Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 28. Dalam Masa Pemulihan


__ADS_3

Asti harus benar-benar beristirahat total dalam tiga hari ini. Bude Prapti pun tak  keberatan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, dari masak sampai bersih-bersih rumah. Terkadang Satrio saat pulang kerja pun  akan membantu Bude Prapti dengan menyapu dan mengepel rumah. Kadang membersihkan kamar mandi.


Asti masih dapat membantu mencuci pakaian dengan mesin cuci. Tetapi masih belum kuat benar kalau menyetrika agak banyak. Paling hanya seragam kerja Satrio saja yang dia kerjakan.


"Sudah nyaman badanmu. Asti?"


Itulah yang disapa Bude Prapti saat melihat Asti keluar dari kamarnya pagi ini. Sudah lebih segar. Namun hidungnya masih memerah. Flu itu membuat kepala Asti pusing terus menerus. "Lumayan De, udah agak enakkan."


Tak lama terdengar suara tukang sayur keliling memanggil pelanggannya untuk keluar rumah. Asih sempat mengantongi dua lembar lima puluh ribuan di kantong jaket rajutan yang dipakainya. Sebelum dia keluar menemui si bapak Sayur yang tampak motornya sudah berhenti di samping rumah.


"Eh, Ibu Satrio sudah sehat?" Tegur Ibu Suparlan alias Jeng Inneke.


"Alhamdulilah, Bu. Berkat doanya,  " Ujar Asti tulus.


Wanita beranak dua itu sudah mulai menghitung barang belanjaannya.


Karena Pak Sayur mulai memasukan beberapa sayur, bumbu dan buah yang dipilih Bu Suparlan ke dalam tas kresek merah.


"Sering-sering keluar rumah, Bu. Satrio !  Jangan di dalam saja. Bergaul sama kita-kita biar wawasan terbuka, nggak kayak katak dalam tempurung gitu..."


Asti menahan rasa geli. Wanita ini memberi nasehat atau mengintimidasi dia sih?


"Iya, Bu. Tetapi Dokter Siska masih melarang saya berkumpul dulu dengan banyak orang. Ada virus yang sangat rentan buat ibu hamil. tetapi bagi orang-orang sakit flu, demam dan batuk itu sudah biasa kan?"


Sengaja Asti menjual nama dokter Siska. Dokter ahli kandungan itu adalah dokter terbaik di bidangnya , karena sudah menangani beberapa pasien dari ibu-ibu yang pernah menjadi ibu hamil di kompleks ini. Maklum, rumah sakit itu adalah rujukan dari kantor tempat Satrio bertugas.


"Oh, begitu. Bu?  Ya, sudah. Saya permisi duluan  ...."


Hanya ada senyum Asti saat melihat wanita yang sebenarnya berwajah cukup manis, bila tidak memakai make up yang terlalu tebal dan mencolok! Kata orang sekarang  menor!

__ADS_1


Cuma Asti sampai saat ini masih belum terlalu banyak memakai alat tambahan kecantikan wanita itu. Sehari-hari Asti hanya menggunakan skin care saja. Kalau untuk bepergian dia memakai pelembab, bedak padat dan lipstick warna muda dan lembut. Walaupun ada  dalam barang seserahan dari Satrio itu berupa seperangkat make up lengkap dengan merek ternama.


Tangannya dengan cekatan memilih dua ikat bayam segar, sebuah jagung manis ukuran sedang, satu plastik tahu juga satu papan tempe ukuran besar.


Pak Sayur  sudah menghitung belanjaan Asti, sampai mereka dikagetkan dengan kedatangan Bude Prapti yang datang terburu-buru.


"Di rumah nggak ada garam, royco dan bumbu dapur, Asti!" ujar wanita itu memberitahu. Asti tersenyum lebar.


Kirain ada apa? Bagi ibu rumah tangga bumbu seperti itu lebih utama dibandingkan berita penting lainnya. Kembali Pak Sayur menghitung barang yang disebutkan Bude Prapti dan memasukkannya ke kresek belanjaan Asti.


"Eh... Asti! Sepertinya tetangga depan kita itu ngintip dari tadi, deh!"


Ujar Bude Prapti berbisik penuh rahasia.


Cepat mata Asti menangkap gerakan orang yang ada dibalik jendela kaca rumah Bu Suparlan. Jendela itu dipasangi tirai tipis.Jadi, terlihat ada sosok wanita yang bersembunyi di belakangnya.


Apa wanita itu tak segera masak? Katanya tadi buru-buru dan pamit duluan. Ternyata hidup di kota juga penuh perjuangan juga! Terutama dengan orang yang sibuk mengurus urusan orang lain. Ini budaya atau fenomena sih?


"Aneh aja, ya. Orang kota! Suka ngurusin orang lain. Bukannya mereka orang sibuk dan punya banyak pekerjaan penting."


"Kalau orang desa bagaimana, De?" tanya Asti lagi.


"Lebih kolot, Asti. Susah diberi penjelasan..."


"Tuh, Bude pinter!" ujar Asti sambil mengangkat jempolnya.


"Semua berkat kebaikan keluarga Pak Sanjaya dan anak-anaknya, Asti. Sampai Budemu ini selalu ditolongnya kalau dapat kesusahan..."


"Aku jarang ,lho. Ke Desa Sendang Ranti. Padahal ada Mbah Sanjaya di sana juga keluarga anaknya."

__ADS_1


"Dulu Pak Sanjaya sering keluar rumah, Asti. Untuk berdagang. Beliau membeli berbagai hasil pertanian penduduk, lalu dijualnya di pasar kota. Jadi jarang di rumah. Suami Bude juga dulu pernah jadi anak buahnya. Tetapi  nggak lama sakit lalu meninggal.."


  Mereka terus ngobrol sambil membuat persiapan memasak untuk makan siang. Asti memetik bayam dengan memotong batang dari daun bayam yang paling muda. Sedangkan Bude Prapti sedang membuat bumbu ungkep bacem untuk tempe dan tahu. Walaupun demikian, Asti selalu menyimpan beberapa ikan atau daging yang sudah dibumbui di dalam di freezer untuk lauk makan Satrio. Suaminya itu harus mempunyai stamina dan kesehatan yang baik karena sering bekerja di lapangan . Jadi sebisa mungkin Asti menyediakan lauk dengan protein hewani.


"Jangan tidur di tikar, Asti! Nggak bagus. Nanti kamu masuk angin!" Larang Bude Prapti.


Beliau segera mengangkat kasur lipat yang biasanya digunakan di kamar belakang untuk kamar tamu cadangan bila ada saudara atau kerabat yang menginap.


Yah! memang paling enak nonton tv sambil berbaring di tikar. Ruangan ini pun sudah diberi AC oleh Satrio. Rumah dinas ini kembali direnovasi, dengan menambah kamar di belakang. Sebab bukan hanya sekarang ada Bude Prapti yang akan menjaga Asti selama kehamilannya.


Kadang Ninuk atau Lek No dan istrinya pun sering datang menginap walaupun cuma sehari.Oleh karena itu, Asti berkeinginan mempunyai rumah sendiri dengan bangunan model sekarang yang pandai memanfaatkan ruangan semaksimal mungkin.


Dia juga ingin di rumahnya nanti atap dan langit- langitnya tinggi sehingga tidak memerlukan penggunaan AC. Bahkan ada jendela kaca lebar dan ventilasi yang cukup yang membuat rumahnya nyaman.


Bukannya dia tidak suka tinggal di rumah joglo yang sekarang karena peninggalan kakeknya. Tetapi rumah itu membuatnya terkungkung dan terpenjara dari kehidupan dunia luar.


Menurut cerita Mbah Kakung dulu. Rumah Joglo itu dibangun setelah memodifikasi dengan keadaan di desa mereka. Jadi jendelanya hanya dibuat kecil saja untuk menghindari tindakan kriminal.


Belum lagi berbagai  kunci dan pengaman pintu yang dibuat ganda. Padahal rumah kayu itu rawan kebakaran, tetapi Mbah Harjo sudah memberi ramuan anti rayap dan anti api untuk papan jati yang akan menjadi bangunan rumahnya.


Ketika pulang kerja, Satrio yang kaget melihat Asti yang tertidur di depan tv dengan kasur lipat  dari kamar tidur di belakang. "Bude, Asti kenapa?"


"Nggak apa-apa, Mas Satrio. Dia mau tidur di situ katanya mau nemenin Bude juga..."


"Sudah lama tidurnya, De?"


" Setelah minum obat, terus tertidur beberapa menit kemudian!"


"Oh, ya. De. Kayaknya Lek No dan istrinya mau nginap besok Sabtu!"

__ADS_1


" Biar besok Bude sama Asti yang belanja di pasar saja , mas. Lumayan nggak suntuk di rumah terus."


Satrio tak banyak komentar, dia masuk ke kamarnya untuk mengganti seragam kerjanya hari ini. Dia tahu kalau perubahan cuaca di kota ini kurang baik untuk kesehatan. Kata orang musim pancaroba, perubahan dari musim hujan ke musim kemarau.


__ADS_2