
Tanpa terasa, mereka akan meninggalkan kota Mekkah. Setelah hampir selama tujuh hari hari tinggal di sebuah tempat di yang berada di jantungnya tempat ibadah bagi kaum muslim sedunia. Sebelum keluar dari kamarnya menjelang dini hari, Asti memastikan tidak ada barang yang tertinggal di kamar tidur dan di kamar mandi.
Di sanalah, di kota Mekkah, di Masjid Masjidil Haram kembali Asti bersimpuh berdoa setelah melaksanakan berbagai sholat Sunnah setelah sholat Subuh. Wanita itu berusaha memperbaiki kembali ibadahnya. Namun kehadiran Akbar memberinya suatu makna penting, dalam satu langkah kehidupannya. Dia berusaha menjadi ibu yang baik untuk panutan kehidupan anaknya di masa depan Saat itu dia kembali meminta diberi jodoh lagi dengan seorang pria yang dapat membimbing dalam kehidupan berumah tangga. Dia pun mendoakan pria itu. Semua urusan Jodoh itu Allah yang menentukan, kalau memang disatukan dalam takdir yang baik, dia akan menerima pria itu dengan segala kekurangannya.
Tentu berbeda dengan Ninuk dan para jemaah Ibu- ibu yang hobi traveling dan yang hobi belanja. Tentu mereka nikmati hari terakhir di kota Mekkah itu untuk berburu tempat sejarah di luar kota itu atau mencari berbagai oleh- oleh menarik.
Lain dengan Asti dan para ibu sepuh yang lain. Mereka duduk-duduk di pelataran Masjid Masjidil Haram sambil menikmati suguhan pemandangan di dekat Baitullah.
Semua jadwal yang diberikan oleh pihak travel terlaksana dengan baik. Sebab di bulan Januari itu tidak terlalu padat oleh orang-orang yang menjalani ibadah umroh.
Bulek takjub ketika diceritakan oleh seorang pimpinan kelompok kalau, setiap jalan, tempat mereka beribadah itu akan penuh dengan lautan manusia saat musim haji. Mereka datang dari seluruh belahan dunia untuk melengkapi rukun Islam yang kelima.
Segala tempat di sekitar wilayah ini terus diperbaiki fasilitasnya. Tentu dengan teknologi yang sangat modern. Terlihat perbaikan di sana- sini dengan menggunakan crane yang tinggi. Namun nilai - nilai sakralnya tetap terpelihara sampai akhir zaman.
Rombongan kembali dikumpulkan di loby hotel untuk dicek berbagai surat dan pasport mereka agar mudah dalam mengurus kepulangan ke tanah air.
__ADS_1
Kebanyakan para jemaah yang lebih muda menambah bagasi dengan berbagai oleh - oleh yang mereka beli. Termasuk air zamzam. Namun Asti hanya membeli beberapa oleh - oleh untuk orang - orang yang dekat dan bekerja padanya. Untuk para tetangga, Asti sudah memesan pada toko sovenir milik Ibu Haji Anissa untuk dapat buatkan 50 kotak yang berisi makanan dan permen khas dari Arab itu saja. Kebetulan untuk pemesanan itu sudah dibayar Asti sebelum berangkat ibadah umroh, alias lunas.
Sehari sebelum jadwal kepulangan, Joko dan Ninuk diizinkan oleh pihak pengurus kelompok untuk menjelajahi tempat yang lebih jauh lagi dari kota Mekkah ini. Mereka menyebutnya wisata sejarah yang merupakan tempat atau situs sejarah Islam di negara ini
Asti, Bulek Ratih dan Lek No lebih suka berada di pelataran masjid terbesar di sini sebagai sebagai upaya perpisahannya terakhir mereka. Sangat terasa nikmatnya duduk sambil istirahat untuk menunggu Adzan untuk melaksanakan sholat fardhu dari satu waktu ke waktu. Kalau rumah dak memikirkan keberadaan Akbar yang masih bayi, mau saja mereka berbaring semalaman di tempat yang sangat dimuliakan ini untuk sholat tengah malam sampai sholat Subuh.
Akbar mau saja dituntun Lek No kembali maju ke depan Ka'bah. Banyak doa dan harapan bagi lelaki paruh baya itu yang juga telah membesarkan Asti. Dia adalah ayah yang sesungguhnya untuknya. Lelaki yang turut menjaga dan mengurus Asti bersama istri dan Mbah Winangun.
Mereka kembali ke hotel setelah melaksanakan sholat Isya. Lek No , Asti dan Bulek Ratih berjalan - jalan di sekeliling tempat itu sambil merasakan udara malam yang semakin dingin.
Setelah melaksanakan ibadah subuh, Bulek Ratih menunggu di loby hotel untuk sarapan pagi. Dibantu Joko, semua koper dari kamar telah dibawa keluar. Sekarang koper- koper itu sudah disusun di pelataran hotel sambil menunggu bus jemputan yang akan membawa mereka ke Bandara di Jeddah.
Beberapa jemaah menitikkan air mata ketika bus bergerak meninggalkan halaman hotel. Sekali lagi, pak pengemudi bus yang baik hati itu itu membawa mereka berkeliling untuk melihat Mekkah yang terakhir kalinya. Kota Mekkah itu terlihat sangat unik dengan bangunan serba tinggi, megah dan modern. Juga menara jam yang sangat ikonik itu, berdiri tegak di sana. Sampai bus bergerak mulai menjauhi keindahan dan kesucian tempat tersebut, melaju ke arah luar kota.
Akbar tidur lelap di stroller nya. Dua botol susu telah disiapkan dalam perjalanan darat kali ini. Setidaknya Bu Haji Anissa yang selalu memberi instruksi kepada Asti untuk menyiapkan keperluan Akbar. Perjalanan yang hampir 6 jam lamanya dalam perjalanan darat itu berjalan sangat lancar dan aman
__ADS_1
Sampai di bandara pun, mereka harus boarding pass yang juga cukup memakan waktu juga. Apalagi tiap jamaah menambah bagasi mereka. Tumpukan koper, tas jerigen air zamzam menjadi pemandangan unik di sana. Semua petugas dan orang travel bekerja sangat keras dan teliti untuk membantu para jemaah dapat kembali pulang .
Ninuk membeli beberapa makanan dan minuman pada restoran yang banyak terdapat di bandara ini.
" Ini makanan terbaik yang direkomendasikan oleh Bu Hajjah Siti Aminah.!" bisik Ninuk.
Wanita yang disebutkan nanya itu adalah Tour guide mereka kemarin. Selain Ninuk dan Joko ada dua orang ibu yang ikut dengan kepergian mereka.
Di kantong kresek itu ada fried chicken dengan kentang goreng, roti dan nasi. Akbar mencomot kentang goreng itu. Anak itu makan apa saja yang dimakan oleh ibu dan Tantenya, karena menurutnya itu enak. Kecuali Lek No dan Bulek Ratih yang tetap harus mendapat nasi di menu makanan mereka sehari-hari. Untungnya pihak hotel selalu menyediakan nasi untuk makanan yang mereka hidangankan selain roti.
Perjalanan pulang terasa agak mengharu biru hati Asti. Tak lama terdengar suara panggilan kepada penumpang untuk masuk ke dalam pesawat untuk membawa mereka kembali ke tanah air . Lamat-Lamat mereka mendengar kalau pesawat yang akan mereka naiki akan turun di Bandara di Adi Sutjipto di Yogyakarta.
Pesawat berangkat sesudah Magrib. Tadi para jemaah sempat melaksanakan sholat berjamaah di ujung ruang tunggu bandara. Dalam gelapnya malam, tampak padang pasir terhampar di mana- mana terlihat berkelap-kelip terlihat dari pesawat mengudara, yang menandakan kota- kota dan tempat pemukiman penduduk di bagian wilayah Asia Barat itu.
Akbar sudah terlelap di kursi di samping Asti duduk. Tadi mereka bertukar tempat agar Joko juga dapat menjaga Akbar, karena sekarang penerbangan dilaksanakan di malam hari.
__ADS_1
Sampai tampak cahaya langit merah di ufuk timur, yang menandakan hari sudah beranjak pagi. Tak lama mereka sudah dapat diberi tahu kalau sebentar lagi pesawat akan mendarat di bandara Adi Sucipto.