
Perjalanan malam mulai dilakukan dalam tiga iringan kendaraan beroda empat itu. Dimulai dari Elf yang dikemudikan Pak Sugeng paling depan dengan navigator Lek No. Tentu mereka akan ditemani dengan satu termos kopi panas yang sudah disiapkan Bulek Ratih di jok depan. Lengkap dengan dua gelas plastik tahan panas.
Asti ikut di mobil Elf itu agar Qani dapat digendong siapapun nanti dalam perjalanan ke Bromo. Di mobil kedua, ada Inova Pak Yusuf yang dikendarai Pak Jan dan di samping kemudi adalah Ardi. Tadi siang sang kakak telah mengambilkan tas bepergian milik adiknya itu , di ruko, di kota Batu. Tentu dia mengizinkan adiknya itu untuk mengunjungi rumah Asti, di daerah Jawa Tengah. Sekaligus ingin melihat keadaan Pak Kerto yang sekarang , katanya sedang sakit parah.
Di belakangnya ada Pajero yang dikemudikan oleh Mas Aji, dengan Pak Cakra di sampingnya. Di belakang ada Leon , Joko dan si kecil Akbar yang tertidur lelap diapit bantal dan guling karakter kesayangannya.
Joko dan Leon berbicara dengan suara rendah. Takut membangunkan Akbar. Sebab perjalanan mereka masih jauh, juga kendaraan berjalan tidak terlalu terburu-buru. Sebab medannya lebih sulit karena menuju jalan pegunungan terbesar di wilayah Jawa Timur ini. Selain destinasi wisata ke Gunung Bromo, ada banyak tempat wisata lainnya yang dapat dikunjungi para wisatawan.
Apalagi wilayah itu Pengunungan itu mencakup daerah yang sangat luas. Mungkin kegiatan wisata itu, lebih cocok untuk orang - orang muda atau orang yang berjiwa muda. Terutama bagi yang gemar berpetualang. Seperti mendaki Gunung Semeru atau melihat Blue fire di Kawah Gunung Ijen, di Bondowoso Banyuwangi. Jalan untuk menuju ke tempat itu lebih sulit lagi ditempuh dengan kendaraan roda empat.
Menjelang tempat yang akan dituju, Pak Jan sudah menghubungi saudaranya itu. Kurang lebih satu jam lagi mereka akan sampai di daerah Tumpang. Di daerah itulah saudara Pak Jan itu bekerja di sebuah kantor biro perjalanan wisata sekaligus penyewaan kendaraan Jeep, yang banyak mengantar wisatawan ke Gunung Bromo.
Menurut Saudara Pak Jan itu, pajero Leon tidak dapat dibawa ke Bromo, karena ada peraturan yang melarang mobil pribadi untuk naik ke kawasan di sana. Jadi semua pengunjung harus mematuhi peraturan tersebut.
Mereka sampai di depan kantor biro itu setelah pukul 02.30. Segera saja persiapan segera dimulai. Biasanya perjalanan ke atas memerlukan waktu satu sampai satu setelah jam, sebelum fajar.
Mereka umumnya ingin melihat matahari terbit terlebih dahulu. Kira- kira pada pukul 04.00 sudah harus sampai di Gunung Penanjakan, spot terbaik untuk menyaksikan Sunrise di Gunung Bromo.
" Kita hanya perlu menyewa tiga buah jeep saja!" Ujar Pak Cakra dengan cepat mengatur anggota rombongan. Satu mobil Jeep yang mereka sewa akan diisi 5 sampai 6 orang saja di dalamnya. Anak - anak akan duduk sendiri diapit dua orang-dewasa.
Paling depan ada Pak Sugeng di samping supir dengan keluarga Lek No di. dalamnya. Yaitu ada Ninuk dan Bulek Ratih, ditambah Bu Jum, dan Mbak Ning juga.
Di belakangnya, ada Pak Cakra di Jeep kedua yang duduk di samping supir. Di dalamnya ada Mas Topan, Ardi dan keluarga Pak Yusuf yaitu istrinya Mbak Sarah dan anaknya Hafiz.
__ADS_1
Sementara di Jeep ketiga ada Mas Aji , Di dalamnya ada Putri, Joko serta Leon. Termasuk Asti dan kedua anaknya yaitu Qani dan Akbar. Sementara Qani akan digendong Leon dengan gendongan depan ala kangguru agar apabila ada guncangan kuat, anak itu masih tetap aman dan nyaman. Sedangkan Akbar duduk sendiri diapit Ibunya dan Mbak Putri
Pukul 03.00, Jeep pertama mulai meninggalkan halaman depan kantor tersebut. Disusul dengan jeep kedua dan ketiga dengan jarak yang tidak terlalu berjauhan tetapi cukup aman dan terpantau.
Anak-anak sudah memakai jaket tebal yang bertopi, supaya hangat. Qani merasa sangat nyaman dalam pelukan ayahnya. Jaket jumpsuit berwarna pink itu membuatnya sangat lucu, mirip boneka. Berkali-kali Akbar menciumi pipi adiknya itu, ketika persiapan sedang dilakukan.
Ketiga Jeep yang membawa rombongan mereka itu sepertinya adalah kendaraan pertama yang berangkat untuk menuju ke gunung Bromo. Sebab setelah berjalan agak lama, ada beberapa Jeep lain yang juga ikut menyusul di belakangnya. Suara Jeep itu menderu - nderu di sepanjang jalan di sana. Memecah keheningan dini hari menjelang pagi.
Kendaraan Jeep memang dipilih untuk wisata itu, karena perjalanan ke pegunungan Bromo medannya agak berat dan memerlukan kendaraan dengan mesin yang tangguh. Sebab daerah wisata itu melewati daerah yang luas sangat luas, berupa dataran tinggi dan pengunungan... Sedangkan wilayah yang mengelilinginya adalah padang pasir dan padang Sabana yang dengan bermacam gaun tumbuhan semak dan ilalang.
Semakin lama, barisan Jeep itu semakin banyak dan membentuk antrian panjang. Mereka sepertinya. berlomba - lomba untuk mencapai ke satu titik, di ujung gunung sana. Sebagai spot pertama dan terbaik untuk melihat matahari pagi terbit yang disebut 'Golden Sunrise'.
Suasananya di sepanjang kiri dan kanan jalan tampak sepi dan hening. Dari perkampungan penduduk, kebun dan area pertanian sampai lautan pasir di kegelapan menjelang waktu dini hari.
Pak Bakdi selaku guide tour, juga sepupu Pak Jan banyak memberi arahan kepada rombongan keluarga Asti. Takut mendapatkan kesulitan, Leon meminta Om Ardi naik motor yang banyak ditawarkan oleh orang - orang di sana yang mau mengantarkan mereka ke atas. Tentu dengan upah tertentu karena jaraknya tidak jauh lagi. Mirip para tukang ojek yang mangkal di depan gerbang depan di sebuah kampung. Tampaknya Om Ardi mengikuti saran Leon, sehingga pria itu naik salah satu motor , dan berjalan duluan dengan membawa tas ransel hitamnya di punggung.
Udara di atas gunung Penanjakan itu semakin dingin. Mereka terus berjalan di jalur setapak yang terus mendaki dengan hati - hati sampai ke sebuah tempat yang mirip sebuah panggung. Sebab di sana ada tangga-tangga lebar dari beton dengan arah pandangan ke timur.
Sementara di ujungnya ada pagar pembatas dari besi. Seperti kata Pak Bakdi, Asti menggelar tikar karet untuk semua anggota keluarganya duduk. Terutama para wanita. Sebab duduk di di tangga beton berundak itu serasa duduk di atas balok es. Saking dinginnya udara di atas sana.
Asti memeluk Akbar erat-erat ketika anaknya itu minta dipangku. Sejak berjalan tadi, Akbar terdiam karena masih mengantuk saat digendong Joko di pundaknya. Duduk di sebelahnya, Mbak Sarah yang terus mengusap - usap telapak tangannya.
" Maklum Wong ndeso!" ledek Pak Yusuf yang duduk dibelakang mereka. Dia mengomentari tingkah laku istrinya itu untuk menahan dingin. Sebab wanita yang belum genap berusia 40 tahun itu hanya memakai gaun hijab sederhana, dengan outer dari bahan kaos.
__ADS_1
Tampa sadar Asti mengeluarkan sebuah syal yang tadi ditawarkan oleh seorang pedagang yang menawarkan dagangannya di tempat mereka beristirahat, di depan kantor penyewaan Jeep dan agen travel perjanjian.
Berbagai barang dagangannya yang terbuat dari bahan rajutan itulah yang ditawarkan kepada mereka semua . Dari sarung tangan, kupluk atau topi, sampai syal dengan berbagai ukuran dengan corak.
Ninuk pun membeli sarung tangan dan topi kupluk setelah dia melihat sejenak dari telpon pintarnya tentang situasi terkini di sana. Keadaan di pegunungan itu semakin dingin menjelang musim kemarau. Bahkan suhu di di sana bisa mencapai 10- 16 derajat Celcius, saat di malam hari.
Pak Cakra dan Mas Joko juga membeli topi kupluk dari bahan rajut yang sejenis. Bahan kaos dari syal panjang itu segera dililitkan Asti dileher wanita yang seharusnya dipanggilnya Bude itu. Yang agak mengejutkan Leon memakai topi bulu tebal khas pria Rusia. Ternyata topi itu adalah oleh- oleh dari kakak perempuannya yang pernah liburan ke Eropa tahun lalu.
" Terimakasih!" bisiknya sedikit terharu, bisik Bu Sarah. Tampaknya wanita itu juga hanya memakai sepatu sandal biasa walaupun menggunakan kaos kaki.
" Ini juga ada sarung tangan, Bu Sarah! Nanti jadi patung es di sini... Kan kalau dibawa pulang ke Surabaya jadi nggak lucu, karena sudah meleleh," ujar Ninuk konyol.
Semua orang tertawa dengan ocehan receh Ninuk. Sebab dia tak bisa menggoda atau mengusik Qani yang masih bergelung nyaman dalam pelukan ayahnya itu. Dia sedikit takut dengan Leon yang sangat menyayangi anak perempuan itu.
Langit di timur mulai nampak kemerahan menjelang pukul 04.00. Walaupun ada sedikit gumpalan awan putih melayang di sana. Orang-orang semakin banyak berdatangan.
Pak Bakdi dan dua supir Jeep lainnya yang membawa mereka, juga sudah turun lebih dulu. Kata Pak Jan mereka nongkrong di warung kopi yang banyak membuka dagangan di atas sini. Bahkan mereka bisa buka warung hampir dua puluh empat jam. Kalau sedang musim libur tiba dengan banyaknya wisatawan berkunjung ke daerah ini.
Bangku-bangku beton itu mulai duduki orang- orang. Keadaan di sana semakin penuh. Di belakang mereka, Om Ardi mulai sibuk menyiapkan kamera yang biasanya digunakan oleh seorang fotografer profesional . Sebab kata Leon, harga kamera itu bisa untuk membeli sebuah motor matic sejenis Honda beat terbaru.
Orang-orang juga mulai menyiapkan hape mereka termasuk Ninuk. Ada beberapa orang berjalan di sudut pagar untuk mendapatkan angle terbaik merekam saat Sang Surya itu menyapa bumi, menandakan hari telah pagi.
Suara - suara desingan kamera mahal terdengar di belakang mereka, ketika bola merah jingga itu mulai muncul perlahan di dari balik batas cakrawala di ufuk Timur ... Tampa sadar Asti berdoa dengan memohon segala kebaikan atas Rahmat Allah SWT. Sebab di tempat ini semua keluarganya telah kembali berkumpul dan menyaksikan suatu keajaiban dengan munculnya matahari pagi itu. Seperti doa dan pengharapan mereka untuk memulai di kehidupan mereka yang menjadi lebih baik lagi.
__ADS_1