
Restoran itu berhasil mereka temukan setelah 20 menit berputar - putar di dalam kota Solo. Sebuah nama restoran yang cukup terkenal sebenarnya. Terlihat nama restoran itu terpampang jelas dengan huruf yang besar di depan bangunan berlantai dua itu dengan halaman parkir yang dipenuhi berbagai pohon buah untuk peneduh. Segera saja Dimas membelokkan mobilnya dan masuk ke dalam pelayaran parkir resto itu.
Setelah memarkir mobil, Dimas membantu membukakan pintu mobil samping untuk membantu Bu Jum turun karena mengendong Qani. Sementara Mbak Putri segera mengandeng Akbar. Tampaknya bocah laki-laki itu sangat bersemangat, karena akan bertemu dengan ayahnya.di tempat ini.
Dimas menerima telepon, ketika sesosok pria datang menghampiri mereka dari dalam restoran. Pak Cakra yang menyambut kedatangan mereka.
" Mbak Asti, kami sudah pesankan tempat yang agak sejuk di bagian samping restoran. Pak Leon masih membicarakan bisnis dengan dua rekannya di lantai atas!"
" Nggak apa-apa, Pak! Kami bisa kok, menunggu!" Ujar Asti lagi.
Pria itu menghampiri seorang pelayan yang akan mengantar rombongan Asti ke tempat yang sudah dipesan sebelumnya oleh Pak Bos.
" Mas, nanti pembayaran disatukan dengan bil milik Pak Leon Murti, ya?" ucap Pak Cakra.
" Siap, Pak! " ujar pegawai restoran itu sopan.
Terlihatlah, kesibukan Asti mengiring rombongannya berjalan menuju meja mereka yang telah dipesan. Namun dia merasa agak aneh dengan kedatangan tiga wanita berhijab yang begitu tiba-tiba..Tampaknya mereka sudah bergerak cepat untuk duduk tempat yang seberang dengan meja untuk rombongan Asti yang sudah dipesan Pak Cakra sebelumnya.
Mereka juga sibuk meminta diberi pelayanan yang cepat. Bahkan dua diantara ketiga wanita itu memakai niqab atau cadar, yang mengambil meja di ujung bangunan sana.
Pemakaian cadar di kota yang dikenal dengan multikulturalisme ini belum terlalu lazim atau umum. Jadi masih sering mendapatkan perhatian dari orang lain. Apalagi mereka sekarang berada di tempat umum seperti di restoran ini. Mungkinkah kalau pemakaian hijab seperti itu untuk menghadiri suatu acara keagamaan, Asti pun cukup memakluminya.
Ternyata Pita juga merasakan keanehan dari cara dan sikap mereka yang terlihat berbeda. Sebab sering kali setiap mereka bicara, wajah dan kepala mereka pasti akan menoleh ke arah Mbak Asti. Apalagi salah satu dari wanita itu terus mengawasi gerak-gerik, Pak Cakra, asisten Pak Leon.
Pak Cakra segera pamit dan naik ke lantai atas, lewat tangga samping di dekat meja yang dipesan keluarga sang bos.
" Pesan apa saja makanan yang kalian inginkan untuk makan siang ini!" pinta Asti. Karena masing -masing sudah diberi buku menu oleh pelayan tadi.
" Ayo Bu Jum, Putri, Dimas, Pita!" lanjut Asti. Dia sendiri memilih menu untuk dirinya, Qani dan Akbar.
Restoran ini banyak menyediakan menu masakan Jawa. Jadi cukup pas di lidah mereka semuanya. Bu Jum memilih rawon ala Jawa Timuran, , Akbar menikmati soto ayam bening. Sedangkan Dimas dan putri mencoba masakan gudeg Surakarta yang berbeda dengan sambal goreng krecek yang khas. Pesanan mereka diantar sepuluh menit kemudian.
__ADS_1
Makanan itu segera terhidang di meja panjang itu lengkap beserta nasi putih, dan minumannya es teh manis. Karena tadi mereka cukup lama berada di Pasar Klewer, jadi agak lelah dan haus juga. Ditambah matahari yang bersinar cukup terik siang ini.
Qani menikmati semangkok kecil sop matahari. Bibirnya mengecap kuah bening sup itu. Masakan yang berbeda dari yang biasa Asti atau Mbak Ning sajikan. Apalagi ada sayuran yang juga pas digigit oleh seorang bayi yang baru belajar makan, seperti wortel dan kentang yang lunak.
Sambil makan, Asti terus menyuapi Qani... Biar Bu Jum cukup tenang menikmati makan siangnya kali ini.
Putri banyak menambahkan sambal pada piringnya itu sehingga wajahnya merah dan berkeringat. Lain halnya dengan Puspita yang memilih menu yang hampir sama dengan Asti, soto daging dengan nasi hangat putih. Tentu Soto daging itu diberi kuah santan kental.
Mereka makan dengan cepat karena memang waktu makan siang sudah terlewat lebih dari 30
menit yang lalu. Untungnya di restoran ini juga disediakan tempat untuk sholat, berupa mushola kecil di ujung bangunan resto itu. Jadilah Asti menitipkan Qani dan Akbar pada mereka, saat dia izin sholat lebih dahulu.
"Mbak Asti!" Tegur seorang perempuan. Wanita itu melepaskan niqab di wajahnya, karena akan berwudhu. Lalu dia menghampiri Asti yang sudah menyelesaikan sholat dhuhur terlebih dahulu.
Mata Asti menatap wajah wanita itu agak lama... Cukup manis, sih! Tetapi wajah itu agak asing baginya. Sungguh dia belum pernah berjumpa dengan wanita itu sama sekali. Jadi sulit mengenalinya, apalagi harus beramah ramah. Jadi Asti takut disebut sombong bila tidak menjawab sapaan itu.
" Maaf, apa kita pernah bertemu, sebelumnya?"
Jawaban wanita muda itu terasa memukul dadanya. Asti merasakan sensasi yang cukup aneh saja. Justru di kantor Mas Adam itu, dia bertemu pertama kalinya dengan Almira... Kalau pun dia pergi ke kantor Mas Adam, Asti tak pernah datang sendirian. Kalau tidak ditemani dengan Joko, pasti dengan Lek No. Lagipula sekarang arsitek itu ikut terlibat dalam proyek Mas Leon pada pembangunan perumahan tahap 2 dan 3 milik perusahaan keluarga Murti.
Di kantor Mas Adam itu pun sekarang dijaga oleh adik sepupunya ... Jadi kantor yang beralamat di jalan kemerdekaan itu, hampir semua yang bekerja di sana adalah kaum lelaki semuanya.
" Jangan sombong begitu, Mbak! Mentang - mentang Mbak Asti dibela masyarakat... Kalau orang itu bersalah dan minta maaf. Maafkanlah ... Allah saja Maha Pengampun dan Pemaaf!" Ujar Wanita muda itu dengan gamblang.
Perempuan itu terus berbicara sambil merapikan penampilannya. Tentu saja, Asti semakin bingung. Baru kali ini, dalam seumur hidupnya, dia kena omelan dari orang yang tidak dikenalnya. Apa masalahnya?
" Mbak menegur saya? Saya saja tidak kenal Mbak! Kalau Mbak menuduh saya sombong atau apalah ... Saya tidak peduli, b bagaimana pun penilaian terhadap saya. Sebagai seorang Istri, tentu saya akan berusaha melawan perempuan lain yang berusaha masuk dan merusak rumah tangganya. Sebab Allah saja membenci perceraian.... Tolong ya, Mbak. Di kasih tahu temannya itu! Jangan hanya karena dia sekarang berhijab lebar dan memakai niqab, lalu merasa segala tindakan yang dilakukan itu dibenarkan oleh Allah! Minta maaf kepada saya saja, dia tidak pernah! Malah senang membuat drama, rumah tangga orang lain bubar! Terima saja akibat dari segala perbuatan buruknya itu. Bilang pada Almira, kalau Allah tidak tidur. Yang salah akan tetap salah, yang benar akan tetap benar!"
Wanita itu terkejut dengan ucapan Asti yang menohok. Kok, dia tahu kalau yang sedang dibicarakan itu soal Almira? Segera Asti ngeloyor pergi tanpa kata-kata.
Sejak kehadiran ketiga wanita muda, yang di seberang meja mereka. Asti yakin, salah satu diantara mereka adalah Almira. Tentu saja Asti sangat mengenali gerakan Almira yang terasa familiar! Tentu dia hafal dari cara Almira duduk atau bercakap-cakap dengan dua perempuan temannya itu .
__ADS_1
Perempuan yang berhijab biru navi itu, pasti Almira! Bisa jadi dia masih mempunyai satu dua orang teman yang masih loyal kepadanya. Tentu teman sesama wanita yang akan siap membela Almira dengan segala kesalahannya itu. Asti tidak gentar! Almira tidak pernah meminta maaf sekalipun kepadanya, dan tidak mau mengakui kesalahannya.
" Mbak Asti, ada apa? " tanya Bu Jum cemas. Wanita itu sudah sangat mengenal perubahan yang wajah majikannya itu. Tentu ada sesuatu yang tidak enak yang telah ditemuinya.
" Sepertinya ada Almira di sana dengan teman-temannya. Satu orang dari mereka tadi menegur saya di mushola dengan keras!"
" Almira?" Tanya Dimas waspada. Disambut kata " Astaghfirullah " dari Bu Jum dan Puspita secara bersamaan.
" Kemungkinan, saja... Tetapi mau ditutupi seperti apa pun saya tahu itu Almira. Apa dia masih menguntit kegiatan Mas Leon, ya?"
" Ini gila!" Ucap Puspita agak terkejut juga, " Jangan dibiarkan, Mbak. Perempuan itu menjadi sangat berbahaya!"
Ternyata sejak Asti izin ke mushola, Putri dan Puspita juga agak mencurigai gerak - gerik mereka. Putri berusaha mencari tahu dengan sedikit mencuri dengar pembicaraan mereka. Sengaja Putri bolak-balik ke sana, ke tempat meja ketiga wanita berhijab itu. Tentu sambil berpura - pura membuang sampah berupa bungkus makanan atau tisu. Tak lupa tombol perekam suara dinyalakan di saku rok panjangnya.
Dimas segera melaporkan kejadian itu kepada Pak Cakra. Kebetulan Leon dan teman bisnisnya juga sudah menyelesaikan pertemuan mereka. Setelah diseling dengan acara makan siang. Sebab kedua pria pengusaha muda itu datang dari daerah atau kota yang agak jauh dari tempat ini.
Mata Pak Cakra terus mengawasi para perempuan itu. Sampai salah satu dari mereka menjadi sangat gelisah. Terutama wanita berbaju gamis coklat itu yang tadi menghujat Asti sampai mau melepaskan cadarnya.
Asti dengan tenang menatap interaksi di antara mereka. Kebetulan bangku yang dia duduki juga mengarah kepada meja itu.
Kedatangan Leon dan Pak Cakra, tampak lebih misterius. Dimas memahami situasi ini. Qani langsung minta gendong ayahnya. Mereka segera menyelesaikan jamuan makan siang itu, kemudian Pak Cakra membereskan soal pembayaran di kasir.
Dengan cepat Leon membawa bayinya masuk ke dalam mobil Pajero yang diparkir dekat pintu masuk restoran. Dia meminta Asti dan Pita ikut ke dalam mobilnya.
Akbar dibawa Mbak Putri dan Bu Jum masuk ke dalam mobil Inova, dengan Dimas yang sudah menyalakan mesin mobilnya itu.
Mobil Inova berwarna merah maron itu yang keluar lebih meninggalkan halaman restoran itu. Disusul Pak Cakra, yang membawa mobil Pajero. Sepanjang jalan Pita dan Asti terdiam... Apalagi Qani yang anteng duduk di car seat diapit Pita dan ibunya yang duduk di di bangku tengah.
" Cakra! Nanti kamu hubungi Mas Qosim ... Dia tadi cerita tentang calon istrinya yang sudah lama menetap di kota ini... Cari tahu apa tunangan itu berteman baik dengan Almira.. Tadi juga ada Ibu manajer restoran yang menyampaikan, kalau kamu sedikit bersitegang dengan satu perempuan di ruang musholla, Asti?"
Asti hanya mengangguk lemah...Dia merasa lelah lahir batin. Semua persolan itu datangnya dalam kehidupannya terus bertubi-tubi. Seakan tidak pernah habis. Mungkin dia hanya mampu berserah diri saja saat ini, kepada Allah yang mengharuskannya bertemu dengan mereka! Sebuah ujian hidup yang harus dilaluinya.
__ADS_1
Mata Asti menatap Pita. Gadis itu berkali-kali menepuk punggung tangan Asti untuk memberinya kekuatan. Mobil - mobil bergerak beriringan ke suatu tempat seperti sebuah mal yang berada di tengah kota ini.