Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 76. Yang Terlupakan


__ADS_3

Dania sudah mendapat informasi dan menerima formulir pendaftaran. Asti segera menyerahkan uang yang dibutuhkan Dania untuk membayar biaya pendaftarannya untuk mengambil Paket C untuk minggu depan.


Rencananya Dania ikut belajar seminggu sekali, di Sabtu sore. Jadi Asti mengizinkan Dania pulang pukul dua siang setiap Sabtu. Karena acara belajar di gedung serbaguna kecamatan setempat dimulai pukul 15.00 sampai pukul 17.00.


Lek No membongkar semua buku-buku pelajaran Ninuk di SMA dulu, yang sudah dirapikan dalam kardus- kardus dan diletakkan di gudang belakang.


Bulek Ratih dan Lek No cukup terharu dengan semangat Dania untuk melanjutkan pendidikannya. Gadis itu tentu juga merasakan kalau dengan pendidikan yang minim dia sulit mendapatkan lowongan kerja. Apalagi bila , pengetahuan kita yang tidak bertambah juga tak mempelajari suatu keterampilan akan susah payah membangun masa depan agar mempunyai kehidupan yang lebih baik.


Bulek Ratih dan Lek No mampir ke rumah Asti setelah mengantar semua buku bekas pelajaran Ninuk ke rumah orang tua Dania. Mereka malah ikut nimbrung ngobrol dengan Bu Haji Anissa di lantai dua ruko milik tetangga depan rumahnya itu.


" Minggu depan, urus paspor ke kota, ya?" Ujar Bu Haji Anissa. " Ini sudah didaftarkan oleh Wawan lewat online. Semua ikut kan?"


Wajah Bulek Ratih semakin cerah dan berseri -seri. " Insha Allah, kalau tak ada halangan kita berangkat semua!"


Ternyata Bu Haji pun ikut mengurus paspor juga. Dia sudah hampir sepuluh tahun yang lalu berangkat ke Tanah Suci karena menemani Ibu mertua dan kakak iparnya. Sekarang dia bersemangat lagi mengikuti ibadah itu, karena bergabung dengan keluarga Pak Sarno dan Asti.


Justru Pak Haji Anwar yang mengirim Inova terbarunya untuk digunakan rombongan itu berangkat ke kota di pagi harinya. Ninuk juga tampak antusias dengan kegiatan ini. Padahal semua orang di mobil itu juga tahu,kalau dengan paspor ini nanti, mereka akan jalan - jalan pertama kalinya bagi keluarga Lek No keluar negeri. Alhamdulillah mereka akan berangkat menuju Baitullah dalam dua bulan ke depan. Walaupun belum sesempurna untuk menjalani rukun Islam yang kelima.


" Pokoknya, Lek No dan Bulek Ratih harus daftar untuk haji berikutnya. Ya, Pak Haji Anwar!" Seru Asti senang.


Bulek Ratih terpekik senang. Lek No hanya tersenyum. " Paling cepat betapa tahun lagi berangkat bisa, Pak Haji?" tanya Bapak Ninuk itu santai.


" Lima tahun lagi, Bu Sarno. Mungkin bisa lebih. Yah... dari sekarang mulai menabungnya!"


Di kantor keimigrasian mereka sudah dibantu oleh anak buah Pak Haji Anwar yang bekerja di kantornya. Sebuah Biro Perjalanan Haji dan Umroh, dengan nama "Darussalam Said".


Selama pengurusan surat - surat itu, Akbar juga sangat anteng. Bayi itu digendong Joko dan Lek No bergantian. Pokoknya anak Asti itu tidak akan pernah kekurangan kasih sayang dan perhatian dari seluruh anggota keluarganya.

__ADS_1


Hari sudah sangat siang ketika mereka kembali ke rumah. Lek No dan Bulek Ratih , Pak Haji Anwar dan istrinya itu masih ngobrol di ruang tengah. Mereka segera menikmati makan siang lalu melepas lelah dengan duduk di taman.


Rumah Asti ini walaupun tidak dibangun dengan segala fasilitas kemewahan. Namun konsep modern minimalis ini memberi rasa nyaman dan betah berlama- lama bagi setiap orang yang datang ke rumah itu.


Rumah ini merupakan rancangan Mas Adam yang sangat tertantang dengan ide dan keinginan Asti waktu itu menginginkan rumah yang nyaman, luas , simpel, dan mempunyai kamar tidur yang banyak di lantai atasnya agar dapat menerima banyak tamu apabila ada keluarga yang datang menginap.


Rumah itu harus cukup terang dan sejuk di siang hari. Namun di malam hari aman, hangat dan terlindungi. Segala penataan barang - barang , hiasan dan furniture adalah rancangan dan saran dari Mbak Almira.


Jadilah rumah ini mempunyai ruangan tengah yang lapang karena tidak bersekat. Karena dapat digunakan untuk berkumpul sebagai ruang keluarga maupun ruang makan, karena ada meja dan empat kursi di sudut ruang itu . Akbar saja sangat senang menjelajahi ruangan itu dengan dua kaki kecilnya yang masih belum terlalu kuat menapak cukup lama di lantai.


" Ini, ada baju untuk umroh untuk Bulek Ratih dan Ninuk! " Kata Asti, saat Bulek Ratih dan Ninuk sudah berada di dalam kamarnya.


Ninuk kaget, saat Asti membongkar sebuah kardus berisi gamis dan setelan hijab. Kebanyakan berwarna putih, hitam dan coklat, navi blue , hijau dan abu- abu. Asti sudah mengambil lima setel dengan model dan warna yang berbeda - beda.


Bulek Ratih dan Ninuk sibuk memilih yang sesuai dengan minat mereka. Sedangkan dua setel lagi akan di berikan kepada Bu Jum dan Mbak Ning sebagai hadiah.


Bulek Ratih masih mendekap setelan itu dengan air matanya yang berlinang. Padahal hampir tiga tahun yang lalu, Bude Ayu sudah mengajak mereka untuk berangkat Umroh bersama. Namun uang yang ada malah lebih diperlukan untuk membiayai sekolah Ninuk yang baru di sebuah SMA negeri di kota. Selain untuk bayar kost, makan dan uang sekolah. Mereka juga memerlukannya motor baru sebagai sarana transportasi Ninuk ke sekolah itu.


Ninuk sibuk mencari barang - barang itu lewat situs belanja online. Sebagian lagi, Asti mempunyai persediaannya di toko. Dari bergo, kaos kaki sampai ciput dan dalaman gamis atau hijab.


Ninuk juga membantu mengurus keperluan untuk Joko dan Lek No. Sebab barang - barang umroh untuk keperluan lelaki itu lebih simpel dan gampang dicari. Mulai dari pakaian sehari- hari, sampai keperluan pribadi.


" Maaf ya, Mbak Ning dan Mbak Jum ! Rencana umroh ini amanah almarhumah Bude Ayu. Saat itu, Lek No sudah ada uangnya. Tetapi malah buat kepentingan Ninuk sekolah di SMA."


Kedua wanita itu cukup mengerti dengan keadaan itu. Walaupun bersekolah di negeri, tetapi tetap saja orang tua harus mengeluarkan uang yang cukup banyak. Apalagi Ninuk mendapat sekolah SMA di suatu kota kecil yang terdekat dari wilayahnya


Mereka diharuskan membeli seragam yang nominalnya di atas satu juta rupiah. Berbagai biaya lain yang harus dibayarkan satu persatu. Yang terkadang dari hal- hal yang paling kecil sampai mengeluarkan ratusan ribu rupiah.

__ADS_1


Belum lagi, Lek No harus mencarikan Ninuk tempat kost, biaya makan anaknya sehari- hari, membeli buku, jajannya dan lain- lain.


" Mudah - mudahan, Mbak Asti diberi Rezeki yang melimpah agar bisa membawa kami umroh juga, nanti . Amin!"


Asti terharu juga mendengar doa tulus mereka."Insha Allah... Begini, Bu Jum dan Mbak Ning! Selama kami pergi, Mbak Ning dan Bu Jum bisa bergantian pulang kampung. Bu Jum lima hari. Nanti Mbak Ning lima hari. Bagaimana?"


Mereka tersenyum menyetujui saran dari Asti. Selama ini wanita muda itu memperlakukan mereka malah sebagai keluarganya. Bukan pekerja yang dibayar upahnya.


Mereka selalu makan bersama - sama di meja. Kalau lebih banyak lagi orang yang ikut makan, ada tikar yang digelar untuk duduk bersama di lantai. Asti selalu bersikap sopan dan menghormatinya.


" Mbak Asti ada Mas Adam dan Mbak Almira di warung tenda..." Lapor Mbak Ning.


Wanita itu sering bantu- bantu Joko di warung tenda kalau sudah lewat Magrib. Katanya untuk menghilangkan suntuk. Padahal dia harusnya bisa beristirahat, setelah dari pagi masak dan membersihkan rumah.


" Biar aja yang masih muda- muda pada kumpul, Mbak Ning!"


" Memang Mbak Asti sudah tua?"


" Ya udah punya buntut satu, beda level Mbak. Aku ini sudah emak- emak begitu sebutannya..."


Bu Jum tertawa geli. Dia kalau mendengar kata emak- emak teringat, wajah sadis Ibu Widya, mantan mertua Mbak Asti. Atau Ibu Corinne yang main labrak saja!


" Akbar sudah tidur, Bu Jum. Kalau mau tidur duluan, silakan! Mbak Ning kan masih muda jadi nongkrongnya aja sama ABG!"


Tambah geli saja ketawanya Bu Jum. Mbak Ning memang suka bergaul dengan beberapa pegawai Joko yang rata- rata seumuran dengan Joko, dibawah dua puluh lima tahun. Kecuali Mas Danu hampir 30 tahunan.


Teman baik Joko itu sudah banyak pengalamannya bekerja di beberapa rumah makan besar dan restoran di Yogyakarta dan Semarang. Ide membuat Warung Tenda juga atas sarannya. Sebab dia punya bapak yang sudah lama sakit. Sedangkan dia adalah anak satu-satunya. Jadilah dia kembali ke desanya, untuk menjaga kedua orang tuanya yang sudah sangat tua.

__ADS_1


__ADS_2