
Asti terseok- Seok meninggalkan kamarnya. Dia berusaha menahan rasa nyeri akibat serbuan pagi dari Satrio. Karena hampir saja malam pertama mereka terlewati. Sesekali Asti menahan tubuhnya yang kurang nyaman dengan berpegangan dengan meja dapur.
Di meja lebar dari kayu jati itu ada baki yang dipenuhi tatanan gelas yang bersih. Ada dua termos yang berisi air panas juga toples- toples yang dipenuhi oleh gula, kopi dan kotak- kotak teh celup.
Dia menyiapkan beberapa gelas untuk membuat kopi. Saking lelah dan masih menahan kantuk dia tidak dapat lagi menghitung berapa orang kerabat yang tidur di kamar Bude Ayu. Dua kamar kosong yang lain, juga para pria tua atau muda yang bergeletakan di ruang tengah menggunakan tikar.
" Hey, sini! " Panggil Satrio yang baru saja merapikan sarung dan sajadah.
" Saya nggak tahu, apa Mas Satrio minum kopi atau teh di pagi hari..."
Suara Asti terdengar ragu- ragu.
" Apa aja, kalau istri yang bikin pasti aku minum."
Pria itu melihat penampakan wajah Asti agak berbeda di pagi ini. Bibirnya sedikit agak bengkak akibat ciuman menjelang dini hari. Kalau tidak mendengar suara rintihannya istrinya itu, mau rasanya dia mengulang kembali kenikmatan yang telah halal itu.
" Rambutmu basah, dikeringkan dulu, Dek. Nanti masuk angin! "
Canggung Asti melepas kerudung instannya, lalu menguraikan rambut hitamnya yang panjang sepinggang. Cuma Ninuk yang selalu disuruh menggunting sedikit ujung rambutnya yang bercabang. Namun kunjungan ke salon adalah kegiatan yang tidak pernah dilakukannya.
Gerakan Asti saat mengeringkan rambutnya dengan handuk malah membuat Satrio terpesona. Bagian tubuh indah dari istrinya itu berguncang lembut menaikkan suhu tubuhnya
" Sini, aku bantu, Dek!"
Malu- malu Asti menyerahkan handuk setengah basah itu.
Sesekali pria itu menghirup wangi lembut sampo yang digunakan Asti. Dia juga mengecup dahi dan kedua pipi halus dari wanita yang mulai mempengaruhi segala pikirannya sejak mereka bertemu pertama kali beberapa bulan yang lalu.
Ketukan di pintu terdengar. Ternyata Bude Ayu memanggil kedua orang penghuni di dalam kamar itu untuk sarapan.
__ADS_1
Saat Asti dan Satrio keluar dari kamar, mereka terheran- heran dengan pemandangan yang ada di dalam rumah ini.
Orang- orang berjejer di kamar mandi di dekat kamar Bude, dan di belakang dapur untuk antri mandi.
Anak- anak asyik menikmati bubur nasi dengan berbagai lauk yang disediakan di meja depan. Ada kerupuk kecap, suwiran ayam dan kuah opor bening tanpa santan.
" Ini bubur Sambel Tumpang request dari besanku, lho! " Teriak Bude Ayu sambil menggotong wadah yang berisi berbagai sayuran hijau yang direbus. Masakan itu paling nikmat kalau yang memasak adalah Bulek Ratih. Katanya dia mendapat resep dan cara mengolahnya langsung dari almarhumah Mbah Sri. Nenek Asti.
Orang- orang muncul dari berbagai pintu untuk mengambil sarapan. Dari gudang belakang, dari samping rumah juga dari halaman depan. Mereka juga menikmati sarapan itu dengan mengambil posisi duduk sesukanya.
Asti dibantu Ninuk mencuci tumpukan piring bekas sarapan tadi. Saat hari agak siang, datang ibu- ibu menyiapkan berbagai masakan.
Inilah bagian dari adat di desa ini dengan mengirim bingkisan kepada para tetangga berupa makanan yang terdiri dari nasi dan berbagai lauk dan sayur untuk memberitahu kalau mereka telah menyelesaikan acara pesta dengan selamat.
Sesekali, Bude Ayu juga memantau berbagai makanan yang dihidangkan untuk kerabatnya yang masih bertahan di rumahnya. Sedang kerabat yang tinggal tidak jauh dari daerah mereka, satu persatu pamit pulang. Para kerabat itu diberi bungkusan yang berisi berbagai masakan dan lauk pauk yang dimasukan dalam Styrofoam.
Juga ditambah bermacam- macam kue tradisional asli desa ini yang dibuat para tetangga khusus untuk disajikan di pesta pernikahan.
Para pekerja itu juga ditawari makan siang yang sudah agak lewat waktunya. Mungkin juga karena beratnya pekerjaan itu para pekerja dari pengusaha perlengkapan pesta itu tidak menolak.
Para tetangga yang laki- laki mulai mengembalikan berbagai alat masak dan piring- piring yang dipinjam. Semua dilakukan secara gotong royong tanpa pamrih.
Setelah agak malam , Asti meminta Lek No dan Satrio membawa keluar dua kardus besar dari kamar Bude Ayu. Ternyata dus itu berisi gamis batik, kulot dan kemeja batik yang sengaja dibeli Asti untuk oleh- oleh nanti kalau kerabat dari Mbah Sanjaya kembali ke rumahnya masing- masing.
Para remaja putri memilih berbagai corak dan warna kulot yang sesuai. Para bapak- bapak sibuk memilih ukuran kemeja batik yang pas untuk dirinya. Sedangkan gamis batik itu dibeli Asti dengan berbagai corak dan model , jadi para ibu - ibu jadi bingung memilih karena semua gamis itu bagus dan model terbaru Padahal Asti hanya memberi jatah setiap orang hanya mendapat satu biar adil dan semua kebagian.
Dalam sekejap ruang tamu dan ruang keluarga Bude Ayu berubah menjadi seperti orang berjualan di pasar malam. Satrio dengan keisengannya mulai memvideokan kegiatan sanak saudara dan keluarganya itu. Untuk Mbah Sanjaya secara khusus Asti membelikan kemeja lurik khas Jawa .
Tampaknya Bulek Ratih dan Ninuk pun ingin terlibat di dalam acara pilih- pilih baju itu. Padahal Asti sudah memberinya satu set kebaya dan gamis yang pas buat remaja
__ADS_1
" Sudah sana ikut milih!" Suruh Asti ketika berkali- kali mata Ninuk mengerjab meminta izin.
Bude Ayu dan orang tua Satrio tertawa- tawa saja melihat kehebohan orang- orang itu. Apalagi saat para kerabatnya bertukar kemeja karena nomor yang dipilihnya terlalu besar atau terlalu kecil .
Sesekali Satrio menyentuh pinggang atau bahu Asti menuntut perhatian.
Mungkin suasana seperti ini tidak didapatkan lagi, sebab beberapa keluarga sudah pamit dan akan meninggalkan tempat ini besok pagi.
Mereka sudah bersiap- siap setelah acara pemilihan baju. Masing - masing keluarga memasukan beberapa tas pakaian dan bahan makanan dan kue- kue di bagasi mobil yang terparkir di halaman mushola yang cukup luas.
Di rumah Lek No sudah rapi seperti sediakala karena mendapat bantuan tenaga bersih- bersih dari para tetangga . Pria itu tersenyum cerah melihat kedatangan Asti dan Satrio di pagi ini.
Bulek Ratih masih membungkus berbagai bahan makanan di kantong- kantong kresek. Wanita itu juga tampak lelah dan bahagia, anak yang sejak bayi diurusnya itu telah dewasa dan mempunyai pendamping hidup.
Betapa waktu begitu cepat berlalu. Bulek Ratih masih ingat saat dia datang dan membantu mengurus bayi kecil yang bernama Nastiti Anjani.
Wanita itu tak pernah bertemu ayah si bayi karena sudah meninggal sebelum bayi itu dilahirkan. Sedangkan Bulek Ratih hanya mengenal ibu si bayi dalam waktu seminggu. Wanita cantik itu tampak muram dan sedih mendengar musibah yang menimpa keluarganya di Banjarmasin.
Emilia terpaksa meninggalkan bayinya yang baru berusia 2 bulan itu kepada ibu mertuanya. Dia akan kembali ke daerahnya bersama kakak laki - lakinya dengan kapal laut dari Surabaya.
Beberapa kali Pak Harjo Winangun menerima telepon dari kakak Emillia yang menyatakan kalau orang tua mereka tewas dalam peristiwa kebakaran di dekat pelabuhan itu. Sementara dua adiknya memerlukan perawatan karena mendapat luka bakar yang parah.
Sejak itulah keluarga Winangun hanya selalu mendapat air mata dan air mata. Malah ada heboh besar saat masalah dana pembangunan jalan desa yang dikorupsi itu dibuka secara umum di masyarakat.
Ibu Sri Sumiarsih semakin sedih ketika mendengar kabar, salah seorang adik Emilia meninggal saat masih menjalani perawatan. Ibunya Nastiti Anjani dan kakaknya tidak kembali ke Pulau Jawa lagi. Sebab ada nenek dan adik yang perlu diurus dan dijaga. Emilia bertahan di Banjarmasin sedangkan kakak laki- lakinya mencari pekerjaan di Samarinda.
Bertahun- tahun kemudian Pak Harjo Winangun tidak lagi mendapat kabar dari Emilia dan kakaknya. Sekarang dia mengasuh Asti bersama Ratih dan anak sulungnya, Ayu.
Ternyata Kehidupan rumah tangga anak perempuannya itupun tidak berjalan baik. Bude Ayu pun mengalami keguguran dua kali selama usia pernikahan mereka yang cukup lama.
__ADS_1
Dia minta izin kepada suaminya kembali ke desanya setelah mendapat kabar ibunya meninggal. Tepat setahun kemudian dia bercerai setelah mendengar suaminya menikahi gadis setempat di sebuah kampung tempat suaminya bertugas.