Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 273. Keadaan Kesehatan Pakde Kerto


__ADS_3

" Kemarin, sih! Para cucu di rumah Pakde Kerto sudah riuh- rendah dengan tangisan... Sepertinya keadaan pria itu semakin kritis!" kata Kang Kasat. Ketika dia memulai ceritanya.


Kang Kasat masih diberi tugas oleh Lek No untuk memantau sapi-sapi peliharaan almarhum Pak Harjo Winangun yang ditempatkan di sebuah kandang besar. Letak kandang itu di belakang rumah milik almarhumah Bude Ayu.


Rumah dan tanah pekarangan yang cukup luas itu diberikan Pak Kushari kepada Bude Ayu, sebagai hadiah pernikahan untuknya sekaligus tanda terimakasih. Sejak menikahi anak perempuan Pak Harjo Winangun yang sudah menjanda hampir 8 tahun ini, pamor Pak Kushari Juwono langsung terangkat. Sehingga dia dengan mudah maju dalam Pilkades atau Pemilihan Kepala di Desa Sendang biru. Pilkades itu berlangsung setelah 4 bulan pria itu menikah Bude Ayu secara siri karena menjadi istri ketiganya. Walaupun hanya pernikahan yang dilahirkan secara agama, Bude Ayu meminta semacam perjanjian tertulis, termasuk tidak ada harta bersama. Karena warisan Winangun ya, untuk keturunan Winangun.


Saat itu, Pak Kushari juga bersedih menandatangani perjanjian itu hadapan para sesepuh desa dan pemuka masyarakat. Setahun kemudian, perjanjian itu disahkan oleh notaris. Apalagi sebagai kepala desa Sedang Waru yang baru, Pak Kushari mempunyai banyak kesempatan mengumpulkan untuk pundi-pundi kekayaan secara cepat. Karena banyak orang besar yang mempunyai berbagai kepentingan mulai mendekatinya dengan berbagai bisnis yang diajukan mereka.


Bangunan rumah milik Bude Ayu itu tidaklah besar. Namun dibangun dengan gaya yang lebih modern seperti rumah orang di perkotaan. Karena semua dinding batanya diplester dan diberi cat tembok yang cerah. Rumah itu hanya mempunyai dua kamar tidur saja.Tetapi halaman belakangnya sangat luas. Halaman itu yang digunakan untuk membuat kanda sapi oleh Pak Winangun, setelah anak perempuannya itu lebih sering berada di rumah Joglo.


Harta pemberian dari almarhum ayahnya kepada Bude Ayu itulah yang digugat anak - anak Pak Kushari, dari dua istrinya terdahulu. Setelah Pak Kushari meninggal. Tetapi pemberian hadiah itu yang serupa mahar pernikahan, disaksikan dan disahkan oleh sebagian warga desa Sendang Waru, tidak dapat diganggu gugat. Bahkan ada nama pemilik sahnya di sertifikat dan IMB yang bernama Ayu Sulaksmi Winangun.


Letak rumah Bude Ayu itu lebih dekat di desa Sendang Waru, atau diperbatasan kedua desa yang bertetangga itu. Sebab di sana ada lapangan besar yang subur dengan rerumputan tinggi, di sekelilingnya. Juga ada barisan hutan Jati, yang rimbun. Sehingga menutupi wilayah itu sampai ke jalan raya penghubung, atau jalan provinsi yang ada di sebelah Utara wilayah tersebut.


Di rumah bekas milik almarhumah Bude Ayu itulah tinggal sebuah keluarga yang kepala rumah tangganya, bertanggung jawab untuk mengurus sapi yang berjumlah 10 ekor itu. Saking rajinnya Pak Hudoyo itu, di sana dia juga memelihara kambing dan ayam petelur dalam skala kecil.


 Kang Kasat dan Kang Slamet memanfaatkan kotoran sapi dan kambing dari kandang itu untuk pupuk. Tetapi pupuk itu biasanya diberikan hanya untuk tanaman sayuran, bibit pisang dan bibit kelapa yang baru tumbuh.


***


" Pria tua itu tampaknya masih belum bisa melepaskan raganya dari kehidupan duniawi, karena masih ada rahasia yang disimpannya!" ucap Mbak Mar mengomentari omongan suaminya itu.

__ADS_1


" Nggak salah, Yu? Sudah setahun lebih, lho. Beliau didera sakit seperti itu ... Anaknya aja nggak mau mengeluarkan biaya sepeserpun untuk membawanya Pakde Kerto ke rumah sakit besar di kota! Walaupun Pak Kades Darmaji sudah menawarkan banyak bantuan kepada keluarga itu."


Ada senyum miris di bibir Asti. Dulu ada satu atau dua orang temannya sekelasnya yang berani menceritakan kesulitan kehidupan keluarganya kepada Asti. Terutama sejak ayahnya berbisnis dengan kedua bersaudara Juwono itu.


Bahkan hutang mereka yang awalnya hanya sedikit, jumlahnya itu bisa berlipat - lipat dengan bunganya yang sangat tinggi... Bahkan ada konsekuensinya bila telat dibayarkan dari perjanjian awal. Sehingga orang tua temannya itu harus menjual sawah dan harta yang mereka untuk melunasi pinjaman itu. Malah temannya itu harus DO Karena tidak melanjutkan sekolahnya saat naik kelas 3 SMP.


Ada juga temannya yang lain, yang tinggalnya tak jauh dari desa Sendang Waru. Rumahnya itu diambil-alih oleh Pak Kerto, setelah modal yang dipinjamkan kepada bapaknya itu belum dapat dibayarkan. Sebab modal pinjaman yang cukup besar itu digunakan untuk keperluan musim tanam. Dari membeli benih padi varietas unggul yang ditawarkan Pak Kerto. Pengerjaan sawah dengan traktor. Sampai membeli pupuk dan pestisida. Sayangnya, sebagian lahan sawah itu rusak karena serangga hama wereng. Sehingga sawah temannya mengalami gagal panen.


Kedua Juwono itu hanya berlaku baik di hadapan masyarakat desa Sendang Waru saja. Mereka melakukan itu untuk mendapatkan simpati dan rasa hormat. Padahal di belakang mereka, kedua pria itu berbisnis apa saja, dari hal yang halal sampai yang ilegal sekalipun. Seperti menyeludupkan kayu- kayu jati gelondongan untuk dibawa ke luar daerah, menuju ke sebuah daerah di luar provinsi Jawa Tengah.


Bisnis itu dilakukan mereka secara sembunyi-sembunyi, sebab beberapa kali kelompok itu terciduk pihak yang berwajib... Mereka pun selalu dapat dibebaskan, karena membayar seseorang dengan mahal untuk melindungi perbuatan tersebut.


" Diberi hidayah itu kalau Pak Kerto itu masih muda, lalu masih bisa bertaubat dan menjadi orang yang lebih baik lagi, Ni!" Ucap Kang Slamet kesal dengan omongan istrinya yang kebanyakan nonton sinetron bergambar ikan terbang itu.


" Lha ini, bukannya sehat walafiat melihat penampakan Omnya Asti ini, Pakde Kerto ini pasti kejet- kejet serasa dijemput malaikat Israil. Karena ingat segala dosanya yang sudah dilakukan semasa hidupnya sudah tinggi segunung!"


Semua tertawa mendengar adu pendapat antara pasangan suami- istri itu. " Sok tahu kamu, Kang! Kayaknya tahu semua perbuatan Juwono bersaudara itu!" ledek Bulek Ratih.


" Yu Ratih nggak percaya, kan? Track record kejahatan Pak Kushari dan Pak Juwono ini ada di beberapa desa lainnya... Mereka itu pandai memanfaatkan situasi dan kondisi! Mungkin mereka pura-pura baik di hadapan Pak Harjo Winangun aja, Yuk! Pasti Pak Kushari pikir dia akan mendapatkan seluruh warisan Winangun itu dengan menikahi Bude Ayu... Buktinya, Pak Harjo Winangun sampai dapat menekan anak perempuan sulungnya itu untuk menikah bandot tua itu!"


Semua diam dan berpikir lebih dalam lagi. Benar juga pendapat Kang Kasat! Di dalam pikiran jahat Pak Kushari, tidak ada lagi ahli waris yang akan menguasai seluruh peninggalan Winangun, setelah meninggalnya Bagus Prasetyo Winangun. Satu-satunya anak laki-laki Winangun. Tetapi Pak Harjo Winangun bukanlah pria yang berpikiran kolot dan sempit.

__ADS_1


Beliau telah mendatangi kantor notaris untuk menggurus semua harta peninggalan leluhurnya itu. Bahkan secara jelas beliau membagi kekayaan itu dalam surat warisannya.


Lucunya, Om Ardi bila ditanyakan sosok Pak Kushari juga wajahnya, dia bilang tidak ingat. Karena yang dia ingat adalah kedua kakaknya yang bergantian berjaga di rumah sakit. Yaitu Kak Yusuf dan Kak Emilia saja. Bahkan dia saja, tidak diberitahu ketika neneknya wafat karena menjadi korban dalam peristiwa kebakaran itu. Juga kakaknya Jamal seminggu kemudian juga ikut menyusul kepergian neneknya.


Luka - luka yang mereka dapatkan dalam kejadian itu ternyata lebih parah. Sebab bangunan yang tidak permanen itu mudah terbakar dan hancur dimakan api. Para korban terluka karena kejatuhan atap rumah, kayu atau tembok yang runtuh.


Bahkan sampai usia Om Ardi mulai beranjak tua, orang yang seharusnya bertanggung jawab dalam peristiwa kebakaran itu pun belum diketahui secara pasti. Apalagi ditangkap pihak yang berwajib. Mereka dengan cepat menghilang dari daerah itu bersama bukti-bukti yang menyertainya.


Sampai Lek No bersikeras ingin membawa Om Ardi menemui Pakde Kerto. Seingat cerita tetangga itu kepada ayahnya Joko. Dulu Pak Kerto paling sering pergi ke Surabaya. Katanya dia punya kerabat yang tinggal di kota Pahlawan itu. Juga berbisnis sesuatu dengan mereka di sana.


" Nanti aku antar Om Ardi pulang ke rumahmu, Asti!" ujar Lek No. " Aku mau mengenalkan dia pada kerabat kita yang tinggal di desa sebelah!"


Akbar memeluk dan mencium pipi kakek mudanya itu ketika mereka berpamitan pulang. Qani juga mau dicium oleh pamannya Asti itu. Bahkan agak lama dibujuk oleh Bu Jum agar mau lepas dari pelukan lelaki itu. Anak-anak Asti tampaknya dapat merasakan kasih sayang yang tulus dari pria itu sejak mereka bertemu di kota Batu itu.


" Assalamualaikum," ujar Akbar. Ucapan pamit itu diikuti oleh Qani dengan bahasa bayinya yang lucu.


Inova yang dikemudikan Asti mulai bergerak meninggalkan halaman rumah joglo yang teduh dan asri itu.


Banyak para ibu- ibu yang menyaksikan kepergian Asti itu. Kadang ada satu dari mereka yang tidak suka dengan pencapaian yang Asti dapatkan sekarang ini. Terlihat kehidupan Asti semakin makmur dan berkelimpahan materi, sejak menikah lagi dengan seorang pengusaha dari kota Semarang.


Gaya Asti yang lugu, pendiam dan santun sejak dia tumbuh remaja, sudah berubah!! Kini dia telah menjelma menjadi seorang ibu dengan dua orang anak kecil ... Sekarang dia menjadi wanita tangguh, sebab kehidupan di masa kecilnya jauh dari kasih sayang orang tua. Tetapi baginya itu bukanlah sesuatu yang membuatnya menjadi wanita bermental rapuh. Dia dibesarkan dengan penuh kasih sayang, cinta dan bimbingan agama yang kuat dari almarhum Mbah Harjo Winangun. Juga pasangan suami Istri Pak Sarno dan Bu Ratih. Juga perlindungan sepenuhnya dari Bude Ayu, setelah wanita itu kembali menjanda ketika Pak Kushari meninggal terkena serangan jantung. Bude Ayu kembali ke rumah Joglo dan menggurus Asti sampai dia menikah dengan Satrio Wibowo.

__ADS_1


__ADS_2