Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 141. Saling Menerima dan Mencintai


__ADS_3

" Tumben, Mbak Asti! Mampir ke sini di malam hari ," ujar Pak Sur ramah. " Mari, silakan masuk!"


Kehadiran pasangan itu mulai menarik perhatian para pengunjung yang ada di warung soto itu. Mereka umumnya datang berpasangan -pasangan. Kalau ada yang datang bersama keluarga pun akan di tempatkan, di bagian belakang warung soto itu yang agak terbuka. Karena bangunan seperti seperti teras, hanya diberi atap seng.


" Wah, Mbak Asti sama pacar barunya, nih?" kata seorang pelayang di warung itu meledeknya.


Mungkin karena dia tidak mendengar berita pernikahan Asti yang telah berlalu hampir tiga Minggu ini.


" Ya, Mbak Suli. Ini mantan pacar saya!" Ujar Asti konyol.


Mata Pak Leon memandangi wajah cantik Asti yang mulai bersemu merah karena ucapannya sendiri. Sebab belum pernah dia dipandangi Leon dengan intim seperti itu.


Memang mereka telah menikah, tetapi mereka tidak pernah pacaran sebelumnya! Sebab Asti sangat menjaga kehormatannya, terutama ajaran untuk tidak berpacaran. Makanya saat pria ini melamarnya dengan kesungguhan hatinya. Asti mau menerimanya.


Jadi di sinilah mereka. Mulai berjalan berdua. Setelah menghadapi berbagai kendala , sejak sah menjadi pasangan suami istri. Kata orang, inilah nikmatnya berpacaran secara halal, atau setelah menikah. Mereka saling berusaha memahami perasaan, perkataan dan tindakan dari pasangannya itu.


" Lho, ini Pak Leon, ya? Yang punya proyek perumahan di daerah Sekarwangi itu kan?" tanya Pak Sur setelah melihat lebih dekat.


" Iya, Pak. Kenalkan saya suami Asti yang sekarang!"


" Ya, ampun! Ini benar Pak Leon? Kami pernah mengunjungi proyek pembangunan perumahan milik Pak Leon. Sebab anak sulung saya berminat membeli salah satu tipe rumah yang ditawarkan di Kantor pemasaran Perumahan Griya Sentosa Sekarwangi yang di dekat SPBU. Di sana cukup ramai setiap Sabtu dan Minggu. Karena para peminat akan diantar oleh Mas Danang, bagian humas untuk mengunjungi lokasi perumahan. Bahkan kami bertemu Pak Leon yang berkantor di dekat rumah contoh pertama."


Ucapan Pak Sur membuat Leon terharu. " Maaf, kalau saya kurang mengenali Bapak. Kami masih harus mempersiapkan beberapa fasilitas di sana .... Mungkin untuk tipe lebih kecil akan siap huni awal tahun depan!"


Lelaki itu menepuk dahinya." Kami juga minta maaf, Mbak Asti! Tidak bisa menghadiri undangan itu. Sebab acara Mbak Asti berbarengan dengan pernikahan cucu kakak kami yang ada di Pati!"


" Nggak, apa -apa , kok. Pak! Kami hanya mengadakan syukuran sederhana saja!" Ucap Asti santai.


Pak Sur menyalami Pak Leon. Sebelum kembali ke kursi kasir, dia memanggil salah satu pegawainya untuk melayani pasangan pengantin baru ini.


" Ayo, pesan apa, Mbak?" tanya Mbak Suli mendekati mereka, sambil membawa catatannya.

__ADS_1


" Yang soto biasa untuk saya satu, ya? Yang soto komplit satu. Teh panas dua!" Kata Asti. " Mas, mau pakai nasi" tawar Asti kepada suaminya.


" Boleh, satu saja, Yang!" Jawab Leon.


" Nasi satu porsi, ya. Mbak Suli. Terimakasih ...."


Sebelum pesanan soto mereka diantarkan. Seorang pelayan datang membawakan dua gelas teh panas, sambil meletakkan beberapa piring kecil di depan mereka. Isi di piring itu berupa perkedel, gorengan bakwan juga kerupuk rambak yang dibungkus plastik. Masing - masing piring berisi lima buah banyaknya.


Dari pojok sana, ada sepasang mata milik seorang pria yang mengamati pasangan itu dengan tatapan sedikit cemburu. Dialah Mas Kusno.


Sehari-hari, lelaki itu hanya nongkrong di beberapa warung yang ada di depan pasar. Hal itu dia lakukan setelah menutup toko emas milik kakak sepupunya pada pukul 16.00.


Ternyata pernikahan Asti yang didengarnya itu memang benar adanya. Sedikitnya dia mendengar percakapan pria itu dengan pemilik warung soto ini. Sebab tidak semua orang yang ada pasar diundang oleh Asti.


Hampir empat minggu yang lalu, beberapa pemilik toko dan warung di pasar kecamatan mendapat undangan secara lisan dari Asti. Dia akan menikah lagi dan hanya mengadakan acara syukuran saja di rumahnya di daerah simpangan tiga.


Koh Edy dan istrinya juga datang ke acara pernikahan itu. Tetapi tidak banyak bercerita kepadanya tentang jalannya acara itu.


Mereka ke rumah Asti pun sebagai bagian dari suatu silaturahmi. Jadi cukup merasa sangat senang ketika disambut baik oleh Lek No sebagai tuan rumah, dan dijamu di rumah Asti itu dengan cukup baik.


Asti kurang memperhatikan orang-orang yang makan di warung Soto itu malam ini. Dia masih menikmati hidangan soto dengan kuah panas dan segar karena kaya akan bumbu. Ditambah suwiran daging ayam tebal dan tauge setengah matang. Justru Leon yang dengan cepat menghabiskan satu porsi soto ayam beserta nasi, dan diberi sedikit sambal merah.


Asti menyodorkan tempat tissue yang ada di hadapannya. Keringat terus menetes di dahi dan pipi pria itu. Tiba-tiba Leon tersenyum manis sambil mengambil tisu tersebut.


Bagi pasangan yang masih dalam suasana bulan madu, tentu sang istri harusnya membantu menyeka keringat di wajah pasangannya itu. Tetapi Asti terlalu malu untuk melakukan hal itu. Dia pantang mengumbar kemesraannya dengan Leon di depan orang lain. Tidak saja di rumah, juga di tempat ramai seperti ini. Memang Asti bukan wanita yang manja atau romantis.


" Ini orang doyan atau lapar, sih ?" tanya Asti.


" Dua- duanya!" kata Leon sambil terkekeh geli.


Lucunya, ternyata mereka berdua mempunyai selera makan yang hampir sama. Asti dan Leon tidak suka masakan yang terlalu manis...Jadi di rumah pun, ukuran gula dan garam dalam masakan dibuat seimbang.

__ADS_1


" Enak?"


" Lumayan...! Sepertinya, kamu harus banyak merekomendasikan tempat makan enak yang lainnya, ya?"


Pria itu mengandeng tangan istrinya dengan mesra setelah mereka melakukan pembayaran. Pasangan itu keluar dari warung soto, dan masuk ke dalam mobil. Tak lama Pajero sport putih itu bergerak meninggalkan tempat itu.


Kembali ke rumah, desa Sidodadi di lingkungan Asti bertempat tinggal sudah sangat sepi. Padahal baru pukul 20. 30. Begitulah keadaan beberapa kampung di daerah ini. Sepi dan sunyi. Karena desa di ujung sana sudah tak ada penduduknya setelah terkena pembebasan tanah oleh proyek pembangunan perumahan. Jadi sudah banyak berkurang penghuni di daerah ini.


Pelanggan di warung tenda Joko pun satu-persatu mulai berkurang. Malah terlihat dua pekerja itu telah menumpuk piring, sendok dan gelas di keranjang.


Mbak Ning agak terkejut ketika Asti meletakkan tas kresek yang berisi dua porsi soto kuali Pak Sur, yang berjualan di depan pasar kecamatan. Satu porsinya lagi dihabiskan Joko. Ketika dia melihat ada soto di atas meja makan.


Tampaknya Asti dan Leon baru datang dari bepergian keluar rumah. Sejak pagi tadi Asti belum bercerita apa pun tentang kehadiran orang tua Dania ke rumah ini. Seharusnya Joko membicarakan hal ini dengan Leon. Agar Asti tak mendapat tekanan dari orang yang justru banyak merugikan kehidupan dan kesejahteraan keluarga mereka.


Dua hari kemudian, Asti sudah menjalankan aktivitasnya kembali seperti biasa. Dia berangkat ke pasar setelah menggurus semua keperluan Leon , dari baju kerja sampai menyiapkan sarapannya.


Pulang pukul 11.00 untuk membantu Mbak Ning masak untuk menyiapkan makan siang. Leon akan makan apa saja, yang disajikan di atas meja. Terkadang dia juga membawa dua asistennya untuk ikut bersamanya makan. Malah sering juga membawa klien atau tamu penting yang telah mengunjungi proyek tersebut.


Soal uang belanja bulanan, pria itu menyerahkan ATM dari bank setempat kepada istrinya itu. Untuk keperluan yang lebih besar, Asti diberi kartu kredit. Sebuah kartu yang tidak pernah dipunyai oleh Asti seumur hidupnya.


Maklum sejak kecil dia telah tinggal di desa yang terpencil di pedalaman. Di tempat sekarang dia tinggal pun tidak ada mal, hotel atau pusat hiburan lainnya.


Kalau pun ada orang yang ingin ke tempat hiburan seperti itu, mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh ke daerah lain. Meskipun dengan kendaraan roda dua, tak sampai 60 menit dari rumahnya ke kota Solo atau kota - kota kecil lainnya. Namun Asti tidak pernah melakukan hal itu.


Dia terbiasa hidup sederhana dan apa adanya di desa. Jarang hidup bermewah dan berfoya- foya. Ajaran itu yang telah mendarah daging dalam hidupnya. Karena sudah diterapkan oleh almarhum Kakek dan Budenya sejak dia masih kecil.


Sebagian besar warisan dari keluarganya adalah lahan sawah dan kebun yang perlu digarap dengan sungguh-sungguh agar memberi hasil yang mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.


Joko akhirnya menyampaikan permasalahan Dania juga soal penguntitan atas suruhan Zahra, mantan madunya, kepada Leon.


Tentu suami Asti itu emosi juga mendengarnya. Asti sudah banyak mengalah dengan orang - orang itu. Tetapi mereka terus menekan dan menjadikan Asti sebagai objek dari kesalahan dari kesulitan hidup yang mereka alami saat ini.

__ADS_1


__ADS_2