
Asti menikmati kesibukannya di toko bersama Dania. Sebab Dania juga punya pendapatnya sendiri tentang model hijab yang disukai remaja ABG sampai para gadis muda. Sehingga toko mereka menambah berbagai koleksi pakaian gamis untuk kawula muda.
Sekarang Asti hanya berbelanja aneka kerudung dan berbagai keperluan untuk dipakai wanita berhijab. Dia menyediakan dalaman berupa celana legging panjang, kaos kaki sampai berbagai aksesoris lainnya. Seperti ciput, bros dan penjepit hijab.
Seperti Jumat pagi ini, Asti berangkat berbelanja ke Solo mengajak Mbak Ning, Bu Jum dan Akbar. Kemarin dia sudah mengirim WA kepada pedagang langganannya untuk menyediakan berbagai barang yang diperlukannya tersebut.
Mbak Ning bergantian dengan Bu Jum mendorong stroller Akbar di beberapa pasar besar di Surakarta itu. Seperti biasa, Asti membayar tenaga pengangkut untuk membawa barang belanjaannya sampai masuk ke bagasi mobilnya.
Anak - anak remaja itu sudah mengenalinya. Karena hampir sebulan dua kali Asti datang ke pasar itu untuk berbelanja kebutuhan barang di tokonya.
Jadi Asti sering memberi mereka tambahan untuk ongkos angkut itu. Sebab anak- anak berusia 12 sampai 15 tahun itu dapat dipercaya karena membawa barang belanjaan dengan hati- hati, sampai diletakkan dengan rapi di dalam bagasi mobilnya.
" Mau makan apa, Mbak Ning ? Bu Jum?" tanya Asti setelah acara belanja mereka selesai.
Kedua wanita yang ditanya Asti itu agak bingung dan bimbang. Sebab jarang sekali mereka pergi berbelanja di pasar yang sangat besar dan terkenal itu sampai keseluruhan Indonesia.
" Apa aja, Mbak Asti ! Yang penting enak dan kenyang!" jawab Mbak Ning.
" Bu Jum ada request?" tanya Asti lagi.
" Ah, si Mbak Asti ini. Kulo manut wae!"
Di sepanjang jalan di dekat pasar itu berjejer orang berjualan makanan dengan berbagai menu yang ditawarkan. Mereka menggunakan meja- meja dan tenda - tenda plastik. Yang paling Asti sukai kalau makan di depan pasar ini adalah nasi liwet atau sate ayamnya.
Setelah makan, mereka berkeliling kota sebentar, sebelum mengambil jalan pulang. Asti sudah semakin mengenali kota ini. Namun menjauhi pusat kota. Takut bertemu dengan Mbak Sasya, kakak perempuannya Satrio. Karena tidak berniat mampir ke rumah wanita yang baik hati itu, setelah mereka bercerai.
Sekarang Asti semakin lancar, mengendarai Honda Jazz- nya itu. Jadi sering membawa Akbar keluar rumah juga dengan dua wanita pekerja di rumahnya itu.
Kalau hanya ke desa atau ke pasar kecamatan saja, Mbak Ning sering tidak mau ikut. Sebab dia lebih suka istirahat di rumah saja. Lainnya halnya dengan Bu Jum yang memang harus mengasuh dan menjaga Akbar. Oleh sebab itu, Mbak Ning paling tahu berita terbaru yang sering terjadi di sekeliling rumah mereka. Dari rumah tetangga depan, sampai warung di seberang ruko. Maklum, Mbak Ning sering bergaul, banyak omong dan ramai orangnya.
Dalam perjalanan pulang belanja, Asti sempat menengok isi bensin di mobilnya sudah berkurang dari separuhnya. Dia bermaksud mengisinya nanti setelah menuju arah jalan pulang. Biar besok saat mobil akan digunakan tidak perlu repot-repot mengisi bensin lagi. Karena jarak SPBU ini cukup jauh dari rumahnya, harus berbalik arah lagi untuk mencapainya.
__ADS_1
Menjelang arah simpang tiga, Asti bermaksud mengambil arah kanan untuk menuju SPBU di seberang jalan. Dia memperlambat laju mobilnya. Sampai Mbak Ning, melihat seseorang yang dia kenal di dari arah kiri jalan.
" Itu bukannya Pak Leon, Mbak Asti? Kok sama mbak Almira , ya?"
Huh, mana bisa Asti menengok ke kiri, pada deretan ruko dan beberapa rumah makan yang
berjejer di sepanjang jalan sana. Terlalu merepotkan!
Matanya sudah harus fokus untuk melihat kendaraan yang datangnya dari arah depannya, agar dapat berbelok ke kanan dengan aman.
Asti tak terlalu memperhatikan ucapan Mbak Ning yang duduk di sebelahnya. Setelah dari arah depan sudah agak lengang, barulah Asti menjalankan mobilnya untuk menyeberang sampai masuk SPBU.
Tadi, Asti sempat melihat ke arah seberang jalan sana. Benar saja! Di sana tampak sosok Pak Leon yang sedang berdiri di sebuah pintu restoran yang menyajikan masakan Padang. Rumah makan itu menempati sebuah bangunan modern dengan gambar rumah gadang tinggi di atasnya. Rumah makan itu adalah tempat makan yang terbesar di daerah ini.
Pria itu tampak lebih santai penampilannya, dengan t-shirt krem dan celana jeans. Apalagi sepatunya adalah sepasang sneaker putih yang harganya cukup mahal untuk kantong anak muda di sini.
Wajah Pak Leon tampa kacamata hitamnya, lebih mirip dengan wajah seorang aktor Indonesia yang memiliki darah campuran Indonesia dengan Thailand itu. Walaupun begitu aura orang kota dan penampilannya memang terlihat mahal dan berkelas.
Di sampingnya, ada Mbak Almira. Walaupun wanita itu berhijab terlihat jelas wajahnya yang selalu cerah dan ceria. Apalagi gaya berhijab wanita muda agak berbeda dari wanita di daerah ini. Mbak Almira selalu piawai memadu padankan blus dan bawahannya yang sering kali berupa jeans, legging atau rok dengan apik, sehingga terlihat sangat modis dan keren.
" Mbak Asti, pampers Akbar sepertinya sudah habis, deh!" Cetus Bu Jum.
Sejenak ucapan pengasuh dari Akbar itu mengembalikan diri Asti pada suatu kenyataan. Dunianya memang berbeda dengan kedua orang tadi yang masih bercakap - cakap di seberang jalan sana.
" Ya, sudah. Setelah isi bensin kita mampir ke mini market di depan, saja!"
Sekilas, Asti masih memandang pasangan itu yang ternyata bersiap - siap hendak pergi juga. Sebab terlihat jelas dari sini, saat Mbak Almira masuk ke dalam Pajero milik Pak Leon.
Sebenarnya ini bukan urusannya! Pak Leon juga sudah jarang ke proyek pembangunan itu yang masih dalam tahap penyelesaian. Selama ini, yang mengetahui semua hal itu adalah Mas Yanto dan Mbak Ning. Karena mereka selalu di rumah.
Di halaman parkir mini market itulah Asti berhenti. Akbar sudah terbangun dari tidurnya. Dia minta digendong oleh Bu Jum. Karena hanya berbelanja sedikit, Asti tidak mengeluarkan stroller untuk anaknya itu. Setelah di dalam mini market, Asti memasukkan dua pak pampers ukuran M, beberapa cemilan untuk Akbar dan sekotak susu bayi. Untuk Mbak Jum dan Mbak Ning, Asti membelikan roti dan beberapa botol minuman dingin rasa teh.
__ADS_1
Sudah lama Bulek Ratih mengingatkan Asti untuk segera menyapih Akbar. Sebab giginya mulai tumbuh lebih banyak lagi menjelang usia dua belas bulan nanti. Padahal Asti masih ingin memberi ASI pada Akbar sampai anaknya berusia dua tahun.
Sampai di rumah, terlihat kesibukan Joko dan pegawainya di halaman belakang untuk menyiapkan barang dagangannya untuk sore nanti.
" Asti, dicari bapak tadi! " kata Joko sambil menghampiri Akbar yang langsung minta digendong.
" Lek No, sekarang di mana?"
" Mungkin ngobrol di ruko Bu Haji Anissa, sebab tadi ada Pak Haji Anwar di depan. "
Sebisa mungkin Asti membasuh kaki, tangan dan wajahnya dengan air. Lalu mengganti bajunya.
Benar saja, saat Asti melewati pintu belakang. Di bangku taman ruko sudah ada Lek No duduk dengan Pak Haji Anwar. Bu Haji Anissa malah sudah mengendong Akbar.
" Sini, Dek. Jangan minta digendong Ibu Haji, terus! Kamu pantes malas belajar jalan! Banyak yang gendong, sih!"
Ibu Haji tertawa dengan omelan Asti. Dia malah menciumi perut gendut Akbar, yang segala apapun dimakan oleh anak itu. Mulai dari potongan buah, nasi tim sayur bahkan bermacam - macam biskuit. Akbar tertawa kegelian.
Akbar akhirnya diberikan kepada Bu Jum yang segera datang menyusul. Sebab anak itu juga sudah harus mandi sore.
" Ini tentang rencana umroh keluarga Lek No. Awal tahun depan bisa berangkat, nggak?" tanya Pak Haji Anwar.
" Tunggu jadwal kuliah Ninuk saja Pak Haji. Jangan sampai dia nggak hadir kuliah karena izin sampai sepuluh hari!" jawab Asti cepat.
" Aku mau ikut barengan rombongan kalian juga lho, Asti. Akhir Januari bagaimana, bisa ya ?"
" Beneran, Bu Haji Anissa? Mau barengan sama kita. Aduh jadi nggak sabar mau berangkat ke sana."
Ada senyum lembut di wajah Wanita cantik dan santun itu. " Iyalah!"
"'Nanti Lek No tanyain ke Ninuk, ya. Lek! Mungkin kalau Joko bisa mengandalkan Mas Danu, untuk menjaga warung tenda ini selama kami pergi!"
__ADS_1
Mereka sangat antusias membicarakan hal itu, saat Ninuk datang di Sabtu pagi. Padahal minggu depan nanti adalah ulang tahun pertamanya Akbar.
Sebagai orang desa, mereka tidak pernah merayakan ulang tahun ala orang kota dengan membeli kue tart dan meniup lilin. Asti hanya berniat membuat nasi kuning dan diberikan kepada tetangga kanan dan kiri di sekitar rumahnya saja.