
Ninuk sudah memacu motornya keluar dari area kompleks perumahan khusus itu. Sebenarnya dia jarang sekali ke kota ini di malam hari. Agak cemas juga, karena kurang mengenal beberapa jalan penghubungnya. Tetapi Mas Joko sudah meminta seorang temannya menunggu Ninuk di sebuah mini market yang letaknya dekat di pemukiman elit di kota ini.
Jaraknya agak jauh dari kompleks tempat Asti tinggal. Malah masuk ke sebuah jalan dengan pintu gerbang megah agak di kejauhan. Sebuah pemukiman paling terkenal daerah ini.
" Ninuk, ya?" tanya seorang pemuda bertubuh kurus yang sudah lama menunggunya di depan mini market yang lumayan besar itu.
" Iya, saya Ninuk. Ini Mas Bambang?"
"Iya, Saya? Kamu beneran adiknya Joko Ardi , yang dia sebut sebagai petasan cabe rawit?"
"Ih, Mas Joko suka banget ngomongin kejelekan adiknya ini..."
" Sudah, Ninuk. Kamu saya bonceng. Biar Mursadi yang bawa Scoopy milikmu."
" Memang kita mau kemana?"
" Kata Joko, kamu disuruh mencari informasi tentang Zahra di rumah sakit! Apa dia sudah masuk kerja, izin atau libur. Ayok!"
Demi Mbak Asti yang begitu baik, Ninuk rela dibonceng motor trail Mas Bambang yang larinya sepertinya dikejar setan. Untung Ninuk sudah mempersiapkan pakaian tempurnya malam ini. Jaket tebal, celana panjang jeans, dengan kaos kaki dan sneaker. Tak lupa tas backpack di punggungnya.
Para pria yang mengaku teman baik kakaknya itu memarkir motor mereka di jalan raya depan rumah sakit daerah. Mereka urung masuk ke dalam halaman rumah sakit karena harus bergerak lebih cepat.
Ninuk masuk melalui lobi utama rumah sakit yang letaknya ada bagian dari gedung besar berlantai lima ini. Perlahan, Ninuk mendekati sebuah lorong yang biasanya ada meja yang ditunggui oleh dua suster jaga.
"Selamat malam. Maaf, saya bisa bertemu dengan Suster Zahra Madia, ya?"
Wanita perawat yang memakai hijab itu menatap Ninuk sebentar. " Oh, anaknya Pak Ridwan bukan? Suster Zahra masih Izin. Mungkin hari Senin baru masuk."
" Terima kasih atas informasinya."
Ninuk agak terburu-buru menjauhi tempat itu. Ternyata Zahra bertugas di bagian penyakit dalam. Lorong rumah sakit yang hanya berjarak tak sampai 10 meter untuk menuju jalan keluar rumah sakit itu, rasanya seperti berjalan lebih dari 1000 meter bagi Ninuk. Karena harus berjalan dengan was- was takut dan ketahuan salahnya.
" Mas, suster Zahra kata temannya masih izin. Senin baru masuk kerja."
Itu laporan dari Ninuk saat dia sudah keluar dari halaman rumah sakit.Tampaknya Mas Bambang tahu tugas selanjut dari kakak gadis ini.
Pemuda itu membawa Ninuk ke alun- alun kota sesuai dengan instruksi Joko semula. Alun- alun itu bertambah ramai dengan datangnya pengunjung remaja yang rata- rata berpasangan atau menjalin hubungan cinta.
__ADS_1
" Kamu nggak takut dengan kita- kita, kan?" tanya Mas Bambang.
Dia dan teman- temannya berkumpul di lapak yang menjual minuman dan gorengan. Tadi kakaknya meminta Ninuk membelikan mereka rokok, kue dan kopi.
" Ya enggaklah. Memang sudah lama berteman dengan Mas Joko?"
"Belum lama, baru 3 bulanan ini. Apa kalian benar berasal dari desa Sendang Mulyo?"
" Iya, kamu asli orang sana."
"'Lalu siapa Asti itu? " tanya teman Mas Bambang yang lain.
" Dia sepupunya saya. Suaminya yang dinas di kantor depan sana."
Ninuk berbicara apa adanya. Dari awal kecurigaannya ketika dia melihat kedekatan Satrio dan perawat itu. Bukan hanya sekali itu saja. Sebab Asti harus diopname lebih dari tiga hari sampai kondisi kesehatannya mulai stabil.
Dua hari yang lalu Mas Joko menghubungi, kalau dia dan Asti melihat Satrio bepergian keluar kota dengan cewek itu. Pada mulanya Mas Joko juga marah ketika Ninuk memberi tahu kalau Satrio mempunyai wanita idaman lain. Bukannya didukung, Joko memarahi adiknya itu habis- habisan. Kasihan Asti baru melahirkan dan kesehatan belum stabil malah mendengar berita negatif yang tentu sangat mengejutkan untuk didengar siapa pun.
Sampai kakaknya itu berusaha mencari informasi yang lebih akurat. Padahal Ninuk sudah berjanji pada Mbak Asti untuk tidak menyampaikan hal ini pada siapa pun. Tetapi Mas Joko yang pernah mendengar rahasia kelam keluarga Satrio akan selalu menjadi pelindung bagi dia dan Asti.
Ucapan Mas Bambang membuat Ninuk tertegun. " Ternyata kakakmu sedang mengikuti suaminya Asti itu."
"Sekarang kami antar kamu pulang, Nuk. Nggak baik gadis sepertimu keluyuran di tengah malam."
Sekarang Ninuk yang menaiki Scoopy itu menuju arah pulang ke kompleks perumahan itu. Di sepanjang jalan motor trail Mas Bambang mengiringi dari belakang dengan satu teman yang diboncengnya.
Setelah mendekati area kompleks perumahan tempat Asti tinggal , Ninuk mulai memberi lampu sein untuk berbelok ke arah kanan. Ninuk melambai tangannya sambil berteriak mengucapkan terima kasih.
Selama kepergian Ninuk sejak sore tadi, berkali- kali Asti terbangun. Dia yakin Ninuk pasti mendapat perintah sesuatu dari Joko. Jelas saudara sepupunya itu sangat marah melihat kelakuan Satrio saat di luar rumah.
Bukannya Asti diam. Dia pernah mencoba bicara baik- baik, tentang para pria yang suka tebar pesona dengan gadis - gadis muda di luaran sana. Takutnya para cewek- cewek muda itu baper. Sebab Satrio masih muda, tampan dan bermobil bagus, siapa yang nggak kepincut, Hayo?
" Nuk? " Panggil Asti saat mendengar pintu depan di buka.
Gaya jalan Ninuk yang mendorong motornya pelan - pelan masuk ke ruang depan saja, seperti seorang maling saja!
" Ih, Mbak Asti Ngagetin!" ujar Ninuk terperanjat.Wajah polosnya tambah pucat.
__ADS_1
" Kamu aja yang aneh! Masuk rumah menyelinap begitu. Nyalain lampu ruangan ini dulu. Dodol!"
" Ya. Aku pikir, Mbak Asti sudah tidur."
" Mana bisa aku tidur? Ada anak perawan belum pulang ke rumah sampai tengah malam. Kamu keluyuran kemana aja, Ninuk!"
" Aku kan sudah bilang tadi, Mbak. Mau main ke tempat teman!"
" Temannya laki- laki apa perempuan?"
" Kok ada yang kepo, ya? " Ledek Ninuk konyol. Setelah motor diletakkan di samping motor Asti. Ninuk menutup pintu ruang depan.
" Ya , sudah kalau nggak mau cerita! Kamu bersih- bersih badanmu. Lalu tidur. Kamu tidur di kamar sebelah, ya. Sudah aku siapkan dan sudah dingin AC- nya."
Terlihat Asti beranjak pergi. Ninuk juga belum dapat bercerita apa pun tentang kegiatannya tadi. Hubungan Satrio dengan Zahra itu terbungkus rapi seperti suatu selimut misteri.
Paginya Mbok Bayah datang. Wanita itu menggurus Akbar dari memandikan, menggendongnya ke depan rumah. Sementara Asti mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga yang tak ada habisnya.
Ninuk mendengar panggilan tukang sayur agak keras di depan pintu. "Mbak Asti, ada tukang sayur, tuh !"
Kakak sepupunya itu, tampak keluar dari kamar mandi setelah mencuci pakaian. Dia mengambil dompet dan berjalan keluar. Padahal kegiatan yang dilakukannya itu tak sampai lima menit. Namun sampai di luar, sudah banyak ibu- ibu yang datang mengerubungi Pak Sayur.
Dari jauh Asti melihat, Akbar dibawa keliling Mbok Bayah dengan stroller diiringi dua fans setianya, si kembar Tarra dan Torro.
" Belanja, Bu?" Sapa Asti pada ibu- ibu yang lain. Asti memilih beberapa buah wortel, kol dan seikat sawi.
Tampaknya dia berniat membuat masakan cap cay saja untuk menjamu Ninuk. Sebab adiknya itu sangat menyukai masakan yang mudah dan simpel itu saat dulu mereka makan di sebuah restoran di sebuah mall di kota Solo.
Sambil menunggu giliran untuk dihitung sayuran yang dibelinya. Satu persatu- para bapak di sekitar blok ini mulai bersiap - siap pergi ke kantor. Hati Asti teriris pedih.
Mereka yang lebih senior justru lebih berkomitmen pada keutuhan rumah tangganya. Bukan seperti Satrio yang mulai mencari ulah lagi.
Satu demi satu mobil- mobil dinas itu meninggalkan kompleks perumahan ini. Ada anak dan istri yang mengantar kepergian mereka sambil mendoakan keselamatan sang suami.
" Ada apa, Mbak? " Panggil Ninuk.
Asti menoleh. Wanita itu agak lama terdiam di depan rumah. Sejak Ninuk menyampaikan berita itu, Asti sering terlihat melamun. Betapa pun dia selama ini mampu menyimpan rasa sedih dan kecewanya. Tetapi sedikit demi sedikit kebenaran akan terkuak.
__ADS_1