Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 115. Persiapan Lamaran


__ADS_3

Sejak kedatangan Pak Leon tadi malam, Bulek Ratih merasa kehidupannya sekarang seperti dihujani dengan segala kebaikan dan keberkahan dari Allah SWT. Sampai - sampai wanita itu tidak tak sabar untuk datang ke rumah Asti dengan segera. Walaupun dia tahu, Asti masih berada di tokonya di pagi hari ini untuk berjualan.


" Kok, ibu yang nervous dan nggak sabaran, ya? " Ledek Lek No. Melihat istrinya kurang fokus dengan urusan makanan dan dapur. Padahal hari itu, mobil Pak Mun sedang beroperasi untuk menggiling gabah dari hasil panen terakhir di sawah mereka.


"Ibu mau nemuin Asti di pasar saja, ya. Pak!"


Lek No bingung. " Acara lamaran itu masih Minggu depan, Bu! Sabar...


Di toko bukan hal yang baik untuk membicarakan hal yang sangat penting seperti itu. Nanti dengar lagi omongan tetangga yang nggak baik lagi. Kalau keluarga kita suka pamer!"


Wajah Bulek Ratih jadi murung. Dia tahu, Asti tak suka terburu-buru dalam menangani berbagai hal . Apalagi ini soal lamaran Pak Leon. Padahal dia sudah dengar dari Ninuk, kalau Pak Leon sudah melamar sehari sebelum keberangkatan mereka pergi umroh. Bahkan selama ini Asti adem- ayem saja, karena tidak melihat keberadaan Pak Leon di proyeknya itu.


"Ya, Pak! Nanti sore kita jadi kan kita ke rumah Asti?"


" Jadi, Bu! Lihat Pak Min dan anak buahnya belum diberi minuman dan camilan. Ibu nggak lupa kan?"


" Ya, sudah! Ibu balik ke dapur dulu."


Suara ribut mesin penggiling padi itu membuat rumah besar inipun jadi hiruk pikuk. Di dapur ada Slamet dan Kayat yang sedang menyeduh kopi. Mbak Mar sedang menggoreng bakwan. Sedangkan Mbak Asni masih merapikan rumah belakang.


" Yuk, ini kopi untuk Pak Min?" tanya Mar.


" Iya, Mar. Nggak usah disuruh. Kalau ada tamu buatkan kopi. Kalau Ndak mau, tuh ada air putih. Memang ada apa?"


" Apa rencana pernikahan Asti itu akan besar-besaran lagi, Lek?" tanya Kang Kayat. " Kan calon suami Mbak Asti seorang yang cukup mapan."


" Kamu kayak nggak kenal Asti, saja!Mana mau dia membuang uang secara percuma. Paling kita siapkan acara makan-makan secara prasmanan saja. Yang penting pernikahan itu nanti langgeng."

__ADS_1


" Benar, Lek ! Kemarin itu Bude Ayu sampai menghabiskan biaya puluhan juta, malah dapat menantu semprul seperti Satrio itu!"


" Kok, kamu tahu?"


"Lek No yang cerita, kalau pernikahan itu sampai menghabiskan dua kali hasil panen kelapa di kebun ini !"


" Yah, kita cukup belajar dari pengalaman itu saja. Perjodohan itu ada yang baik dan ada yang kurang baik. Baiknya, keluarga Pak Cahyadi dan Ibu Widya berasal dari keluarga yang cukup terhormat. Sayangnya, mereka mempunyai anak Satrio yang kurang mengenal ajaran akhlak dan adab orang berumah tangga.."


Penjelasan panjang lebar dari Bulek Ratih membuat kedua pasangan suami istri itu terdiam. Apalagi Mar dan Slamet yang mempunyai anak perempuan yang ditinggal di desanya. Anak itu diurus oleh ibu dari Mbak Mar. Mereka setiap minggu akan menengoknya juga memberi uang jajan untuk anak itu ke sekolah.


" Kok, pada diam? Jaga pernikahan kalian. Karena semua itu nggak gampang. Berumah tangga itu bukan untuk kesenangan sesaat saja. Ada tanggung jawab suami dan istri untuk membesarkan anak-anak, memberikan mereka pendidikan. Sebab tanggung jawab orang tua terhadap anaknya , itu adalah dunia dan akhirat ...."


" Iya, Lek! Bu Jum juga sudah cerita. Bagaimana dulu Tumirah selalu menghina pilihan Lek Ratih untuk menikah dengan Lek No. Justru sekarang pasangan suami istri malah kerja sama orang dihinanya habis - habisan. Kalau nggak kerja di sini bisa mati kelaparan keluarganya? Mereka juga sudah nggak punya apa-apa lagi, sekarang!" Jawab Kang Kayat geram.


Itulah filsafat hidup ' Kehidupan manusia itu seperti roda pedati yang sedang berputar, kadang di atas ketika hidup kita berkecukupan, makmur dan dihormati banyak orang. Kadang kita dibawah, sudah miskin, orang lain pun tidak peduli. Apalagi mau menolong!


Mereka bekerja di dapur sambil ngobrol sehari - hari. Nanti Kang Kayat akan membeli pupuk di toko pertanian di dekat pasar. Kemarin Lek No sudah memesan bibit unggul untuk kacang tanah dan kedelai di Toko Koperasi " Sumber Makmur" yang berada di dekat kelurahan. Siang ini, bibit akan diantar oleh salah pekerja di koperasi itu di sana.


Begitulah kehidupan petani sekarang, harus berinovasi agar ada perkembangan yang bermanfaat. Kang Kayat yang pernah sekolah SMK bagian teknik informatika sangat suka tayangan teknologi sederhana yang dapat diterapkan di kehidupan desa sehari-hari.


Sore harinya, Lek No dan Bulek Ratih berangkat ke rumah Asti. Mereka membawa sekarung beras terbaik dari hasil penggilingan padi siang tadi. Menurut ajaran nenek moyang, jangan sampai tempat atau wadah beras di rumah kita kosong kalau nggak mau rezeki kita akan selalu berkurang. Jadi Asti tak bisa menolak setiap Lek No membawakannya sekarung beras hampir tiap sebulan sekali.


Kedatangan Bulek Ratih sudah disambut teriakan Akbar yang nyaring dan gembira. Bulek Ratih cukup berkeringat juga mengendong Akbar yang bobotnya semakin bertambah. Wanita mengendong Akbar sejak turun dari mobil di halaman parkir sampai masuk ke dalam rumah. Dengan penuh kasih sayang dipeluknya anak laki- laki yang telah berusia 16 bulan.


Pembicaraan Asti, Lek No dan Bulek Ratih menjadi lebih pribadi. Sebab Mbak Ning dan Bu Jum segera menyingkir ke lantai atas untuk nonton televisi.


Mereka sekarang duduk di ruang tengah sambil menikmati segelas kopi dan stoples rengginang dan bakwan udang.

__ADS_1


" Kok, kamu nggak ngomong kalau Pak Leon sudah melamar, Asti?" tanya Lek No.


" Bulek sama Ninuk sudah tahu, Lek ! Asti tinggal nunggu inisiatif dari Pak Leon saja..."


" Kemarin Pak Leon sudah datang ke rumah. Orang tuanya tidak bisa ke sini, karena ayahnya masih dalam perawatan dokter. Kita tunggu Pak Leon melamar mu secara resmi saja. Baru kita bicarakan soal tanggal pernikahan itu ."


" Apa itu tidak terlalu cepat, Lek? Asti belum terlalu mengenal karakter Pak Leon sebenarnya ... Walaupun secara umum dia lelaki baik dan tulus."


" Masa kamu mau berlama-lama model pacaran kayak anak remaja. Lebih baik segera menikah. Kan lebih nyaman berpacaran kalau sudah terdaftar resmi di KUA ." Ledek Lek No lagi.


Wajah Asti masih kurang cerah. Mau bagaimana mana lagi? Kehadiran masa mudanya juga menghadirkan banyak masalah dengan kutukan dan hasutan keluarga istri- istri pak Kades tetangga sebelah. Mereka menganggap kehadiran Bude Ayu sebagai duri yang telah menghancurkan kekayaan keluarga mereka.


Belum lagi pernikahan dengan Satrio yang bisa disebut seumur jagung. Perceraian mereka pun penuh intrik, tipu daya dan tuduhan keji. Satrio tidak mengakui Akbar sebagai anaknya karena pengaruh Zahra. Semua kehidupannya mirip cerita sinetron Indonesia, tetapi ini nyata.


Mungkin kalau ajaran agama yang diperoleh Asti sejak kecil dari Mbah Harjo Winangun, tidak berakar kuat di dalam dirinya. Saat ini Asti sudah stres, gila atau juga bunuh diri!


Kini ada Pak Leon, dengan mantan istri cantiknya yang sangat bar-bar dan menyerang setiap wanita yang dekat dengan mantan suaminya tanpa pandang bulu. Dia sangat takut, dengan sisi lain dari pribadi Pak Leon yang selama ini telah ditampilkannya.


" Kamu wanita yang berpendirian kuat, mungkin Leon itulah jawaban dari segala doamu itu ..." Bisik Bulek Ratih.


Tak lama wajah Asti tengadah." Asti sudah pasrah. Juga sudah sholat istikharah. Yang penting Pak Leon pria yang bertanggung jawab dan mau menjaga komitmen pernikahannya nanti."


" Jangan lama-lama juga, setelah lamaran biar kita bantu urus untuk persiapan pernikahan. Cukupkan waktu sebulan itu?"


" Asti mau yang biasa saja, Lek! Nggak usah pakai pesta segala. Malu. Yang menikah juga sudah jadi janda dan duda. Cukup sah di KUA saja..."


" Nggak bisa, Asti! Kita tinggal di kampung. Setidaknya kita undang para tetangga di sini, untuk sekedar memberi tahu kalau kalian telah menikah secara resmi sehingga tidak menimbulkan gosip atau fitnah yang lainnya!"

__ADS_1


" Yah, sudah... Tolong atur saja, Bulek Ratih. Kalau hanya mengundang orang-orang untuk makan dan memberikan doa mereka Asti terima. Pokoknya sederhana saja. Nggak usah berlebihan.Ya?"


" Mengapa harus malu? Kalau calon suamimu yang ini lebih segalanya daripada Satrio! Pokoknya nanti kita atur, ya. Bu! Bukan acara yang mewah, tetapi cukup pantas. Sehingga tamu yang datang pun cukup menghargai kita, karena dijamu dengan baik..."


__ADS_2