Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 56. Keluarga Satrio Menjauh


__ADS_3

Kegiatan Asti sehari- hari adalah mengurus Akbar sebelum berangkat ke pasar. Biasanya dia ke tokonya setelah pukul delapan. Karena dia sudah mempercayakan kepada Dania, yang pasti sudah membuka toko dan merapikan dagangan mereka.


Kemarin sore, dia mendapat kiriman barang lagi dari konveksi Ibu Tuti, berupa pesanan gamisnya. Jadi tak mungkin dia membawa dua dus besar berisi pakaian gamis itu dengan motornya. Rencananya dia akan membawa barang - barang itu nanti dengan memakai mobilnya untuk ke pasar.


Selama sebulan ini, Asti hanya berani mengendarai mobilnya itu dengan didampingi Joko atau Lek No bila bepergian dengan menempuh jarak yang jauh.


"Mbak Ning sama Bu Jum, mau ikut ke pasar, nggak?" Ajak Asti. Lumayan untuk memberi hiburan pada mereka yang sehari- hari selalu berada di rumah saja. Membantu mengurus rumah dan menjaga Akbar selama di berjualan di pasar.


" Boleh nih, Mbak?" jawab Mbak Ning ragu-ragu.


"Ya , boleh lah. Kan aku yang ajak!"


Baru kemarin mereka menerima gaji bulanannya yang diberikan Asti. Mungkin ada beberapa barang yang mau mereka beli untuk kepentingannya pribadi.


" Siapin sarapan di meja makan aja, Mbak! Bu Jum, biar menyiapkan keperluan Akbar!"


Di depan rumah ada Mas Yanto yang sedang membantu Pak Roh menyiram tanaman dan rumput.


" Pak Roh, titip rumah ya. Semua mau ikut ke pasar! "


"Sip, Mbak!"


" Mas Yanto, nanti kalau mau pada sarapan sudah ada di meja makan. Sekalian lihat apa Joko dan anak buahnya mau ikut bergabung juga, nggak?"


Pria itu sudah membuka pintu gerbang depan. Rombongan itu mulai keluar dari dalam rumah dengan segala printilan milik Akbar. Dari stroller, tas besar, perlengkapan botol susunya. Juga dua dus barang yang sudah dimasukkan Pak Roh ke dalam bagasi.


"Cie - cie yang mau borong!" Ledek Pak Yanto kepada Bu Jum dan Mbak Ning.


Kedua wanita tersenyum senang sambil melambaikan pada kedua orang yang akan menunggu rumah.


Asti sibuk mengeluarkan mobil itu sampai ke depan gerbang. Mbak Ning membantu membukakan pintu, agar Bu Jum bisa duduk di bangku tengah dengan Akbar.


Mas Yanto terus mengikuti dari samping, sampai mobil Asti ada di tepi jalan persimpangan. Setelah melihat di kanan jalan aman, lelaki itu memberi tanda agar mobil itu dapat jalan menyeberang.

__ADS_1


Bukan hal mudah memberi Asti keyakinan. Sejak perceraian itu, sikap Asti lebih tertutup pada kaum pria. Kecuali yang masih terkait hubungan saudara dengan kekerabatan dengan dirinya.


Lama- lama, Joko juga mengetahui kalau Mas Adam juga tertarik kepada Asti. Padahal waktu itu Asti belum berhubungan dengan Satrio. Ternyata Adam dulu sering melihat Asti saat dia bermain ke rumah Haji Anwar, yang masih terhitung saudara jauh.


Pria muda itu yang hampir sebaya usianya dengan Satrio. Dulu dia merasa belum mapan karena baru memulai usahanya dengan membuka kantor kecil untuk Jasa renovasi dan membuat rancangan rumah dan tempat usaha. Jadi dia belum berniat menjalin hubungan serius dengan kaum wanita. Apalagi meminangnya menjadi istri.


Kedatangan Akbar ke toko menjadi hiburan untuk Dania. Dicolek- colek nya pipi tembem Akbar. Diciumi wajah tampan yang lucu dan menggemaskan. Tak peduli bayi itu mulai terusik dan memukul bahu Dania. Semua tertawa melihat tingkah Akbar.


" Eits, jangan, Dek! " ujar Asti menasehati. "'Mbak Dania sudah lama nggak lihat Akbar. Jadi kangen sama Dedek, ya?"


Mbak Ning dan Bu Jum mulai masuk ke dalam pasar. Tadi Asti sempat memesan agar Mbak Ning berbelanja beberapa persediaan bumbu dan sayuran hijau untuk makanan tambahan buat Akbar, nasi tim.Juga sedikit sembako untuk Bulek Ratih.


"Mbak, ada yang liatin terus tuh dari toko sebelah! " Bisik Dania.


Bayi itu sudah mengantuk sehingga tampak cukup tenang di letakkan dalam stroller. Asti justru tak mempedulikan ucapan Dania. Jari - jari tangannya sibuk menghitung pemasukan toko dalam seminggu ini. Sementara Dania sudah merapikan barang- barang dari dus yang ditata ke dalam etalase. Sambil menempelkan label harga di setiap plastik pembungkusnya.


Masa Iddah Asti sudah selesai hampir dua minggu yang lalu. Namun Asti malah tidak mempedulikan semua hal itu. Sekarang dia bekerja bukan hanya untuk menghidupi Akbar.


Dia juga punya tanggung jawab memberi upah atau gaji pada orang- orang yang bekerja padanya. Yaitu orang yang telah membantu meringankan hidupnya.


Dania menerima tiga lembar uang seratus ribuan. Wajah gadis itu bersinar cerah, sambil berkali- kali mengucapkan Alhamdulillah.


Asti sangat menghargai kerja keras dan kejujuran Dania yang sudah menjaga tokonya sejak dia tinggal di kota karena menikah dengan Satrio.


Kedua wanita yang bekerja di rumahnya itu sudah kembali. Mereka masing- masing membawa kantong kresek belanjaan di tangannya.


"Kamu, makan siang dulu, Dania! Sebelum itu kita pulang. Saya juga nanti mampir ke rumah Bulek Ratih sebentar."


"Ninuk jarang kelihatan lagi, ya. Mbak? Sudah jadi mahasiswi sih, jadi sibuk terus..."


Ada rasa iri juga kagum yang terdengar dari ucapan Dania itu. Walaupun masih bersaudara dengan Bulek Ratih. Kehidupan keluarga Dania lebih berat lagi.


Dia masih menanggung dua orang adik yang masih kecil. Sementara bapak dan Ibunya hanya mendapatkan penghasilan dengan menjadi buruh tani, karena tidak mempunyai lahan sawah sendiri.

__ADS_1


Mbak Naning sudah memasukan barang belanjaan ke dalam bagasi. Tadi dia juga membeli sembako untuk dibawa ke rumah Lek No.


Semua kegiatan dan gerak- gerik mereka di awasi oleh pria yang duduk agak menjauh dari dua karyawati di toko emas sebelah. Mas Kusno Atmaja.


Bahkan Asti tidak menyadari kalau dia tidak hanya mendapat perhatian dari pria muda itu saja. Ada beberapa ibu- ibu yang juga membuka toko dan dagangannya di pasar. Mereka berkali- kali melirik Asti. Tetapi tak berani membicarakan segala hal tentang kehidupannya. Hanya saja mereka melihat Asti dengan pandangan berbeda. Sebab Asti sudah membawa mobil yang cukup bagus dan dapat mengemudikannya sendiri. Padahal baru bercerai dengan suaminya hampir 4 bulan yang lalu.


Honda Jazz merah itu melaju stabil melalui arah hutan bambu. Jalan yang bertahun- tahun belum juga tersentuh aspal mulus. Namun menjadi jalan yang sangat penting karena membantu mempermudah akses ke luar- masuk warga desa Sendang Mulyo untuk beraktifitas. Dari yang bersekolah, ke kantor sampai membawa hasil bumi dari lahan pertanian mereka untuk dijual ke pasar.


"Assalamu'alaikum!" Ucap Mbak Ning mengetuk pintu depan.


Justru dari halaman belakang Bulek Ratih muncul dengan lembaran daun pisang yang sudah tersusun rapi di tangannya.


" Ya, Allahu Akbar, cucuku yang paling ganteng datang. Nengok Mbah Ratih ya, Dek?"


Wanita itu dengan sukacita meraih Akbar dari gendongan Bu Jum. Bayi itu tertawa- tawa karena diayun- ayun agak kencang.


Asti dibantu Mbak Ning, mengeluarkan berbagai sembako untuk dibawa masuk ke dalam rumah. Rumah ini selalu memberinya rasa rindu, kangen juga sedih.


" Ini, Mbak minumnya."


Suara lembut wanita yang sedang meletakkan baki berisi tiga gelas cangkir .


" Lek Dian? apa kabar?"


Wanita itulah yang sehari- hari membantu Bulek Ratih di dapur. Saat suami mereka bekerja di sawah. Lek Dian dan Lek Paijo adalah adik kakak, yang masih sepupu dengan Bulek Ratih. Suami Bulek Dian, Kang Asmat yang sekarang sering membantu Joko di warung tenda, setiap malam minggu.


" Akbar nginap, ya?" bujuk Bulek Ratih.


" Aku nggak bawa gantinya, Lek! Nanti aja kalau ada Ninuk."


" Wah, sudah jarang nelpon dia. Katanya lagi banyak tugas!"


"Biar Lek, masih bersemangat belajar kita dukung! Kalau DO kita suruh jaga toko saja. Dania aja itu iri sama Ninuk, bisa sampai kuliah!"

__ADS_1


" Iya, Asti. Harusnya dulu kamu juga bisa kuliah. Nilai sekolahmu selalu bagus. Aku pikir dulu itu untuk bayar kuliah sampai harus jual kebun dan sawah! . Sampai Bude Ayu nggak mengizinkan! Ternyata dia ingin kamu tetap di sini, menjaga semua warisan ini untuk anak, cucu dan keturunan Winangun."


Semua orang yang mendengar itu terdiam. Mereka melihat sendiri, bagaimana Asti bangkit dari keterpurukannya, setelah bercerai. Bahkan tak ada kabar pun dari Satrio apalagi orang tuanya. Pak Cahyadi dan Ibu Widya Prameswari, mantan mertua Asti. Mereka kembali menjadi seperti orang lain.


__ADS_2