
Lek No, Pakde Muin dan Pak Darmaji itu sampai terpesona mendengar cerita Mbah Imah itu. Layaknya sebuah dongeng yang dibacakan oleh seorang ibu kepada seorang anaknya sebelum dia tidur.
" Terus, Bu?" Tagih Pak Darmaji.
" Kedua orang tua Emilia selama ini selalu mengalah dan bersabar... Sampai mereka pindah ke kampung lain dan memulai usaha berdagang sembako. Usaha mereka cukup sukses... Sehingga beberapa kerabat pun mengikuti jejak mereka pindah ke daerah itu. Sampai bertahun-tahun kemudian, usaha mereka itu semakin besar. Sehingga keluarga besar Jaffar sangat di hormati di sana. Tetapi ada satu, dua orang orang yang begitu iri melihat keberhasilan mereka, terutama kepada ayah Emilia, Syamsul Jaffar. Sebab beliau dipercaya menjadi ketua para kelompok pedagang besar ... Sampai muncullah rumor tentang gadis terkutuk itu dialamatkan kepada Emilia, anak keduanya ... Sebab Pak Syamsul beberapa kali menolak lamaran lelaki untuk anak gadisnya yang saat masih bersekolah di SMP. Pak Syamsul menginginkan putrinya bersekolah lebih tinggi, dan cukup dewasa untuk berumah tangga... Makanya Emilia dikirim kepada keluarga kakaknya yang sudah lama merantau dan tinggal di Yogyakarta. Ke sanalah Emilia Jaffar tinggal dan bersekolah SMA sampai bertemu dengan Bagas Prasetyo, ayah dari Asti."
Mereka semua maklum ... Zaman itu adalah sebuah aib besar bagi wanita lajang yang hamil di luar pernikahan... Seperti yang terjadi pada Ibu Sarifah. Tetapi laki-laki mantan kekasih ibunya Emilia itu dapat disebut lelaki pecundang... Sudah tidak bertanggung jawab dengan perbuatannya yang jahat. Malah menebar fitnah keji karena iri dan cemburu kepada keluarga Sarifah itu.
" Kok, Emilia tidak kembali ke Jawa, Bu? " Tanya Pak Muin.
" Itu berawal dari berita yang didapat dari kakak tirinya yang tinggal di Surabaya. Rumah orang tua dan kerabatnya di kampung itu dibakar orang ... Pak Kushari yang ikut dalam kepergian itu hanya dapat menemukan nenek dan dua adik Emilia yang ditolong warga lain dan dibawa ke rumah sakit... Tetapi kedua orang tua mereka tidak ditemukan jejaknya baik di toko maupun di rumah!"
" Pak Kushari tinggal di sana dan mendengar semua permasalahan yang ada. Ada salah satu pria muda yang dulu pernah melamar Emilia mendengar, kalau gadis itu sudah menikah dan punya anak, dengan pria Jawa. Pria itu melabrak orang tua Emilia karena merasa tersinggung, kalau gadis idamannya justru menikah dengan pria lain. Tentu saja ulah pria muda itu, didukung oleh orang yang berseteru dengan keluarga besar Jaffar... Mereka bertengkar hebat dua hari sebelum malam pembakaran itu. Maksudnya hanya rumah orang tua Emilia dibakar. Tetap karena rumah itu ada di daerah pemukiman i padat, sehingga kebakaran hampir meludeskan semua kampung. Termasuk rumah orang tua Pak Jaffar yang ada di sebelahnya."
" Emilia bagaimana?"
" Emilia juga menghilang setelah pemakaman neneknya selesai dilaksanakan ... Ada yang melihat Emilia dibawa pergi oleh seorang wanita dengan mobil keluar dari Kota Banjarmasin...Tetapi banyak yang mengira Emilia sudah bunuh diri. Karena orang tuanya menghilang , neneknya meninggal dan salah satu adiknya dalam keadaan sangat kritis di rumah sakit. Karena mendapat luka bakar yang sangat parah dalam kebakaran tersebut .... "
__ADS_1
" Jadi Pak Kushari pun tidak tahu kabar selanjutnya tentang Emilia?" tanya Lek No.
" Sebenarnya Pak Kushari juga tidak tahu apa-apa pun. Dia hanya mendengar dari sana-sini dari cerita orang lain. Pria mantan kekasih ibunya Emilia itu ada di belakang semua peristiwa itu. Hanya dia memakai tangan orang lain untuk mengeksekusi keluarga Pak Jaffar!" Jawab Pak Muin kalem. Setelah mendengarkan penuturan Mbah Imah yang terasa masuk akal.
"'Karena pria itu sebenarnya bukan lelaki yang baik. Semua tindakan kejahatannya selalu berhasil ditutupi oleh orang tua dan pihak keluarga mertuanya. Agar nama keluarga mereka tidak dicap jelek! Tetapi orang tua Emilia disembunyikan oleh bagian dari kelompok lawan dari pedagang di sana. Tanpa diketahui kabarnya lagi... Entah mereka masih hidup atau meninggal. Tetapi Emilia pergi dari kampung itu karena rasa bersalah bersalah yang sangat besar, sedih dan juga putus asa ... Kakak tirinya membawa adiknya yang telah sembuh beberapa bulan kemudian, lalu kembali ke Surabaya... Sedangkan adik yang terkecil meninggal dunia dua minggu setelah dirawat secara intensif di rumah sakit."
Mereka semua terdiam... Ternyata sebagian besar peristiwa itu sudah ada laporannya pada pihak yang berwajib. Mungkin karena kurangnya bukti dan data yang ada di lapangan, kasus itu tidak dilanjutkan lagi beberapa bulan kemudian. Malah ditutup ... Daerah itu sekarang direnovasi dan dijadikan pusat pertokoan yang sangat ramai di kota Banjarmasin... Sebab kakak Emilia telah menjual harta benda yang tersisa dari milik orang tuanya untuk membiayai pengobatan adiknya dan memulai usaha baru di Surabaya.
Allah tentu tidak tidur dengan semua perbuatan manusia yang berbuat aniaya dan keji terhadap orang lain... Beberapa kali mantan kekasih Sarifah itu keluar masuk penjara atas tindakan kriminalnya... Dia menjadi salah satu penjahat yang paling di takuti di kota itu... Padahal wanita yang dinikahinya adalah anak tokoh ulama besar yang tersohor di kota itu.
" Kasihan Emilia..." Bisik Mbah Imah sedih. " Jangan - jangan Pak Kushari sendiri yang menyebarkan rumor tentang gadis kutukan itu kepada Asti dahulu?"
" Mungkin! Sebab Bude Ayu pun terpaksa memenuhi permintaan ayahnya itu dengan berbagai persyaratan . Termasuk dia hanya mau menikah secara siri. Walaupun sudah berhasil menjadi Kades lagi dalam pemilihan berikutnya. Pak Kushari tidak bisa menuntut apa pun dari warisan keluarga Winangun... Mungkin Bude Ayu sudah bisa merasakan ada niat lelaki itu yang terselubung yang tidak baik. Tak lama setelahnya, Pak Harjo Winangun juga mengurus sertifikat tanah dan rumah... Semua diberikan untuk keturunan almarhum Bagas Prasetyo, yaitu Asti dan anak-anaknya... Bude mendapat separuh sawah, tanah dan rumah di belakang rumah Joglo!" kata Lek No.
" Benar itu! Ayu pun sudah membalikkan nama sertifikat kepemilikan sawah, kebun dan rumah semua atas nama Asti. Dia juga minta pendapat kepadaku ,agar Sarno juga mendapat bagian rumah belakang dan kebun di sebelah rumah. Semoga kamu tetap amanah untuk menggurus semua sawah dan kebun milik Winangun itu!"
" Tentu, Pakde! Hidup saya dan Si Mbok juga selalu ditunjang oleh Pak Harjo... Bapak telah menghabiskan seluruh peninggalan Si Mbok di meja judi... Tinggal gubuk reyot itu tempat kami tinggal... Bapak malah sakit berat, sebelum meninggal. Karena terlalu sering minuman beralkohol, merokok dan begadang."
__ADS_1
" Itulah salah satu kelemahan, Pak Harjo Winangun... Semua orang akan selalu dibantunya! Tetapi Pak Kushari dan Karto itu seperti teman makan teman. Mereka berdua berusaha mengincar harta peninggalan warisan- Winangun.. Tetapi orang- orang yang bertakwa selalu mendapat pertolongan dengan caranya tersendiri dari Allah!. Terutama dari orang yang berhati keji dan serakah!"
Lama mereka tercenung.. Sementara rumah di depannya tetap sunyi. Seperti tak ada kehidupan saja. Layaknya Pak Kushari, Pakde Kerto pun melakukan praktek poligami. Tetapi Istri pertama beliau malah menuntut untuk bercerai. Padahal wanita itu sudah memberinya tiga anak laki-laki. Wanita itu pergi meninggalkan rumah besar itu, anak-anaknya dan rumah megah itu, karena sakit hati... Pakde Karto telah menikah secara diam-diam dengan salah satu ART yang bekerja di rumah mereka. Seorang gadis muda yang cantik, masih sangat naif dan memimpikan kehidupan yang mapan. Karena gadis itu berasal dari desa yang sangat jauh.
" Mas, kami pamit, ya! Mbah Imah saya sangat berterima kasih banget atas cerita Ibunya Asti dan asal-usul keluarganya di kampung sana!" ujar Lek No sambil menyalami Pak Darmaji Hendardi dan ibunya. Begitu juga dengan Pakde Muin.
Mereka segera berjalan menuju Fortuner yang di parkir di samping rumah keluarga Pakde Kerto Juwono.. Sampai langkah mereka terhenti ketika melihat suatu bayangan yang bergerak mencurigakan. Seperti seseorang mau memasuki rumah itu tetapi dengan melompati sebuah pagar bambu di ujung rumahnya sana.
Mau bagaimana lagi, penampilan Pakde Muin yang sangat bergaya terlalu mencolok bagi mata orang desa yang lugu dan polos. Apalagi anak Pak Kerto yang selalu bertindak anarkis. Malah beberapa kali ada yang dilaporkan polisi karena sudah merugikan orang lain.
Pakde Muin sudah berganti pakaian lain tadi saat mengajak Lek No mencari cerita dan fakta. Pria itu memakai jaket bomber hitam, sepatu boot juga topi pet hitam.. Belum lagi kacamata hitam besarnya yang ala pembalap. Dia berjalan gagah di samping Sarno,l.
" Itu siapa, No?" bisiknya.
" Paling Tarjo, Pakde! Beberapa waktu yang lalu dia sengaja meneror rumah Asti dengan melempari kaca jendela dengan batu!"
" Oh, mulai main tangan orang ini... Besok aku urus! Kita kembali ke rumahmu saja... Sudah mau magrib! Tambah banyak setan di rumah Pakde Karto itu karena kelakuan seluruh anggota keluarga mereka. Mungkin nggak cukup menyebutkan seluruh nama hewan untuk kejahatannya dan kekejian mereka. Tidak punya hati dan tidak berperikemanusiaan!"
__ADS_1
" Biarlah Pakde! Allah sudah menghancurkan kesombongan kedua kakak beradik Juwono bersaudara itu. Tentu dengan tingkah polah anak-anak dan cucu mereka yang liar dan memalukan. Bukan hanya harta benda yang ludes ... Malah nama baik pun sudah musnah. Menyebut nama Kushari atau Kerto Juwono itu bagi masyarakat di sana, seperti menyebutkan seonggok sampah saja!"
Suara mobil itu mulai terdengar meninggalkan halaman di samping rumah itu... Beberapa orang yang berada di dalam rumah sudah mulai ketakutan... Sebab tadi pagi mereka mendengar dari seseorang, tentang kedatangan kerabat Asti yang berdinas di kepolisian... Tarjo dan adik-adiknya bersembunyi di rumah temannya yang rumahnya ada di desa lain. Ibu tirinya tak berkutik diancam oleh mereka. Wanita itu itu telah menghabiskan tahun-tahun di usia mudanya dengan sia-sia... Harta yang dulu diincarnya, diganti dengan seribu makian, kebencian dan intimidasi dari anak- anak istri pertama Pak Kerto... Apalagi setelah mereka semakin besar, kemarahan mereka semakin nyata. Mereka seperti musuh dalam selimut.