
Peristiwa itu cukup membuat Asti terkesan. Kita berbaik hati kepada orang lain, belum tentu orang itu juga mau berbuat baik kepada kita! Atau malah mungkin memanfaatkan keadaan itu.
Asti yakin sekali, kalau Ibu Corinne sudah banyak mendapat informasi tentang dirinya dari para tetangga. Dari istrinya Pak RT juga dari kedua wanita yang bekerja di rumahnya ini. Maklum mereka semua adalah orang - orang yang bersikap sederhana karena lahir dan besar di daerah seperti ini. Sebuah perkampungan. Tentu mereka mempunyai berkepribadian terbuka dan ramah kepada orang lain.
Sejak sore tadi, Bu Jum dan Mbak Ning jadi sering terdiam. Mereka seperti agak shock karena perkataan Pak Leon yang tegas dan keras terhadap mantan istrinya itu.
" Apa Ibu Corinne akan datang ke sini lagi, Mbak Asti?"
" Jangan diterima aja! Tutup pintu. Beres!" Ucap Bu Jum yang sedikit kesal.
"'Saya juga bingung ... Kok, ada. Ya. Perempuan seperti itu ? Awalnya marah-marah, ngatain Mbak Asti. Eh, tadi siang nangis-nangis. Merasa menyesal! Ternyata cuma bohongan..." Kata Bu Jum lagi.
" Itu namanya akting, Bu Jum! " Kata Mbak Ning kesal.
" Oh, yang kayak di sinetron itu, ya? Pemain perempuan yang sering marah- marah itu, terus jahat sama orang, tetapi segala rencana jahat menang terus, gitu?"
Asti jadi tertawa geli. Dia jarang menonton sinetron. Jadi kurang memahami judul sinetron apa yang sering mereka tonton. Sebab dia lebih sering di kamarnya untuk menidurkan Akbar setelah menyelesaikan sholat Isya. Sampai dia tertidur dan bangun kembali menjelang tengah malam. Sering dia mengerjakan sholat tahajud, dan beberapa sholat Sunnah lainnya. Terkadang tidur kembali Sampai menjelang Subuh.
" Mbak tolong dicek semua sebelum tidur ya?" Pinta Asti lagi.
" Beres, Mbak! " Kata Mbak Ning dan Mbak Jum hampir bersamaan.
Di daerah pemukiman perkampungan yang ramai seperti ini, belum ada tenaga keamanan khusus. Apalagi satpam yang harus diberi gaji bulanan. Jadi biasanya masyarakat mengadakan kegiatan siskamling berdasarkan keputusan musyawarah bersama di kampung itu.
Akbar sudah dipindahkan Asti ke boks. Boks kayu yang cukup besar sehingga dapat digunakan sampai anaknya itu berusia lebih dari dua tahun nanti. Boks pemberian si kembar.
Semula niat Asti akan sering datang ke rumah Ibu Anggita, menengok Tarra dan Torro agar tidak memutus tali silaturahmi di antara mereka. Namun si Zahra itu sekarang tinggal di komplek yang sama dengan Ibunya si Kembar. Takut dia disebut kepo dengan kehidupan si mantan dengan istri mudanya itu! Kalau sering muncul di perumahan khusus itu.
__ADS_1
Dania sudah membuka toko dan merapikan barang- barang untuk digantung dan di pajang di etalase. Sebelum banyak pembeli yang datang, Asti meminta Dania sarapan terlebih dahulu di warung Yu Yemi. Sementara dia merapikan berbagai barang, dan mengelap debu- debu yang menempel di kaca dan pembungkus plastik barang dagangannya.
" Mbak Asti? Rajinnya ..." Suara itu berasal dari wanita yang menjaga toko emas di sebelah.
Asti hanya tersenyum membalas sapaan itu. Justru istri Koh Edy yang sering nongkrong di toko emas terbesar di pasar ini. Cik Feline panggilannya. Asti tidak terlalu akrab dengan wanita yang sudah punya dua anak itu.
Beberapa pembeli datang ke toko Asti dengan nama " Muslimah" itu. Ada yang hanya melihat atau bertanya - tanya tentang harganya saja. Namun lebih banyak juga yang membeli. Dania segera datang membantu. Kadang dia akan mengambil barang yang dipilih pembeli atau membungkus barang yang sudah dibeli. Kemudian barang itu dimasukan ke sebuah tas kresek berlogo nama toko ini.
Asti istirahat sebentar. Dia meneguk teh manis hangat bercampur perasaan jeruk nipis. Sejak dia melahirkan dulu, banyak vitamin dan nutrisi obat penambah darah yang harus diminumnya berdasarkan resep dokter. Hal itu atas anjuran dari dokter yang dulu menangani saat dia melahirkan Akbar.
" Mbak ada mas ganteng, tuh! Tumben dia nongol di toko lagi. Sebelumnya, dia gagal move on ... Itu yang ngomong Mbak Dewi, yang lagi jaga toko itu."
" Memang dia putus dengan tunangannya itu?" tanya Asti pura- pura tidak tahu.
" Dia naksir Mbak Asti sudah lama. Dia patah hati berat ketika Mbak Asti menikah dengan Mas Satrio..." Lanjut Dania semakin lancar.
" Dania, kalau kita mau maju. Jangan lagi menoleh ke belakang. Belajarlah dari kesalahan yang kita perbuat, lalu perbaiki dan terus bekerja keras untuk meraih impian kita!"
Wajah Dania malah tampak suram, mendengar nasehat dari Asti. Dia sudah lama tidak datang lagi Ke warung Tenda. Sebab ibunya juga mulai marah- marah kalau Dania sering keluyuran dan pulang malam tidak jelas!
Beban di pundak Dania semakin berat saja, saat ini. Susah payah dia menyimpan sisa dari gajinya untuk ditabung. Tetap saja harus di bobok untuk membiayai kehidupan keluarganya sehari-hari dan kebutuhan sekolah adik-adiknya yang kelas IX dan kelas VII di SMP.
" Kamu kenapa, Dania?"
" Ada tawaran untuk program kejar Paket C di kantor kecamatan, Mbak! Aku ikut nggak ya, Mbak?"
" Ikut saja. Waktunya kapan?"
__ADS_1
" Tiap hari Sabtu atau Minggu ...."
" Kenapa? Kok jadi ragu- ragu. Ikutlah, Dania... Mumpung masih ada kesempatan. Cari informasi yang terbaru. Kalau perlu biaya untuk ikut pendaftaran, nanti aku usahakan!"
" Ya, Allah. Benar, Mbak?"
" Iya, asal kamu bersungguh- sungguh, Dania. Pasti ada jalan!"
Diam - diam dia menghapus air matanya yang menitik. Pedih! Dia sering merasa tak nyaman dengan kehidupan keluarganya yang sangat sulit seperti ini. Padahal sudah banyak dibantu oleh Mbak Asti dan keluarga Bude Ratih! Tetap saja selalu kekurangan karena tidak punya lahan sawah sendiri. Jadi kedua orang tuanya harus menjadi buruh tani, dengan upah yang sedikit.
Cepat Asti berbelanja kebutuhan harian ke dalam pasar. Biasanya dia, membeli berbagai macam sayuran, lauk - pauk dan bumbu. Dua tas kresek di tangannya sudah penuh.
Uang di kotak sudah dirapikan oleh Dania. Dia akan pulang siang ini. Sementara Dania pulangnya agak sore sedikit. Dia sangat berharap agar dapat menolong Dania. Tentu seperti pepatah, kalau kita menolong orang susah jangan dulu diberi ikan, tetapi diberi alat pemancing biar dia berusaha untuk mendapatkan ikan itu!
Di rumah, Akbar sudah menunggunya dengan tak sabaran Ditemani Asti, Bu Jum menyuapi bayi itu makan . Kali ini Akbar sudah duduk manis di kursi bayinya sambil nonton tv.
" Rumah aman, Bu Jum?"
" Aman, Mbak!" jawab Bu Jum pelan.
" Tadi ada Bu Haji Anissa, mampir sebentar melihat Akbar!"
" Ada pesan untuk saya, Bu. Dari Bu Haji?"
" Katanya kalau ada waktu, Mbak Asti disuruh mampir ke ruko besok. Tadi Bu Haji lupa nggak bawa hape. Ketinggalan di rumah!"
Asti tertawa geli. Mungkin umur Bu Haji Anissa sebaya dengan Bulek Ratih, hampir 45 tahun. Hanya saja, Bu Haji kulitnya seperti wanita berumur 30 tahun saja dengan wajah cantik, bersih dan terawat. Maklum banyak duit! Tetapi Bu Haji Anissa mulai terserang penyakit lupanya! Tanda-tanda faktor U.
__ADS_1
Pernikahan Ibu Anissa dan Pak Haji Anwar Sa'id pun karena hasil perjodohan. Mereka berdua berasal dari keluarga ayah atau kakek yang menjadi ulama besar yang cukup terkenal di wilayah masing- masing. Namun pernikahan mereka, selalu tenang dan adem ayem. Pasangan itu sangat akur dan harmonis dengan dua putra yang satu mondok di pesantren di Jawa Timur. Si sulung kuliah di negara Mesir.