
Warung sederhana di pinggir jalan besar ini, ternyata cukup memuaskan selera makan Pak Cakra juga. Harganya pun terbilang sangat murah. Padahal Tadi Ninuk membeli rujak atau lotis yang banyak dijajakan di dekat pom bensin perbatasan.
" Kamu kenapa kesal begitu, Pak Cakra?" Tanya Bulek Ratih. Setelah mereka selesai makan.
" Saya kecewa, ternyata sajian dari para Ibu PKK itu tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Masak budget sejuta sehari untuk makan siang semua orang tidak cukup? Mana menunya hanya sayur yang bisa kita petik di kebun, lauknya hanya tempe dan tahu saja, dengan segala variasi nya. Tidak ada ikan atau pun ayam! Menyesal saya sudah memberikan uang tiga juta rupiah ke sekretarisnya pak lurah itu. Baru tahu, saya kalau dana makan yang tak seberapa nilainya, juga diembat! Dasar mental koruptor kecil - kecilan!"
Kening Bulek Ratih berkerut- kerut. Dana satu juta rupiah, bila untuk memberi makan secara sederhana seperti itu pun cukup untuk masyarakat satu kampung. Maklum Bulek Ratih selalu berkecimpung di bagian konsumsi saat aktif di kegiatan PKK kelurahan atau kegiatan di lingkungannya. Dari arisan ibu-ibu, pengajian, sampai membantu persiapan berbagai perayaan desa.
Bertahun- tahun Bulek Ratih mengurusi soal masakan dan membuat makanan dengan jumlah porsi yang sangat banyak. Tidak hanya ratusan porsi. Bahkan sampai ribuan, ketika ada acara bersih desa di kantor Kecamatan.
" Bagaimana, Bu Ratih?'
" Ya, seharusnya cukup sih, Cakra. Kenapa nggak pesan nasi kotak atau menu ayam bakar saja? Satu porsinya di sini cukup murah kok, hanya sepuluh ribu rupiah. Dibelikan 60 bungkus masih sisa 400 ribu. Lumayan untuk dibelikan beberapa dus air mineral dan kue-kue !"
" Saya sudah berpikir negatif saja, ketika Ibu Andar agak memaksa minta ditraktir Pak Leon, makan nasi Padang di kota, Bu! Mana bawa teman - temanya yang di kantor kelurahan lagi! ... Nyatanya kerja mereka tidak transparan dan maksimal. Pak Leon ngalah terus... Padahal uang yang dipakai itu semua keluar dari kantong pribadinya!"
" Nggak apa-apa, Pak Cakra! Hitung - hitung beramal memberi makan banyak orang! Semoga urusan kita jadi mudah, rezekinya juga semakin lancar!" ujar Asti. Percuma juga mengungkit uang yang sudah terlanjur dibelanjakan.
Asti membeli 5 porsi ayam bakar. Satu porsi makanan itu mendapatkan potongan ayam yang cukup besar dengan bumbu yang meresap sampai ke tulang-tulang. Mudah-mudahan, suami dan anak-anak suka nanti.
Mereka kembali ke kantor kelurahan saat para pegawai dan staf kelurahan bersiap - siap untuk pulang. Bulek Ratih melihat ada salah satu wakil dari Ibu PKK itu, masih ada di sana. Wanita yang pada awal mereka datang, menyambutnya dengan ramah.
"Assalamualaikum... Maaf, ini Bu Sumirah kan?" tegur Bulek Ratih ramah.
"'Walaikum salam. Hmm, ini Bulek nya, Bu Asti, istri Pak Leon, kan?"
" Iya... Apa sudah mau pulang, Bu?"
" Yah, begitulah, Bu! Kerja untuk kepentingan masyarakat, disambi ngurus anak yang sedang ada di rumah!"
" Apa besok, masih harus menyiapkan makanan untuk semua orang lagi, Bu?"
" Masih, Bu. Demi nama baik kelurahan Sumber Sari. Kami manut saja, untuk memenuhi permintaan Ibu Andar Sinta itu!"
__ADS_1
" Oh, bukannya acara makan siang itu harusnya, diberi dananya oleh Pak Leon? Sebab beliau kan yang punya hajat... Apalagi besok Pak Camat dan istrinya juga mau datang, seperti upacara penutupan begitu, Lho!" ujar Bu Ratih memberi tahu.
" Aduh... Bagaimana ini? Ibu Andar hanya memberi dana yang pas-pasan, cuma 400 ribu rupiah satu harinya...Mana harus disiapkan kue - kue untuk cemilan juga!" Gumam Ibu itu sedikit bingung.
" Begini saja, Bu Sumirah. Bagaimana kalau saya mintakan sedikit tambahan dana untuk makan siang itu dari istrinya Pak Leon. Dia juga nggak enak, kalau para tamu kehormatan hanya dihidangkan makan siang yang seadanya... Apa bisa begitu, Bu?"
" Wah, alhamdulilah banget, kalau dibantu... Kami ini hanya para istri dan ibu rumah tangga saja. Jadi tak punya uang lebih untuk menambah dana belanja untuk makan siang besok."
Asti tersenyum... Dia mengeluarkan uang seratus ribuan sebanyak lima lembar. Bu Sumirah menerimanya dengan sangat lega... Sampai dia mulai menelpon para anggota PKK yang lain, untuk menyiapkan menu yang lebih istimewa lagi.
Wanita itu buru-buru pamit kepada mereka. Dia akan berkoordinasi lagi dengan anggota PKK yang lain untuk persiapan besok.
" Kita cari tahu saja, Mbak. Siapa Ibu Andar Sinta itu? Beraninya dia menyunat uang pemberian Mas Leon!" Bisik Ninuk.
" Biar saja, Nuk! Besok kan heboh kalau para ibu tahu tentang uang pemberian Mas Leon itu!"
Sorenya, Leon diantar Joko dan Pak Cakra ke rumah Pak Camat. Sedangkan Bulek Ratih kembali ke penginapan sekaligus memimpin para anak buahnya itu untuk persiapan meninggalkan tempat ini di esok hari.
" Kamu tambahkan berapa untuk uang makan besok?" tanya Leon.
" Lima ratus ribu!"
" Apa itu cukup , Yang? Kata Bu Andar, belanja kebutuhan dapur itu mahal! Sebenarnya ada yang mengusulkan untuk pesan dari nasi boks dari pengusaha katering saja .. Tetapi Bu Andar bilang enak masak sendiri, masih ada sisa makanan yang lebih banyak!"
"'Ya, kita lihat saja besok! Apa yang terjadi, terjadilah." Bisik Asti berspekulasi.
" Lucunya Si Ibu Andar itu, ya! Kok, nggak protes kalau uang yang kukasih itu kurang! Katanya masih bisa ditambahkan dari uang kas PKK dan sedikit dana cadangan dari bendahara kelurahan.
" Kita percayakan saja semuanya pada Ibu Sumirah... Mudah- mudahan bisa dipercaya dan amanah!"
" Kamu sudah sehat dan kuat kan? Besok sore kita sudah harus berangkat ke Malang... Pakde Muin sudah menyiapkan resort untuk kita tinggal di sana. Lokasinya tidak tidak jauh dari rumah Pak Yusuf!"
Tiba-tiba, tubuh Asti menggigil hebat... Leon tahu, istrinya itu masih mempunyai setitik harapan agar nasib ibunya segera diketahui. Walaupun beliau sudah meninggal sekalipun! Setidaknya, Asti berharap masih bisa berdoa di depan makam wanita yang telah melahirkannya itu.
__ADS_1
Lainnya halnya keadaan di penginapan di pagi harinya. Putri , Mbak Ning dan Ninuk sudah mengepak semua barang - barang sebelum tidur. Beberapa pakaian untuk bepergian besok sudah digantung di atas rak.
Ninuk tidur di kamar yang dipakai Mbak Asti, sebelumnya . Di kamar itu dia tidak hanya tidur bersama Akbar, juga dengan Putri. Jadi Joko nyaman tidur sendirian setelah Topan menempati kamar bekas cewek-cewek itu.
Pak Sugeng sudah mengecek kesiapan mobil mereka bersama Mas Aji. Bensin sudah full sejak kembali pulang dari kantor kelurahan kemarin.
Mbak Ning malah merapikan barang- barang lainnya, seperti magic com, berbagai wadah dengan isi makanan yang tinggal sedikit... Bagi orang - orang seperti dirinya yang berasal dari di daerah Jawa Tengah yang paling timur, masakan di daerah ini agak pedas dan terlalu banyak bumbu. Tetapi untuk kue- kue umumnya hampir sama. Orang desa selalu memanfaatkan bahan baku seperti singkong, ubi, atau beras juga beras ketan untuk dijadikan kue - kue jajanan pasar.
Pembayaran sewa resort sudah diselesaikan Pak Cakra dengan kartu kredit kepunyaan Pak Leon. Bepergian seperti ini secara bersama - sama ternyata tidak semahal perkiraannya.. Apalagi keluarga Lek No dan para ART itu bukan orang yang rewel. Makan di lapak pinggir jalan oke, makan di warung kaki lima juga nggak apa-apa.. Apalagi makan di restoran besar pun tak menolak.
" Akbar mau berenang, Nak?" tanya Pak Cakra.
Bocah itu menggeleng lemah. " Kata Tante Ninuk kita mau lihat kebun binatang yang sangat besar ... Akbar mau lihat macan."
Semua hanya tersenyum. Begitulah... selera anak kecil itu gampang dialihkan setelah Ninuk memperlihatkan beberapa objek wisata di Malang dan Kota Batu, dari hapenya. Setelah searching di google. Kalau Putri sudah tak sabar mau melihat sunrise di Bromo, seperti foto-foto yang pernah dimiliki temannya di sekolah dulu.
Saking tidak punya uang, dulu Putri dia tidak ikut acara perpisahan di kelas 9 SMP-nya. Mereka semua berwisata ke bersama guru - guru dan perwakilan Orang Tua ke Jawa Timur. Salah satunya ke Gunung Bromo.
Hampir semua murid satu angkatan dengan Putri itu menabung sejak kelas 7, untuk acara perpisahan itu. Putri hanya dapat menyimpan kesedihannya itu. Sebab bersekolah pun, dia dibantu oleh Pak RW dengan memberinya surat keterangan tidak mampu, yang dibantu pengurusnya sampai ke kelurahan.
Mobil yang mereka tumpangi malah disuruh parkir di rumah Pak Camat. Di sana mereka dijamu menu makanan lain, yaitu gudeg khas Yogyakarta. Tentu saja semua mau mencicipi masakan Mbok Yah itu lezat dan nikmat itu.
" Ini mirip yang kita beli di depan emperan ruko di Malioboro itu, ya. Mbak!" bisik Ninuk.
Mata Asti melotot... Ninuk yang dulu sangat iseng, malah menelpon Pak Leon. Sehingga pria itu datang ke pantai Parangtritis, tempat mereka healing, sebentar... Setelah Asti mencoba mencari suasana berbeda dari sumpeknya masalah dan kehidupan Asti setelah bercerai dari Satrio.
" Hayo ada apa, bisik-bisik.? " tanya Leon curiga. Sebab dia sedikit mendengar namanya disebutkan juga tadi.
" Wah, ada yang merasa diomongin, tuh! Mentang-mentang sudah berhasil menikahinya. Dulu getol banget minta aku biar bisa pedekate sama Mbak Asti ... Sampai mau-maunya nyamperin ke tempat kita piknik di Yogyakarta."
Mendengar ocehan Ninuk, Leon terkejut. Ah, kenangan itu... Bukan hal mudah juga untuk mendekati Asti, walaupun saat wanita ini sudah menyandang berstatus janda. Selain perceraian itu menjadi pelajaran yang menyakitkan bagi wanita beranak satu itu ...Juga atribut yang dapat dikenakan Asti dengan pakaian muslimah nya. Jadi dia menjaga pandangan dan harkatnya sebagai wanita.
Dia sudah mengenakan hijab sejak mulai remaja. Bahkan Mbah Kung sendiri yang menghadap ke kepala sekolah SMP- nya Asti, untuk meminta izin agar cucunya dapat mengenakan kerudung di sekolah itu. Sebab dulu sekolah Asti itu sekolah negeri yang umum. Ada dana tersendiri yang dikeluarkan sang kakek, ketika Asti memesan beberapa seragam sekolah dengan lengan yang lebih panjang, rok panjang atau kerudung yang harus serasi dengan bawahannya.
__ADS_1