salam mereka. Satrio juga terus mendampingi istrinya itu saat membantu kedua kerabatnya menyiapkan sajian untuk tamu.


Setelah acara pengajian selesai, Lek No dibantu Ninuk mengantar nasi boks ke semua tetangga Satrio yang tinggal di kompleks perumahan khusus untuk anggota kepolisian tersebut.


" Alhamdulillah, lancar dan tidak kurang suatu apapun..." Seru Ibu Widya dan Bulek Ratih berbarengan ketika melihat Lek No dan Ninuk kembali ke rumah.


" Mbak Sasya terima kasih banyak atas segala bantuannya...!"Ujar Asti saat Kakak Iparnya itu pamit kembali ke Solo. Mbak Sasya tadi datang bersama supirnya yang mengendarai mobil sedan yang mewah dan anggun, berwarna silver.

__ADS_1


Wanita cantik dengan kerudung yang di sampaikan di pundaknya itu memeluk tubuh bulat Asti." Tenang saja, Asti. Nanti biaya sisanya saya minta dari Satrio. Oke?"


Ada tawa Bude Widya dan Pak Cahyadi yang sudah ada di mobil mahal itu. Rencananya kedua orang tua Satrio akan menginap dulu di rumah Kakaknya Satrio itu di Solo sampai beberapa hari ke depan. Lalu menginap di rumah Satrio sebelum kembali ke Purwokerto lagi.


__ADS_2