Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 61. Ketika Mereka Bertemu


__ADS_3

Akbar baru sembuh dari demam dan pileknya dua hari lalu. Anak itu agak susah makan sekarang. Sehingga terlihat lebih kurus. Namun kata Bu Jum, Akbar itu sedang "membuat badannya enteng" itu istilahnya, karena Akbar akan bertambah kepintarannya.


Benar saja, anak itu sudah mulai tak nyaman berada di baby Walker- nya, terlalu lama. Bayi itu mulai merambat naik ke bangku, meja juga merambat di dinding ruang tengah.


Satu lagi, anak itu sekarang tak mau jauh dari Asti. Padahal ibunya itu baru saja pulang dari pasar. Seharian di sana, bertemu orang banyak. Belum istirahat juga, dan ganti baju rumahan.


" Gendong Ibu nanti , ya? Ibu ganti baju dulu. Nih, bau asem!"di.Akbar tetap bergelayutan di kakinya. Dibujuk Bu Jum tak mau juga di- dengarnya. Apalagi menoleh. Malah Akbar menangis dengan kerasnya. Terpaksa Asti segera menggendong anaknya itu untuk dibawa masuk ke kamarnya. Tetap dengan mengenakan baju yang tadi seharian ini dipakainya di pasar.


Tak berapa lama, Akbar tertidur pulas di pelukan Asti. Cepat Asti turun dari ranjang itu, masuk ke kamar mandi. Sambil membasuh kaki dan tangan juga mengganti gamisnya dengan daster batik longgar.


Mata Akbar terbuka, ketika Asti masuk kamarnya. Bayi itu tentu merasa kalau ditinggal ibunya, walaupun cuma sebentar.


" Mau bobok lagi, ya? Dedek nggak boleh manja. Ibu kan cari uang buat Dedek sekolah nanti!"


Asti kembali menepuk-nepuk pantat Akbar agar tertidur sambil bersholawat. Lelahnya hari ini, cukup terhibur dengan manjanya Akbar hari ini. Serasa diri ini punya arti untuk hidup dan kepentingan bagi orang lain.


" Mbak Ning, tolong bantu Jaga Akbar juga, ya!" pinta Asti. Setiap dia mau berangkat ke pasar di pagi hari.


Sejak ada Satrio yang diam- diam mengamati Akbar, Asti jadi takut! Dia melarang Bu Jum membawa Akbar main ke ruko lagi. Namun mereka tak bisa berbuat banyak, bila anaknya itu digendong Lek No atau Joko ke warung tenda dan bermain di sana.


Siang itu, Asti sudah merasa tidak nyaman. Sehingga berniat pulang ke rumah lebih cepat. Sebenarnya jarak pasar ke rumahnya yang sekarang tak sampai empat kilo meter jauhnya. Namun Asti agak malas, bolak- balik dari rumah ke pasar balik ke rumah lagi. Karena arus lalu lintas di simpangan itu sangat padat di siang hari.


Asti sudah was- was hatinya,ketika melihat sebuah Pajero putih berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Pintu pagar itu sedikit terbuka. Pikiran Asti sudah bercabang- cabang, tak karuan. Sampai dia membelokkan motornya tepat di depan mobil yang sedang berhenti itu.


Baru saja Asti turun dari motornya, sesosok lelaki muncul di pintu pagar. Tampaknya dia berusaha menutup pintunya itu agar tidak terbuka terlalu lebar.


Wajah bersih pria itu terlihat tampan dengan kaca mata hitamnya. Tubuhnya tinggi agak kurus. Pakaiannya berupa kemeja lengan pendek garis putih dan kuning berpadu dengan celana bahan coklat.


" Maaf, ada apa ya, Pak?" tanya Asti.


" Ada bayi dengan baby Walker-nya keluar dari rumah ke jalan. Saya takut terjadi sesuatu jadi berhenti di depan sini."


" Akbar?"


Tampak Akbar bergerak sangat cepat di belakang lelaki itu. Mereka sama-sama terkejutnya. Asti sampai gemetaran, lalu meraih Akbar dari alat itu dan menggendongnya


" Bu Jum!"


Wanita yang dipanggil itu tak kunjung datang. Tampaknya ada sesuatu yang membuat orang- orang di rumah ini tak terlihat seorang pun di depan rumah.

__ADS_1


" Terima kasih, Pak! Ini anak saya. Biasanya ada pengasuh yang menjaganya, kalau saya tinggal ke pasar."


Asti mengusap kepala Akbar yang terasa panas, karena terlalu lama berada di bawah terik matahari. Bocah itu hanya tersenyum senang melihat kedatangan ibunya.


" Nggak apa-apa, yang penting anak ini tidak berjalan lagi ke luar pagar,"


kata pria itu lagi." Walaupun jalan ini tidak terlalu ramai, tetapi banyak pengendara motor yang sering ngebut lewat sini."


Tangan lelaki itu ikut mengusap kepala Akbar. " Saya Leon Narendra Murti! Saya baru saja selesai mengawasi proyek pembangunan perumahan di ujung desa sana. Niatnya mau mencari makan siang. Ketika melihat anak ini meluncur kencang keluar dari pintu pagar yang terbuka ini."


" Mari masuk ke dalam, Pak! Saya Asti. Mungkin Mbak Ning sudah menyiapkan makan siang, di dalam rumah. Silakan kalau bapak mau mencoba masakan orang kampung."


Pria itu mengendong Akbar lagi karena Asti harus memasukkan motornya ke halaman rumahnya. Lalu Asti membuka pagar agak lebar, biar Pak Leon juga dapat memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya.


Tak berapa lama muncul Mbak Ning, Bu Jum dan Mas Yanto. Mungkin mereka mendengar suara mobil yang masuk ke garasi depan


Wajah Bu Jum memucat. Dia sejenak melupakan tugas dan tanggung jawabnya terhadap bayi


Akbar.


" Ada apa, Bu Jum? Sampai pintu pagar nggak ditutup, Akbar meluncur ke jalan, lo!"


" Allahu Akbar! Ya, Gusti... Tadi di depan kamar Mbak Asti ada ular! Jadi kami semua panik." Ujar Bu Jum setengah takut setengah bingung.


" Ularnya mana?"Bu


" Sudah saya bunuh, Bu! Mungkin masuk dari kebun samping." Ujar Mas Yanto.


Mereka tersadar ketika ada pria berwajah tampan yang berdiri di belakang Asti. " Bapak ini yang tadi menolong Akbar."


" Maaf, Bu! Saya lupa menutup pintu pagar lagi, saat mencari bambu. Tetapi bukannya tadi Akbar di dalam rumah ya?" Kata Mas Yanto lebih bingung lagi.


"Ya, sudah nggak apa- apa. Sudah masak untuk makan siang, Mbak Ning?"


" Siap, Mbak!"


" Silakan, Pak! Mbak Ning sudah menyiapkan semuanya di atas meja," kata Asti.


Akbar tidak mau turun dari gendongan pria itu lagi yang membawanya masuk ke dalam rumah. Apalagi ketika dibujuk Mbok Jum. Bayi berusia sebelas bulan itu mungkin merindukan kehangatan dan kasih sayang dari pelukan kokoh pria itu.

__ADS_1


" Akbar mau minum susu, nggak?" bujuk Asti.


Mata Akbar juga sudah mengantuk. Akhirnya anak itu mau digendongnya. Asti segera memberikan Akbar pada Bu Jum.


Pria itu duduk di bangku ruang tamu sambil menikmati segelas air es yang tadi dimintanya kepada Mbak Ning.


Memang proyek pembangunan perumahan di ujung desa sana sangat panas. Karena ada lahan sawah yang sangat luas dan juga pemukiman penduduk yang sedang diuruk diratakan dengan berbagai alat berat. Jadi sudah tidak ada pohon besar untuk berteduh. Daerah itu juga sudah lama kosong, sejak para penduduk pindah setelah mendapat ganti rugi yang layak.


" Mari, Pak ! Kalau mau mencoba masakan sederhana di rumah kami. Nanti Mas Yanto ikut makan, ya!"


Di meja makan telah terhidang berbagai masakan. Ada sayur bening bayam dengan jagung, mangut ikan lele, tempe dan tahu bacem, kerupuk dan sambel tomat.


Pak Leon melihat Akbar tak mau lepas dari ibunya sejak Asti datang. Sampai bayi itu terbaring di boks kayunya sambil meminum susunya di botol.


Semua perlengkapan Akbar berada di luar kamar. Tepatnya berupa koridor yang menghubungkan antar kamar, di sela kamar mandi. Di sebelah boks itu tampak rak tinggi, berisi semua keperluan bayi. Dari berbagai pakaian, bedak, mainan dan obat - obatan.


" Maaf, Pak. Saya tinggal ganti baju dulu. Bapak ditemani makan oleh keluarga saya. Silakan!" ujar Asti sopan.


Pria itu tanpa sadar melihat Asti yang meninggalkan dapur untuk kembali ke kamarnya. Mbak Ning ikut makan bersama Mas Yanto. Mereka sesekali ngobrol perlahan. Bu Jum ikut bergabung setelah yakin Akbar sudah tertidur pulas di boksnya.


Hampir setengah jam Asti ada di dalam kamarnya. Dia sempat mandi sebentar, sebelum mengganti baju dan berwudhu.


" Mbak Asti nggak makan?" tanya Mbak Ning. Wanita itu sudah mengambil piring dan sendok untuk majikannya itu.


" Nanti saja, Mbak! Tadi ada yang nganter berkat ke toko. Jadi masih kenyang."


Asti membuka kulkas dan mengambil mangkuk plastik berisi Potongan buah pepaya dan melon.


Ternyata Pak Leon sangat menikmati makan siang yang dimasak secara sederhana itu. Dia ikut tambah sedikit. Mas Yanto makan dengan lahap. Sejak dulu Asti melarang pria yang masih terhubung keluarga dengan Bulek Ratih itu membeli makanan di warung. Cukup makan di rumahnya saja dengan menu seadanya, agar gajinya itu dapat diberikan kepada ibunya yang sudah tua dan tak bekerja di rumahnya di desa.


Sekarang Mas Yanto dan beberapa pekerja di warung tenda sering bergabung makan di rumah Asti.Tak peduli sarapan ataupun makan malam. Sebab Lek No selalu mengirim jatah beras untuk di rumah Asti setiap dua minggu sekali. Bagi Asti hanya sekedar sayur dan lauk sederhana pun, dia dapat menyediakan masakan yang cukup banyak untuk mereka semua yang tinggal dan bekerja di rumah ini.


"Pak Leon sedang mencari penginapan, Mbak! Sebab dia baru datang dari Jakarta tadi pagi!" Lapor Mas Yanto.


Asti juga bingung. Di daerah perlintasan antar kota kecil di Jawa Tengah ini belum ada penginapan apalagi hotel yang memadai.Tetapi Asti tahu, Pak RT pasti tidak keberatan menampung satu orang tamu saja, di rumahnya yang besar dan ada banyak kamar yang kosong.


" Coba tanya Pak RT Sambodo, bisa nggak satu kamarnya yang kosong dipakai buat menginap. Tentu ada imbalannya kalau disiapkan kamar yang layak!"


Benar saja, Bu Ani mau menyewakan kamarnya. Sebab anak- anak Ibu RT itu bekerja di kota lain. Paling juga anaknya itu pulang ke rumah, ketika ada cuti atau libur panjang saja.

__ADS_1


" Terima kasih, Mbak Asti!" pamit pria itu.


Dia mengambil satu koper kecil, dan sling bag mahal dari Pajero sport- nya. Asti mengizinkan pria itu menitipkan mobil di garasi rumahnya. Sebab halaman rumah pak RT cukup luas, namun tidak berpagar. Jadi kurang menjamin keamanan dari mobil Pak Leon yang masih Gress dan cukup mahal itu. Pria itu diantar Mas Yanto ke rumah Pak RT.


__ADS_2