Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 249. Tinggal Sementara di Rumah Pak Camat.


__ADS_3

" Istirahatlah, Asti!" Pinta Bu Hernani setelah dia menyuruh para ART menyiapkan dua kamar untuk tamunya bermalam di rumahnya ini.


Lek No sudah kembali ke penginapan diantar oleh seorang petugas keamanan di rumah pak camat itu dengan motornya.


Rumah Pak Prayoga yang sebenarnya ada di Kota Madiun. Sekarang rumah pribadi itu ditempati oleh saudara istrinya untuk sementara. Di rumah inilah dulu Pak Camat tinggal bersama orang tua dan adik -adiknya.. Tak Jauh dari sana, di desa sebelah ada sebuah pabrik besar. Pabrik itu dulu dimiliki oleh ayahnya dan orang tua Pak Sampurno. Berkat pabrik pengolahan makanan itulah, kedua keluarga mereka hidup terjamin dengan ekonomi yang sangat mapan.


Anak- anak dari keturunan kedua Winangun itu mendapatkan pendidikan yang sangat layak. Seperti Pak Prayoga dan Pak Sampurno yang menyelesaikan pendidikannya sampai lulus menjadi sarjana, dan menjadi ASN. Karier mereka juga terus meningkat. Pak Prayoga diangkat menjadi camat di wilayah ini. Sedangkan Pak Sampurno bekerja di kantor pemerintah daerah, dengan jabatan yang cukup mentereng sebagai Kepala bagian di kantor tersebut.


Qani akhirnya mau juga tidur bersama Bu Jum. Sebab di kamar sebelah itu tidak terlalu dingin seperti kamar yang ada di penginapan. Juga tidak menggunakan AC.


Ternyata selama ini, diam-diam Pak Prayoga membantu usaha Leon dalam urusan pembelian lahan itu lewat tangan Pak Sampurno. Sebab lahan itu kurang produktif dan tidak bisa ditanami palawija atau tanaman komersial lainnya. Sehingga dibiarkan menjadi padang ilalang dan semak belukar.


Jadi sudah lama dibiarkan terbengkalai oleh beberapa pemiliknya. Apalagi wilayah itu juga letaknya sangat jauh dari irigasi atau pengairan. Kecuali para petani di desa itu merelakan sebagian tanahnya diambil pemerintah untuk pembuatan saluran irigasi tersebut. Tetapi rencana itu sudah ditolak beberapa tokoh masyarakat itu bertahun-tahun yang lalu.


Asti sudah mulai tidur lebih tenang. Leon tahu, sisi hati Istrinya itu berharap dapat melihat keadaan ibunya, jikalau masih hidup sampai saat ini. Mungkin dari cerita kedua saudara ibunya Asti itu, dapat diungkapkan segala kebenaran yang terjadi di tanah Kalimantan itu.


Pagi harinya, Asti masih kurang sehat. Leon agak ragu - ragu meninggalkan istrinya sendirian di rumah ini. Apalagi mereka datang ke rumah ini sebagai tamu. Tetapi mau minta tolong Bu Jum pun, agak kasihan. Sebab wanita itu juga harus mengurus Qani. Sampai Leon meminta bantuan kepada Bu Ratih untuk datang ke rumah ini untuk menjaga Asti.


Urusan pembayaran lahan di kantor kelurahan hari ini tampak lebih tertib, dibandingkan hari kemarin. Masyarakat tidak lagi pergi ke kantor itu dengan membawa anggota keluarganya secara berbondong-bondong. Rupanya mereka masih takut pihak dikelabui, karena pengalaman buruk yang pernah dialami. Sekarang semuanya berjalan sangat transparan, juga mendapat jaminan keamanan sepenuhnya dari para petugas yang bersiaga penuh di gedung kelurahan itu.


Justru yang paling banyak mendapatkan ganti rugi dari pembebasan lahan itu adalah yang para pemilik tanah yang berasal dari luar desa Sumber Sari. Mereka rata-rata memiliki luas tanah sampai ribuan meter. Sebab membeli tanah atau lahan itu dapat dijadikan sebagai simpanan atau investasi. Dengan asumsi harga tanah semakin lama akan semakin mahal.

__ADS_1


Sedangkan beberapa warga yang dibeli tanahnya oleh pihak Abadi Murti, nantinya akan digunakan sebagai jalan keluar masuk khusus untuk kendaraan proyek. Agar tidak menganggu jalan desa yang sudah ada. Sekaligus menjadi jalan tersendiri untuk menuju ke perumahan itu kalau tempat itu sudah dibangun dan menjadi kompleks perumahan bertaraf menengah.


" Pak Leon tadi jalan kaki ke kantor ini?" tanya seorang petugas keamanan yang menyambut kedatangan Pak Leon di halaman depan kelurahan. Sebab Joko, Pak Cakra dan Topan sudah berada di tempat tugasnya masing-masing di dalam gedung kantor kelurahan itu. Leo menunggu sampai Bu Ratih yang datang diantar Pak Sugeng lebih dulu ke rumah pak Camat untuk menjaga Asti.


" Iya, Pak!" Jawab Leon lugas.


" Benarkah istri Pak Leon, ternyata berkerabat dekat dengan Pak Camat Prayoga?"


" Dapat berita dari mana ini? Awas kalau berita hoaks!" Ledek pria itu.


Pria yang merupakan anggota polisi di Polsek setempat itu tersenyum sedikit. " Ada cerita dari Mas Jayeng tadi malam...Dia masih keponakan Ibu saya!"


" O, supirnya pak camat itu , ya?" tanya Leon.


Leon hanya tersenyum saja.Dia segera masuk ke bagian ruangan, tempat pembayaran tanah akan segera dibuka untuk hari kedua.


" Nak Leon, Ninuk mau membawa Akbar jalan-jalan ke waduk, boleh?" tanya Bu Ratih ketika mereka bertemu di ruang tamu rumahnya Pak Prayoga tadi


" Boleh, Bu! Minta tolong Pak Sarno menjaga Akbar dengan ketat, ya! Anak itu banyak mau tahu, jadi nggak bisa diam agak lama!"


" Iya, Nak. Mereka semua akan menjaga Akbar. Ninuk berharap Mbak Asti juga cepat sehat seperti sediakala!" ujar Bulek Ratih.

__ADS_1


Leon juga sudah menawarkan hal itu kepada Bu Jum. Tetapi wanita itu lebih suka berada di rumah ini saja sambil momong Qani. Apalagi nanti mereka bisa mampir ke kantor kelurahan. Ibu Hernani yang akan mengantar mereka, sekalian Asti diperiksa di puskesmas setempat.


Di ruang tengah Qani sudah duduk di strollernya. Beberapa waktu yang lalu, Akbar sudah menelpon ibunya, meminta Izin pergi dan mendoakan ibunya cepat sembuh.


Tanpa terasa air mata Asti menetes pedih. Dia tau mau anak-anaknya mengalami nasib seperti dirinya, kehilangan kasih sayang orang tua, sejak kecil. Bukan hal mudah bagi Asti menjalani semuanya itu. Memang ada Mbah Kakung, Bude Ayu, Keluarga Lek No dan anak - anak mereka yang selalu menyayanginya dan memberikan dukungan. Tetap saja, Asti kehilangan rasa dilindungi seorang ibu. Dibelai rambutnya ketika sedih karena banyak orang di luar sana, selalu mengejek nasih buruk kehidupannya, sebagai anak yang terlahir sebatang kara.


Akbar saja agak sedih tadi ketika berbicara di telepon tadi. Padahal dia sudah banyak memberi janji pada anaknya itu dalam acara liburan mereka ini. Tetapi antara keinginan dalam hati, terkadang tidak sejalan dengan pemikiran kita, saat menelaah semua kejadian buruk yang terus menghampiri dirinya . Dia mencoba berpikir lebih logis, dengan berita kedua saudara ibunya itu, malah tidak dibarengi dengan kekuatan fisiknya. Sehingga kembali dia terpuruk.


Tiba -tiba Asti mengingat sesuatu. Tentang seseorang yang dulu selalu menguntitnya saat dia bepergian dengan mobil Honda Jazz merahnya itu. Seorang pria yang menggunakan pakaian serba hitam, dari motor besar berwarna hitam. Jaket kulit hitam juga helm berwarna hitam. Apakah pria misterius itu Om- nya? Adik ibunya kah itu yang mau mencari tahu tentang kehidupannya ini!


Sangat jarang orang- orang di desa sekitaran mereka, bepergian naik motor menggunakan helm. Kecuali bepergian sampai ke luar kota atau ke kota sebelah. Sebab di beberapa kota kecil di wilayah itu adanya peraturan lalu lintas untuk wajib memakai helm, bagi pengemudi kendaraan roda dua. Juga banyak polisi yang berjaga dan bertugas di perbatasan antara kota di sana. Sebab beberapa simpangan kota-kota itu yang cukup ramai dengan banyaknya kendaraan yang lalu lalang di sana.


" Jangan sering melamun, Nduk!" tegur Mbok Las.


Wanita paruh baya yang biasanya menggurus Eyang Astuti saat beliau sakit, sampai sembuh. Hanya kakinya Ibunda Pak Prayoga itu mengalami kelumpuhan yang agak parah, setelah terkena serangan stroke dua tahun yang lalu. Eyang Astuti itu sedang berjemur sinar matahari pagi di halaman belakang.


Mereka menyambut dengan senang hati kehadiran Asti di rumah ini, sebagai kerabat dari Pak Prayoga. Bertahun-tahun keluarga ini mengalami pasang- surutnya ekonomi dan kehidupan. Ketika ayah Pak Prayoga berhasil memiliki beberapa pabrik besar di daerah Kabupaten Madiun. Berbondong -bondong orang datang yang mengaku saudara dan keluarga dari pihak ayah dan ibunya. Bahkan ada salah satu saudaranya itu yang dipercaya memegang jabatan tinggi di beberapa pabrik lain. Mereka ini juga yang mengkorupsi hasil pendapatan pabrik. Sampai pabrik itu harus dijual ke orang lain, karena bangkrut.


Sejak itulah jarang saudara yang datang ke rumah ini, atau mengakui hubungan kekerabatan yang ada di antara mereka. Setelah ekonomi keluarga mereka jatuh. Mereka hidup seadanya di desa ini, supaya lebih tenang. Beberapa anaknya mulai beranjak besar dan sudah bekerja.


Oleh karena itu, dia dan saudara-saudaranya lebih memilih berkarier di bidang politik atau pemerintahan. Karena merasakan sulitnya menggurus pabrik, dan pusing memutar modal agar usaha yang mereka miliki dapat terus berjalan. Apalagi pabrik itu menjadi tumpuan hidup bagi ribuan para pekerja atau karyawannya.

__ADS_1


Untunglah ayahnya mau bangkit lagi setelah dibantu oleh Harjo Winangun, untuk kembali membangkitkan lagi pabrik pengolahan makanan, yang lama tidak beroperasi karena kekurangan modal. Usaha itu sekarang dikelola oleh oleh pamannya. Sampai semakin besar dan berhasil mendirikan pabrik - pabrik lainnya di Sidoarjo dan Gresik.


__ADS_2