Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 32. Hadiah buat Dekbay


__ADS_3

"Bude, persediaan sayur dan lauk di kulkas sudah hampir habis, ya?" Tanya Asti setelah mengantar Satrio berangkat kerja sampai di halaman depan. Tadi Asti hanya berjemur matahari pagi sebentar karena mengingat keperluan dapur.


"Kita ke pasar, Asti! Bude tak siap- siap. Biar kamu catat yang perlu dibeli!"


Tak lama Bude Prapti keluar dengan menggunakan tunik longgar dan celana panjang katun hitam. Sejak menjanda bertahun- tahun yang lalu, Bude Prapti harus mencari nafkah untuk anak-anaknya. Jadi dia menjadi wanita yang mandiri, kuat dan tabah.Karena tidak selamanya dapat mengharapkan bantuan yang diberikan oleh Pak Sanjaya, suami kakak sepupunya. Jadi di desa itu dia bekerja apa saja, asalkan anak anaknya bisa makan dan sekolah.


Terkadang Bude Prapti ikut jadi buruh tani, menanam padi pada sawah tetangga di saat musim penghujan. Pada saat itu dia hanya diberi upah sehari sepuluh ribu sampai dua puluh ribu per-hari.


Berjualan di pasar ketika ada hasil kebun yang bisa menghasilkan rupiah, dari buah pisang sampai daunnya. Di kebun juga ada pohon nangka, sukun juga beberapa buah- buahan lain seperti sawo dan mangga. Kadang dipanggil tetangga yang punya hajatan, dari cuci piring, sampai memasak berbagai masakan.


Hati- hati sekali Bude Prapti membawa motor matik itu menyusuri jalan- jalan di kota kecil itu yang cukup ramai. Asal jangan ke arah tengah kota saja, jadi mereka tidak menggunakan helm.


Setelah melewati jalan yang lebih kecil, tibalah mereka di pasar tradisional. Pasar itu walaupun ramai tetapi tetap bersih dan tertib.


Banyak lauk-pauk, sayuran dan bumbu yang telah dibeli Asti. Sedangkan Bude Prapti yang membawakan dua kantong kresek besar belanjaan mereka hari itu. Wanita itu juga melarang Asti mengangkat barang yang berat- berat.


Sesampainya di tempat parkir, mereka berpapasan dengan Ibu Suparlan yang membawa mobil Inova suaminya. Wanita itu pura- pura tak mengenal Asti dan Bude Prapti.


Segera saja wanita itu masuk ke dalam pasar dengan mengenakan gaun tipis yang mirip gaun tidur. Dia tetap memakai make up lengkap walaupun memakai sandal jepit. Di tangannya ada tas belanja kain, dompet dan memakai kaca muka, atau kacamata besar anti silau yang diletakkan di atas kepalanya seperti memakai bando.


Tanpa sadar Bude Prapti mencela penampilan tetangga Asti tersebut dengan bibirnya yang sedikit mencibir. Walaupun mereka tinggal di kota, tetapi banyak penduduk di sini yang masih belum dapat menerima perubahan yang terlalu drastis. Apalagi sebagian besar penduduknya saat taat dengan ajaran agama Islam. Jadi menurut wanita paruh baya itu, penampilan Ibu Suparlan tadi kurang pantas. Apalagi gaun itu memperlihatkan sebagian tubuhnya yang berkulit halus dan mulus. Tentu menjadi penilaian tersendiri di tengah masyarakat.


"Itu baju model baru, Asti!"


"Apanya, Bude?" tanya Asti bingung.

__ADS_1


" Tadi yang dipakai tetanggamu itu!"


" Siapa?"


"Iya Ibu Suparlan tadi, lho? Memang begitu ya kalau orang Jakarta pergi belanja ke pasar pakai baju tidur!"


"Sudahlah, Bude... Nggak usah repot ngurusin orang lain. Nih, tadi aku beli bubur sumsum sama pecel dan mie goreng. Kayaknya enak..."


Sesampainya di rumah, mereka menikmati dulu jajanan dari pasar tadi. Dibantu Bude Prapti, mereka segera merapikan barang belanjaan.


Setelah istirahat sebentar, kedua wanita itu menyiapkan beberapa bumbu untuk mengolah lauk-pauk dan sayur untuk makan di sore nanti.


" Kenapa , De.. Masih penasaran dengan Jeng Inneke, tadi?"


" Sedikit . . . Memang nggak risih ya dilihatin orang banyak pakai baju tipis dan terbuka begitu?" Gumam Bude Prapti hampir tak terdengar di telinga Asti.


" Seenggaknya dia menjaga martabat suaminya. Kasihan Pak Suparlan jabatannya tinggi tetapi tidak dihargai istrinya. Mana kata Bu Eri, tetangga sebelahnya, Ibu Suparlan itu galaknya minta ampun..."


"De, jangan dengar gosip! Itu kan baru kata orang. Kita nggak lihat sendiri?"


" Tetapi Bu Eri denger waktu dia marahi Ninuk dan ngatain sepupumu itu!"


" Salah Ninuk juga, ngintip tamu tetangga. Orang lain juga pasti curiga?"


Bude Prapti segera mengelus dadanya. Asti jarang keluar rumah, ya, karena nggak mau ikut ibu- ibu yang ramai bergosip sambil berbelanja di tukang sayur keliling. Pantas saja, Ibu Suparlan sering pergi ke pasar, karena dia sering dijadikan bahan omongan para tetangga di kompleks. Bude Prapti jadi ikut nimbrung, padahal yang dibelinya hanya hal yang remeh. Seperti bumbu dapur, Royco atau sebungkus kerupuk gendar, yang berbahan dari nasi.

__ADS_1


Semua itu dimulai karena kehadiran Asti, Istri Satrio yang menjadi penghuni baru pada rumah dinas di depan rumahnya. Wanita muda itu sangat cantik, sopan dan lemah lembut tutur katanya. Apalagi hijabnya yang panjang dan agak tertutup. Walaupun demikian wanita yang dipanggil Bu Satrio itu sangat pantas memadupadankan antara gaun dan kerudungnya jadi serasi.


Sejak kehadiran wanita muda itulah, Jeng Inneke kalah pamor. Padahal dia sering menceritakan soal kota kelahirannya yaitu Jakarta, Ibukota negara Indonesia. Walaupun sudah pindah dari kota itu sejak kelas tiga SMP. Namun dia selalu membanggakan kalau dirinya adalah wanita modern dan berkelas. Padahal keluarganya harus berpindah dari satu kota ke kota lain saat usaha dagang ayahnya bangkrut.


Sampai ada saudara neneknya yang menolong keluarga mereka. Sang ayah mendapat pekerjaan mengawasi sebuah perkebunan sayur di daerah Jawa Tengah. Mereka tinggal di sebuah rumah kayu di pinggir hutan. Karena rumah itulah yang menjadi fasilitas sebagai pengawas kebun. Untungnya saudara si nenek memperbolehkan ayahnya memakai mobil bak terbuka yang digunakan untuk mengantar dan menjemput anak - anaknya bersekolah di desa terdekat.


Kedatangan Pak Sadewo dan Eyang Putri siang itu ke rumah Satrio menjadi perhatian para tetangga. Pria yang punya pangkat tinggi itu tidak malu- malu mengangkat beberapa kardus dari bagasi mobil Pajero sportnya. Barang itu adalah milik si kembar saat masih bayi untuk diberikan kepada calon anaknya Satrio nanti.


Satrio pun ikut membantu mengangkatnya. Kini barang pemberian itu yang sudah menumpuk di ruang tamu.


" Mbak Asti. Semua barang itu sudah dibersihkan pembantu saya di rumah sana. Perlak, gendongan juga selimut sudah di laundry. Pokoknya nanti Dede bayinya tinggal pakai aja!"


" Terima kasih, Eyang Putri. Sampai merepotkan begitu..."


Wanita tua itu mengelus- elus perut besar Asti. " Semoga kelahirannya lancar tak kurang suatu apapun. Juga cepat sehat kembali."


Mereka segera pamit karena hanya untuk mengantar pemberian Ibu Anggita saja. Tampak pak Sadewo sangat menghormati ibu mertuanya itu dengan membuka pintu mobil. Sampai dilihat wanita cukup nyaman barulah pria itu menutup mobilnya.


Saat Asti dan Satrio masih berdiri di depan pintu untuk mengantar mereka, malah Bude Prapti mengamati tumpukan kotak dan kardus itu.


Wanita paruh baya itu terkagum- kagum dengan banyaknya barang- barang keperluan bayi itu. Dari bak mandi, alat- alat makan, bouncer, car seat untuk bayi sampai dua stroller dengan dua jenis yang berbeda untuk untuk bepergian.


Dulu, ibu Anggita menyumbangkan sebagian besar pakaian bayi milik si kembar untuk sebuah kampung yang terbakar di sebuah desa.


Sedangkan berbagai perlengkapan bayinya tetap dia simpan di rumah orangtuanya di Yogyakarta. Selain harganya cukup mahal, saat itu para ibu yang mempunyai bayi lebih memerlukan bantuan makanan. Juga pampers dan susu untuk bayi.

__ADS_1


Bahkan Bu Anggita masih menyimpan separuh barang-barang dengan harapan dia bisa hamil lagi dan diberi anak perempuan. Tetapi merasakan reportnya mengurus anak kembar yang masih balita. Rencana hamil lagi akan ditundanya beberapa tahun mendatang. Minimal sampai kedua anak kembarnya mandiri dan bersekolah.


__ADS_2