Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 100. Kemarahan Bulek Ratih


__ADS_3

Berita pembobolan toko di pasar kecamatan semakin meluas saja penyebarannya dalam hitungan jam. Biasanya dimulai dari orang yang berdagang atau berbelanja di pasar itu. Mereka kemudahan menceritakan peristiwa itu kepada orang lain yang ditemuinya di jalan atau tetangga di kanan - kiri rumah mereka.


Semakin banyak orang yang tahu dan mendengar berita itu karena disampaikan dari mulut ke mulut. Namun kalau berita itu sesuai dengan fakta dan data yang ada, yang mendengar pun akan mendapatkan informasi terbaru yang terjadi di sekitar mereka.


Begitu pula dengan berita yang disampaikan oleh Bu Dian, tetangga dekat rumah Bulek Ratih di desa. Wanita itu membuka warung kecil di depan rumahnya. Dia selain menjual berbagai kebutuhan sehari - hari juga menjual berbagai makanan yang digoreng.


Pagi itu, Bulek Ratih mendatangi warung milik wanita itu. Mungkin karena berbelanja agak siang sedikit. Jadi para ibu yang biasanya menjadi pembelinya tidak terlalu banyak berkumpul di warung itu.


Bulek Ratih membeli dua bungkus rokok kretek dan dua bungkus rokok filter untuk pekerja laki- laki yang sedang membantu mereka mengerjakan hasil panen padi. Selain ada yang bekerja di sawah, di rumah pun para wanita bekerja menjemur padi di halaman samping rumah. Halaman itu sudah diplester rata dengan semen.


Wajah Bu Dian sudah ketar- ketir melihat kehadiran wanita yang cukup dihormati oleh para tetangga di desa ini. Setidaknya ada nama Winangun yang menempel pada nama anggota keluarganya. Kata orang, Pak Sarno itu dulu anak dari adik tirinya Mbah Harjo. Namun pernikahan itu tidak didaftarkan secara negara.


" Kemarin berita tentang pembobolan di pasar itu kamu yang ngomong kan, Yuk?" tanya Bulek Ratih dengan suara pelan dan wajah masam.


Bulek Ratih sudah membayar belanjaannya itu. Dia tampak masih berdiri di depan warung sana, bermaksud mencari kebenaran dari ucapan pemilik warung itu yang berupa tuduhan.


"Maaf, ya... Memang saya yang ngomong! Apa ada yang salah Bu Sarno?" Bela Bu Dian sengit.


" Banyak..."


Dua ibu pelanggan yang ada tadi duduk di dekat warung itu juga cukup terkejut dengan nada bicara Bulek Ratih yang mulai makin meninggi. " Sampeyan itu harusnya dengar dulu penjelasan Pak Hermawan dari awal sampai akhir. Jadi jangan asal mendengar saja!"


Wanita itu masih berusaha menahan amarahnya. " Sebab kamu seperti menuduh Asti terlibat dalam pembobolan toko itu. Kenapa nggak sekalian kamu laporkan saja ke Pak kapolsek saja. Pak Hermawan ada di sana kan?"


Bu Dian mulai kaget. Bulek Ratih yang biasa dipanggil Bu Sarno itu jarang mengajak tetangganya adu mulut atau bertengkar untuk permasalahan apa pun. Dia mulai takut kalau ucapan itu akan membuatnya dilaporkan balik ke polisi oleh Asti!


" Asti tersinggung, lho! Dibilang yang merencanakan pembobolan itu. Ini bukan yang pertama, ya. Bu Dian menjelekkan - jelek kan nama Asti dan Mbah Harjo Winangun. Salah apa mereka apa sih sama, Bu Dian ? "

__ADS_1


Mereka semua yang di sana juga ikut terdiam. Beberapa gosip terpanas di desa ini pun, memang bertiup dari warung kecil milik Bu Dian. Tentu saja, Bu Dian yang selalu menyebar berita dan gosip itu yang cukup membuat panas telinga bagi orang yang dijadikan objek gosip itu. Tak terkecuali anggota keluarga Winangun.


Seperti berita kemarin. Memang Bu Dian mendengar dari cerita orang-orang yang ada di sekitar pasar. Termasuk cerita para pegawai toko tempat dia berbelanja.


Sampai di rumah, berita itu langsung dia sebarkan kepada para ibu yang semakin banyak berkerumun di warungnya. Gosip itu bertambah panas, ketika dia juga mendengar ada seorang polisi yang menunggu kedatangan Asti. Sebab toko pakaiannya masih tutup di pagi itu.


Dari ibu- ibu itulah, Wati mendengarnya. Gadis muda yang bekerja di rumah Bu Haji Anissa itu kaget. Apalagi secara gamblang Bu Dian menuduh Asti ikut terlibat. Sebab setelah Bu Dian selesai berbelanja, melihat toko Asti dijaga beberapa anggota polisi. Malah Pak Herman duduk menunggu di depan toko yang baru saja dibuka.


Wati yang tak percaya dengan berita gosip itu, sebab sangat ngawur. Sampai gadis itu mengancam akan merekam ucapan Bu Dian dengan hapenya. Wanita bertubuh subur itu malah menantang dan mempersilakannya dengan perkataan " Tidak Takut!"


" Bu Dian, Apa yang kamu ucapkan itu bisa jadi fitnah, lho! Wati sudah menyimpan rekaman itu buat bukti.


Maaf, ya. Yuk! Kamu dan aku itu sama-sama pendatang di desa ini, karena dibawa oleh suami."


"Belajar dulu, Yuk Dian ! Sejarah desa Sendang Mulyo ini. Banyak kok, sesepuh desa yang menjadi saksi hidup asal muasal keturunan Winangun."


"Yu Dian boleh nggak suka sama keluarga kami, silakan! Tetapi jangan terus suka memfitnah terus. Mbah Buyut Asti itu adalah pendiri desa Sendang Mulyo. Makanya hampir sebagian besar lahan sawah dan kebun kelapa itu miliknya. Belum lagi rumah joglo dan rumah besar di belakangnya. Jangan ngomong nggak benar asal kekayaan keluarga kami! Dibilang pakai tumbal atau piara demit atau apalah... Pokoknya kamu yang akan saya jadikan tumbal dari berita nggak benar ini! Biar kamu sesekali merasakan dinginnya tembok penjara. Fitnah dan tuduhan kamu ini akan kami laporkan ke polisi!"


" Ini ada apa, Bu?" tegur Pak Supangat yang terburu-buru turun dengan melompat dari bak di belakang mobil itu.


Mbah Sur, mertua Bu Dian yang dari tadi sedang menggoreng pisang di dapur sudah banyak mendengar asal pertikaian itu.


" Istrimu, Nang... Mulai cari perkara lagi! Sekarang dia menuduh Asti ikut terlibat dalam pembobolan toko sembako di pasar itu. Coba? Jadikan Bu Sarno emosi dan marah ke Dian."


Wajah Pak Supangat menjadi merah padam. Dia berjalan cepat dan membuka pintu warung . Segera dia menampar pipi istrinya itu dengan telapak tangan kanannya.


" Lancang kamu, Bu! Main sembarang menuduh orang! Polisi saja sampai sekarang masih menyelidiki kejadian itu dan belum menemukan pelakunya! Ini kamu main tuduh aja."

__ADS_1


Suara tamparan itu sangat keras, sampai terdengar jeritan Bu Dian


Wanita itu menangis melolong sambil memegangi pipinya yang terasa sakit. Para Bapak mulai turun satu persatu dari bak belakang mobil itu. Termasuk Lek No yang tadi mengemudikan mobilnya itu.


" Kamu kenapa ada di sini, Bu?" tanya Ayah Ninuk kalem.


"'Aku nggak terima dengan omongan Bu Dian tentang Asti, Pak! Dia main tuduh saja, kalau Asti terlibat dalam pembobol itu. Maaf Pak Supangat, istrimu itu selalu ngomong hal yang nggak benar tentang Asti dan keluarga kami. Kami nggak suka kalau difitnah seperti ini..."


" Maafkan kami, Bu Sarno. Pak Sarno. Istri saya memang perempuan picik dan suka ngomong sembarangan. Maaf..."


" Sudah, Bu. Ayok kita pulang! Mereka semua sudah kembali dari sawah. Sudah disiapkan makan siangnya di rumah?"


" Sudah, Pak.." jawab Bulek Ratih pelan, sambil menahan napas. Kemarahan tadi cukup menguras tenaga dan pikirannya juga. Siapa bilang orang marah itu nggak bikin kita capek?


" Ayo, Pak Supangat. Lanjut! " Teriak Pak Sarno memberi aba- aba.


Akhirnya Bulek Ratih menurut ketika diajak masuk ke depan mobil bak terbuka itu. Tak berapa lama mobil yang sarat dengan tumpukan berkarung-karung padi itu bergerak menuju rumah Joglo di ujung jalan sana.


Tangis Bu Dian mulai terdengar lirih. Pipi wanita yang bertubuh subur itu memperlihatkan bekas telapak tangan suaminya yang memerah.


"Makanya Bu Dian, kami kemarin sudah bilang, itu berita hoax, bukan?" ujar Ibu yang memakai daster batik biru.


" Memang benar ucapan Bu Sarno itu! Buyutnya Mbak Asti adalah pendiri desa ini. Kebaikannya pun menurun kepada anak tunggalnya, Mbah Harjo Winangun. Selama beliau menjabat menjadi kepala desa, tanah bengkoknya itu pun dapat dikerjakan oleh masyarakat desa untuk bertanam palawija." sahut ibu yang lain.


" Jadi jangan iri dengan warisan dan harta keluarga Winangun, Dian! Hitung saja berapa harga lahan sawah dan kebunnya, sekarang? Bisa Milyaran kalau dijual. Apalagi sekarang Asti bisa membangun rumah besar dan bertingkat, belum lagi empat rukonya.."


" Pusing kan kalau menghitung harta orang lain?" Bisik Mbah Sur, mertua Bu Dian. " Jangan punya penyakit hati, Dian. Bagaimana Allah mau ngasih kamu harta berlimpah. Kamu saja suka memfitnah orang, ngomongin kesalahan orang lain. Kadang suka mengadu domba antara ibu- ibu di sini. Yah, begitulah rezekimu... Hidupmu nggak berkah, suka membuat orang sakit hati dan marah."

__ADS_1


Kedua wanita yang bertetangga dengan Bu Dian itu membenarkan ucapan Mbah Sur. Wanita tua itu kembali masuk ke dalam rumah. Dia tampak sangat kecewa dengan perilaku menantu dari anak laki - laki sulungnya itu.


Apalagi ketika dua orang perempuan tetangga Bu Dian itu tahu, kalau suaminya pun ikut kerja di sawah Asti sebagai tenaga buruh harian. Bu Dian itu sepertinya meludah di piring makannya sendiri.


__ADS_2