Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 144. Kebesaran Hati


__ADS_3

Mbak Ning yang mendapat kabar kalau kedua orang tua Dania sudah tidak lagi bekerja di sawah Asti.


Ya, iyalah... Daripadanya kita makan hati, orang yang kita selalu tolong dan kita perlakukan dengan baik, malah menusuk dari belakang. Seolah - olah kebaikan kita itu tidak ada artinya lagi bagi mereka.


Joko sedikit puas dengan keputusan ibunya. Seperti biasanya, Lek No akan selalu menyerahkan hal itu kepada istrinya. Sebab mereka banyak memperkerjakan orang- orang yang berkerabat dengan istrinya di sawah dan di rumah ini. Selain itu juga para pekerja di sini sebagian adalah para tetangga mereka di desa ini. Kebanyakan mereka sudah tidak punya lahan sawah sendiri untuk digarap. Entah dijual atau orang tua mereka tak bisa mewariskan lahan sawah itu untuk mereka.


" Kamu, sih. Pak! Ibunya Dania mencak- mencak sama Asti. Didiamkan saja... Nanti , Asti masuk rumah sakit lagi, karena karena ke- pikiran!" Tegur Bu Ratih gemas." Orang kok, dikasih hati malah minta jantung. Dasar Tumirah. Wong gendeng, kowe!"


" Nggak enak, lah. Bu... Tumirah kan itu masih saudaramu!"


" Ya, sudah... Pokoknya, kalau ada dari saudaraku yang bekerja di sini dan bersikap aneh- aneh di belakangku, awas saja!"


Pasangan suami istri yang lain yang hanya tertawa saja akan ancaman Bulek Ratih yang agak konyol. Sebab mereka juga terhubung sebagai kerabat dengan Bulek Ratih. Namun mereka malah merasa nyaman bekerja di keluarga ini. Karena sesungguhnya Pak Sarno dan Istrinya adalah majikan yang terbaik.


Hampir setahun lebih mereka tinggal di rumah sebelah, Juga tidak ada masalah. Mereka Kang Slamet dan Kang Kayat, beserta para istrinya. Bahu membahu bekerja di rumah ini. Hasilnya cukup lumayan... Bisa membantu perekonomian keluarga dan juga membiayai sekolah anak - anak yang terasa mahal saja setiap tahunnya.


Para istri akan membantu Bulek Ratih di dapur dan mengurus kebersihan kedua rumah ini. Mereka juga diberi gaji bulanan yang cukup. Sementara para suami ikut bekerja dengan Lek No ke sawah, mengawasi pekerjaan orang- orang di sawah dan di kebun.


Apabila mereka perlu uang pun, mereka bisa pinjam dari Asti atau Lek No. Sebab Keluarga Lek No dan Asti akan sangat toleran. Karena semua pekerja di sawah dan kebun Asti tidak ada asuransinya. Asal tidak terlalu besar dana pinjaman itu , akan Asti keluarkan dari simpanan uangnya di bank. Tentu dengan cicilan yang tidak memberatkan. Karena Asti bukan rentenir. Semua uang Asti itu merupakan pemasukan dari hasil panen sawah dan kebunnya secara keseluruhan.


" Sudah, nggak usah dipikirin, Yu Tumirah yang agak nyeleneh itu.!" Tegur Mbak Ning.


" Aku nggak habis pikir aja sama sikap ibunya Dania itu. Asti dan Joko nggak mau nolong dia kan ada alasan yang kuat. Bukannya mencari tahu kesalahan anaknya sampai harus menginap di Polsek. Eh, malah Mas Joko dihina oleh Ibunya Dania serendah-rendahnya! Apa dia nggak punya kaca di rumah begitu?"


" Ada Bu Jum! Cuma kacanya sudah buram dan retak! Jadi nggak pantas dipakai!"


Kesal Bu Jum, memukul bahu Mbak Ning. Walau bagaimanapun, dia akan membela Asti dan keluarga ini. Sebab yang salah akan tetap salah, dan yang benar akan tetap benar.


" Dulu saja, Bulek Ratih diketawain Yu Tumirah ketika mau dijodohkan dengan Pak Sarno. Padahal menurut ukuran orang desaku, pesta pernikahan mereka juga sudah mewah. Sampai potong kambing segala... Semua dibiayai oleh Pak Harjo Winangun."


" Meriah banget, Bu Jum?"

__ADS_1


" Hampir semeriah pernikahan Tumirah yang berlangsung setahun kemudian. Padahal dia telah menikahi anak juragan pemilik pabrik kerupuk dari desa Tunjung Sari itu!"


" Yah... memang nasib dan takdir mereka pun juga berbeda. Nggak sampai dua tahun, pabrik itu bangkrut sewaktu dipegang oleh suaminya Tumirah. Tak lama pria itu sakit keras, lalu Yu Tumirah minta cerai. Sedangkan rumah tangga Bulek Ratih dan Lek No sampai sekarang tetap rukun dan baik- baik saja!"


Mbak Ning tersenyum. " Apa karena mereka sangat menyayangi Asti, ya? Karena sejak lahir sudah menjadi anak yatim, Bu Jum?"


" Mungkin! Lagipula Pak Winangun itu sangat kaya. Keluarga mereka nggak pernah hidup susah. Malah sekarang hasil padi dan kebun kelapanya juga memberi mereka uang yang sangat banyak.


" Iya, aku dengar karena di kebun keluarga sana, ada sendang yang sangat dijaga kelestariannya oleh Lek No dan para pekerjanya. Air sendang itu tetap melimpah walaupun di musim kemarau sekali pun. Sekarang air itu digunakan untuk menyirami tanaman kacang tanah di sawah, dengan menggunakan mesin pompa!"


Siang itu Asti pulang dengan banyak membawa kantong kresek belanjaan. Sampai agak kerepotan sepertinya. Padahal ibunya Akbar itu berangkat ke pasar naik motor.


Di rumah, Mbak Ning sudah menyiangi sayuran dan menyiapkan bumbu-bumbu. Tinggal menunggu perintah Asti saja, tak sampai satu jam hidangan makan siang sudah tersaji di meja.


Biasanya Asti akan menelpon Leon dan menanyakan akan pulang makan siang jam berapa. Sebab dia mengusahakan agar sayur yang terhidang masih panas dan baru diangkat dari kompor, supaya sayur itu tetap nikmat di makannya.


Terdengar suara mobil Pak Leon memasuki halaman depan rumah. Tadi Bu Jum membuat tempe goreng tepung. Sayur lodeh lengkap yang baru saja mendidih di atas kompor. Paginya Mbak Ning membuat pepes ayam dengan banyak daun kemangi, juga ada pepes tahu. Sambalnya sambel kecap.


" Walaikum Salam!" Sambut Asti sambil mengendong Akbar.


Pria itu menyambut Akbar dari gendongannya istrinya, setelah Asti mencium tangannya. Asti terpesona oleh dua tamu lainnya yang berdiri di belakang Pak Cakra dan Damar. Di sana berdiri Mbak Almira dan seorang pria yang gagah namun wajahnya sudah agak lebih dewasa.


" Mbak Almira?" seru Asti gembira.


" Iya, Mbak Asti. Saya datang bersama suami saya. Mau kenalan dengan istrinya Pak Leon yang cantik itu!"


Wajah Asti jadi merah karena malu, dipuji didepan para pria tampan dan keren ini . " Mari masuk! Saya terkenalnya karena sudah punya buntut satu ini, mungkin!"


Tawa mereka berderai, karena merasa diterima oleh tuan rumah dengan sepenuh hati. Mereka bercakap-cakap di ruang tamu. Sementara kedua asisten Pak Leon masuk ke ruang tengah untuk beristirahat. Mbak Ning dan Bu Jum sibuk menyiapkan minuman.


" Yang, tadi Almira dan suaminya mampir ke proyek, Ternyata suaminya akan ditugaskan di daerah sini. Jadi mereka berniat membeli salah satu rumah di sana!"

__ADS_1


" Oh, iya. Bagus, Mbak Almira! Kita bisa jadi tetangga, Lho!"


" Sementara nanti, kami tinggal di rumah nenek di ujung desa Sampurno. Sebab rumah di sini baru bisa dihuni tahun depan!"


Mereka segera meminum es teh manis buatan Bu Jum. Sementara Pak Leon dan asisten minum kopi. Akbar nggak mau jauh- jauh duduk di dekat ayah sambungnya itu.


" Ini Mas, Pram! Semua perabot dan segala tatanan di semua rumah ini hasil karya Mbak Almira..." Ujar Asti. Ketika Pria itu menatap seisi rumah Asti dengan pandangan agak teliti.


" Pantas, kok seperti agak begitu familiar, ya?"


" Ini juga sesuai dengan permintaan saya, kok! Yang suka penataan yang sederhana, rapi dan nyaman ditinggali!"


" Iya, Mas. Mbak Asti sudah punya rumah Joglo di desa Sendang Mulyo..Di sana itu sudah dipenuhi dengan berbagai perabotan antik, lho! Hampir semuanya dari jati terbaik. Warisan yang sangat menjunjung tinggi budaya Jawa!" Cerita Mbak Almira.


"Ya, sesekali kita ingin punya rumah seperti ini, nyaman dan bersih! Gampang kan membersihkan, Mbak Asti?" tanya suami wanita itu.


" Iya, gampang... Tuh, ada dua orang wanita lain yang membantunya... Belum lagi dua orang pria di luar sana, jaga rumah dan tukang kebun. Mengurus rumah sebesar ini juga banyak mengeluarkan biaya juga, lho. Mas. Wek!"


Perdebatan mereka membuat Asti tertawa. " Ayo sekalian kita langsung makan siang! Tetapi masakan orang desa, jadi takut nggak sesuai dengan selera Mbak Almira dan suami!" Ucap Asti halus sekaligus mohon maaf takut tidak berkenan.


" Ih, Mbak Asti ini suka merendah, Mas. Masakannya pasti enak! Dulu aja aku selalu disediain makanan dan masakan yang enak- enak. Selama mengatur tata ruang sampai hampir dua minggu lamanya...."


Mereka makan bersama di meja makan, sementara kedua asisten Leon memilih makan bersama Bu Jum di taman samping. Di sana ada meja rendah dengan kursi plastik yang mudah ditumpuk, bila sudah tidak digunakan.


Mbak Almira terkagum- kagum melihat taman cantik itu. Walaupun lebarnya hanya 3 meter saja, akan tetapi luasnya memanjang dari depan pagar rumah sampai belakang rumah. Mungkin panjang taman itu mencapai 15 meter lebih.


Selain ditanami rumput halus yang hijau. Dipojok sana ada kolam ikan kecil dengan air yang terus mengalir dan menimbulkan suara gemericik karena jatuh di bebatuan.


Tanaman hias ditanam sepanjang tembok, ada yang ditanam di tanah, ada yang menggunakan beberapa pot tempel dengan tanaman sirih gading, Wijaya Kusuma mini dan tanaman lainnya membentuk satu kesatuan yang menyejukkan mata untuk melihatnya.


Di bagian belakang rumah, juga ada garden wall ciptaan Pak Rob untuk menutup bangunan tambahan.

__ADS_1


Bangunan semi permanen dengan atap asbes itu sebagian ruangannya untuk istirahat para pekerja warung tenda. Sebagian lagi menjadi gudang dan dapur.


__ADS_2