
Asti memang sudah agak lupa jalan menuju ke rumah Mbah Sanjaya di desa itu. Karena kemajuan pembangunan di desa ini lebih pesat dari desa tetangga lainnya.
Apalagi, waktu itu dia diantar Joko untuk berkunjung ke rumah Bude Prapti. Sebab letak rumah mereka sangat berjauhan, walaupun ada di satu wilayah.
Asti melihat adanya bendera merah yang terpasang di beberapa tiang listrik. Yang memberinya petunjuk kalau pada jalan itu ada rumah penduduk yang sedang berduka cita. Sampai dia membawa mobilnya berbelok ke kiri dari jalan utama desa itu.
Benar saja, di sebuah tanah yang agak lapang sudah berjejer bermacam-macam mobil dan motor terparkir di sana. Di sana juga ada anak- anak muda yang membantu menjadi juru parkir sekaligus penjaga keamanan.
Asti dipandu oleh seorang pemuda saat memarkirkan mobilnya pada sebuah area yang lebih sejuk. Karena banyak pohon yang tinggi dan berdaun rimbun di atasnya. Tempat ini lebih menyerupai sebuah lapangan serba guna. Karena ada rumput yang terpelihara rapi dan bersih.
Bu Jum keluar sambil membopong Akbar, di ikuti dengan Asti dan Mbak Ning. Hari ini, Asti berhijab biru biru lengkap dengan kerudung hitamnya. Kedua perempuan itu juga sama- sama mengenakan kerudung hitam.
Segera disandangnya sebuah tas selempang yang tidak terlalu besar. Sementara Mbak Ning membawa tas keperluan Akbar. Di dalam tas besar itu ada pampers, botol susu berisi asi, cemilan biskuit, sampai tisu basah dan tisu kering.
Pada sebuah rumah yang paling besar dan paling megah itulah, Mbah Sanjaya tinggal dengan istri dan cucunya. Pria yang merupakan kakak dari almarhumah Mbah Putrinya itu, mendapat karunia karena diberi umur panjang. Mencapai lebih dari 84 tahun , sampai beliau berpulang hari ini.
Di depan rumah sudah terpasang tenda dan bangku- bangku plastik untuk menerima tamu yang datang. Asti meminta Mbak Ning dan Bu Jum menunggu di salah satu bangku tersebut. Dia berjalan menuju pintu depan rumah.
" Asti?"
Suara panggilan itu menghentikan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah. Tahu - tahu tubuhnya dipeluk oleh seorang wanita yang wajahnya mirip dengan ibu Widya, mantan mertuanya.
Kemudian dia juga mendapat pelukan dari dua wanita lainnya, yang sejak tadi ada di belakang mereka. Ada kata yang tak terucap dari wanita itu dengan mata sembab yang menunjukkan lebih banyak rasa duka dan kehilangan.
Mereka menuntun Asti memasuki rumah itu. Di dalam ruangan yang megah dan luas itulah, Jenazah Mbah Sanjaya di semayamkan. Di sana ada beberapa orang pelayat yang bersimpuh dan membacakan doa untuk beliau.
Beberapa ibu tetangga di dalam ruangan yang lain sibuk menyiapkan berbagai keperluan untuk pemakaman. Ada yang menyiapkan kain kafan. Ada beberapa ibu yang menjahit bunga- bunga setaman pada benang yang panjang. Benang itu nanti akan disampirkan di atas keranda sebelum dibawa ke masjid untuk disholatkan lalu dibawa ke tanah pemakaman.
Dengan meminta izin, Asti berdoa di depan jenazah Mbah Sanjaya yang ditutupi kain jarik batik panjang. Ada doa permohonan maaf, juga agar pria itu mendapat jalan yang lapang di akhirat kelak.
Suasana di luar rumah semakin ramai oleh para pelayat yang mulai berdatangan. Asti menyingkir sebentar. Dia bermaksud menemui Mbak Putri, yaitu Istri Almarhum Mbah Sanjaya. Akhirnya, Asti diantarkan seorang ibu yang untuk menemui istri almarhum.
Wanita itu membawa Asti ke dalam rumah, sampai berhenti di sebuah pintu kamar tidur utama. Pintu kamar itu terbuka lebar sehingga dia melihat Mbah Putri yang tampak terduduk sendirian dalam keadaan berduka.
" Mbah Putri?"
" Kowe siapa?" bisiknya ragu.
Keadaan kamar yang temaram membuat kamar mewah ini tampak suram. Tirai tidak dibuka, sehingga cahaya matahari tidak dapat masuk.
"Saya Asti, Mbah. Keponakan Ayu Sulaksmi. Cucunya , Mbah Harjo Winangun!"
Wanita itu menangis tergugu saat memeluk Asti. Sedikitnya beliau tahu jalan cerita dari pernikahannya dengan Satrio, cucunya yang berakhir dengan perceraian belum lama ini.
__ADS_1
"Maafkan, Mbah Sanjaya, ya? Beliau hanya bermaksud untuk menyatukan keluarga Winangun dengan Sanjaya lagi. Tetapi perceraian itu membuat Mbah Sanjaya terpukul. Dia merasa bersalah pada adiknya, Sri Sumiarsih. Mbah Putrimu..."
Untuk apa menyesali sebuah kejadian masa lalu yang menimbulkan rasa pahit dan nyeri? Asti berusaha menghibur wanita itu dengan beberapa ucapan yang menenangkan hatinya.
Cepat Asti segera menyelipkan sebuah amplop tebal yang telah ia siapkan sebelum berangkat tadi, ke dalam genggaman tangan wanita tua itu.
" Ini apa?"
" Buat pegangan, Mbah Putri saja! Di luar ada Akbar. Mbah Putri mau melihat anak Asti, cicit Mbah Putri juga?"
Tubuh wanita tua itu beranjak dari kamarnya. Dengan hati- hati Asti menggandengnya berjalan keluar rumah. Melewati beberapa ruangan. Ternyata keluarnya Mbah Putri dari kamar, juga dari lihat para ibu di sana.
Para ibu itu cukup kaget melihat dengan mudahnya wanita tua itu mau dibujuk Asti keluar dari kamarnya. Padahal sejak semalam beliau hanya menangis ketika anak cucunya mendapat berita, kalau keadaan Mbah Sanjaya di rumah semakin kritis.
Bahkan mereka tidak memperbolehkan wanita tua itu ikut datang ke rumah sakit. Sebab perjalanan itu cukup jauh menuju kota Solo, dan dilakukan di malam hari. Sampai wanita itu terdiam saat mendengar kalau suaminya sudah meninggal setelah mendapat beberapa tindakan medis.
Sampai menjelang Subuh, Mbah Sanjaya berpulang. Wanita itu menunggu saja dan tak mau keluar dari kamarnya.
" Cicitku? Mana?"
Suara parau wanita itu melihat sosok Akbar yang duduk di kursi dan dijaga oleh Mbak Ning dan Bu Jum .
Wanita itu menatap wajah Akbar dengan takjub. Tentu wanita itu mengenali seraut wajah Satrio yang serupa dengan wajah bayi Akbar. Wajah yang sangat memperjelas darah yang mengalir di tubuhnya bayi laki - laki yang telah berusia 12 bulan. Tetapi disangkal Satrio dengan berbagai alasan untuk menutupi kesalahannya dirinya.
" Rawatlah anakmu dengan baik, Asti. Insha Allah ada jalan dan rezeki baginya. Satrio memang keterlaluan. Niru bapaknya yang juga sudah menikah lagi!"
Mbak Ning dan Bu Jum berpandangan. Walaupun suara Mbah Putri tadi agak pelan dan bergetar karena menahan sedih dan amarah. Namun mereka mendengar semua perkataan yang diucapkan wanita tua itu dengan sangat jelas.
" Asti! Kamu sudah datang duluan?"
Terdengar suara Bulek Ratih di belakang mereka. Dia tadi terburu- buru turun dari mobil yang dikemudikan Joko. Di mobil lainnya terlihat Pak Haji Anwar dan istrinya. Mereka datang bersama- sama dengan para tetangga yang lain.
Pantas saja mereka baru datang sekarang. Sebab banyak warga desa Sendang Mulyo yang ikut dalam rombongan pelayat tersebut.
Joko mendekati Akbar, yang masih digendong Mbah Putri. Sampai Bude Diah keluar dan menyalami para tamu yang berdatangan.
" Mari masuk!"
" Maaf, Bude Diah! Asti bawa bayi, jadi biar anakku di sini saja,!"
Wanita itu kembali memeluk erat-erat tubuh Asti sambil menatapnya. Seakan-akan memberi Asti beribu maaf dan pengertian. Wajah Asti masih secantik dulu, dengan guratan kesedihan yang telah mendewasakan hidupnya.
" Kamu nggak ketemu tadi sama mantanmu juga mantan mertuamu yang agung itu?"
__ADS_1
" Satrio ada di sini?"
" Dia baru datang, tetapi lewat pintu belakang tadi! Malu sama tetangga Sarno yang tadi datang. Apalagi istrinya itu sudah hamil duluan begitu, ya? Sudah seperti mau melahirkan besok saja! Padahal omongan Mbak Widya katanya baru nikah selama enam bulan..."
Ucapan itu disahuti dengan adiknya yang lain. " Di DP duluan, Yuk!"
Wajah Bude Diah semakin menggelap." Tenang saja, Asti! Dari sejak Bude Ayu itu masih ada, kita tetap bersaudara. Nggak usah kamu pedulikan keluarga Bude Widya mu itu. Terlalu memanjakan Satrio! Jadi salah jalan anak yang selalu dibelanya itu!"
Asti terdiam. Tampak ada kemarahan di wajah adiknya Bude Widya itu. Wanita itu kembali masuk ke dalam rumah untuk menerima kehadiran para pelayat yang masih menghargai dan menghormati sang Ayahanda, Pak Mursadi Sanjaya. Tokoh desa Sendang Ranti yang sangat dihormati para warganya.
Sebenarnya Asti mau saja segera beranjak pulang. Namun hanya dirinya saja yang terhubung keluarga dengan almarhum Mbah Sanjaya.
Akbar sudah menghabiskan satu botol berisi susu ASi. Anak itu menatap Asti seperti minta ikut. Namun Mbak Ning dan Bu Jum maklum. Agak lama tadi Asti di dalam, kurang baik untuk Akbar.
Rombongan yang dipimpin Pak Haji Anwar, akhirnya keluar dari rumah itu. Mereka duduk di bangku yang disediakan di sana. Lek No dan Bulek Ratih bertahan di rumah duka untuk mengantar almarhum Mbah Sanjaya sampai ke pemakamannya nanti.
"'Lek , apa aku pulang duluan saja, ya?" tanya Asti pada Lek No dan istrinya.
"Nggak usah pulang dulu. Bertahan Asti, untuk melihat keluarga kebanggaan Satrio itu. Biar Joko yang sekarang mengantar Akbar pulang dulu. Udara di sini nggak baik buat anakmu itu, nanti tercemar dia!" Ucap Bulek Ratih geram.
Para ibu tetangga di desa Sendang Mulyo malah mengerubuti Akbar. Banyak dari para ibu-ibu itu baru kali itu melihat bayi Asti yang sudah cukup besar, sehat dan berwajah tampan.
" Asti!"
Suara panggilan itu, bukan hanya membuat Asti menoleh. Para Ibu- ibu di samping Asti menengok pun serentak.
Dari pintu rumah Mbah Sanjaya, tampak Bude Widya datang. Di belakangnya ada seorang pria yang berjalan tertatih - tatih dengan kruk di kedua tangannya. Dia diikuti seorang perempuan muda yang sedang hamil besar. Wanita itu mengenakan daster dan memakai kerudung yang asal saja dililitkan ke rambutnya yang panjang sebahu dan berwarna pirang.
" Ayok! Bu Jum dan Mbak Ning. Kita masuk ke dalam mobil!" ajak Bulek Ratih. Dia cepat mengendong Akbar dan berjalan menjauhi rombongan keluarga Satrio itu.
Mata Bu Romlah tertuju pada perut besar wanita muda yang berjalan di samping Satrio. Pria itu tampak lebih kurus dengan rambut yang sedikit gondrong dan berantakan.
" Oh, perempuan itu, istri mudanya Satrio? Oh, pantas kamu diceraikan Asti, pelakor ini bunting duluan! Belum kena karma dia! Menghancurkan rumah tangga orang lain. Lihat saja Asti!"
Ucapan wanita tetangga Bulek Ratih itu memang terkenal tajam dan blak-blakan. Wajah Zahra memucat mendengarnya. Dia juga melihat ada lebih dari sepuluh ibu- ibu yang ada di belakang Asti. Belum tahu saja! tajamnya mulut Ibu- Ibu dari warga desanya. Walaupun dari daerah kampung, namun berita perceraian Asti membuat mereka penasaran. Ternyata Satrio memang berselingkuh!
Asti berdiri tak bergeming. Tanpa menoleh pada wanita yang telah menjadi mantan mertuanya itu, Asti berbalik pergi. Di sana ada Bu Haji Anissa. Wanita bijaksana yang tahu jalan cerita kehidupan Asti dari awal pernikahan sampai masuknya orang ketiga.
" Asti!" Panggil Bude Widya yang cepat berjalan ke arah Asti yang bermaksud menuju mobilnya.
" Ada apa, Bude? Mau memaki- maki Asti lagi? Tolong bawa Satrio dan Zahra masuk ke dalam rumah." Jelas Asti kesal.
"'Mau Satrio dan wanita itu dibantai sama ibu - ibu Sendang Mulyo dan Sendang Ranti? Walaupun mereka tidak setinggi pendidikan Bude Widya. Mereka tetap tahu yang salah tetap salah, yang benar tetap benar. Jangan tutup mata Bude! Semua kesalahan itu ada pada Satrio yang tidak menjaga martabat dan nafsunya!"
__ADS_1