Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 157. Pemulihan Kesehatan Asti


__ADS_3

Di dalam rumah sakit, Leon langsung mendaftarkan nama Asti kebagian dokter umum. Selama menunggu giliran namanya dipanggil, tubuh kokoh Leon yang menopang Asti. Sesekali tangan suaminya itu mengusap punggung istrinya itu untuk menenangkan.


Berbagai prosedur pemeriksaan dijalani Asti, dari pemeriksaan umum sampai keluhan tentang kurang nyaman rasa tubuhnya setelah bepergian jauh pulang pergi ke Semarang dalam 4 hari terakhir.


Mereka diantarkan oleh seorang perawat ke bagian pada poli kandungan. Di sana ada dokter yang memeriksanya keadaan Asti secara keseluruhan. Sampai dokter wanita yang cukup berpengalaman itu, menggunakan USG... Ternyata Asti sudah hamil 4 mingguan.


Dokter Eva Adriana banyak meresepkan vitamin untuk kesehatan tubuh Asti dan bayi di dalam kandungannya. Faktor kelelahan yang dialami Asti saat ini, memaksa wanita itu harus bed rest kalau ingin kehamilannya terselamatkan. Tetapi Asti menolak dirujuk beristirahat di rumah sakit ini. Cukup pengalaman yang tidak menyenangkan dengan beberapa kali datang ke sini. Dari dia sakit sampai juga Akbar harus opname di sini.


Asti juga merasakan betapa bagusnya rumah sakit swasta ini dalam melayani kesehatan masyarakat di daerah ini . Segala yang berbau stigma menakutkan tentang keberadaan sebuah rumah sakit, sudah banyak ditinggalkan saat ini.


Mulai dari bangunannya yang tidak lagi bercat putih yang terlihat dingin dan menyeramkan. Kini gedung berlantai 5 itu dicat hijau muda lembut yang menyejukkan mata, dengan aksen orange di beberapa list nya.


Halaman parkirnya pun sangat luas, bersih juga dengan pemeriksaan ketat di setiap pintu masuknya. Bahkan sistem parkir untuk kendaraan yang masuk menggunakan bantuan alat pendata diri modern di pintu gerbangnya.


Di setiap sudut bangunan itu ada penataan taman yang indah , lengkap dengan lampu taman dan bangku besi berukir yang cantik untuk duduk-duduk.


Hampir semua perawat dan pegawai di sana memakai seragam hijau muda dan gradasinya. Mereka semua bersikap ramah dan murah senyum terhadap semua pengunjung di rumah sakit itu.


" Pulang saja, ya. Mas!" bisik Asti menyela ketika dokter itu menawarkan pelayanan rawat inap yang paripurna.


" Tolong ya, Bu! Istirahat yang cukup. Silahkan menelpon nomor ini, jika mengalami sesuatu di rumah. Kami selalu bersiap melayani 24 jam!"


"Terimakasih, Dokter Eva. Kami pamit!"


Dokter cantik inilah yang akan menangani kesehatan Asti selama masa kehamilannya sampai dia melahirkan nanti. Mereka masih tertahan di sebuah ruang tunggu di depan apotek. Setelah segala administrasi dan pembayaran diselesaikan oleh Leon.


" Ayah!" dari jauh terdengar suara ramai Akbar yang melihat sosok Leon di depan ruang tunggu .


"'Sini gantengnya anak Ayah!"


Balita ceria itu berlari meninggalkan Bu Jum di belakangnya. Dalam pelukan Leon itulah Akbar berlabuh.

__ADS_1


" Ibu sakit?" tanya bocah itu lucu sambil memandangi wajah Asti agak lama.


"Iya, dek! Wah, sekarang Akbar dipanggil Kakak saja, ya? kan sudah mau punya adik ..."


Ucapan penuh rasa gembira Leon tak dipedulikan bayi gemoy itu. karena dia juga tak mengerti akan punya adik itu seperti apa. Setelah mendengar panggilan nama " Ibu Nastiti Anjani ", pria itu menuju loket. Diterimanya berbagai obat itu setelah diberi penjelasan sebentar oleh seorang apoteker.


"Bu Jum, mulai sekarang. Asti jangan mengendong Akbar dulu. Seharusnya dia bed rest di rumah sakit. Tetapi menolak..."


Kepala Asti sudah terasa sangat berat. Matanya berkunang-kunang. Padahal semua kegiatan di rumah sakit ini berlangsung cepat. Tak Sampai dua jam lebih.


Sesampainya di rumah, Asti kembali membaringkan tubuhnya di ranjang kamar tidur utama. Keadaan itu berlangsung sampai dua hari berikutnya. Mungkin karena dia rajin minum obat- obatan yang sesuai dengan petunjuk dokter Eva itu, secara teratur. Kesehatannya mulai membaik. Sedikit demi sedikit Asti sudah dapat meninggalkan kamarnya. Sakit kepalanya agak berkurang hanya tubuhnya masih lemas.


Mbak Ning dan Bu Jum bergabung menjaga dan menggurus semua keperluan Asti. Sampai perempuan muda itu merasakan tubuhnya lebih segar lagi.


"Sudah sehat benar, Mbak?" tanya Bu Jum sambil mengamati wajah Asti yang sedikit pucat.


"'Nggak enak, Bu Jum. Tiduran terus di kamar..." ujar Asti yang merasakan bosan tanpa beraktivitas apa pun.


" Sehat, Yang?" bisik Leon sambil mengecup dahi istrinya itu.


" Lumayan...Maaf, ya. Mas. Hanya dilayani Bu Jum dan Mbak Ning saja!" bisik Asti penuh rasa bersalah.


" Tenang saja, Yang. Asalkan kamu dan anakku yang di dalam perutmu sehat dan baik- baik saja. Aku bisa tenang."


Kedua asisten Leon memberi salam untuk masuk ditambah Dimas dan satu orang lagi, yaitu manager pemasaran.


Mbak Ning sudah menyiapkan makan siang yang cukup pantas untuk teman makan Leon siang ini. Rawon daging sapi dengan semua pelengkapnya. Bu Jum yang mondar - mandir menyiapkan keperluan mereka. Dari alat- alat makan sampai minuman.


" Mbak Asti sudah sehat?" tanya Dimas sambil menyalaminya.


" Alhamdulillah, Dimas. Makan seadaanya, ya... Mbak Ning insiatif sendiri sekarang untuk menyiapkan menunya!"

__ADS_1


" Ini sudah lebih dari cukup, Mbak Asti! Pak Leon melarang saya ikut jajan di warung makan dekat SPBU. Biar saya bisa tetap mengirim uang yang cukup untuk ibu saya di kampung".


Leon yang mengangkat Akbar untuk ditidurkan di kamar sebelah. Asti banyak membaca artikel tentang mendidik anak usia dua tahun untuk bersiap dengan kehadiran seorang adik. Apalagi Leon selalu menginginkan anak dari dirinya sendiri. Walaupun Asti yakin cinta dan kasih sayang Leon tidak akan berubah untuk Akbar. Sebagai anak sulung di keluarga mereka mereka kelak.


Asti hanya sesekali melihat Joko dan anak buahnya bekerja di samping rumah. Mereka jarang ngobrol agak lama di dalam rumah. Mungkin takut mengganggu istirahat Asti, karena masih sakit.


Tiga hari kemudian, Leon membawa Astri untuk kontrol pertama ke dokter kandungan Eva Adriana... Wanita itu banyak memberikan petunjuk tentang kehamilan yang dialami Asti. Walaupun ini bukan kehamilan pertama buat Asti. Tetapi setiap bayi mempunyai bawaan yang berbeda- beda sejak dikandung ibunya.


Obat- obatan yang diresepkan dokter Eva menjadi lebih banyak lagi jumlahnya. Sebagian berupa vitamin... Ada juga sampel beberapa susu untuk ibu hamil. Asti harus minum susu, sebab tekanan darahnya agak rendah.


Para pegawai di warung tenda masih mengamati perkembangan masalah Dania. Ribut- ribut itu semakin ramai... Sebab tertuduh utama telah tewas. Yang mengejutkan semua orang di rumah Asti adalah keterlibatan adik Mas Timbul yang menjadi istri dari Jago. Mereka menikah siri hampir dua bulan yang lalu. Tetapi perempuan yang bernama Novelita Diani Kushari itu sudah hamil besar, hampir 7 bulan usia kandungannya.


Desa, yang letaknya bersebelahan dengan desa Sendang Mulyo itu semakin riuh dengan kehadiran Lita di rumah ibunya. Istri pertama Almarhum Pak Kushari. Terutama dengan ketidakabsahan pernikahan mereka yang tidak tercatat di KUA setempat. Maklum di desa sebelah, tinggal beberapa tokoh masyarakat terkenal dan pemuka agama dengan masyarakat yang sangat kuat memegang ajaran agama Islam.


Sehari-hari Lita hanya berdiam diri di dalam rumah. Dia tak berani ke luar rumah karena takut dicerca oleh para ibu tetangganya. Yang kata orang mulut mereka itu lebih pedas dari cabe Carolina. Cabe terpedas di dunia.


Mereka memang lebih suka menghujat Novelita yang tidak bisa menjaga marwah dirinya sebagai seorang perempuan. Lagi- lagi salah satu anak dari keluarga mantan kades desa sebelah itu, membuat masalah besar. Novelita sudah lama menjadi pacar Jago yang kesekian. Hidup bebas di jalan. Kehamilannya kali ini telah menghancurkan kehidupan tatanan masyarakat yang berakar kuat pada ajaran agama tentang akhlak mulia.


Kini masyarakat di sana semakin sering mencemooh anak-anak dari kedua istri almarhum Pak Kushari. Tak ada lagi rasa hormat atau menghargai terhadap keluarga itu. Padahal almarhum sang ayah, telah dua kali periode menenangkan pilkades di sana. Tentu dengan biaya yang tidak sedikit. Terakhir saat pria itu menang pemilihan terakhir, didampingi oleh Istrinya yang ketiga Ayu Sulaksmi, Bude dari Asti.


Firman juga sering wara-wiri dari pasar sampai ke polsek sana. Pak Hermawan pun tahu, kalau Firman adalah pekerja Joko di warung tenda. Pria itu menyambut Firman dengan baik. Sampai memberi informasi tentang jadwal rekontruksi peristiwa pembobolan dan sidang pertama di pengadilan negeri. Setelah pihak yang berwajib mengumpulkan banyak data dan bukti.


Rekontruksi pembobolan toko itu pun dilaksanakan siang hari itu di pasar kecamatan. Dengan asumsi keadaan pasar sudah tidak terlalu ramai lagi dengan banyaknya pengunjung, sehingga kegiatan mereka tidak akan mengganggu kegiatan orang - orang di pasar.


Dania bahkan ada di antara para tersangka pembobol toko itu. Gadis itu makin tertunduk malu dengan baju seragam terbarunya. Di depan toko Asti yang kini dijalankan oleh Puspita dan keponakan Mas Danu, hadir juga keluarga Asti yang khusus datang dari Desa Sendang Mulyo untuk menyaksikan acara itu.


Di sana berdiri Lek No, Bulek Ratih , kedua pasang suami istri saudara dari Bulek Ratih, yaitu Kang Kasat dan Kang Slamet. Salah satu dari pria itu adalah keponakan ibunya. Alias mereka masih satu nenek.


Ibunya Dania mundur teratur setelah melihat keberadaan keluarga itu di depan toko pakaian" Muslimah". Perempuan paruh baya itu dua kali datang ke rumah Asti dan menekan wanita muda itu untuk membantu perkara anaknya itu. Dengan bersusah payah, Ibu Tumirah menyelinap keluar dari kerumunan massa. Seakan wanita itu belum siap menerima hempasan rasa malu akibat perbuatan anaknya itu. Setelah banyak bukti diajukan dari peristiwa itu, kalau Dania adalah kunci dari rencana pembobolan itu.


Ratusan orang menyaksikan peristiwa itu dari berbagai sudut pasar. Mereka bersorak - sorai dengan ramainya ketika para pelaku pembobolan toko itu tidak melakukan tindakan yang sesuai dengan data polisi.

__ADS_1


Tontonan seperti tampaknya sangat seru bagi masyarakat setempat, yang sangat jarang ada hiburan umum. Apalagi tertuduhnya adalah anak- anak geng motor yang selama ini sudah sangat meresahkan para penduduk yang tinggal di sana.


__ADS_2