Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 103. Persiapan Kepergian Umroh


__ADS_3

Ninuk pulang lebih dahulu ke rumah di desa Sendang Mulyo. Setelah dia mengajukan izin dari kampus nya selama dua minggu. Sebagai gadis yang berusia lebih muda, Ninuk akan berkeliling ke rumah tetangga terdekat untuk meminta maaf sebelum berangkat umroh.


Kemarin, Ninuk membawa berbagai belanjaan hasil buruan online untuk Bapak dan kakaknya. Kalau untuk keperluan Lek No, Asti yang mentransfer uangnya. Sedangkan untuk Joko, Ninuk dengan tegas meminta ganti senilai dengan berbagai barang kebutuhan yang dibelikannya. Maklum pengusaha muda, mulai tebal isi dompetnya kakaknya itu.


Masing- masing mereka mendapat satu koper besar yang berukuran 24 inchi, dengan satu tas bagasi dari kantor biro perjalanan umroh milik Pak Anwar. Bulek Ratih dengan senang hati, menyisakan separuh isi kopernya untuk barang- barang kebutuhan Akbar. Sedangkan koper Akbar yang berukuran besar akan disimpan.


Bu Jum yang mendapat jatah koper Akbar itu untuk dia bepergian. Sebab kakaknya Bu Jum ada yang tinggal di Bandung dan di Banyuwangi. Lain halnya dengan Mbak Ning, seluruh keluarganya tidak pernah pergi jauh dari tempat dan tanah kelahirannya itu di timur wilayah kecamatan ini.


" Akbar yang sehat ya, Nak! Biar ibadahnya lancar!"


Begitulah doa dari Bu Jum dan Mbak Ning setelah membantu mengepak barang. Asti membeli tas backpack yang tidak terlalu besar tetapi bermutu bagus untuk menyimpan dokumen, hape , dompet juga barang-barang penting yang lainnya.


Dua tas tangan lainnya dari berikan kepada Bulek Ratih dan Ninuk. Sesuai dengan petunjuk Bu Haji Anissa, mereka hanya membawa pakaian secukupnya. Sebab di hotel pun pakaian dapat dicuci dan dijemur. Sedangkan barang- barang keperluan untuk bayi pun banyak toko yang menjualnya di sana.


Keluarga Lek No hanya mengadakan pengajian bersama di rumahnya sekaligus mohon pamit. Bulek Ratih hanya menyediakan kue- kue basah dan kacang rebus dan pisang untuk jamuan. Serta makanan kecil dalam boks untuk dibawa pulang.


Pengajian bulanan itu dihadiri oleh bapak - bapak. Jadi mereka cukup antusias mendengar keberangkatan satu keluarga itu untuk Umroh. Tak lama terdengar doa bersama yang dilantunkan di rumah Joglo itu.


Para tetangga dengan ikhlas mendoakan keluarga Lek No dan Asti dapat menjalankan umroh dengan khusyuk dan kembali ke tanah air dengan aman dan selamat.


Lain lagi komentar para ibu- ibu ketika di malam harinya. Setelah para suami pulang dari acara pengajian dan menyampaikan berita itu. Sebagian sudah mendengar rencana keberangkatan keluarga itu untuk minggu depan. Tetapi bagi ibu-ibu yang iri, keluarlah beberapa komentar yang bernada negatif dari rasa cemburu dan iri hati.


Perkataan mereka ada yang disampaikan ke ibu tetangga lain yang disebut"ngomongin" malah ada yang nekat sampai ke WA jalur group ibu rumput atau japri. Rame banget jadinya.


" Sombong, banget, ya. Yu Ratih. Pake ngundang pengajian bapak- bapak doang, cuma mau pamer! Kalau mereka itu satu keluarga bisa umroh bareng." Komentar satu orang ibu.


Atau, " La, iya bisa umroh! Upah buruhnya aja dicicil buat bayar DP mereka untuk berangkat semua. Ke sana. Kan nggak murah untuk satu orangnya. Ini satu keluarga, waduh!"

__ADS_1


Kalau kali ini, Bulek Ratih dengan santai mengucapkan No Komen! Dengan berbagai ucapan para tetangga. Yang kata orang lebih pedes dari sambel cabe rawit satu mangkok!


Cukup sudah melabrak dia Bu Dian, karena ucapan wanita itu sangat berbahaya dan mengandung fitnah. Kata Ninuk gosip Bu Dian itu seperti sebuah fakta tetapi lain isi cerita!


Selama masa persiapan kepergian umroh itulah, hidup Asti terasa agak lebih tenang. Puspita sudah mulai mahir menghadapi pembeli, melakukan tawar menawar, sesuai yang diarahkan Asti. Nanti rencananya Mas Firman yang akan membantu adiknya itu menjaga toko tersebut selama Asti pergi.


Warung Tenda pun akan mengurangi separuh dari bahan makanan yang akan mereka jual. Sebab tanpa Joko, mereka agak kesulitan untuk berbelanja dan mencari bahan baku makanan yang bagus dan murah.


Di pasar, Ninuk dan Puspita bertemu dan berkenalan. Sebab sekolah Ninuk di SMP negeri yang letaknya lebih jauh lagi dari wilayah ini. Dengan pemikiran, di sekolah itu kuota untuk ke SMA negeri untuk pilihan Ninuk lebih besar dan diterima.


Mereka langsung akrab. Sebab mereka seumuran, paling hanya berbeda satu atau dua tahun. Terlihat juga Puspita agak iri sedikit mendengar cerita Ninuk tentang kegiatan kuliah di kampusnya di kota itu.


Untungnya, Ninuk bukan gadis remaja yang naif atau sombong. Dia juga bercerita tentang teman - teman sekolahnya yang tinggal tidak jauh dari rumah Puspita. Sampai pembicaraan mereka mentok tetang Dania.


Justru Puspita yang baru tahu, kalau Ninuk bersaudara dengan Dania karena ibu mereka sepupu.


" Masa? Lho, aku baru lihat kemarin ada di Graha Indah Mol bersama temannya nongkrong nya ,"kata Ninuk kurang yakin.


Gedung pusat perbelanjaan berlantai tiga adalah pertokoan terbesar yang ada di kota itu. Mirip seperti mall yang ada di kota -kota besar. Namun toko- tokonya tidak banyak dan barang yang dijual juga kurang lengkap. Justru yang menarik para pengunjung datang ke sana dan tempatnya selalu penuh adalah arena food court yang ada di loby utama.


Di sana ada berbagai gerai jajanan dan makanan kekinian. Jadi lebih sering dijadikan tempat kongkow dan berkumpul para kaum muda dari berbagai tempat lain di kota itu.


Di belakang gedung itu pun terdapat lahan parkir yang sangat luas. Terkadang ada juga bis- bis antar kota dan antar propinsi yang datang dengan wisatawan dan istirahat di sana. Biasanya di sudut- sudut tamannya dipakai untuk beberapa kelompok anak muda dan geng motor berkumpul.


Wajah Ninuk semakin keheranan ketika saat- persatu cerita mengalir dari beberapa bibir Puspita. Dari awal Dania dipecat, sampai pembobolan toko sembako, yang ada di seberang depan toko milik Mbak Asti.


" Kapan kamu dan keluarga berangkat umroh?" tanya Pita.

__ADS_1


" Kemungkinan Minggu pagi, kami ikut mobil rombongan dari kantor travel Pak Haji Anwar. Mungkin berangkatnya langsung ke Bandara Adi Sumarmo. Tolong Puspita, jaga amanah dari Mbak Asti, ya! Gara- gara ulah Dania, Mbak Asti sampai sakit typus karena kepikiran. Dania bukanlah orang yang suka menghargai kebaikan orang lain. Padahal selama ini kami tulus membantu dia dan keluarganya..."


Mbak Asti masih sibuk mengurus berbagai pesanan barang ke konveksi dan toko grosir langganannya. Mudah-mudahan, selama dia pergi, stok barang mencukupi. Sebab Puspita belum sempat dibawanya belanja barang untuk persediaan toko di beberapa tempat dan pasar besar di kota.


Tak lama, Bu Jum datang membawa Akbar dengan diantar Lek No. Pria itu sudah cukup mahir membawa Honda Jazz milik Asti. Tadi Asti dan Ninuk berangkat ke pasar lebaran h dulu dari rumah mereka di desa, setelah acara pengajian semalam di sana.


Karena Akbar belum bangun, terpaksa Asti meminjam motor Lek No sambil membonceng Ninuk. Sebagian barang - barang keperluan kedua orang tua Ninuk sudah tersimpan rapi di bagasi mobilnya.


Kehadiran Akbar yang sudah lancar berjalan dan berbicara, cukup menarik perhatian beberapa pedagang dan pemilik toko di pasar itu. Sejak sebelum Asti sakit, Akbar sudah jarang dibawa ke tempat ini.


Anak itu berjalan di sepanjang lorong pasar depan. Ada beberapa ibu yang memberinya makanan atau buah. Asti , Ninuk dan Puspita tertawa ketika Akbar datang kembali ke toko dengan membawa satu plastik kresek penuh berisi berbagai kue dan buah pemberian para pemilik toko.


" Ya, ampun Mbak ! Anakmu tebar pesona banget... Banyak dapet saweran makanan dan buah, lagi!" Ledek Ninuk geli.


Ada tawa Bu Jum yang sejak tadi selalu berjalan di belakang Akbar untuk mengawasinya." Iya, Mbak. Setiap orang memanggil Akbar dan memberinya makanan."


" Tadi Akbar bilang apa saat diberi kue, Nak?"


" Makasih.." celotehnya riang.


Puspita mengendong Akbar ketika dia dan Ninuk pamit untuk mencari makan siang. Tentu Bu Jum harus ikut. Sebab kedua wanita muda itu memilih warung bakso Mas Yono yang mangkal di ujung pintu Luar pasar.


Warung bakso itu selalu penuh oleh pembeli. Biasanya para ibu sering membeli dengan cara membungkusnya untuk dibawa pulang. Terkadang jumlah yang di beli pun lebih dari satu. Sehingga banyak yang antri.


Ninuk dan Puspita akhirnya berhasil menyelipkan tubuh mereka di antara himpitan pengunjung lain di bangku kayu panjang itu.


Maklum bangunan warung sementara ini tidak terlalu luas, dengan dinding tripleks dan beratap asbes. Sehingga di dalam warung suasananya ramai dan panas.

__ADS_1


__ADS_2