Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 210. Kedatangan Keluarga Lek No


__ADS_3

Menjelang Magrib, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah depan. Dimas tergesa-gesa menyambut kedatangan Joko dan rombongan keluarganya itu. Tetapi kedatangan mereka itu tanpa Ninuk kali ini.


" Om Dimas, Ibu mana?" tanya Akbar. Bocah laki-laki berusia 3 tahun itu langsung menanyakan hal tersebut pada lelaki yang sering mengantar pergi ibunya ke mana-mana. Padahal dia baru saja turun dari mobil Innova yang dikemudikan Joko.


" Ibu ada di Paviliun sama adek dan Bu Jum!"


Pria muda itu ikut membantu Joko mengeluarkan tas-tas pakaian mereka. Dari balik jendela kaca ruang tamu. Terlihat Mbak Tia mengintip dari balik tirai yang sedikit bergerak. Kembali wajah wanita itu menjadi muram, dengan kedua bibir yang kembali manyun.


Bulan lalu dia dapat memangkas separuh dari barang-barang kebutuhan di rumah ini dan masuk kantong pribadinya. Tetapi sejak Pak Murti sakit, banyak orang yang datang dan menjenguk beliau. Sehingga dia tidak dapat mengurangi jatah untuk membeli teh, kopi, gula dan bermacam - macam kue dalam toples yang biasa disuguhkan Ibu Anggun kepada para tamunya itu. Apalagi Ibu Anggun merupakan langganan tetap di toko kue yang cukup terkenal di kota ini.


Asti sangat merindukanmu anak laki-lakinya itu. Mereka berpelukan lama, karena hampir 5 hari Akbar dititipkan di rumah Bulek Ratih, bersama Putri. Akbar pun kangen dengan ibu dan adik perempuannya itu juga. Sesekali dia mencium pipi bulat Qani.


" Ayah?" seru Akbar riang.


Leon sudah berdiri di depan pintu paviliun. Sejak Mbak Mesya dan suaminya datang, Asti pamit untuk kembali ke paviliun. Sebab hampir sebagian tamu yang datang ke rumah ini lebih mengenal pasangan suami istri itu dibandingkan dirinya dan Leon.


Digendongnya Akbar penuh rasa sayang. Anak itu tertawa kegelian saat dicium Leon. Ternyata dia terkena kumis ayah sambungnya itu yang mulai tumbuh tidak teratur. Leon tentu lebih sibuk menggurus sakit ayahnya di bandingkan harus mematut diri untuk penampilannya.


" Geli, ayah ...!" Jerit Akbar lagi.


Leon terus menggesekkan kumisnya yang baru tumbuh itu di leher dan dagu Akbar. Qani pun ingin diperhatikan sama seperti kakaknya. Mereka saling tindih di ranjang yang paling besar di antara ketiga kamar di paviliun itu. Mereka saling berpelukan dan tertawa -tawa.


Jika melihat seperti itu, Asti berusaha bertahan untuk tinggal lebih lebih lama di sini. Tetapi dia kurang nyaman dengan sikap dan perilaku Mbak Tia terhadap Bu Jum. Walaupun dia tahu, Tia menyindir dirinya. Kini malah sudah bertambah lagi anggota keluarganya yang datang lagi ke rumah orang tua Leon... Entah jurus apalagi yang akan dikeluarkan Mbak Tia lagi. Hanya demi mengusik dirinya?

__ADS_1


"'Yang kamu tidur di sini?" tanya Leon karena mengenal tas bayi Qani dan koper kecilnya yang ada di dekat lemari di kamar ini.


"Iya, Mas! Aku malas naik turun-tangga ke kamarmu di rumah utama. Sekarang saja ada Akbar dan Qani! Jadi aku nggak bisa setiap saat memperhatikan keduanya."


Tampaknya Leon cukup maklum dengan alasan yang disampaikan Asti kali ini. Apalagi tangga di rumah orangtuanya ini cukup tinggi, karena dibangun dan disesuaikan dengan gaya rumah yang bergaya klasik Romawi. Takut juga kalau Akbar mencoba naik tangga yang dibangun agak melingkar itu untuk memperlihatkan nilai keindahan dari rumah tinggal bergaya klasik Eropa itu.


Lek No dan Bulek Ratih segera menemui Pak Murti di kamarnya... Akbar pun diajak serta. Suasana di ruang keluarga lebih terasa tenang sejak para tamu meninggalkan rumah ini siang tadi.


Pak Murti ikut makan bersama keluarga, dengan kursi roda yang didorong oleh Lek No. Hidangan di meja sangat komplit seperti biasa. Tadi Mbak Siti diantar Dimas berbelanja ke supermarket terdekat untuk menambah stok bahan lauk pauk dan bumbu. Leon yang menyerahkan kartu kreditnya itu kepada Dimas untuk acara belanja bahan makanan itu. Setelah dia mendengar sedikit permasalahan yang selalu diungkit Mbak Tia.


Di dapur , Bu Jum dan Bulek Ratih saling membantu... Bu Jum mencuci piring sementara Mbak Siti dan Bulek Ratih menempatkan lauk dan sayur di wadah plastik dan disimpan di kulkas.


Lek No masih menemani Pak Murti ngobrol di kamarnya... Pria itu merasa kurang nyaman selama tinggal agak lama di rumah sakit... Selain itu, dia sangat merindukan keadaan rumahnya yang seperti ini. Ada tawa ceria dan jerit bahagia karena kehadiran anak dan cucunya, juga kehadiran kerabat dari jauh.


Tadi Asti menyiapkan sup sayur, dengan pepes tahu untuk Pak Murti. Sedangkan Asti dibantu Mbak Siti membuat tiga menu masakan lainnya. Dari sup iga sapi, Oseng buncis tahu dan telor balado.


Leon makan dengan lahapnya setelah tahu, itu semua adalah masakan sang istri.


Rencana kepulangan Asti untuk besok pun tertunda lagi. Mereka akan pulang, setelah mendengar dari keterangan dokter yang datang mengunjungi Pak Murti siang ini, kalau kesehatan beliau sudah mulai membaik.


Lelaki tua itu selalu tersenyum melihat Qani dan Akbar bermain di ruang keluarga. Mereka dijaga oleh Leon, Ibu Anggun dan Lek No. Ternyata kehadiran cucunya itulah yang menjadi penambah semangat untuk kesembuhan dari diri Pak Murti. Apalagi setelah Leon bercerita kalau berbagai izin dan surat untuk pembangunan rumah tambahan itu cukup dipermudah jalannya. Sehingga pembangunan rumah tambahan itu dapat dilakukan dalam waktu dekat.


" Papa, mau lihat kalau rumah itu kalau sudah jadi, Leon!"

__ADS_1


" Boleh, Pa! Tetapi papa harus terus menjaga kesehatan! Patuhi perintah dokter...Juga semua obat diminum tepat waktu! " Nasehat Leon panjang lebar.


" Iya, Pak Murti... sekarang Bapak jadi anak buah yang harus patuh...Sebab yang jadi komandan itu adalah para dokter yang memeriksanya Bapak!" Kata Lek No yang sangat mengenal karakter besannya itu.


" Situ kan belum masuk rumah sakit, Sarno! Mana enak disuruh tiduran selama berhari - hari... Sudah itu makanannya semua nggak ada rasanya ... Obatnya yang harus diminum itu besar-besar bentuknya, mana banyak dan pahit lagi, rasanya!" keluh Pak Murti mengomentari ketidaksukaan saat dia dirawat di rumah sakit.


" Alhamdulillah, Pak! Semoga saja saya selalu sehat! Maklum cuma petani biasa. Kerjanya di sawah dari pagi sampai siang! Mungkin jadi nggak stres ya? Setiap hari cuma mencangkul di sawah... Selain olahraga juga mendapatkan nafkah dari sawah itu!" ujar Lek No santai. " Paling pusing-pusing sedikit kalau nggak punya uang buat beli sayur atau lauk .. Itu Ibunya Ninuk yang ngomel terus!"


Semua tertawa dengan cerita Lek No yang lugu. Sebab mereka juga tahu, Lek No sudah banyak dibantu tenaga muda lainnya untuk mengolah sawah Asti yang cukup luas itu. Ditambah dengan adanya adanya pembelian traktor baru yang membuat pekerjaan mengolah tanah di sawah menjadi lebih cepat. Para petani juga mendapat bimbingan dari petugas penyuluh pertanian. Hasil padi dan tanaman palawija mereka jadi semakin baik dan berlimpah setiap tahunnya.


Dari ruang belakang, Mbak Tia terus menguping pembicaraan mereka... Mbak Siti kaget dengan rasa kepo rekan kerjanya itu yang sangat tinggi Diam - diam dia merekam perbuatan Tia itu


Suasana semakin hangat setelah mereka berkumpul bersama di ruang keluarga setelah selesai sholat magrib berjamaah di mesjid depan kompleks. Lek No mengendong Akbar, diiringi Dimas, Leon dan Joko kembali ke rumah.


"Mana Asti?" tanya Ibu Anggun ketika Bu Jum menyajikan wedang jahe.


Udara di daerah ini sangat dingin menjelang malam hari. Karena terletak di dataran tinggi. Jadi Bu Jum selalu memakai baju hangat dan selimut tebal kalau tidur.


" Biasa... Ma.. Nyusuin Qani Sebentar lagi dia juga tidur! " Lapor Leon.


Ibu Anggun maklum. Seharian menantunya itu menggurus kedua anaknya yang masih kecil. Asti menyiapkan sendiri menu untuk Akbar dan Qani yang sedikit berbeda. Makanan untuk bayinya hanya dibuat lebih lunak saja untuk nasinya.


Sekarang dia dan Pak No yang mendorong kursi roda Pak Murti menuju kamar untuk beristirahat... Suster sudah mengatur agar ranjang besi itu nyaman ditiduri oleh pasiennya malam ini.

__ADS_1


Suster Femi dipilih Mbak Mesya karena sangat berpengalaman mengurus orang sakit. Termasuk melayani Pak Murti yang sedikit keras kepala. Wanita itu datang menjelang pukul 19.00, sampai dini hari. Sebab Dokter Budi Santoso sudah membawa suster lain dari klinik untuk menjaga Pak Murti dari siang sampai sore, secara bergantian.


__ADS_2