Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 201. Joko Mulai Bertindak


__ADS_3

Sebenarnya, Joko sudah mengisyaratkan kepada Leon, agar dia saja sendiri yang akan menggurus masalah Almira. Sebab Mas Qosim pun tak berani mengelak. Karena berkat kecerobohan dia juga, Almira dapat mengintip kegiatan bisnisnya dengan Pak Leon.


Pak Cakra ikut menemani Joko pergi ke Solo. Walaupun mereka nanti akan berhadapan dengan seorang perempuan yang sering disebut juga sebagai makhluk yang lemah. Namun tindakan Almira itu sudah di luar batas kewajaran sikap dan kepribadian seorang perempuan pada umumnya.


Apa dia begitu tinggi menilai kelebihan dan keunggulan pada dirinya? Sehingga dia melupakan bunyi suatu pepatah yang menyatakan " Di atas langit masih ada langit" Sehingga wanita itu tidak dapat menerima penolakan dari seorang Leon. Yang menurut penilaian Almira, kalau sosok Asti yang menjadi pilihan lelaki itu, kalah jauh nilainya dibandingkan dengan segala kelebihan yang ada pada dirinya.


Jadilah, Almira terus berjuang. Terutama untuk membalas kekalahan, sakit hati dan kehancuran rumah tangganya itu. Dia punya seribu cara untuk melakukan hal seperti itu. Walaupun dengan cara yang paling kotor sekalipun.


Sosok Asti menurut pengamatan Almira, terlalu sederhana untuk mengimbangi kehebatan Pak Leon, sebagai pasangan maupun seorang istri. Padahal karier dan kemampuannya pria itu semakin cemerlang. Setelah dipercaya mengelola sebuah proyek pembangunan perumahan, yang terbilang merupakan proyek terbesar di kabupaten ini.


Bahkan menurut Almira, wanita yang sudah berstatus janda cerai beranak satu itu bernilai rendah... Seorang wanita desa yang tak mampu mengikat kesetiaan suaminya pada pernikahan terdahulunya. Bahkan dulunya, Almira pun menerima pekerjaan mengatur semua tatanan di rumah baru milik Asti itu dengan sebelah mata. Kalau tidak karena sedikit tertantang karena secara tidak sengaja mendengar pujian dari Mas Adam tentang Asti dengan kemandiriannya.


Sampai Almira cukup kagum, setelah melihat rumah baru Asti yang dibangun itu bergaya minimalis modern. Kata Mas Adam, dia merancang konsep itu atas permintaan Asti.


Semua ruangan di lantai satu dan dua dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sehingga berbagai sisa ruangan dapat dijadikan tempat untuk menyimpan sesuatu, sehingga tercipta tatanan rumah yang bersih, rapi dan nyaman.


Barulah, Almira menyadari kalau uang Asti Ternyata cukup banyak juga! Sebab dia tak hanya membangun rumah dua lantai saja. Wanita itu berniat untuk membangun ruko. Bahkan Asti juga meminta Mas Adam untuk merancang pembangunan empat ruko yang berada di samping kiri rumah Asti. Ruko yang dibangun itu menghadap jalan raya utama, yang menghubungkan 4 daerah utama di timur Jawa Tengah.


Selama ini, dari kecil sampai remaja, Almira dan keluarganya tinggal di sebuah desa. Menurut pengamatan Almira, sekaya- kayanya orang desa itu, pasti mereka lebih mementingkan untuk urusan sawahnya, demi kelangsungan penghidupan keluarganya.


Beruntungnya, ayah Almira seorang guru sekolah yang mengabdi di sebuah SD negeri yang ada di desanya. Ayahnya itulah yang selalu mendorong anak-anaknya untuk tekun belajar. Karena nasehat beliaulah, Almira menjadi murid berprestasi karena kecerdasannya... Sampai Almira pun mendapatkan bangku di sebuah PTN bergensi pun, berkat nilai rapot di sekolahnya yang cukup bagus.


Asti walaupun orang yang kaya, dia hanyalah lulusan SMA. Tentu keluarganya sangat sayang untuk mengeluarkan uang lebih banyak lagi untuk membiayai dia kuliah di kota lain. Sebab pada masa itu, seorang anak yang melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi, pasti orang tuanya harus menyiapkan dana yang cukup besar jumlahnya.

__ADS_1


Apalagi kalau mereka harus kuliah di kampus swasta. Setidaknya mereka harus dapat mengirimkan cukup uang untuk biaya kuliah anaknya per-semester. Kalau anaknya kuliah di kota lain, harus dipikirkan biaya sewa kost untuk tiap bulannya, uang makan harian, uang transpor untuk ke kampus, membeli buku diktat kuliah yang harganya juga tidak murah. Belum lagi keperluan untuk biaya dan tugas-tugasnya kuliah yang lainnnya.


Sedangkan pada umumnya masyarakat di desa, pemikirannya masih sangat sederhana...Mereka masih menganggap peran penting seorang wanita atau perempuan hanyalah di dapur. Jadi mereka tidak terlalu mementingkan pendidikan untuk anak perempuannya. Cukup bisa baca, tulis dan hitung saja. Kalau di sekolahkan sangat tinggi pun, mereka juga nanti akhirnya akan mengurus dapur juga.


***


Pak Cakra kagum dengan cara Joko membaca share Lok yang diberikan Mas Qosim pada pertemuan mereka kemarin di kantor. Mungkin karena sudah sering menyambangi kota itu, jadi Joko bisa mengambil jalan pintas yang terdekat menuju tempat yang mereka cari.


Daerah tempat kos Almira itu ada di suatu kampung di pinggiran kota Solo, yang berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo. Walaupun begitu jalan yang mereka lalui untuk mencapai ke daerah itu malah sudah bagus, lebar dan beraspal mulus. Tandanya kota itu memang cukup merata kemajuan pembangunannya.


Pada sebuah bangunan besar dan berlantai dua itulah rumah yang dibuat kos-kosan . Mobil yang d kemudikan Joko segera mencari lahan yang lebih aman di tepi jalan yang cukup ramai itu.


Sekali lagi, Joko mencocokkan alamat dan nomor rumah itu agar tak salah.


Ternyata di sebelah utara jalan raya ini, ada sebuah pabrik tekstil yang cukup besar dan terkenal juga namanya. Jadi tempat kost ini pun banyak dihuni oleh para pekerja wanita di pabrik tersebut yang jabatannya sudah cukup tinggi. Sebab kamar kost di tempat ini terbilang cukup bagus, karena harga sewanya juga lebih tinggi bila dibandingkan sewa kamar kost di tempat lain.


Joko dengan hati- hati menyampaikan tujuannya ke rumah kost ini. Pak Sudi, demikianlah nama pria yang dipercaya Ayah Mbak Nur itu untuk menjaga rumah kost ini. Pria itu menerima tamunya di ruang tamu umum.


Tampaknya rumah kost ini baru saja direnovasi. Tampak bangunan itu masih baru catnya, dengan memperluas bangunan di lantai atas menjadi 8 pintu kamar kost , dengan fasilitas kamar mandi masing masing di dalam... Sementara di bawah ada 7 pintu kamar sewa. ... Semuanya sudah terisi penuh oleh para penyewanya. Sebab di area belakang pun juga terdapat parkir khusus untuk motor para penghuni kost.


" Kami bisa bertemu dengan Mbak Almira, Pak? Sebab saya sudah menghubungi Mbak Nurwati sebelumnya dan minta izin menemui sahabatnya yang tinggal di tempat kost ini!"


" Boleh, silahkan menunggu di sini!"

__ADS_1


Pak Sudi menyuruh anak laki-lakinya untuk memanggil Mbak Almira yang menempati sebuah kamar di bangunan lantai dua.


Hampir 10 menit kemudian, seorang wanita berhijab hitam dan bercadar putih datang menemui mereka. Dari tatapan mata Almira yang tampak dari cadarnya itu ada rasa tak nyaman dan takut menghadapi dua pria yang menjadi tamunya di siang itu.


Joko jadi tersenyum miris melihat sikap Almira itu... Rasanya wanita itu akan kembali mendapatkan pujian dari, orang banyak dengan perilakunya yang aneh bin ajaib. Apalagi kalau permasalahan ini diangkat ke publik dan viral.


" Mbak Almira tahu dengan maksud kedatangan kami kemari?"


" Nggak tahu?" suara Almira terdengar suaranya masih ketus dan tidak pedulim


" Perbuatan Mbak Almira sudah mengusik ketenangan keluarga Pak Leon Narendra Murti... Jadi kami bermaksud akan melaporkan perbuatan Mbak kepada pihak yang berwajib... Saya dan Pak Cakra sudah mengumpulkan bukti dari CCTV restoran. Yang terakhir dari pengakuan Mbak Nur dan Ibunya .. Mereka terang-terangan datang dan menyerang Asti ke rumahnya di desa Sidodadi... Semua ini karena pengaruh dari ucapan dari Mbak Almira yang penuh kebohongan dan kebencian pada Asti. Silahkan mengelak, tetapi banyak fakta dan kebenaran yang ditutupi selama ini dari Mbak Almira. Kami sudah melaporkan hal ini kepada Pak RT di lingkungan ini... Mbak Almira pun belum melaporkan diri kepada beliau. Walaupun sudah tinggal lebih dari 5 bulan di sini...."


" Jangan bicara ngawur kamu, Joko!" Teriak Almira emosi.


" Kenapa? Mbak Almira pun boleh memutarbalikkan fakta agar dapat diterima dan dilindungi oleh Keluarga Pak Baihaki Sarman di sini... Tetapi Mas Qosim Fadillah justru yang dirugikan, sebab campur tangan Mbak Almira sudah membuat Pak Leon menolak kerjasama dengannya ... Sedangkan sekarang Orang tua Mbak Nur ribut besar! Mas Qosim membatalkan rencana pernikahannya. Semua ini karena ulah Mbak Almira!"


Pak Sudi dan istrinya duduk agak jauh dari mereka, di ruang sebelah dan hanya terdiam.. Mereka juga baru mendengar permasalahan ini yang ternyata cukup pelik itu.


Lamat-lamat terdengar tangisan dari Almira. Mana Joko tertarik! Penyesalan selalu ada di akhir cerita . Selama ini mata hati Almira tertutup oleh rasa kecewa yang sangat mendalam karena penolakan Pak Leon atas rasa ketertarikannya sebagai wanita kepada pria. Namun Almira malah menyerang Asti dengan berbagai siasat dan niat jahat.. Sekarang dia telah menghancurkan masa depan Nurwati. Seorang teman, yang mau mengulurkan tangannya untuk membantu dan menolong dia, di saat dia dalam keadaan terpuruk.


Joko dan Pak Cakra pamit... Tinggal Almira duduk termangu... Dia melihat Joko tadi menyerahkan sebuah surat di amplop cokelat. Surat pemanggilan dirinya yang ditandatangani oleh kepala polisi setempat.


Tampaknya Leon mulai berang dan menyerahkan kasus Almira ke kantor polisi setempat.. Tubuh Almira bergetar hebat ... Kepalanya menjadi pusing. Pak Leon akan mampu mengirimkan dia kali ini ke lantai penjara yang dingin. Karena dengan uangnya yang banyak, pria itu dapat menyewa pengacara yang paling top sekalipun di kota ini.

__ADS_1


Tiba-tiba, hape Pak Sudi berbunyi nyaring. Pria itu terburu-buru mengangkatnya... Dia terlibat pembicaraan serius dengan si penelpon. Beberapa kali bapak itu menatap Almira selama terlibat dalam pembicaraan itu.


" Mbak di sini saja dulu! Mbak Nur dan Mas Qosim mau bertemu dan berbicara dengan Mbak! Mereka sudah dalam perjalanan ke mari!" Pinta Pak Sudi tegas. Pria itu juga mulai menyadari kalau wanita muda ini, bukanlah sahabat yang baik buat anak majikannya. Selama ini Mbak Nur sudah banyak turun tangan untuk menolong wanita itu.


__ADS_2