Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 241. Di Balik Rencana Liburan 1


__ADS_3

Suasana sore menjelang malam di depan resort itu terasa sangat berbeda. Di depan mereka ada pemandangan berupa bukit-bukit terjal kehijauan dengan lembah - lembah yang menampilkan pepohonan gelap di bawahnya.


Di seberang halaman resort itu yang dibatasi oleh Jalan raya yang cukup lebar adalah lahan sawah yang sangat subur dan sangat luas areanya. Uniknya letak lahan sawah berpetak- petak itu mengikuti tinggi rendahnya kemiringan tanah yang berupa perbukitan itu. Sehingga persawahan itu bentuknya bertingkat - tingkat atau sering disebut juga sawah terasering.


Suatu pemandangan yang cukup berbeda bila dibandingkan sawah-sawah yang ada di desa mereka. Persawahan di desa Sendang Mulyo, letaknya berada di dataran rendah yang rata dan jauh dari aliran air sungai besar. Sehingga dulu disebut sawah tadah hujan, atau padinya disebut padi Gogo Rancah. Tak heran, kalau sawah mereka hanya bisa ditanami padi hanya setahun sekali, saat musim penghujan datang.


"Ayo, Pak, Mas!" ajak Mbak Ning yang sudah menyiapkan segala hidangan untuk makan malam bersama.


Sebagian pesanan mereka, pada pihak dapur hotel sudah diantar oleh para pelayan hotel tadi. Namun nasi yang dimasak di magic com hanya sebagai tambahan saja. Begitu juga dengan beberapa lauk tahan yang dapat disimpan lebih lama turut menjadi bagian dari hidangan makan malam itu juga.


" Nah, ini...Yang aku kangenin dari masakan, Mbak Ning! " seru Joko menyantap sepotong rendang daging ala Jawa. Yaitu daging yang dimasak dengan bumbu rendang tetapi dengan mengurangi berbagai takaran bumbunya, terutama cabainya agar tidak terlalu pedas. Juga dimasak tidak terlalu kering, karena masih ada sedikit sisa bumbunya berkuah santan kental.


Selama seminggu ini, Joko, Pak Cakra hanya makan malam di resort tempat mereka biasanya nasi goreng atau makanan dimasak tidak terlalu lama. Sebab di depan kelurahan, tempat mereka sementara bekerja, untuk mendata data kepemilikan tanah, ada lapak yang menjual berbagai makanan dan sarapan khas daerah itu. Ada yang menjual tahu campur, Sego pecel dan soto, bahkan bubur ayam.


Siangnya, mereka bisa berjalan ke sebuah pusat jajanan di alun-alun kecamatan yang cukup ramai tempatnya. Kecuali di malam hari, tempat itu menjadi sepi dan gelap. Karena daerah itu berada di pinggiran kota yang sebagian besar penduduknya hidup dari bertani. Lagipula jarang anak muda di sana.


Mereka semua sudah kangen dengan masakan rumah. Apalagi jajan mie Tek-tek dan nasi goreng yang menjadi menu jualan di warung tenda. " Ayo, yang lain. Siapa mau ikut makan?" tawar Leon .


Lek No dan para supir akhirnya ikut makan dengan porsi yang lebih sedikit. Sebab, udara daerah ini yang lebih dingin, membuat mereka jadi merasa lapar juga.


Sisa hari di malam itu mereka habiskan dengan ngobrol di balkon lantai dua. Terutama bagi para pria yang sangat menikmati udara yang sedikit dingin itu. Ada yang minum kopi, ngerokok atau iseng mencari siaran TV yang disediakan di resort dengan menggunakan antena parabola.


Sementara Mbak Ning dan Bu Jum nonton TV di ruang bawah. Sedangkan Asti sudah terlelap tidur, setelah menidurkan Qani di sebelahnya. Mereka meminta ekstra bed untuk tidur Akbar, di kamar tidur utama.


Paginya, Bulek Ratih dan Lek No berjalan - jalan di sekeliling resort yang banyak ditumbuhi pohon - pohon besar dan tanaman hias di depan teras setiap resort. Berbagai tanaman hijau ditanam di pinggir dinding yang menjadi pagar pembatas antara area penginapan dengan jalan raya di depannya. Setelah matahari terbit, di ujung bukit sana. Cahaya itu menyinari seluruh alam di sekitarnya. Pemandangan alam di sana menjadi lebih nyata, dengan segala warna-warni keindahannya.


Mereka berjalan-jalan sampai keluar dari halaman area penginapan, menuju desa di ujung jalan sana. Lokasi penginapan itu juga berbatasan dengan kebun buah milik penduduk setempat.

__ADS_1


Sesekali Lek No berhenti di dekat pematang sawah sambil menghirup udara pagi yang dingin. Tanpa sadar pria itu merapatkan jaketnya. Gerakan itu diikuti oleh Akbar. Sontak semua orang ikut tertawa. Termasuk Ninuk yang diam-diam membuka kamera dan mulai memvideokan kegiatan kakek yang ditirukan oleh cucunya itu.


" Segar kan udaranya paginya di sini?" tanya pria itu.


Akbar tersenyum..." Dingin, Mbah!" ujar sambil memperlihatkan giginya yang sedikit gemetar .


" Akbar ngompol, nggak ?"


" Nggak, kok! Tetapi waktu mau bobo pake pampers sama ibu!"


Bulek Ratih yang mengikuti pembicaraan itu jadi geli. Walaupun sudah jarang ngompol, tetapi udara di sini yang dingin akan membuat anak sekecil Akbar pun bisa sering ke kamar mandi, alias pipis. Apalagi dia harus terbangun di tengah malam, tanpa pampers tentu akan sangat merepotkan Asti ataupun Leon.


Dari kejauhan terlihat para petani mulai bekerja di sawah. Mereka sedang membuang berbagai gulma atau tanaman liar yang akan menggangu pertumbuhan padi. Kegiatan jalan- jalan itu pun berakhir dengan semakin teriknya cahaya matahari , tanda hari sudah semakin siang.


Sore nanti mereka berencana akan mengunjungi rumah salah satu kerabat Winangun di kota Madiun, Pak Sampurno Hardiman Winangun nama lengkapnya. Pria itu masih merupakan anak dari adik sepupu dari Pak Harjo Winangun.


Kata Joko, jabatan beliau cukup tinggi di pemda setempat. Sehingga karena bantuan pria itulah, proses negosiasi pembelian lahan milik masyarakat di desa Sumber Sari jadi lebih mudah dilaksanakan. Apalagi nama Pak Sampurno Winangun itu sangat dihormati oleh para pengurus di lingkungan daerah di sana. Sebab beliau selalu rajin memberi bantuan kepada masyarakat di beberapa desa di sana.


Asti dan yang lainnya duduk-duduk santai di beberapa saung yang sengaja didirikan di pinggiran area kolam renang untuk pengunjung. Selain di sana lebih sejuk, dengan banyaknya pohon - pohon peneduh dan beberapa taman yang tertata rapi.


" Inilah liburan sesungguhnya!" kata Ninuk setelah melepas lelah. Walaupun kolam itu tidak terlalu besar dan dalam, cukuplah untuk membasahi diri dengan membantu Akbar belajar berenang.


Qani sudah kedinginan saat digendong Leon keluar dari kolam itu. Bayi itu sejak tadi menolak untuk menyudahi acara berenangnya. Sekarang Asti membungkus bayi itu dengan handuk besar. Bu Jum sudah membilas tubuh Qani tadi di kamar mandi bilas dengan shower, di sebelah ruang ganti.


Salah satu petugas ada yang menawarkan kepada mereka, sebuah wisata baru yang letaknya tidak terlalu jauh dari penginapan. Tempat ini berada di sebuah sungai yang besar, yang sebagian besar aliran airnya juga digunakan sebagai irigasi untuk mengairi sawah pendek.


Pria itu menyebarkan brosur dengan beberapa foto yang memperlihatkan wahana hiburan di sana. Di brosur itu ditawarkan bermacam - macam kegiatan yang dilakukan di dekat sebuah sungai besar. Tetapi Ninuk menolak tawaran itu, sebab dia tahu, wisata yang berbau petualangan itu kurang cocok untuk liburan keluarganya kali ini.

__ADS_1


Maklum hampir semua anggota rombongan jalan-jalan ini sudah berumur. Kecuali Ninuk dan Putri. Apalagi kegiatan itu juga memerlukan keberanian tersendiri. Seperti bermain Arum jeram, flying fox dan kegiatan memacu adrenalin lainnya.


Keberangkatan ke kota Madiun hanya memerlukan waktu tak sampai 1 jam perjalanan dari penginapan. Sebelumnya, mereka mampir sebentar ke beberapa toko untuk membeli oleh-oleh.


Bulek Ratih membeli beberapa kilo buah, seperti jeruk, apel dan pisang. Leo membeli cake yang merupakan produk best seller di toko bakery yang cukup terkenal dan paling ramai dikunjungi pembeli di kota itu.


Rumah kediaman Pak Sampurno Winangun terdapat di lingkungan yang cukup asri, di pusat kota Madiun . Tampaknya di wilayah itulah para pejabat, tokoh masyarakat dan pemuka agama bertempat tinggal.


Hunian untuk orang- orang kalangan atas yang sukses dalam pekerjaan dan punya penghasilan tinggi. Sebab pintu gerbang untuk masuk ke dalam perumahan dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan. Mereka bersiaga hampir 24 jam penuh.


"Kami mau ke rumah Pak Sampurno Winangun, kami kerabatnya yang berasal dari Jawa Tengah!" Lapor Pak Sugeng kepada kepala keamanan di sana.


Tentu petugas itu sudah menerima telepon dari Pak Sampurno. Buktinya mereka diperbolehkan masuk, tanpa meninggalkan KTP di pos jaga sana


Mobil Elf itu melaju melewati dua blok dari perumahan elite itu untuk mencapai alamat yang dituju, yaitu blok C A 14. Dari beberapa bangunan bertingkat yang besar dan mewah itulah, mereka berhenti di pagar besi tempat berwarna gelap.


Leon turun lebih dahulu untuk membunyikan bel di pagar tinggi yang bertutup rapat itu.


" Pak Leon, ya?" tegur seorang bapak di depan pintu jaga, setelah membuka pagar yang pintunya lebih kecil.


" Benar. Saya dan keluarga mau mengunjungi Pak Sampurno. Beliau ada di rumah?"


" Ada, Pak. Mari!" ujar petugas itu ramah.


Cepat sekali lelaki itu mendorong pintu pagar yang panjangnya hampir 3 meter itu yang menggunakan pintu beroda. Saat mobil Elf memasuki halaman depan rumah. Terlihat dari teras depan rumah, Pak Sampurno dan istrinya sudah menyambut kedatangan mereka.


" Assalamualaikum! " Sapa Lek No , yang turun lebih dahulu. Pria itu tidak hanya mendapatkan jawaban, dari salamnya itu. Tetapi dia dipeluk oleh lelaki itu dengan sangat erat.

__ADS_1


Asti yang sudah berbaris menunggu sejenak , sambil menatap pria itu. Ternyata mereka pernah datang ke rumahnya di desa Sendang Mulyo, pada hari pernikahannya dengan Satrio Wibowo. Bahkan pada saat itu, dia masih didampingi oleh Bude Ayu.


Ternyata waktu telah cepat berlalu... Sampai Asti menyadari kalau dirinya juga sudah dipeluk lelaki itu yang masih merupakan om, atau adik ayahnya almarhum. Walaupun tinggal berjauhan, dulu kedua orang tua om Sampurno ini yang paling sering berkunjung ke Desa Sendang Mulyo, ketika Mbah Harjo Winangun masih bugar dan sehat walafiat.


__ADS_2