Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 209. Sikap Orang Rumah di Keluarga Murti


__ADS_3

Sebenarnya Leon tidak terlalu memperhatikan permasalahan itu. Namun melihat istrinya harus bersimbah keringat untuk mencuci pakaian dengan tangan di bak besar bersama Bu Jum agak membuatnya gusar.


Orang tuanya masih mendapatkan tunjangan pensiun dari kantor sang Papa. Malah mereka masih mempunyai sebagian saham di perusahaan Abadi Murti yang uangnya dikirim tiap bulan ke rekening si Ibu. Jumlahnya sangat cukup untuk mereka berdua hidup layak dan mapan untuk saat ini.


"Mbak Siti, siapa Tia itu ?"


"Orang yang dikirim agen penyalur ART dan Baby sister dari kota Semarang, Den... Jadi setelah ada Tia, ART lain malah pada minta berhenti!"


" Mbok Kar, juga?"


Wanita itu mengangguk lemah.. " Tia ini pintar cari muka, Den! Ngakunya sudah lama kerja di Singapura. Majikannya bule... Jadi dia dipercaya Ibu memegang semua pembelian barang-barang kebutuhan rumah tangga. Sebab dia juga bisa bawa motor ke mana- mana !"


" Dia tidak menghormati istri saya dan pengasuh anak saya!"


" Maaf, Den Leon! Mbak Siti juga sudah nggak betah diatur-atur oleh Mbak Tia ... Tetapi kasihan Ibu Anggun kurang cocok dengan masakan Mbak Tia."


Leon menatap nanar dengan bangunan rumah besar ini. Rumah berhalaman luas yang sengaja di bangun ayahnya, dengan pemikiran dia akan menghabiskan hari tuanya di sini. Berisitirahat di rumah yang cukup besar dan nyaman, dia akan akan selalu dikelilingi oleh cucu-cucunya.


Hati Leon miris, justru di rumah orang tuanya ini keberadaan istrinya tidak dihormati oleh seorang pembantu rumah tangga wanita yang masih baru dan sangat arogan. Karena dia diberi kekuasaan yang sangat besar dari Mamanya.


Dimas agak bingung juga ketika Mbak Asti memintanya berhenti di depan sebuah mini market. Padahal niat mereka semula mau menjenguk Pak Murti di rumah sakit. Dari dalam mini market itu, Bu Jum membawa satu kresek belanjaan. Berisi berbagai jenis mie instan dan pop mie, selain itu ada satu renceng deterjen pencuci pakaian dan pelembut pakaian. Hasil belanjaan mereka tadi.


Padahal barang- barang seperti itu, yang Dimas tahu, Ibu Anggun selalu menyediakan cukup stoknya di rumah besar keluarga Besar Basuki Murti. Setiap berbelanja bulanan, Ibu Anggun akan memilih berbelanja di supermarket besar di pusat kota Semarang. Mereka tidak cukup berbelanja dengan mendorong satu troli saja, bahkan bisa dua atau tiga troli belanjaan. Bukan bukan hanya pak supir yang mengantar Ibunya Pak Leon berbelanja. Juga ada satu ART laki-laki yang masih muda ikut juga dilibatkan!


Bu Jum sedang mengajak Qani duduk di belakang taman. Sebentar lagi dia akan mengangkat cucian yang sudah kering itu. Terlihat juga Mbak Asti sudah tidak betah tinggal di sini... Walaupun begitu wanita itu tetap diam dan tidak melaporkan semua tindakan Tia itu kepada suami atau ibu mertuanya.


Kedatangan Pak Basuki itulah yang paling utama buat keluarga saat ini. Beliau diantar menggunakan ambulans dari rumah sakit... Beberapa kerabat segera berdatangan bersamaan dengan dibawanya Pak Murti masuk ke dalam kamar tidur khusus untuknya di lantai satu.


Seorang tenaga perawat sudah ditugaskan untuk mengurus beliau, atas permintaan Mbak Mesya. Wajah Ibu Anggun sudah teramat lega, karena kesehatan suaminya cukup stabil selama dalam perjalanan dari rumah sakit sampai masuk ke dalam rumah.


Asti juga mendapat telepon kalau Lek No akan segera ke Semarang siang ini bersama Joko, Bulek Ratih dan Akbar.

__ADS_1


Sengaja Asti meminta kepada Ibu Anggun, agar mereka dapat ditempatkan di paviliun samping rumah saja. Dia akan tidur bersama Bu Jum dan Qani. Sedangkan dua kamar lain sudah dirapihkan dibantu Muji, ART laki-laki yang bertugas bersih-bersih.


" Terimakasih Muji!" ucap Asti setelah kedua kamar disapu dan dipel oleh pemuda yang bekerja di rumah ini, karena sudah putus sekolah sejak di kelas 10.


" Sama-sama, Mbak ! Kalau ada apa-apa, panggil kami di kamar yang ada di atas garasi. Di sana juga ada Mas Dimas!"


" Gampang itu! " ujar Asti cepat.


Dia dan Bu Jum lebih nyaman di sini... Daripada melihat muka Tia yang bersungut-sungut. Sebab beberapa kali Ibu Anggun menyuruh perempuan muda itu untuk melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan anak Asti, cucunya. Dari minta diambilkan satu muk air panas, selimut di ruang penyimpanan , sampai menyiapkan piring , gelas dan sendok saat Asti membeli makanan yang disukai di pinggir jalan ketika akan pulang ke rumah.


" Kenapa ada orang yang seperti itu, ya. Mbak! Dia itu sama seperti saya kedudukannya di rumah ini sebagai ART. Dia bukan siapa-siapa di rumah ini. Tetapi gayanya kayak yang punya rumah saja! Malah nggak memandang Mbak Asti sebagai menantu keluarga ini!"


" Sudahlah, Bu Jum! Nggak usah diperpanjang. Saya juga nggak apa- apa, kok," Ujar Asti menenangkan pengasuh anaknya itu.


Dari tadi Bu Jum masih melontarkan rasa kesalnya kepada Tia... Serasa gadis muda itu seakan - akan menjadi pewaris tunggal kekayaan Murti di rumah besar ini.


" Yang, kamu di sini?" tanya Leon tiba-tiba. Sejak dia ikut rombongan yang membawa ayahnya pulang dari rumah sakit, dia tak melihat keberadaan istrinya lagi di rumah utama.


" Maaf, Mas. Di rumah utama terlalu banyak tamu... Jadi Qani belum bisa tidur siang sejak tadi. Lek No dan keluarganya sedang dalam perjalanan ke sini!"


Tamu bergantian datang dan pergi ke rumah keluarga ini. Mbak Tia sibuk mondar-mandir menyiapkan sajian minuman teh yang baru dan kue-kue... Seperti biasa, Mbak Siti yang selalu bersiap di dapur. Wanita muda itu tidak tampak kecapean agar dia terlihat baik di hadapan tamu, juga kerabat Pak Basuki Murti.


Bu Jum mengikuti perintah Asti untuk tidak membantu Tia walaupun gadis itu cukup kerepotan juga menyiapkan berbagai. sajian kepada tamu yang terus berdatangan. Tugas utama Bu Jum menjaga Qani... Sementara Asti mendampingi Ibu Anggun yang menerima tamu dari kerabat dan sahabat di ruang keluarga.


" Ini, Istrinya Leon, Mbak?"


" Iya, ini Asti! " Jelas Ibu Anggun.


Asti tersenyum sambil menyalami beberapa kerabat, sahabat dan teman bisnis Ibu Anggun itu.


" Maaf, belum bisa menemui Pak Basuki Murti ... Beliau baru saja beristirahat... Nanti akan saya sampaikan kepadanya, kalau Keluarga Jeng Topan datang menjenguk ke rumah ini!" Kata Ibu Anggun.

__ADS_1


Mereka mengantar tamu terakhir itu pulang. Asti menatap wajah Ibu mertuanya yang kelelahan.


" Istirahat, Ma! Saya sudah lega Papa sudah pulih! Jangan sampai Mama juga tumbang karena kelelahan mengurus Papa dan banyak menerima orang-orang tadi! Mama juga sudah melewatkan makan siang... " Ucapan Asti menyadarkan keadaan dirinya.


Asti segera menuntun si Ibu mertua menuju ruang makan. Ditemani wanita itu untuk menyelesaikan makan siangnya yang tertunda... Sementara Tia merapikan ruang tamu dari tumpukan cangkir teh dan piring-piring kue dan makanan kecil.


" Kamu sudah makan, Asti?" tanya Wanita itu.


" Sudah, Mama. Bersama Mas Leon tadi!"


" Beginilah Asti... Kita tidak bisa mengabaikan para tamu... Mereka merasa berkepentingan untuk sekedar datang dan setor muka... Tanda Papa mertuamu masih dihormati oleh sahabat dan kolega bisnisnya!"


"Mama, Boleh Asti pulang besok? Keluarga Lek No nanti datang.... Asti harus menggurus toko dan mini market!"


Ada helaan napas wanita itu yang tiba-tiba saja memberinya rasa tidak nyaman. Dia merasa tenang selalu ditemani Asti di sini.


" Apa Mama sudah menyerahkan semua urusan rumah kepada Tia?"


" Ada apa memangnya?"


" Mbak Siti perlu bumbu dan banyak bahan makanan yang stoknya di kulkas sudah sedikit ... Tetapi Tia malah memarahi Mbak Siti di teras belakang tadi!"


Wajah Ibu Anggun agak sedikit bingung. " Katanya, Tia sudah berbelanja semua kebutuhan dapur minggu kemarin di pasar diantar Muji... Masa masih ada yang kurang, sih?"


" Maaf ! Mungkin kedatangan kami yang membuat stok persediaan makanan di kulkas berkurang!"


" Ya, Nggak mungkinlah, Asti! Kamu itu keluarga saya, Istri Leon. Bukan orang lain!"


Sejak Tia kemarin mengajak Bu Jum ribut, Asti sudah membeli banyak makanan kecil, mie instan dan kue-kue dan disimpan di paviliun. Kasihan Bu Jum. Dia makan agak banyak karena harus mempunya tenaga yang kuat untuk mengendong dan menggurus Qani. Bayi perempuan itu walaupun tubuhnya kecil tetapi bobotnya juga terus bertambah tiap bulannya.


Dimas juga suka mengambil pop mie, minuman dingin atau cemilan lain yang sengaja dibeli Mbak Asti untuk mereka semua, orang- orang yang bekerja dengannya. Semua itu juga atas penjelasan Muji yang ikut merasakan kalau Mbak Tia sudah memotong separuh dari pembelian barang kebutuhan rumah ini, untuk kepentingan pribadinya... Tetapi mereka semua diam. Saat ini Ibu Anggun hanya fokus dengan upaya untuk kesembuhan suaminya. Jadi mereka sangat maklum. Takut permasalahan Mbak Tia ini membuat Ibu Anggun cemas.

__ADS_1


__ADS_2