Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 9. Diantara Dua Pilihan


__ADS_3

Siang itu Asti dikejutkan dengan mobil Fortuner hitam yang diparkir tepat di depan tokonya. Belum sempat dia beranjak dari bangku plastik yang didudukinya, wajah sumringah Bulek Ratih muncul di depan tokonya.


"Asti, kami pulang !"


" Bulek!" jerit Asti riang langsung memeluk wanita yang sudah mengurusnya sejak dia masih bayi.


Pelukan itu sangat erat dan menenangkan. Dari balik bahu Bulek Ratih muncullah wanita tersayang lainnya, Bude Ayu. Wanita itu memeluk Asti karena menahan rindu tak melihat wajah cantik keponakannya dalam seminggu.


Dari depan pintu mobil keluar wanita yang hampir seumuran dengan Bude Ayu, dia tersenyum lembut menatap Asih. Di belakangnya ada pria yang agak tua tetapi masih bertubuh tegap dan gagah. Sepertinya, Asti agak mengenal raut wajah itu mirip ....


Aduh, justru orang yang dipikirkannya itu berjalan gagah keluar dari balik kemudi mobil hitam itu. Siapa lagi kalau bukan Satrio Wibowo!


" Asti, ini Bude Widyati anaknya Mbah Sanjaya. Ini suaminya, Pakde Cahyadi. Nah, itu si Cah ganteng ku," Ujar Bude Ayu menjelaskan siapa saja orang- orang yang bersamanya di mobil tadi.


Toko ramai dengan kehadiran orang- orang yang masih berkerabat dari Mbah putrinya itu, Mbah Sri Sumiarsih.


Asti langsung berlari ke warung Yu Yemi untuk memesan 3 teh manis hangat dan dua gelas kopi panas.


Bude Ayu juga sudah membeli beberapa jajanan pasar yang banyak dijajakan para ibu di depan pasar. Mereka berjualan dengan menggunakan meja- meja kayu untuk menempatkan wadah jajanan pasar itu. Sebagian dari mereka menjual makanan yang terbuat dari berbagai olahan singkong , beras ketan dan kue- kue tradisional lainnya.


Di dalam toko, Asti sudah menggelar tikar untuk para wanita duduk secara lesehan. Sementara Pakde Cahyadi ngobrol dengan anaknya sambil mengamati situasi pasar yang cukup ramai


" Kamu cantik, Nastiti! " Bisik Bude Widyati gemas. " Jadi menantuku aja, ya? Biar Satrio bisa minta ditempatkan di daerah ini atau di Purwokerto. Jadi nggak jauh- jauh lagi tempat tugasnya!"


Ucapan wanita itu membuat Asti tersedak, karena dia sedang menggigit makanan berupa gorengan dari parutan singkong dan kelapa dan ditambahkan kacang tolo.


Bulek Ratih langsung menyodorkan gelas teh hangatnya. Wajah Asti memerah dan masih terbatuk- batuk sesaat. Dia masih menepuk dadanya berulang kali untuk meredakan batunya juga untuk menghilangkan rasa jengah. Perbuatannya itu justru menjadi tertawaan ketiga orang wanita yang lebih dewasa dari umurnya.


Tampaknya ada sepasang mata dari pria bermata sipit yang terus mengamati kerabat yang memenuhi toko Asti. Bude Ayu dan Bulek Ratih dia sudah kenal. Tetapi wanita yang lebih tua itu tampak akrab dan sayang pada Asti, dia baru melihatnya. Belum lagi dua pria yang berdiri agak jauh dari toko itu mereka tampaknya seperti ayah dan anak.


Pria muda yang bertubuh tinggi tegap itu dengan mudah menarik rolling door toko. Toko Asti sudah ditutup padahal hari masih pukul 11.00.


Rombongan itu tampaknya menuju warung Soto kuali yang lokasinya ada di perempatan jalan raya di depan pasar. Pria muda itu tampak santai berjalan di belakang Asti.

__ADS_1


Mbak Rum menceritakan kalau pria muda itu pernah datang beberapa waktu yang lalu ke toko Asti dengan memakai seragam dinas polisinya. Mas Kusno mulai cemas! Betapa mudahnya pria muda itu mendekati Asti. Apalagi mereka terkait hubungan persaudaraan . Tanpa terasa lelaki itu sudah meremas - meremas kedua telapak tangannya.Sepertinya dia mendapat saingan baru untuk menarik perhatian Asti!


Para pelayan pria sibuk mengatur dua meja kayu di warung soto itu untuk disatukan dan menambah dua kursi lagi. Mereka menikmati soto kuali tersebut, walaupun masakan ini bukan makanan khas daerah ini. Namun karena cara penyajiannya yang unik dan warungnya cukup bersih dan luas, warung ini tidak pernah sepi dari pengunjung.


Satrio mendapat bangku yang berhadapan langsung dengan Asti. Wajah halus dan mulus gadis itu selain agak kemerahan juga berkeringat.


Setahu Satrio tadi, Asti hanya menambahkan satu sendok sambal ke dalam kuah sotonya. Sedangkan Bulek Ratih dan Bude Ayu memasukan sambal itu lebih dari dua sendok saja, tetapi wajahnya biasa- biasa aja.


" Mau tambah es teh manisnya?"


Tanya Satrio pada Asti, segera memanggil pelayang warung itu untuk menyiapkan permintaanya itu.


Para orang yang tua berbincang- bincang dengan hangat. Mereka nanti akan menginap di rumah Bude Ayu, sebelum kembali Ke Purwokerto lusa.


Bulek Ratih yang tampak terharu saat Bude Widyati kembali mengundangnya untuk datang ke rumahnya, dengan membawa serta keluarganya. Rasanya belum puas wanita itu menikmati berkeliling dalam seminggu ini mendatangi beberapa kerabat Bude Ayu dari pihak ibu.


Mereka mengunjungi para sanak saudara itu yang menetap di kota Boyolali asal keluarga Mbah Putri lalu ke Salatiga. Besoknya mereka pergi ke Semarang sebelum Ke Magelang dan Yogyakarta. Sekarang mereka telah kembali ke desa mereka.


Satrio dengan cepat membayar semua soto dan minuman rombongan itu. Tangannya tak sengaja menyentuh jari- jari Asti yang juga sudah menyodorkan dua lembar seratus ribuan setelah melihat tagihan dari mbak pelayan yang diantarkan ke meja mereka.


" Sudah. Aku yang bayar, ya. Ini Keluargaku juga, kok!"


Asti menatap lelaki itu agak malu. Kembali Bude Widyati mengandeng tangan Asti saat keluar warung dan berjalan kembali ke toko.


Mereka menunggu sebentar saat Bude Ayu dan Bulek Ratih berbelanja untuk kebutuhan dapur. Lagi- lagi si perkasa itu menarik pintu toko Asti itu dengan mudah, kali ini toko dibuka kembali.


" Ayok! kita ke rumah Bude Ayu. Katanya tadi capek dan mau istirahat ? " Suara berat Pakde Cahyadi akhirnya memecah kegalauan Satrio yang tampaknya enggan meninggalkan Asti sendirian di tokonya.


" Pak , kita mampir sebentar ke tempat Mas Herlambang. Nanti!"


Pria itu menepuk bahu anaknya untuk meyakinkannya. Satrio membawa mobil itu keluar dari pasar setelah penumpangnya sudah masuk semua.


Dengan sopan Asti membalas lambaian orang - orang di dalam mobil itu. Tidak termasuk dari Satrio yang melepaskan kecupan jarak jauhnya. Waduh!

__ADS_1


Rumah tua itu kembali ramai setelah Satrio dan kedua orang tuanya berkumpul di ruang keluarga. Tadi mereka sempat tertidur di kamar sebentar.


Justru Bude Ayu memanggil Mbah Muji untuk mengurut Satrio yang mengaku tubuhnya pegal- pegal. Praktis, perjalanan keliling Jawa Tengah dan Yogyakarta dalam seminggu ini dialah yang menjadi supirnya.Walaupun ada satu orang sepupu laki- laki yang ikut serta mendampingi selama dalam perjalanan itu. Namun pria itu kembali ke Boyolali setelah rombongan tersebut akan pulang ke desanya.


Di dapur, Bude masak untuk makan malam dibantu Asti. Ada beberapa lauk yang diolahnya. Hidangan itu tampak sederhana namun dinikmati tamu- tamu mereka dengan lahap.


"Tuh, calon mantu ibu! Bisa apa saja! Ya masak , cari duit. Rumah sebesar ini pun tetap rapi dan bersih. Bagaimana, Pak?"


" Manut aja, Bu ." Sahut pak Cahyadi setelah mendengar penuturan istrinya.


Astri tertunduk di bangkunya setelah ikut menemani para tamunya makan. Ternyata Pakde Cahyadi lebih pendiam dan lebih cool dari sikap anaknya.


" De, ayok kita besanan. Mumpung semua ngumpul. Asti bagaimana? Kamu mau, kan ?" Kata Bude Widyati lagi membuka percakapan.


Wajah Asti semakin bimbang saat mulai mengamati mereka satu- persatu.


"Kami belum mengenal terlalu lama, Bude. Apa kutukan itu nggak membuat keluarga Bude, takut?"


" Asti, jangan terpengaruh oleh rumor atau mitos itu. Udah nggak zaman sekarang!" Jawab Pak Cahyadi tegas.


" Dulu ada orang yang merekayasa mitos itu untuk kepentingan pribadi. Mungkin karena rasa tidak suka dan dendam atau suatu hal." Jelas beliau.


" Benar, Asti." Timpal Bude Widyati tak mau kalah.


" Kebetulan saja setelah pembukaan jalan beberapa tahun kemudian bapakmu meninggal lalu nggak lama Mbah Putri. Tapi semua manusia itu juga nanti akan meninggal. Kita aja yang nggak tau kapan waktunya? Buktinya Mbah Winangun masih bisa mengurus sampai kamu remaja kan? Apa itu karena kutukan?"


Semua orang mulai menerima fakta yang disampaikan oleh kedua orang tua Satrio. Maklum saja, Bude Widyati mantan kepala sekolah SMA di kotanya, sedangkan Pak Cahyadi berdinas sebagai ASN dan memimpin di kantor kecamatan di sebuah daerah, di Purwokerto.


" Walaupun di agama kita nggak mengenal karma. Tetap saja keluarga Junaidi menerima semua perbuatan buruknya."


" Mas tahu tentang masalah Pak Junaidi dan Pak Baskoro, itu ?" tanya Bude Ayu hati- hati.


" Sudah lama tahu, dari Pak Sanjaya. Sesekali Mbah Kung itu menengok cucu- cucunya di Purwokerto. Beliau malah dengar soal mantunya itu, Si Timbul yang jadi begal. Juga cucunya yang meninggal. Warga desa itu sudah malas membantu keluarga Junaidi yang nggak habis- habisnya buat masalah!"

__ADS_1


__ADS_2