
Waktu terus berlalu, suara petasan dan orang - orang yang yang berkumpul menarik perhatian para tetangga. Terutama para bapak - bapak yang juga berniat mengisi malam panjang ini dengan ngobrol dan berkumpul bersama.
Segera saja, Bulek Ratih mengeluarkan berbagai makanan yang masih banyak tersedia di meja makan.
" Terima kasih, Bu!" ucap bapak- bapak itu sambil mengambil kue- kue . Sampai Bu Jum membawa baki berisi satu teko kopi panas dan beberapa cangkir.
Lek No yang sudah sangat mengenal Pak Sambodo, tetangga di depan rumah Asti yang menjadi ketua RT ikut bergabung bersama mereka.
Para bapak yang lain sampai tak mampu menolak ketika dibawakan Mbak Ning makanan berat. Wanita itu membawa wadah nasi dan dua mangkok beling berisi Tengkleng dan Tongseng. Ninuk meletakkan piring dan sendok.
Pak Roh mendapat dua kayu besar yang lain dan ditambahkan ke perapian bekas bakaran sate. Sehingga api dari kayu itu menyala terang.
Pegawai warung tenda dan dua asisten Pak Leon yang sudah kenyang, ikut mengobrol sambil merokok di bangku panjang. Sementara Pak RT dan tetangga yang lain menikmati hidangan yang cukup kena di lidah mereka, masakan Bu Ratih yang cukup terkenal itu.
Dari dalam kamar, Asti keluar membawa popok bekas pakai Akbar dan satu botol susu yang kosong. Perempuan muda itu tak menyadari kalau di sudut ruangan ada Pak Leon yang masih asyik berkutat dengan hape ditemani Joko.
Pria itu melihat Asti bersibuk diri membuang berbagai sisa makanan dan sampah dari bak pencuci piring. Dia merapikan meja dapur dan meja makan.
Sampai Asti terkejut melihat sosok Joko dan Pak Leon di sana. " Belum tidur, Asti? Apa Akbar rewel?"
Teguran dari Joko menyadarkannya. " Sebentar lagi. Bulek Ratih di mana?"
" Tetangga malah pada datang setelah tahu Pak Cakra dan Dimas menyalakan petasan. Jadi ibu menyiapkan makanan di taman samping."
Mau tak mau, Asti jadi keluar untuk melihat keadaan. Benar saja , di sana ada lebih dari sepuluh pria yang duduk berkeliling di dekat perapian dadakan itu. Para tetangga sedang makan dilayani oleh Bu Jum dan Mbak Ning.
" Mari Mbak Asti!" tegur Pak Sembodo, ketika melihat Asti menghampiri tetangganya.
" Monggo, Pak. Maaf makanan hanya seadanya. Maklum bukan acara yang direncanakan.. "
" Ya, lumayan rame Mbak. Di sini! Biasanya juga sepi. Ramainya kalau ada truk dan kontainer lewat." Jawab Pak Rudi, yang juga mengenal Asti. Lelaki itu menggotong piringnya yang sudah dipenuhi nasi dan tongseng panas.
Asti melihat Bu Jum, melayani para bapak-bapak itu makan. Suasana halaman samping semakin ramai. Beginilah cara orang kampung merayakan malam pergantian tahun.
" Mari, Pak Leon, Joko. Aku istirahat lebih dulu!"
" Silakan!" Jawab Pak Leon. Joko sedang memeriksa telepon dari seorang teman. Mereka akhirnya bergabung ke halaman samping walaupun udara malam semakin dingin.
Asti tertidur sebentar. Dia tadi sempat bertatapan dengan Pak Leon. Mengapa lelaki itu tidak kembali ke Semarang? Bukankah keluarganya sebagian besar berada di kota itu. Akbar tadi terbangun sebentar. Asti mengusap kepala anaknya. Dia sudah mulai tenang dan jarang menangis sekarang. Setelah terbangun menjelang dini hari, Asti melakukan beberapa rakaat sholat Sunnah.
__ADS_1
Hapenya mulai melantunkan azan subuh. Asti bangun, mandi dan melaksanakan sholat fardhu yang dua rakaat itu. Saat dia keluar kamar, pemandangan di ruang tengah agak membuatnya kaget. Di sana ada Lek No dan Joko yang tidur di lantai dengan kasur lipat cadangan. Mungkin mereka tidur lebih larut lagi sehingga tidak mendengar azan Subuh yang berkumandang hampir 10 menit yang lalu.
" Lek No! Joko! Bangun, sudah Subuh!"
Suara Asti membangunkan mereka. Tak lama Bu Jum dan Mbak Ning juga terbangun dari kamar sebelah.
" Lek, kok. Pada tidur di sini?"
Joko menatap Asti dengan wajah yang sangat mengantuk. " Kami ngobrol sampe dini hari. Pak Leon dan asisten tidur di kamar atas. Mas Danu dan beberapa pegawai di ruang tv. Kamu di sini. Lebih hangat!"
Sampai Asti menyadari suara hujan deras saat membuka pintu rumah di samping kanan. Mungkin karena hujan itulah akhirnya, para bapak - bapak itu membubarkan diri dan kembali ke rumah masing - masing.
" Asti aku boleh tidur di kamarmu sama Akbar? Bapak kalau kecapean tidurnya nggak bisa diam. Mana ngorok lagi! " Omel Joko berkepanjangan.
" Hey, cepat sana. Sholat subuh dulu. keburu Siang!" Tegur Asti.
" Iya, Asti cerewet!"
" Dih, diberi tahu baik- baik. Ngomel. Kurang bakaran menyan tadi malam ya?"
Ledekan Asti tidak didengar Joko yang segera ke kamar mandi untuk berwudhu. Sekarang dia harus membangunkan Lek No. Namun dia melihat Ninuk juga sudah turun dari lantai dua.
Waduh, cara Ninuk membangunkan Lek No malah berteriak - teriak keras. Asti menggelengkan kepalanya. Bukannya dulu Ninuk sangat manja dan suka cari perhatian dengan bapaknya ini! Jadi, dia menuju dapur dan menyiapkan sarapan dari nasi yang masih tersisa banyak tadi malam.
" Masak apa, Mbak?"
Suara berat Pak Leon mengejutkan Asti. Hampir 30 menit dia mengolah berbagai makanan yang masih berlebih tadi malam di kulkas. Ada sate ayam, ikan bakar. Jadi dia hanya masak nasi goreng, dan mengolah lauk-pauk itu dengan bumbu yang lebih sederhana seperti gurame saos asam manis, juga oseng daging .
" Nasi goreng, Pak. Nanti kita makan sama - sama untuk sarapan."
Bu Jum dan Mbak Ning juga sudah terbangun. Mereka mencuci piring, dan menata meja makan. Nasi goreng ditempatkan di mangkok beling besar. Lauk- pauk semalam sudah menjadi masakan baru yang berbeda. Piring ditumpuk meninggi, gelas di susun pada baki plastik. Sempat juga Mbak Ning menghitung ada 14 orang dewasa di rumah ini dengan satu bayi.
Selesai menyiapkan sarapan. Asti mengolah makanan untuk Akbar, dari bubur nasi yang dicampur sayuran, susu formulanya sudah siap di botolnya sampai jus buah dalam botol lain yang disimpan di kulkas.
"' Ayok, Pak silakan sarapan duluan. Meja terbatas kalau kita makan bareng - bareng, di sana!" Tawar Asti sopan.
Lek No sudah pindah ke kamar Ninuk di atas. Dia masih sangat mengantuk karena tidur baru pukul 03.00 pagi lebih. Karena keasyikan ngobrol dengan Pak RT.
Pak Leon makan berbarengan dengan Bulek Ratih, Ninuk dan Asti. Mbak Ning masih sibuk membuat teh manis hangat pada teko besar yang lain.
__ADS_1
" Enak nasi gorengnya, Pak Leon. Mbak Asti yang masak! Tambah saja Pak, jangan malu- malu!" Ucap Ninuk seperti mempromosikan sebuah iklan.
Pak Leon tersenyum. Dia memang menikmati rasa nasi goreng yang berbeda dengan yang biasa dia makan di Warung Tenda. Rasa nasi goreng ini lebih ringan namun nikmat. Apalagi ditambah dengan acar timun dan potongan daging ayam oseng.
Tak lama Joko keluar sambil mengendong Akbar yang baru saja bangun. Dia tidak menangis. Tetapi tidak mau turun dari pangkuan Joko.
" Mandi sama ibu, Dek?"
"Ndak!" tolak Akbar. " Ama Om!"
Ninuk tertawa geli. Biar kakaknya repot mengurus Akbar pagi ini.
" Mas sekalian mandi juga! Bau tauk!"
Joko mendengus kesal. " Kenapa sih, perempuan muda di rumah ini jadi pada cerewet. Nggak kamu, ya Asti! Parah!"
Ninuk melotot kesal. " Mungkin lain dengan omelan Mbak Almira. Wus, nyaris tak terdengar..."
" Apa kamu bilang?" tanya Joko keras.
" Hey, ada apa ini? Joko kamu dari kemarin sudah aneh! Apa kami ini mengganggumu?" Kata Asti meredakan adu mulut di antara mereka.
Joko tersadar. Apalagi dia juga melihat tatapan mata dari bapak dan ibunya yang tidak suka dengan ulah yang dia buat di pagi pertama dalam tahun baru ini .
" Mas, saya sudah dari dua hari yang lalu ke Yogyakarta sama Dimas. Sebab bertemu teman bisnis. Sekalian beli petasan dan kembang api di kota itu ." Ujar Pak Leon kalem.
" Kemarin pagi, Mas Joko melihat Mbak Almira dibonceng cowok dekat Pasar Rambe. Yah, begitulah..." Kata Mas Danu menahan rasa geli. " Orangnya ada di dekatnya, nggak mau terus terang kalau dia suka. Saat dibonceng cowok lain, jadi cemburu. adik dan Mbak Asti jadi kena marah, deh!"
Asti terkejut dengan keterangan yang disampaikan oleh Mas Danu. Tentu dia percaya dengan chef warung tenda itu, sebab Joko sangat akrab dengan temannya yang satu ini.
" Sudah Bulek, cepat lamar Mbak Almira, nanti kalau dinikahin lelaki lain, Joko patah hati.." Bisik Asti. Walaupun orang-orang juga mendengar ucapan Asti itu.
Segera dia mengendong Akbar ke luar rumah. Sebab Bu Jum sudah mempersiapkan makan untuk anaknya itu di mangkok kecil dengan gelas plastik yang berisi air minum.
" Pantas, Mas Joko marah-marah terus dari kemarin. Ha, ha!" ucap Bu Jum pelan." Cinta yang terabaikan!"
" Susah, Mbok. Joko itu orangnya agak minder. Apalagi bila suka dengan seorang gadis, nggak berani mengungkapkan perasaannya. Sampai Pak Leon nggak enak sendiri, jadi ngomong begitu...."
" Iya, biar Mbak Asti . Saya jadi yakin, kalau Pak Leon ada niat serius sama, Mbak. Dibela-belain tetap di kampung sepi ini, padahal dia bisa aja tahun baruan dengan orang tua dan keluarganya di Semarang."
__ADS_1