Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 52. Gosip Pak Sayur


__ADS_3

Kepergian Asti dari rumah dinas Satrio sudah di pantau Ibu Anggita. Sedikit ngeri juga ketika dari cctv di rumah dinas Satrio itu yang tersambung ke hapenya. Dia melihat tindakan kasar Satrio kepada istrinya itu.


Pantas saja selama ini, Asti semakin diam dan menutup diri. Ternyata dia sudah merasakan perubahan sikap dan tindakan Satrio yang sangat berbeda.


Terkadang Ibu Anggita sangat miris dengan fenomena kehidupan pernikahan saat ini. Perceraian timbul bukan hanya masalah ekonomi, juga adanya orang ketiga.


Sedangkan Satrio ibarat membuang Asti yang berlian untuk mendapatkan kerikil jalanan. Karena Zahra hanyalah perempuan muda yang terlihat pandai merayu laki -laki dengan suaranya yang mendesah manja. Juga berani memperlihatkan sebagian kemolekan tubuh mudanya dengan pakaian ketat, pendek dan tipis menerawang.


Asti tidak kalah cantik dengan Zahra. Bahkan kecantikan Asti punya nilai lebih. Dia sangat taat dengan ajaran agama dan berprinsip kuat. Dewasa dan pandai bersyukur .


" Asti bagaimana keadaanmu?"


Tanya Ibu Anggita siang itu.


" Baik- baik. Bu! Sepertinya Satrio yang akan mengurus berkas perceraian itu!".


Dari cerita Asti, Ibu Anggita tahu. Pengaruh Pak Cahyadi sangat kuat dalam hidup Satrio. Ibu Imelda pun akan mempersiapkan bukti itu nanti di persidangan kalau Satrio berani memutarkan balikkan fakta. Setidaknya Asti harus mendapatkan haknya.


Selama ini, Ibu Anggita sudah tinggal hampir dua tahun di kompleks itu. Namun dia agak bingung ketika mendengar cerita dari Pak Sayur dan Mbok Bayah. Apakah ada hal mistik yang terjadi di dalam rumah Satrio yang menyebabkan hubungan pernikahan mereka kandas?


Pak Sayur bercerita pada Ibu Anggita kemarin, setelah kepergian Asti disaksikan para tetangga kiri dan kanan rumah mereka. Karena sebelumnya mereka mendengar suara keributan di rumah Satrio dan keluarga yang berdatangan berbarengan di siang harinya.


" Bu Anggita, sehari sebelum Ibu Satrio masuk rumah sakit karena mau melahirkan, dia terlibat adu mulut dengan Ibu Suparlan." Lapor Pak Sayur. Bapak tua itu menyerahkan pesanan Ibu Anggita. Bermacam sayuran dan buah- buahan dalam tas kresek besar.


"Eh, paginya saya lihat Ibu Suparlan ada di depan teras rumah Pak Satrio seperti menyebar daun- daun kering ke teras. Saat ibu Suparlan balik ke rumahnya pun berjalan mengendap-endap, sambil melihat ke kanan-kiri, takut perbuatannya dilihat orang. Jadi saya nggak berani mendekat. Sebab rumah itu kosong karena semua orang di rumah itu pergi mengantar Ibu Satrio ke rumah sakit."


"Apa benar Pak Sayur yang lihat sendiri, Ibu Suparlan ada di sana?"


" Benar, Ibu. Demi Allah! Saya hanya berani ngomong ini ke , Ibu aja! Sebab selama ini, Ibu Satrio selalu baik dan mengizinkan saya memakai air di kran depan rumahnya itu. Apalagi Ibu dan Ibu Satrio berhubungan sangat baik ."


Memang para ibu - ibu yang berbelanja ikan air tawar atau ikan air laut, selalu meminta Pak Sayur untuk membersihkan ikan yang mereka beli. Nah, di depan pagar Asti ada kran dan ember bekas cat milik pak sayur untuk membersihkan ikan yang sudah dibuang isi perutnya.


" Kemarin pisau saya yang sering digunakan untuk menyiangi ikan ketinggalan di atas tembok pagar itu. Jadi saya datang pagi- pagi ke rumah Ibu Satrio dulu untuk mengambilnya, sebelum berjualan keliling. Jadi saya agak curiga melihat Ibu Suparlan di sana!"


" Maksud Pak sayur?" tanya Ibu Anggita kurang paham. Maklum cerita pak Sayur agak di luar logika.

__ADS_1


" Iya, sepertinya Ibu Suparlan melakukan sesuatu di sana untuk menghancurkan pernikahan Pak Satrio dan istrinya."


" Masa sih , pak?"


"Mbok Bayah juga sudah curiga, karena Bu Suparlan suka mengirim berbagai makanan ke Pak Satrio, saat istri nya masih tinggal lama di desa. Waktu itu Mbok Bayah pernah diajak ke desanya Ibu Satrio. Cuma sebentar karena ikut pulang sama Pak Satrio."


Mungkin juga para tetangga menanyakan hal itu kepada Mbok Bayah. Karena wanita itu juga dulu dimintai mereka untuk mengurus bayi. Sebab sebagian dari para ibu- ibu penghuni kompleks ini adalah pendatang dari berbagai tempat dan daerah. Mereka mengikuti suami mereka bertugas dan ditempatkan di kota ini.


"Justru rumah itu berbau busuk ketika Ibu Satrio pulang. Padahal Mbok Bayah setiap hari datang ke rumah itu untuk menyapu dan mengepel rumahnya. Karena agak curiga dengan bau busuk itu, Mbok Bayah meminta tolong kepada tetangganya. Dia disuruh mengepel rumah itu dengan air bekas cucian beras dan garam yang sudah diberi doa oleh orang itu!"


"Terus bagaimana, Pak?"


"Baunya hilang, Bu. Cuma Mbok Bayah melihat, justru sikap Pak Satrio yang banyak berubah. Sampai bulan kemarin, Ibu Satrio memberi uang sama Mbok Bayah sampai dua bulan gaji. Terus Mbok Bayah diminta nggak perlu datang lagi, karena Ibu Satrio beralasan akan sering ada di rumah barunya di daerah persimpangan. Dekat kampung halamannya."


" Pak Sayur, masih berjualan lewat rumah Mbok Bayah?"


" Masih, Bu."


"Kalau ketemu, minta tolong Si Mbok suruh main ke rumah saya, Pak. Tapi siang aja datangnya. Saya masih harus nunggu si kembar di sekolah. "


Uang pesanan sayur segera diberikan Ibu Anggita kepada Pak Sayur. "Tapi Pak Sayur nggak ngomongnya ini ke siapa pun, kan?"


" Saya janji, Bu!. Justru saya ngomong begini karena kasihan dengan Ibu Satrio. Dia masih muda dan cantik, agamanya kuat. Orangnya sopan dan menghargai orang lain. Kurang apa lagi, coba ? Sampai Pak Satrio tega menceraikannya!"


Gumam Pak Sayur lirih hanya disambut Ibu Anggita dengan tersenyum miris. "Cuma lelakinya aja yang kurang ajar, Pak! Nggak pandai bersyukur. Iya kan?"


Benar saja. Besoknya Mbok Bayah datang ketika sudah sangat siang. Wanita itu duduk di teras rumah Ibu Anggita tetapi pandangannya menerawang ke arah rumah Pak Satrio dengan sedih.


" Masuk, Mbok.Jangan melamun di situ!"


Mbok Bayah segera duduk di kursi tamu yang tampak nyaman. Dari dalam kamar , keluarlah seorang wanita tua yang tampak sangat apik menjaga tubuh dan kecantikan wajahnya.


" O, ada Eyang Uti?"


Mereka bersalaman. " Kita ngobrol di ruang makan aja, Gita. Takut didengar sama tetangga yang punya telinga setajam silet."

__ADS_1


Mbok Bayah tertawa geli. Benar juga, tetangga di sekitar rumah Mbak Asti ternyata lebih parah penyakit mau tahunya. Sampai ada yang seorang ibu yang menginterogasi dia layaknya seorang tertuduh. Padahal suaminya yang dinas sebagai polisi, si istri jadi ikutan juga.


" Benar di rumah Asti ada dibuat orang secara mistik hingga rumah tangga mereka berantakan?" tanya Ibu Anggita . Setelah menyediakan minum dan sepiring mie goreng kesukaan tamunya itu.


"Menurut Mas Ustaz Jauhari begitu, Bu. Kalau Mbak Asti nggak kuat ibadahnya, dia bisa dibuat gila katanya. Saya kasihan sama Akbar karena sering rewel, kalau tidur malam kurang nyenyak. Maunya apa itu orang menyakiti orang lain pakai barang- barang musyrik?" Omel Mbok Bayah pelan.


" Memang masih ada cara seperti itu, Mbok?" tanya Ibu Anggita. Sebab mereka tinggal di kota dan ditempa pendidikan modern dan berpikir secara ilmiah dan logis.


" Di sekitar daerah Mbak Asti malah masih banyak, Bu. Di sana ada sebuah tempat dengan ritual tertentu untuk mendapatkan kekayaan . Ada banyak petilasan, makam tua keramat atau apalah untuk dagangan biar laris, naik pangkat atau diberi kekuasaan untuk memimpin. Hanya kalau yang dikirim ke rumah Mbak Asti sepertinya mirip santet, Bu. Serem kan?"


Kedua wanita pendengar setia cerita Mbok Bayah sampai merinding. "Tenang, Bu. Barang jahat seperti itu akan kembali ke pemiliknya, kok. Tunggu saja!"


" Mbok Bayah sok tahu ah!" bisik Ibu Anggita sambil mencolek pinggang gemuk wanita tua itu.


"Eh, Eyang Uti juga lebih tahu soal beginian juga, kok!" Balasnya yakin.


" Itu di zaman dahulu, Mbok! Kalau leluhur kita menyimpan jimat untuk dibawa berperang agar diberi kekuatan melawan musuh. Ada bedak biar cantik dan awet muda, supaya suami nggak kecantol pelakor. Kalau sekarang hal itu digunakan untuk menyakiti dan menghancurkan rumah tangga orang lain. Apa nggak dosa itu?"


" Biarlah Mbak Asti dan Akbar keluar dari rumah itu sekarang. Rumah itu juga nggak sehat lahir dan batin ." Bisik Mbok Yah sedih.


" Memang banyak orang di sini yang tanya soal Asti dan Satrio, Mbok?"


" Huh, bukan banyak lagi tetangga Ibu yang kepo. Malah ada yang datang ke rumah saya pura- puranya mampir dari toserba sebelah. Mereka membawa gula, kue atau sirup. Ya, saya terima ... Rejeki kok ditolak! Saya banyak diam, mereka yang sibuk bergosip. Jadi ambyar ceritanya."


Eyang Uti jadi tertawa geli mendengar cerita Mbok Bayah yang konyol itu. Sampai air matanya keluar. Apalagi Ibu Anggita. Pantas saja, penghuni kompleks ini sangat tenang belakangan ini. Ternyata para ibunya sedang memantau perkembangan yang terjadi.


" Sebegitu bencinya kah, Ibu Suparlan kepada Asti?" tanya Eyang Uti masih tak percaya.." Apa tujuannya coba?"


"Dasarnya adalah iri hati dan dengki, Ma! "Ucap Ibu Anggita terbata.


Kehadiran Asti pertama kali di kompleks ini agak mengejutkan semua orang. Sebagai pasangan suami istri yang baru menikah mereka memang tampak serasi. Karena suaminya gagah, tampan dan berpenampilan keren. Jarang seorang anggota yang baru beberapa tahun bekerja sudah mempunyai mobil yang bagus. Kalau tidak berasal dari keluarganya yang kaya.


Lain halnya dengan penampilan Ibu Satrio dengan nama panggilannya Asti. Dia masih sangat muda, cantik tetapi penampilannya sederhana dengan hijab dan gamis panjang tertutup. Dia mendatangi setiap rumah yang bertetangga dengannya. Memperkenalkan dirinya sambil membawa makanan yang dapat disimpan lama. Dari kerupuk, gula aren sampai beras ketan. Katanya semua berasal dari kampungnya.


Semua ibu- ibu senang menerima kehadiran Asti. Justru Ibu Suparlan yang mulai tidak suka. Sebab walaupun mengaku orang desa dan tinggal di kampung, Asti sangat ramah mudah bergaul. Sampai Ibu komandan yang menjadi ketua organisasi para istri abdi negara itu sangat mengandalkan Asti. Sebab Asti cepat tanggap bila diberi tugas.

__ADS_1


__ADS_2