
Ninuk telah menyelesaikan semua tugas kuliah dan ujian di semester ganjil di pertengahan bulan Desember. Walaupun tidak duduk di bangku kuliah, setidaknya Asti terus memantau semua perkembangan kegiatan Ninuk di kampus. Agar adiknya itu bertanggung jawab pada pilihannya untuk di masa depan.
Gadis manis itu hanya tinggal di rumahnya selama dua hari, di desa Sendang Mulyo. Dia lebih banyak menginap di rumah Asti dan tidur di kamar impiannya di lantai atas.
Sekarang malah mulai membujuk Asti membawanya ke kota Solo atau Yogyakarta sebagai plesiran. Sebab Ninuk cukup stres juga dengan irama perkuliahan yang sangat berbeda dengan saat bersekolah di SMA.
Adik bungsunya Joko itu menyebutnya "refreshing". Mau nggak mau Asti akhirnya menyetujuinya. Apalagi kegiatan sehari- hari Asti hanyalah berjualan di pasar dan sorenya mengurus Akbar. Sampai Bulek Ratih pun menyetujui dan ikut dalam acara bepergian itu.
Lek No tetap bertahan di desa dengan segala urusan pekerjaan di sawah. Sedang Joko harus tetap membuka warung tendanya yang semakin hari semakin banyak pengunjung di setiap malamnya.
Inilah cara anak - anak muda di daerah pinggiran kota ini untuk bermalam panjang dengan nongkrong di warung tenda dan menikmatinya nasi goreng dan segelas kopi manis.
" Sana kamu bantuin Bu Jum, nyiapin keperluan Akbar dulu!"
Ninuk mau menolak tidak berani atas permintaan Asti. Agak merepotkan memang membawa bayi dalam perjalanan kali ini. Selain baju dan perlengkapan, di tas Akbar harus ada persediaan susu formula lengkap dengan pembersih botol dan satu kaleng susu bubuk dengan merek tertentu. Ada tumpukan pampers, tisu, obat-obatan dan perlengkapan mandinya.
Perjalanan di mulai di Minggu siang. Ninuk tetap jadi navigator alias pemandu jalan. Tentu dengan hape yang baterainya telah full serta kuota internet yang memadai.
Mereka melewati jalan menuju ke kota Solo terlebih dahulu. Jalan yang mulai dihapal dan dikuasai oleh Asti. Tentu perjalanan yang memakan waktu lebih dari satu jam itu tak ada kendala yang berarti.
Kira- kira mereka akan sampai di kota Pelajar itu sebelumnya Magrib. Karena mobil itu berjalan dengan kecepatan sedang. Asti benar-benar menikmati perjalanan ini. Tentu sambil menghapal rute untuk perjalanan kembali pulang di esok hari.
Bu Jum dan Bulek Ratih pun sangat menikmati perubahan suasana,yang berbeda. Setelah melihat pemandangan dari jendela mobil yang mereka tumpangi. Dari berbagai pinggiran kota - kota kecil yang mulai menggeliat membangun daerah mereka.
Tampak hamparan sawah menghijau di kedua sisi jalan antara kota Surakarta menuju Klaten. Setiap perkampungan mempunyai ciri-ciri daerah masing - masing. Ada yang merupakan daerah industri dengan banyaknya pabrik yang berdiri di sepanjang jalan raya tersebut. Juga kesibukan para pegawainya yang sedang istirahat atau berganti shift.
__ADS_1
Mereka berhenti di sebuah daerah yang sangat terkenal, Malioboro. Namun, mereka segera mencari tempat menginap yang tak jauh dari daerah itu.
Tangan lincah Ninuk segera membuka beberapa homestay atau guest house yang ramah di kantong.
Setelah mendapat nomor teleponnya, Asti segera bergerak ke homestay itu.
Tempat penginapan itu cukup bagus, dan ada parkir mobilnya. Setelah mandi dan sholat Maghrib, barulah mereka bergerak ke Malioboro. Akbar dibawa dengan stroller karena daerah yang terkenal dengan kaki lima yang menjual berbagai cenderamata yang murah.
Acara jalan - jalan itu sangat dinikmati Ninuk dan Bu Ratih yang sudah lama tidak pernah mampir ke tempat ini. Walaupun pernah ke kota ini pun hanya singgah sebentar. Sebab Asti hanya mempunyai keperluan untuk berbelanja di sebuah pasar terkenal, yaitu Bring Harjo!
Sebagai kenang-kenangan, Ninuk membeli tas batik, t-shirt dengan berbagai tulisan tentang Yogyakarta sampai beberapa mainan lucu.
Bu Jum tertarik membeli selendang dan pashmina. Asti juga membeli beberapa tas Tote bag yang terbuat dari kayu batik untuk Mbak Ning, Dania, dua wanita yang ada di rumah Bulek Ratih, Bu Haji Anissa juga Bu Ani. Tetangga yang lainnya nanti dibelikan oleh- oleh berupa kue saja. Seperti bakpia Pathuk yang awet dan tahan lama.
Pulangnya mereka mampir di warung kaki lima mencoba masakan khas kota itu, Gudeg dan berbagai lauk pelengkapnya.
Akbar menghabiskan susu di botolnya. Dia seperti ingin meminta makanan yang ada di piring Asti. Wanita itu tidak memberikannya karena banyak memberi sambal pada sayur di piring makannya.
Mereka berjalan - jalan di tempat itu, sambil menuju arah penginapan, untuk segera istirahat. Namun Ninuk bersikeras untuk naik becak dengan mesin motor itu menuju alun-alun selatan keraton. Terpaksa Bulek Ratih yang harus menemani anak gadisnya itu.
Sesampainya di homestay, mereka sholat Isya dan bersiap - siap tidur.
Di ruangan yang cukup besar itu, Asti meminta ekstra bed. Karena dia akan tidur di bawah bersama Akbar. Padahal di sana ada dua tempat tidur Single dan satu tempat tidur besar yang bisa di gunakan untuk lebih dari dua orang.
Hampir pukul sepuluh malam, kamar diketuk dari luar. Di sana Ninuk dan Bulek Ratih datang dengan membawa dua kantong kresek berisi berbagai makanan khas kota ini.
__ADS_1
" Besok kita ke Parangtritis, kalau sempat mampir Candi Prambanan
sebelum balik pulang, ya!" Ujar Asti.
" Kapan- kapan, ajak Joko sana Lek No, Lek! Biar perjalanan kita aman."
Besok biar jatah Ninuk yang memijat kakinya ini. Setelah tadi diurut sebentar oleh Bu Jum. Maklum supir amatir. Baru kali ini dia membawa mobil dalam perjalanan jauh seperti ini. Tampaknya Akbar juga senang. Bayinya tidur lelap dan tidak rewel setelah menghabiskan susunya satu botol.
Perjalanan ke pantai yang cukup terkenal itu, harus ditempuh dalam waktu kurang lebih 40 menit lagi. Asti kembali diberi arahan oleh Ninuk dengan hape yang dipegangnya. Bu Jum dan Bulek Ratih juga cukup antusias akan berkunjung ke pantai yang sangat terkenal itu, sebagai bagian dari objek wisata di Yogyakarta ini.
Bau air laut, suara deburan ombak dan udara panas menyengat dengan tiupan angin yang cukup kuat menyambut kedatangan Asti dan rombongannya itu di gerbang tempat wisata itu. Setelah memarkir mobilnya, mereka turun bersama - sama.
Mereka hanya membawa tas perlengkapan Akbar dan satu kresek makanan yang tadi sempat mereka beli di pinggir jalan. Ternyata mereka harus berjalan jauh lagi untuk dapat mencari tempat istirahat yang nyaman.
Pantai ramai karena hari minggu. Penuh Dengan pengunjung. Mereka mendapat arahan dari si penjaga pantai agar tidak berenang karena ombak di sana agak besar . Ninuk tadi sempat repot ketika bertelepon dengan teman - temannya.
Mungkin galeri di ponselnya sudah penuh dengan berbagai foto yang diambilnya sejak dari perjalanan mereka sejak siang kemarin, sampai jalan- jalan di alun- alun keraton Kidul yang katanya penuh Dengan pengunjung juga pedagang kaki lima. Ninuk belum sempat menguji dirimu untuk mencapai beringin kembar dengan mata ditutup. Mitos itu menyatakan kalau mencapai ke tengah pohon beringin itu, segala yang dicita-citakan oleh orang itu akan terkabul.
Gadis itu membawa Akbar agak ke pantai dan mengenal ombak pertama kali. Akbar agak takut juga girang saat kakinya basah oleh sentuhan air laut itu. Lama- lama dia berteriak kegirangan setiap melihat ombak yang datang ke pantai.
Bu Jum bergantian menjaga Akbar dengan Bulek Ratih. Di tikar plastik itu, Asti mulai menikmati bekal yang mereka bawa. Ada bermacam jajanan pasar, beberapa bungkus nasi dan lauknya juga air mineral dan satu plastik biskuit bayi.
Ninuk terus mengambil berbagai pose foto Akbar yang mulai berani berlarian di pantai itu. Sampai Asti melihat kedatangan seorang pria yang sungguh di luar perkiraannya, Pak Leon!
Kehadiran lelaki itu dengan kulitnya yang bersih, berkacamata hitam Dengan kaos singlet hitam, dan celana hitam sepaha cukup menarik perhatian orang banyak. Terutama kaum wanita muda.
__ADS_1
" Jangan bilang kamu yang telepon Pak Leon dan menyuruh beliau ke sini!" Ancam Asti.
Wajah Ninuk merasa tak bersalah sedikitpun. "Mungkin Pak Leon lihat postinganku di FB dan Instagram, Mbak. Yah, dia ada kerjaan di Kota Yogyakarta. Jadi kuberi tahu, kalau kamu lagi plesiran di pantai ini. Mengapa dia malah menyusul ya?"