
Semua permasalahan perceraian Asti telah diselesaikan Ibu Imelda Wahono S.H. dengan cermat. Termasuk berbagai syarat yang memang menjadi hak Asti pun disetujui oleh pihak Satrio, seperti memberi biaya hidup untuk Akbar tiap bulannya.
Justru wanita itu malah bimbang, ketika Asti meminta agar menggunakan nomor rekeningnya Ibu Imelda untuk menerima transfer dari Satrio. Nominalnya dua juta dalam sebulan. Padahal gaji Satrio berkali-kali lipat besarnya, karena dia punya usaha berupa kafe dan toko elektronik di Purwokerto.
" Apa Mbak Asti hanya menerima uang belanja sebesar dua juta tiap bulannya?"
Hanya ada senyum Asti yang terlihat agak sedih.
" Apa cukup?"
" Diatur biar cukup, Bu!"
" Mengapa Mbak Asti tidak menyampaikan hal itu dalam persidangan kemarin?"
" Nggak perlu, Bu! Yang penting saya sudah bercerai. Saya sudah lelah diabaikan, diremehkan, dihina, dibohongin sampai diselingkuhi. Apa masih kurang lengkap kesusahan saya ini?"
Wanita itu menepuk bahu Asti untuk menguatkan. Semakin mengenal Asti, Ibu Imelda semakin kagum. Wanita muda itu segera menata hidupnya kembali. Sesekali Asti masih sering menelponnya. Walaupun terkadang mereka hanya berbicara tentang pernak- pernik kehidupan. Di luar masalah transfer uang bulanan untuk Akbar yang sudah tiga bulan ini mengendap di buku rekening Ibu Imelda.
Masalah perjanjian sewa kontrak ruko, surat - surat izin pembangunan ruko atau usaha, Asti dibantu oleh Pak Gunarsa, S.H. rekan kerja Ibu Imelda.
Selebihnya, Asti mengandalkan bantuan Joko untuk menggurus berbagai surat, dari membuat surat keterangan pindah alamat, ganti Kartu Keluarga, karena statusnya yang telah berganti menjadi Single Parent.
Mereka harus membawa berbagai perlengkapan itu dari rumah Pak RT di desa Sendang Mulyo, Ke Pak RW sampai ke kelurahan, kecamatan juga pergi ke dukcapil setempat. Belum lagi harus memperbarui laporan itu ke tempat tinggal Asti yang baru, ternyata berbeda pula wilayahnya.
Tinggal di daerah perkampungan ramai memang berbeda dengan tinggal di desa. Menurut keterangan Pak Sambodo, Pak RT yang rumahnya berada tepat di seberang depan rumah Asti. Sebagian warga yang tinggal di sepanjang jalan persimpangan itu kebanyakan pendatang dari daerah lain.
Mereka mengais rejeki dengan membuka berbagai usaha dari warung dan toko di persimpangan jalan yang sangat ramai itu. Ada yang sudah mengurus kepindahannya dan menjadi warga tetap di sana. Malah masih banyak lagi orang- orang itu yang memegang KTP dari daerah asal.
Sedangkan sebagain penduduk desa yang tinggal di ujung jalan penghubung itu telah menjual semua lahan sawah dan kebunnya pada pengembang. Sehingga penduduk desa itu berpindah ke daerah lain dengan uang pembebasan yang cukup besar jumlahnya.
Para tetangganya juga tidak mempersoalkan status Asti yang kini menjadi janda. Karena fenomena wanita yang bercerai di daerah itu semakin tinggi saja. Umumnya karena faktor tekanan ekonomi, yang menyebabkan banyak wanita menggugat cerai suaminya.
Lucunya, rumah Asti jadi sering disambangi oleh para tetangga itu dengan berbagai kepentingan yang berbeda-beda. Paling banyak adalah meminjam uang. Kadang, Asti meminta Mas Yanto untuk menutup pintu pagar depan saja bila dia keluar rumah.
Bukan dia tak punya rasa empati terhadap kesusahan orang lain. Sebab Asti tak mengenal mereka. Kalau hanya meminjam dengan nilai nominal yang sedikit atau perlu beras beberapa kilogram saja, malah akan dia beri dengan ikhlas.
Bukan meminjam uang dengan jumlah jutaan hanya bermodal janji saja. Bahkan mereka memberi berbagai alasan yang tak masuk akal, agar Asti memberi pinjaman.Ada yang untuk biaya berobat orang tuanya di kampung karena sakit. Ada yang untuk bayar angsuran motor yang sudah terlambat dua bulan. Juga yang lainnya Padahal Asti sendiri juga seorang ibu tunggal yang harus bekerja untuk menghidupi bayinya.
__ADS_1
Permasalahan itu sudah Asti sampaikan pada Pak RT. Asti akan selalu memenuhi kewajibannya sebagai anggota masyarakat seperti membayar iuran bulanan untuk kas RT, uang keamanan dan berbagai kepentingannya lainnya di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
****
" Aku pulang ke rumah ya, Mbak!" telpon Ninuk memberi tahu kepulangannya.
" Hati- hati di jalan!" pesan Asti.
Sejak Ninuk mulai terdaftar sebagai mahasiswa baru di sebuah kampus swasta, dia baru dua kali ini ke rumah Asti. Gadis itu menikmati kehidupan barunya yang berbeda dengan semasa sekolah di SMA- nya.
Asti terharu karena sekarang, Ninuk sudah memakai hijab untuk keseharian, bukan di dalam kampus saja. Sebab kampus yang dipilih Joko untuk adiknya menuntut ilmu itu adalah kampus yang berlatar belakang yayasan perguruan Islam.
Gadis manis itu sudah mengendong Akbar, setelah datang dari tempat kostnya pagi tadi Jarak yang harus ditempuh Ninuk mencapai satu jam lebih perjalanan dengan menggunakan motor. Tentu dengan saja dia tetap menjalankan motornya dengan kecepatan penuh.
Sekarang Ninuk lebih dewasa dan bersungguh-sungguh dengan kuliahnya. Joko yang dulu sibuk menggurus semua kebutuhan adiknya itu. Dari kampus, jurusan sampai tempat kost. Tak peduli kalau adiknya itu harus agak jauh mencapai kampusnya setiap hari. Karena tempat kost itu aman dan dimiliki oleh seorang pensiunan guru.
Di belakang rumah Asti juga dibuat sebuah pintu besi yang hanya cukup untuk dilewati hanya untuk satu orang .
Sebuah pintu besi tinggi yang bersambungan dengan dinding ruko di sampingnya. Pintu itu nantinya akan dipergunakan oleh Joko untuk jalan keluar masuk dari warung tenda ke belakang halaman rumah Asti.
Sekarang di belakang rumah itu sudah dibuat bangunan sementara yang terbuat dari dinding asbes dengan atap plastik gelombang.
Kemarin truk-truk molen sudah dikerahkan untuk mengisi dak pada lantai kedua dan ketiga dari bangunan ruko tersebut.
Kegiatan puluhan truk yang membawa cor beton itu, dibantu oleh banyak orang yang menjaga, agar tak mengganggu kelancaran arus lalu lintas di depan jalan raya yang sangat ramai itu.
Sekarang , para pekerja difokuskan pada pengerasan lahan di depan ruko yang rencananya di gunakan untuk parkir kendaraan pengunjung ruko, taman dan warung tenda Joko. Sambil menunggu hasil pengecoran mengeras, baru dibuat dinding ruko dan atap.
" Ayo, semua makan siang dulu! Sudah disiapkan Mbak Ning. Tentu saja atas perintah Jeng Asti, Bos besar kita. Jadi nggak boleh ada yang nolak! " ucap Ninuk.
Di sana tidak hanya ada bapak dan kakaknya saja yang mengawasi pekerjaan tersebut. Juga ada Mas Adam , dua mandor proyek dan satu pengawas. Sedangkan para pekerja dan tukang sudah menyeberang jalan menuju ke sebuah warung nasi dengan bangunan sederhana. Di sanalah mereka makan siang dan istirahat sampai pukul 13.00.
Lek No yang lebih dulu memimpin rombongan itu masuk ke rumah Asti lewat pintu belakang. Dia mencuci tangan dan kakinya di kran samping teras.
Benar saja, di teras samping sudah disiapkan berbagai masakan di atas meja besar. Mbak Ning dan Bu Jum sibuk menyiapkan piring, sendok dan gelas.
Di sana ada deretan kursi plastik, juga tikar. Saat sedang repot menyiapkan makan siang itulah, si bayi Akbar mulai rewel di gendongan Ninuk, karena melihat ibunya.
__ADS_1
Asti segera mengambil Akbar dari gendongan Ninuk. "Tolong bantu. Mbak Ning! Mas Yanto dan Pak Roh suruh makan bareng sekalian, ya. Nuk!"
" Siap, Bu Bos! "
Teriak Ninuk meledeknya. Sambil beranjak ke halaman depan rumah. Asti selalu menyediakan masakan yang lebih banyak untuk makan siang untuk orang- orang yang sedang mengawasi pembangunan ruko.
" Mas Yanto, Pak Roh! gabung sekalian makan siang sama Bapak di teras samping!" Panggil Ninuk.
Pak Roh segera menutup pagar depan. Di halaman ada tiga mobil berjejer terparkir. Dari milik Mas Joko, Mas Adam sampai milik seorang pengawas.
Mas Yanto lebih memilih keliling sebentar untuk mengawasi lagi ke arah pembangunan ruko yang telah berdiri kokoh. Ternyata cara pembangunan yang serba modern dan cepat ini banyak menarik perhatian orang- orang. Terkadang ada juga ada niat tak baik dari orang terselubung dengan banyaknya alat dan bahan- bahan yang digunakan untuk ruko yang dirancang tanpa atap itu.
" Maaf, Mbak. Akbar rewel, ya?" tanya Ninuk yang melihat bayi itu memeluk rapat tubuh Asti yang tidur di sebelahnya.
" Kepanasan sedikit! lain kali pakai topi, Nuk! Proyek ruko di depan sangat panas dan banyak debu."
" Maaf ya Anak ganteng. Tante Ninuk salah..."
" Sombong kamu, baru dua bulan jadi mahasiswi di kota, minta dipanggil Tante lagi! Bulek Ninuk, gitu!" Tegas Asti.
" Ini abad berapa , Mbak?" Debat Ninuk ngeyel.
"Iya aku tahu sudah abad modern Tetapi sebagai warga negara yang baik, tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan adat istiadat di daerah masing- masing. Termasuk memelihara kebiasaan cara menyapa bulek, Pak Lek, bude. Takut ketinggalan zaman, ya?"
" Oke, oke . Ibunya Akbar memang selalu benar dan menang kali!"
" Ya sudah, sana ikut makan. Nanti ikut Kakakmu ambil pesanan barang di Pasar Budoyo."
" Jadi Mas Joko buka warung tenda itu?"
"'Jadilah! Itu pesanan kompor, panci dan wajan khusus. Besok baru ke Solo, katanya mau beli printer?"
" Waduh, Makasih banyak Mbak Asti ku yang cantik, baik hati dan tidak sombong..."
" Hus, sana! Gombal kamu. Baik kalo ada maunya aja!"
Pintu kamar segera ditutup. Akbar sesekali terbangun. Kepalanya memang agak panas. Saking kangennya Ninuk , sampai berjam - jam Akbar terus digendongnya.
__ADS_1
Ninuk tadi ikut melihat pengerjaan lahan depan ruko yang diratakan dengan buldoser mini. Akbar tertarik melihat benda itu. Walaupun suara mesin itu sedikit membuatnya takut.
Sampai Ninuk tidak menyadari kalau di sekitar daerah itu penuh dengan kendaraan dari arus lalu lintas empat arah. Banyak debu, panas dan asap kendaraan.