
Mobil Honda Jazz yang dikemudikan Joko sudah masuk garasi. Akbar tentu sudah tidur siang di rumah Bulek Ratih di desa. Sebab anak itu masih aktif saja di pangkuan Ninuk. Tentu baterai Akbar sudah full lagi.
" Mandi sore sama siapa, Dek?" tanya Asti.
Mata bulat Akbar yang jernih dan polos itu menatap Ibunya, Bu Jum dan Ninuk bergantian. Dia sedang menentukan pilihan.
" Sama Tante Ninuk?" tawar Ninuk bersemangat.
"'Ndak, ama ini!" Akbar menunjuk sambil memeluk Bu Jum. Semua orang tertawa. Sebab mereka tahu kalau Asti memandikan Akbar, semua kulit Akbar digosoknya dengan teliti.
" Yah, Tante Ninuk nggak dipake, deh!"
" Sana Tante Ninuk juga mandi, dandan yang cantik bantu cuci piring di warung tenda, ya?"
Bibir Ninuk langsung manyun. Pekerjaan yang paling tidak disukai Ninuk adalah mencuci piring di warung kakaknya itu. Sebab hanya pekerjaan itulah yang tersedia. Mas Danu kalau sudah di depan kompor jangan di ganggu gugat. Bisa keluar amukannya , mirip pendekar mabuk. Pria yang selalu memakai topi chef dengan apron khusus itu juga akan membawa spatula di tangan kanannya. Alat pengaduk pada wajan penggorengan itu kalau orang Jawa disebut sutil.
Belum lagi Firman dan dua pekerja lain yang sangat lihai melayani pembeli. Mereka bekerja membawakan berbagai piring berisi makanan panas, seperti Mie goreng, nasi goreng atau kwetiau goreng. Sering juga ada yang meminta masakan mie Jawa atau mie kuah atau mie rebus.
"Dedek mau bobok?" Perkataan Asti kepada Akbar sudah sangat dimengerti oleh Bu Jum, kalau Akbar harus minum susu sebelum tidur. Wanita itu segera membuat susu yang semuanya sudah lengkap di dekat meja khusus untuk keperluan Akbar saat masih bayi. Di sana ada termos air panas, toples susu transparan. Berbagai botol susu dalam berbagai ukuran dan sendok plastik khusus.
Mbak Ning sudah menyiapkan makan malam. Setelah Magrib, jarang anggota keluarga yang lain makan di sini. Jadi Mbak Ning hanya menghangatkan sayur dengan kuah bersantan. Terkadang menggoreng lauk - pauk yang sudah dikeluarkan dari dalam kulkas.
Mbak Ning kadang agak bingung juga dengan kebiasaan Mbak Asti yang sangat berbeda dari perempuan yang lahir dan besar di desa pada umumnya. Semua cara itu pun dilakukan oleh Bulek Ratih.
__ADS_1
Pemikiran Asti sangat maju, modern dan terbuka dalam segala hal. Bahkan Bulek Ratih sangat membanggakan kepandaian Asti yang mengelola keuangan hasil panen sawah dan kebun kelapa mereka di desa.
Mereka selalu mengunakan uang hasil panen itu untuk biaya kehidupan sehari-hari. Alhamdulillah, sampai saat ini keluarga mereka tidak pernah kekurangan. Asalkan mau sedikit berhemat dan tidak berfoya- foya.
Hampir setiap hari, Asti menerapkan pola makan empat sehat lima sempurna. Bukan hanya untuk Akbar saja! . Juga untuk orang-orang di rumah ini. Bukan dari masakan dari bahan makanan yang mahal dan mewah.
Hampir setiap hari mereka memasak sayur. Karena tinggal di desa, berbagai jenis sayuran di pasar harganya cukup murah. Asti membeli lauk berupa protein hewani seperti daging sapi, daging ayam, ikan atau udang secara bergantian. Namun di kulkas selalu ada tempe dan tahu yang dapat diolah dengan berbagai variasi masakan sampai menjadi lauk-pauk.
Sejak Mbak Ning bangun pagi, Asti sudah berkutat di dapur menyiapkan makanan khusus untuk Akbar. Jadi Bu Jum tinggal memberi Akbar makanan itu saat Asti berjualan di pasar, di waktu sarapan dan makan siang untuk anak itu.
Kadang ruang kamar tidur utama pun sudah bersih dan dirapikan sendiri oleh Asti. Sehari- hari, pekerjaan Mbak Ning hanyalah memasak, menyapu dan mengepel lantai yang terkadang dibantu juga oleh Pak Roh.
Bu Jum pun akan membantu menjemur pakaian setelah di keluarkan dari mesin cuci. Mereka nanti akan melipat pakaian itu bersama- sama sambil istirahat di sore hari. Semua pakaian itu akan dipisahkan, berdasarkan pemiliknya. Dengan memasukan pada keranjang yang berbeda-beda.
" Bosan..." Gerutu Ninuk sambil menggeliatkan tubuhnya di sofa ruang tengah.
Siang ini, rumah Asti sedikit sepi. Apalagi Akbar tidur di kamar atas, kamar yang ditempati oleh Bu Jum sekarang. Kasur di kamar itu ditata dengan cara digelar di lantai, beralas karpet karet. Sehingga menurut Asti cukup aman bila Akbar tidur di sana. Pintu menuju balkon atas di kunci. Sedangkan pintu kecil di atas tangga sudah dipasang. Jadi cukup aman saat Akbar ada di lantai dua.
Tanpa terasa Ninuk sudah seminggu di rumah Asti. Dia jarang bepergian. Karena Asti sehari- hari berjualan di pasar menggunakan motornya. Sedangkan dia tidak bisa menggunakan Scoopy, karena sejak kemarin dipinjamkan oleh Kang Slamet untuk pulang ke desanya selama tiga hari.
Pria itu adalah saudara jauh ayahnya, yang masih terhubung dengan keluarga Winangun. Kang Slamet itu dipercaya oleh Lek No untuk membantunya mengolah sawah Asti yang ada di ujung desa. Karena sudah berkeluarga, Kang Selamat sering pulang ke desanya yang berjarak 20 km dari rumah Lek No. Sekali waktu dia akan menginap bila besok akan panen dan sebagainya.
Iseng - iseng Ninuk membuka media sosialnya dari FB, group WA teman satu jurusan di kuliahnya sampai postingan Instagram. Banyak acara tahun baru yang menjadi tema di sana.
__ADS_1
Ninuk juga mengamati video para artis dan orang terkenal di Indonesia yang selalu membuat acara untuk pergantian tahun itu dengan berbagai pesta yang unik dan berkesan. Adanya yang merayakan di rumah dengan pesta ala barbeque, menginap di tempat wisata bahkan jalan-jalan ke luar negeri.
Selama ini Ninuk lahir dan besar di desa. Keadaan di desa mereka malah akan sunyi senyap menjelang pergantian tahun itu seperti malam - malam sebelumnya. Tak ada orang yang berniat bermalam panjang, atau mengadakan pesta!
Bagi orang yang berpunya, mereka hanya akan mengadakan pengajian atau syukuran di malam sebelumnya. Jangankan ada petasan atau kembang api. Sepi dan selalu sepi.
Sampai dia membuka satu media sosial milik teman Mas Joko, Mas Barep. Anak motor itu yang paling aktif dalam hal pemberitaan yang terjadi di lingkungan kota atau di daerahnya.
Sampai dia melihat satu ulasan tentang kecelakaan yang menimpa satu petinggi di jajaran kantor Satrio. Walaupun Ninuk tidak kenal Pak Suparlan, namun wanita cantik yang duduk di kursi roda itu adalah istri almarhum, Jeng Inneke. Justru yang mendorong kursi roda wanita itu adalah orang yang sangat dia kenal. Mbak Nanik. Nggak salah ini?
Dalam berita itu dijelaskan, kalau kecelakaan yang terjadi di awal bulan Desember itu telah merenggut, dua korban yaitu Pak Suparlan dan putri sulungnya yang sudah kelas sepuluh atau kelas satu SMA. Sedangkan satu anak laki-laki yang kelas lima SD masih menjalani perawatan intensif. Anaknya yang bungsu sedang menjalani pemulihan setelah dioperasi untuk kedua kalinya, di rumah mertuanya.
" Bu Jum, Mbak Ning!" Panggil Ninuk agak takut. Kedua wanita itu segera mendatangi Ninuk yang terduduk lemas di sofa ruang tengah.
" Ada apa Mbak Ninuk? Apa Mbak Ninuk sakit?"
Kedua wanita itu terus bertanya - tanya. Sebab wajah Ninuk sangat pucat, kedua tangannya agak gemetar sambil memeluk hapenya erat- erat.
" Ini berita tentang Ibu Suparlan? Yang kata Mbok Bayah, wanita ini yang membuat rumah tangga Mbak Asti dan Mas Satrio berantakan sampai mereka bercerai...."
Bu Jum melihat gambar seorang wanita yang didorong dengan menggunakan kursi roda. Sepertinya mereka sedang menghadiri suatu upacara di dalam sebuah gedung. Sebab semua ibu-ibu yang ada dalam foto memakai baju seragam yang sama. Kecuali, kedua wanita itu.Jeng Inneke dan Mbak Nanik!
Yah, Ninuk telah memindahkan gambar - gambar itu ke dalam galeri di hapenya. Sengaja untuk diperlihatkan kepada Mbak Asti dan anggota keluarga lainnya.
__ADS_1