Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 203. Rencana Leon


__ADS_3

Asti tahu, suaminya berusaha menjauhkan Almira dari kehidupan rumah tangga mereka dengan bantuan orang lain. Mungkin yang bisa dituntut hanyalah adalah cara Almira menguntit pertemuan bisnis Leon dengan beberapa kolega dan kliennya saja.


Entah, dengan rekaman CCTV di restoran atau rekaman percakapan Almira dan dua temannya itu saat mereka bertemu di restoran yang berhasil direkam oleh Putri dan Puspita pada waktu itu. Sebab keduanya sudah sangat curiga dengan kasak - kusuk mereka.


Tiba-tiba muncul saja di meja seberang, yang dipesan Pak Cakra untuk mereka... Belum lagi, seorang perempuan yang tergesa-gesa menyusul Mbak Asti yang menumpang sholat di musholla milik restoran itu.


Joko sekarang tampaknya lebih fokus bekerja di kantor Leon. Dia semakin sering bepergiannya keluar kota dengan Pak Cakra atau Damar. Walaupun Mas Danu dapat diandalkan untuk menangani sendiri, semua urusan warung tenda itu. Terutama soal berbelanja untuk mendapatkan bahan mentah berupa sayuran, bumbu dan daging ayam yang segar dan bermutu bagus.


" Mau pakai mobil saya, Mas Danu? Boleh... Sekalian ajak Dimas dan Mbak Ning untuk belanja, ya!"


" Aduh, nggak ngerepotin ini, Mbak Asti?" tanya sahabat Joko itu yang masih sungkan untuk meminjam mobil Asti yang masih baru itu.


Selama ini, Mbak Ning yang pergi ke pasar kecamatan untuk belanja kebutuhan dapur, dua hari sekali. Biasanya dia berboncengan dengan Putri naik motor.


" Kalau Putri mau ikut, ajak Akbar juga, ya!" saran Asti lagi.


Bepergian seperti itu bagi orang-orang yang bekerja di rumah Asti seperti pergi jalan-jalannya orang kota. Padahal cuma ke pasar! Putri senang juga diajak pergi ke pasar lain yang lebih besar dari pasar kecamatan yang biasa mereka datangi. Nanti biar Dimas yang menjaga Akbar di tempat parkiran mobil seperti biasanya. Sejak Akbar dimarahi ayah -ibunya karena minta dibelikan mainan oleh Dimas, anak itu tidak berani lagi meminta apa pun kepada orang lain.


Qani sedang digendong Bu Jum di taman samping. Sudah seminggu yang lalu, Mas Adam dan tim kerjanya mulai menyiapkan lahan kebun di samping. Karena banyak pohon besar di kebun itu, maka mereka memerlukan tenaga orang lain untuk menebang pohon-pohon besar itu.


Mereka menggunakan gergaji mesin yang suaranya agak keras. Sehingga sebelumnya, Mas Adam dan Leon meminta izin kepada para tetangga melalui Pak RT Sembodo. Takut para tetangga terganggu oleh suara keributan itu.


" Mbak Asti, banyak yang minta kayu dari pohon yang ditebang itu!" Lapor Mas Adam, siang itu.

__ADS_1


Pohon yang ditebang di lahan sebelah itu kebanyakan adalah pohon buah - buahan yang usianya sudah lebih dari 10 tahun... Sehingga kayu yang dihasilkan terlihat kokoh dan kuat. Padahal beberapa ibu tetangga juga sudah ikut memanen buah dari pohon - pohon itu... Dari buah mangga, nangka, jambu air sampai bertandan- tandan pisang.


" Apa ada bagian kayu itu yang bisa digunakan untuk bahan bangunan untuk rumah di sebelah Mas ?" tanya Asti mau tahu.


" Bisa sih, Mbak! Dibuat untuk pagar di area pinggir kolam jadi lebih estetik. Dibuat meja dan kursi taman juga bisa. Nanti kita cari tukang kayu yang terampil dan bisa membuat kerajinan seperti itu!" sahut bapak yang lain.


Mereka adalah para tukang yang bekerja menebang puluhan pohon buah di lahan kebun itu. Sedangkan untuk mengangkat akar pohon yang dalam dan sangat kokoh itu digunakan alat seperti beko yang lebih kecil, modern dan bertenaga sangat kuat.


" Iya, Pak. Tolong nanti kami dicarikan tukang kayu yang pandai membuat perabot dari kayu seperti itu! Sayang... kalau kayu dari pohon buah itu hanya dijadikan kayu bakar. Lebih baik dimanfaatkan untuk membuat barang yang lebih banyak gunanya, " ujar Asti lagi.


Mas Adam ikut makan siang bersama para pekerja penebang pohon itu. Dia juga ditunjuk Pak Leon untuk jadi pengawas pembangunan rumah itu nantinya. Mungkin kalau semua surat izin pembangunan dan lainnya yang diajukan sudah keluar, paling cepat sudah bisa dibuat pagar pelindung di sekeliling lahan itu dalam. Bulan depan mereka sudah bisa membuat pondasi bangunan rumah berlantai dua itu.


Mereka para pekerja itu memang sudah hampir empat hari ini bekerja di sana. Setelah seminggu sebelumnya, Pak Rob membersihkan semak-semak dan membuang pohon duri di kebun itu.


Kancil dan Firman ikut makan juga bersama mereka. Sejak Joko bekerja membantu di kantor Pak Leon, mereka memerlukan satu pegawai lagi untuk membantu di warung tenda.


" Joko sudah lama membantu Pak Leon, Mbak Asti? " tanya Mas Adam setelah mereka selesai sholat dhuhur.


Pokoknya kalau di rumah ada pekerja Warung Tenda, Asti boleh menerima orang lain. Meskipun untuk sekedar makan siang atau menumpang sholat dhuhur. Itu nasehat utama Leon. Jadi Asti tidak was-was. Apalagi Mas Adam sangat mengenal para penebang pohon itu yang tinggalnya ada di desa di belakang kantor Jasa renovasi dan pembangunan rumah miliknya.


" Baru beberapa bulan ini. Mas Adam sudah ketemu di kantor, ya?"


" Dia sibuk terus sama Pak Cakra... Lebih susah menemui Joko sekarang daripada si pemilik proyek perumahan itu sendiri !" Ujar Mas Adam bergurau.

__ADS_1


Tentu yang dimaksud adalah Pak Leon. Dia selalu stand by di kantornya itu bersama Damar... Soal urusan keluar atau ke berbagai daerah Joko lebih fleksibel rupanya. Sebab dia mengenal banyak orang di pemerintahan daerah setempat atau tokoh - tokoh masyarakat di sana.


Besoknya, kayu-kayu itu dipotong dan dibelah dengan mesin gergaji otomatis... Joko ternyata juga tertarik ingin menggunakan kayu itu untuk barang-barang di warungnya. Dia akan menggunakan konsep pondok atau gubuk untuk warungnya nanti. Dulu dia juga harus membayar agak mahal untuk membeli meja, bangku dan gerobak dari kayu. Sebagai modal awal untuk dia membuka warung tenda.


Sampailah, Asti mendengar kabar lain dari pembicaraan para pekerja di warung tenda. Ternyata ayah Izza kurang menyetujui pekerjaan Joko yang hanya berwiraswasta. Berjualan sore hari dengan masakan berupa nasi goreng, mie goreng dan kwetiau goreng.


Hal itu menjadi sebuah pukulan tersendiri untuk ego dan kemandirian Joko. Sebab sebagai anak laki-laki dari seorang Sarno Winangun, dia terbiasa mengatur kehidupan dan masa depannya tanpa bantuan orang lain.


Padahal dulu juga, Bude Ayu juga masih sanggup membiayai kuliah Joko di jurusan pertanian! Tetapi Joko lebih suka bekerja sambil kuliah malam di kota Semarang. Walaupun banyak hal yang dikorbankan untuk mencapai keinginannya tersebut. Termasuk kuliahnya yang memerlukan waktu lebih lama untuk diselesaikan, dari rekan seangkatannya. Sebab Joko membiayai sendiri kuliahnya itu.


Tanpa banyak orang mengetahui, bahwa penghasilan Joko yang dengan membuka Warung Tenda itu sudah melebihi gaji seorang ASN. Penghasilan yang setara dengan pendidikannya yang mempunyai ijazah S1 Ekonomi.


Bahkan dia mampu membayar 3 orang pekerjanya dengan upah yang sama dengan UMR di wilayah ini. Padahal mereka bekerja hanya dari pukul 16.00 sampai sampai pukul 22.00 saja.


Begitulah... cara berpikir orang tua Izza yang seorang pensiunan ASN di sebuah kantor dinas cabang Depag setempat. Dia akan hanya menerima calon suami untuk anaknya bungsunya itu, harus pria yang bekerja kantoran. Kalau perlu menantunya pun harus ASN juga! Tidak boleh tidak! Pantas teman Ninuk itu sudah jarang lagi main ke rumah ini. Mungkin dilarang oleh ayahnya.


" Kenapa , Mbak? Adek nggak apa-apa kan?" tanya Bu Jum hati-hati.


Sejak menidurkan Qani di kamar siang ini, Asti semakin gelisah... Tetapi Asti selalu berdoa agar Joko dipertemukan dengan gadis yang lebih baik lagi dari Izza. Gadis dari keluarga yang memandang seorang calon menantu anaknya bukan dinilai dari status, pekerjaan dan jabatannya. Tetapi dinilai dari kesungguhan, cinta dan rasa tanggungjawab yang besar....Untuk membina rumah tangga yang sakinah dan mawadah.


" Nggak apa-apa, Bu Jum. Qani nggak rewel kok! Malah langsung pules dia! "


" Mbak Asti juga belum makan siang, tuh! Ayo Mbak, Saya temani... Nanti Mbak Asti dimarahi Pak Leon kalau maag-nya kambuh lagi!"

__ADS_1


Siang tadi, Asti sudah mengirim kotak makan siang Mas Leon ke kantornya, yang dibawakan oleh Mas Yanto, naik motor Beatnya... Asti menyiapkan menu untuk suaminya itu berupa satu wadah nasi merah, cap cay seafood berkuah, empal gepuk dan potongan buah dingin.. .Sebagai makanan penutupnya.


__ADS_2