Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 240 . Di Balik Rencana Liburan


__ADS_3

Dua jam sudah Pak Sugeng sang supir utama menjalankan mobil Elf itu dalam kecepatan sedang... Kini mereka mulai menyusuri jalan provinsi yang menjadi perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Jalan ini cukup lebar, beraspal mulus, juga sangat ramai dilalui berbagai jenis kendaraan setiap harinya.


Sebelum azan Ashar, Lek No sudah memberi aba-aba agar pak supir segera mencari tempat ibadah atau masjid terdekat. Tak lama, mobil Elf itu berbelok ke kiri memasuki sebuah jalan menuju masjid besar yang cukup mencolok bentuknya, karena terlihat dari pinggiran jalan raya itu. Bukan saja karena bentuk kubahnya yang besar , dengan warna hijau terang. Juga ada 4 bangunan menara tinggi yang mengapit di keempat sisi masjid tersebut. Sampai kemudian terdengar kumandang azan bertalu-talu, menyerukan para umatnya untuk berhenti sejenak dari kesibukan mereka, agar segera menjalankan kewajiban mereka sebagai umat yang patuh beribadah.


Halaman masjid itu cukup luas dan diberi paving blok, sehingga terlihat bersih dan nyaman. Di sisi kanan-kiri masjid ada taman yang tertata cantik dengan pohon - pohon tinggi yang hijau dan rimbun. Sudah banyak orang-orang yang menunggu di loby dalam mesjid bersiap untuk melaksanakan sholat Ashar berjamaah.


Asti membawa anak-anaknya menuju ke bagian area ruang sholat khusus untuk wanita. Mereka bergantian sholat sambil menjaga Akbar dan Qani . Mungkin merasa bebas, Qani mulai merangkak ke area depan masjid yang lantainya terbuat dari marmer hijau yang dingin dan sejuk.


" Sudah sholat, Mbak?" tanya Ninuk.


" Sudah! " ujar Asti, sambil melipat sajadah dan mukena. perjalanannya ... Ternyata mereka bertiga membawa mukena yang sama. Hadiah dari biro travel perjalanan haji milik dari Pak Haji Anwar, saat mereka menjalankan ibadah umroh hampir setahun yang lalu.


Mukena berwarna putih gading itu terbuat dari katun renda yang halus dan bagus. Semua jamaah umroh wanita dari biro itu diberi 3 stel mukena dengan warna-warna lembut lainya selain putih. Yaitu krem dan hijau mint. Selain itu mereka diberi dua koper besar berbeda ukuran untuk dibawa bepergian ke sana. Belum lagi bermacam -macam hadiah kecil lainnya yang menyertai kepergian mereka ke Tanah Suci.


Suara Qani dan Akbar yang ramai terdengar sampai di depan pintu depan masjid, cukup mengejutkan Asti. Bayi perempuan itu sudah merangkak mendekati area sholat para pria. Qani mencari ayahnya. Tentu saja Akbar berjalan lebih dulu di depan adiknya sebagai penunjuk jalannya.


Beberapa orang yang ada di dalam mesjid itu tertawa melihat cara Qani bergerak cepat dengan merangkak dan mendekati ayahnya itu. Walaupun jaraknya agak jauh.


Cepat Leon berjalan ke arah bayi yang merangkak itu dan menggendongnya. Dalam sekejap Qani berada di pelukan sang ayah yang membawanya ke luar dari area dalam masjid, menuju halaman depan. Agar tidak menggangu jamaah lain yang masih sholat dan berdiam agak lama di dalam masjid.


Ninuk terus mengawasi dari jauh, saat para bocil itu lepas dari pandangan mereka. Ada rasa hormat, sekaligus kagum melihat keberadaan suami sepupunya itu. Ketika Leon tetap mengajak Akbar duduk di sisinya, sementara Qani ada di pelukannya. Mereka duduk di sisi halaman masjid yang tidak sering dilalui orang lain.

__ADS_1


Pemandangan itu tentu menjadi perhatian beberapa wanita yang keluar dari samping masjid. Setelah mereka menyelesaikan ibadahnya. Pemandangan seorang pria tampan yang duduk bersama di halaman masjid luar, dengan dua anaknya yang lucu, menggemaskan, juga imut.


Anak laki-lakinya berwajah tampan dengan tubuh sehat dan padat. Sedangkan mata bulat Qani dengan hidung mancungnya adalah duplikat dari wajah sang ayah, Leon.


"Dek, ada Ibu!" panggil Akbar sambil melompat - lompat riang.Tanganya menunjuk ke arah Asti .


Kedatangan Asti yang menemui mereka, malah membuat para wanita di sana, agak sedikit iri dan cemburu. Pasangan suami istri itu terlihat sangat serasi, karena yang suaminya tampan dan gagah. Sedangkan istrinya tetap terlihat cantik dengan gaun gamis perjalanan yang sederhana. Ternyata mereka keluarga kecil yang sangat serasi dan harmonis.


" Kita makan di mana, Mas?" tanya Asti lembut. Sambil memperbaiki gaun Qani yang sedikit berantakan. Karena kegiatan bayi mungilnya itu yang semakin sering merangkak ke mana- mana.


" Tanya Ibu Guide Tour kita, dong! Adakah referensi tempat makan yang terdekat dari tempat ini!"


" Siap, Mas!" seru Ninuk yang segera membawa tas ransel dan buku catatannya.


Mereka memasuki restoran berupa bangunan pendopo besar, dengan dua meja terpisah. Sebab Pak Sugeng mau merokok lebih dahulu sebelum makan. Katanya kalau nggak merokok mulutnya asam. Jadi mereka memilih meja yang di luar, dekat dengan jendela atau di bawah pohon- pohon besar di depan restoran.


Joko yang memberi arahan agar mereka makan di restoran yang ada di pinggir jalan raya utama lebih dahulu. Sebelum menuju ke daerah ini. Sebab resort yang merupakan tujuan terakhir perjanjian hari ini, letaknya agak terpencil di pinggiran kota Madiun.


Sedangkan lahan yang akan mereka bebaskan, letaknya sangat jauh dari pemukiman penduduk. Sekalipun, ada, di desa itu jauh dari keramaian. Ada satu dua warung makanan pun tidak terlalu memadai.


Makanan yang dihidangkan di rumah makan itu, secara umum hampir mirip dengan masakan Jawa pada umumnya seperti nasi pecel, soto dan ayam bakar, rawon. Tetapi cita rasa masakan di daerah ini lebih berani menggunakan banyak bumbu, jadi sangat terasa di lidah. Bahkan sambelnya pun sangat pedas.

__ADS_1


Di meja itu sudah disiapkan pilihan makanan mereka. Ada beberapa yang memilih menu sejenis soto. Akbar dan Leon memilih ayam bakar cobek. Mbak Ning dan Bu Jum memilih nasi pecel dengan berbagai gorengan sebagai pelengkapnya.


Hampir 1 jam mereka makan dan istirahat di sana. Sebelum masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan. Elf mulai memasuki wilayah kota Madiun. Kota itu termasuk kota terbesar nomor empat di provinsi Jawa Timur, setelah Surabaya, Malang dan Kediri. Mungkin besok Ninuk akan membawa rombongan itu untuk keliling kota ini atau cukup beristirahat sejenak di resort.


Benar saja, di pinggiran kota menuju ke desa Sumber Sari, terlihat mobil Pajero yang dikemudikan Pak Cakra ada di dekat alun-alun sebuah masjid. Mobil itu memberi isyarat untuk menjadi pemandu agar mereka tidak tersesat memasuki wilayah daratan yang merupakan wilayah pedesaan. Jalannya naik turun dan agak sedikit curam.


Sampailah kedua mobil yang berjalan beriringan itu memasuki sebuah halaman luas yang merupakan bagian dari resort dan hotel " Citra"


Tampaknya, penginapan ini memadukan konsep hotel untuk penyewaan kamar - kamar di bangunan utama berlantai tiga. Sedangkan konsep vila atau resort ada di bangunan yang lebih jauh lagi, yaitu pada bagian tanah yang menuruni bukit-bukit landai.


Mereka turun dan menuju loby utama. Ninuk sudah menemui resepsionis yang sudah menyiapkan kamar untuk mereka, karena sudah dipesan sehari sebelumnya oleh Pak Cakra.


Ada peraturan, kalau mereka menyewa resort kendaraan dapat dibawa sampai ke depan tempat yang mereka sewa. Rencananya mereka akan berada di tempat ini sampai hari Rabu.


Rombongan untuk mendapatkan resort berupa bangunan dua lantai. Di lantai satu ada tiga kamar, dengan satu ruang penghubung yang merangkap ruang tamu dan ruang makan. Di lantai kedua juga ada empat kamar, lengkap dengan balkon yang menghadap ke lembah di depannya.


Ninuk, Leon dan Lek No mulai membuat pengaturan kamar- kamar yang akan mereka tempati nanti. Kamar di lantai satu yang paling besar akan digunakan untuk keluarga Pak Leon, dengan dua anaknya. Satu kamar digunakan Lek No dan istrinya , satu kamar lagi untuk kedua supir. Masing-masing kamar ada kamar mandinya di dalam.


Di lantai dua ada kamar untuk Bu Jum dan Mbak Ning, satu kamar untuk Ninuk dan Putri. Dua kamar lainnya akan digunakan oleh Pak Cakra, Joko dan satu pegawai dari kantor Pak Leon Leon, yaitu Mas Topan.


Mereka segera bersiap - siap mandi untuk sholat Magrib. Sementara Bu Jum mulai memasak nasi. Dapur hotel hanya dibuka untuk pemesanan untuk orang yang menginap di tempat itu saja. Sedangkan restoran dan kafe baru dibuka pada hari Sabtu dan Minggu saja .

__ADS_1


Untungnya di dapur resort yang mereka tempati disediakan kompor listrik, dan beberapa peralatan makan seperti piring, gelas dan sendok garpu. Jadi Bu Jum dan Mbak Ning mulai mengeluarkan lauk-pauk matang yang mereka siapkan dari rumah.


Benar suasana di sini agak lebih dingin karena tempatnya lebih tinggi dibandingkan daerah lain di sekitarnya. Juga dekat dengan objek wisata baru, yang jauhnya tak sampai 5 km dari tempat penginapan itu.Tempat wisata yang memanfaatkan potensi sungai dengan aliran deras itu menawarkan berbagai petualangannya seru dan terbaru. Tempat itu mulai ramai dikunjungi para wisatawan dari daerah lain, di saat hari libur dan weekend.


__ADS_2