
Mas Danu terpaku mendengar bisikan Joko tentang keterkaitan Dania pada kegiatan Jago kemarin.
" Itu cewek kurang kasih sayang apa cari perhatian, sih! Temenan sama Jago, ya di manfaatkanlah. Naif banget..."
" Makanya, tadi Asti sama Bu Jum yang merasa kasihan dengan keluarga Dania. Cukup miris juga, mendengar latar belakang keluarganya!"
" Setidaknya, Dania bisa berpikir, begitu! Kalau perbuatan dia itu salah. Apalagi kalau Jago dan kawanannya itu tertangkap polisi. Pasti Dania juga bakal diciduk juga. Apa istilahnya buat orang seperti Dania itu, Jok?"
" Dania jadi penadah!"
" Nah itu, maksudku," jawab Mas Danu cengengesan.
Kesal, Joko menepuk kuat bahu sohibnya itu. " Jangan mikir aneh- aneh, deh!"
" Apa Dania sudah putus asa seperti itu, ya? Karena tahu kamu tidak suka dengan kehadirannya di sini. Bukan kamu aja, deh ! Anak- anak juga sudah ilfil dengan sikap dan penampilan Dania yang norak. Sampai dia terlibat dengan Jago pun, Itu termasuk tindakan yang sangat nekad!"
" Perempuan bodoh! Itulah gunanya seseorang harus pendidikan juga dibarengi ajaran agama yang kuat. Jadi orang yang berakal dan berbudi... Dibantu orang nggak peduli! Ditolong orang, orang yang menolong dicurangi. Susah, Mas Danu! Menilai perilaku gadis seperti Dania itu..." Ujar Joko panjang lebar.
" Sepertinya Dania hanya mencari jalan pintas dari semua kesulitan hidup yang dialaminya selama ini..." Kata Mas Danu kurang yakin juga.
" Ah, wes Ra mudeng aku... Ayuk kita tutup saja! Masih sisa dua atau tiga porsi? Habiskan saja, nanti kita kasih ke anak- anak muda yang nongkrong di sini..." Ajak Joko.
Mas Danu menyelesaikan permintaan Joko. Sementara Firman dan rekan- rekan mulai melakukan pembersihan warung. Ada yang melipat meja dan kursi. Sebagian lagi mencuci piring dan membuang sisa makanan pada plastik hitam. Besok sampah itu akan dibuang oleh Pak Roh di tempat penampungan sampah umum agar tidak menimbulkan bau busuk.
Tepat pukul 22.30. warung tenda telah tutup. Beberapa anak muda yang dipanggil Joko untuk datang mulai menikmati mie goreng panas yang dimasukan ke dalam beberapa wadah stereo foam dengan sendok plastik dan gelas air mineral di dalam kresek. Semua sudah disiapkan oleh anak buah Mas Joko. Para pemuda tanggung itu akan menjaga wilayah itu sampai pagi, secara bergiliran dengan teman-temannya.
__ADS_1
Pagi telah berlalu. Terlihat kesibukan di dalam rumah Asti. Mbak Ning sedang menyiapkan sarapan. Biasanya wanita itu menggoreng telur atau menyiapkan sayur tumisan yang mudah dan cepat di sajikan. Siang nanti Joko yang akan mengantar Ninuk kembali ke tempat kostnya di kota.
Ribut-ribut kecil dimulai dari Akbar yang mulai menangis ketika melihat ibunya sudah rapi dan siap untuk berangkat ke pasar. Sampai tangis Akbar itu susah berhenti. Terpaksa Asti membawa Akbar, karena anaknya itu sudah terbiasa bersama dengan dirinya ini hampir lebih dua minggu yang lalu.
" Ya, sudah. Adek mau ikut ibu? Nanti kita mampir ke rumah, Mbah No. Ya?" tanya Asti lembut campur gemas. Huh, pingin rasanya dia cubit saja pipi Akbar saking kesalnya, karena kebanyakan drama anak itu sekarang.
" Iya.." jawab Akbar dengan air mata yang masih berlinang. Awas saja kalau sampai Akbar menggulingkan tubuhnya ke lantai.Huh, bisa habis dimarahinya.
" Nggak beli mainan! Mainan Akbar sudah banyak. Akbar sudah pintar, cengengnya dikurangi..." Banyak nasehat yang Bu Jum berikan.
" Ndak, Ndak!" Tolak Akbar keras kepala.
Segera Bu Jum memakaikan sepatu untuk Akbar sementara Asti menelpon Pita. Gadis itu telah membuka toko, dengan kunci yang diberikan oleh Mas Firman kakaknya, yang dititipkan dari Asti di sore harinya.
Keadaan pasar yang ramai memberikan kesibukan tersendiri bagi Asti. Puspita semakin terampil saja saat melayani para pembeli. Dia lebih sopan dan berbicara dengan sabar menghadapi para pembeli yang umumnya para wanita dari yang remaja belia sampai ibu- ibu paruh baya. Tentu dengan segala banyak komentar dan tuntutannya itu. Namun Puspita tetap berbicara hati- hati dan waspada.
Bocah gembul yang duduk di stroller itu masih asyik ngemil. Tak peduli kalau dia menjadi omongan ketiga wanita yang ada di sampingnya. Keadaan pasar yang ramai, membuat Asti berjaga-jaga agar Akbar tidak dibawa kemana - mana dulu, baik oleh Bu Jum maupun Puspita.
Benar saja, tak lama Akbar tertidur setelah menghabiskan setengah dari isi botol susunya. Dengan hati- hati, Asti meletakkan bantal kecil di kepala anaknya. Raut wajah Akbar sekarang sudah sama persis dengan wajahnya. Mungkin karena Asti semakin ikhlas dengan perceraian itu, sedikit demi raut wajah yang menurun dari Satrio pun memudar pada wajah Akbar menjelang usianya yang kedua tahun. Walaupun sikap keras kepala Akbar adalah cetakan asli dari ayah biologisnya itu.
Barang - barang dagangan di etalase sudah tersusun rapi kembali oleh Puspita. Tampaknya gadis muda itu sangat rajin dan cekatan. Jadi tak perlu disuruh-suruh lagi, sudah tahu tugas dan pekerjaannya. Asti berharap, Puspita lebih baik dari Dania. Sebab selama ditinggal hampir 12 hari lebih pendapatan tokonya tetap stabil.
" Nanti kalau sudah agak sepi, tutup saja, Pita! Mbak mau ke desa Sendang Mulyo..."
" Iya, Mbak!" jawab Puspita santun.
__ADS_1
" Jumat kita tutup toko. Kamu langsung ke rumah, saja! Kita belanja sekalian nambah stok barang yang kurang, seperti kaos kaki dan kerudung."
Mata Puspita mengerjab sangat senang. " Pagi kita berangkatnya, Mbak?"
" Siang dikit, nggak apa-apa! Ini si bulet pasti mau ikut juga." Tunjuk Asti pada Akbar yang masih terlelap. Tak terganggu dengan keramaian pasar dan ucapan orang - orang di sekelilingnya.
" Beginilah, Puspita kalau sudah punya buntut. Nggak bisa kemana - mana sendirian. Pasti nangis dan minta ikut. Padahal enaknya itu dia rumah. Bisa main bebas juga nonton tv. Takut kalau emaknya ini diambil orang, kali!"
" Iya, Mbak. Kalau perempuan sudah menikah, apalagi punya anak, semakin berat tanggung jawabnya. Apalagi seperti Mbak Asti yang berperan bukan hanya sebagai ibu saja, tetapi sebagai orang mencari nafkah!"
"'Saya senang kamu semakin bijak dan dewasa, Puspita!"
Percakapan mereka berhenti ketika Bu Jum datang dengan membawa dua kantong kresek belanjaan. Hampir semua isinya berupa sayuran dan buah. Belum lagi Asti sudah menitip pada Joko untuk membelikannya ayam potong dan ikan di pasar kabupaten. Sebab lauk pauk di kulkas sudah menipis persediaannya.
Perjalanan ke desa Sendang Mulyo tak sampai 15 menit saja, karena Asti melewati jalan pintas di belakang pasar. Sempat dibelinya beberapa porsi bakso dengan kantong plastik sebagai oleh- oleh ke rumah Lek No nanti.
Benar saja, halaman rumahnya sangat ramai. Lek No dan Kang Kasat sedang memanggil tukang giling beras keliling dengan mobil bak terbuka. Sisa kulit padi, nanti dikumpulkan untuk dijadikan campuran untuk menyuburkan tanah . Setelah kulit padi yang disebut sekam itu dibakar dan akan dicampur dengan pupuk kompos.
Makanya tidak heran kalau tanaman sayuran di belakang rumah joglo tumbuh sangat subur. Dari cabai, tomat sampai sawi dan bayam. Semua itu dilakukan Kang Kayat setelah melihat tayangan di youtube dan internet tentang memanfaatkan limbah pertanian untuk pupuk.
Akbar berlarian ke pelukan Lek No setelah turun dari mobil. Penuh rasa sayang, pria itu mengangkat tubuh gemuk Akbar sambil diputarnya. Bayi itu tertawa gembira.
" Dapat berapa karung, Lek?" tanya Asti.
" Mungkin besok gilingan yang terakhir, Asti!" Jawab Lek No. Sambil asyik bermain- main dengan Akbar.
__ADS_1
Di samping rumah sudah ada puluhan karung beras yang siap untuk dipasarkan untuk pedagang lokal yang sudah memesan pada Lek No. Sebagian lagi nanti disimpan untuk persediaan dan kebutuhan sendiri. Tumpukan karung- karung beras itu sudah menggunung di gudang. Hasil padi yang melimpah tentu membawa berkah tersendiri bagi keluarga ini. Upah para pekerja pun sudah dibayarkan sebelum Lek No dan Bulek Ratih berangkat umroh.
Masih banyak omongan di belakang Asti yang tetap nyinyir dengan segala hal yang mereka lakukan. Walaupun kita berbuat baik pun, kalau orang itu tidak suka, tetap saja apa yang kita lakukan salah di mata mereka.