Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 155. Tanda Kasih


__ADS_3

Di rumah orang tua Leon, Asti hanya makan malam sekedarnya. Memang udara dingin terus melingkupi daerah itu setiap malamnya. Katanya kalau udara dingin itu sering membuat orang selalu merasa lapar.


Tampaknya ajaran dari Mbah Winangun, itulah yang menyebabkan Asti makan sedikit. Seperti nasehatnya, 'Makanlah sebelum lapar, dan berhentilah sebelum kenyang'.


Akbar mulai nyaman berada di rumah ini. Rumah besar dengan segala kemewahan yang dapat dibeli dengan uang . Bayi itu tidak mau jauh- jauh dari Asti. Digendong Leon sedikit menolak, tetapi pas dibujuk baru mau.


Asti meminta Bu Jum mengambilkan minyak telon. Takut Akbar masuk angin karena berenang agak lama siang tadi di rumah Mbak Mesya.


" Mau bobok sama, Ibu?"


Bayi lucu itu mengangguk-angguk. Segera Leon mengendong Akbar setelah acara makan malam dan ngobrol di ruang keluarga selesai. Akbar mulai merasa tidak nyaman, karena tidurnya terus berguling - guling.


Pelan Asti meraih Akbar dalam pelukannya. Sambil mengusap - usap kepala anaknya, bibir Asti komat- kamit membacakan doa. Akbar mulai terlelap saat Asti terus bersholawat.


Leon terdiam. Dia tahu, bayi itu selalu tenang saat berada di pelukan ibunya. Tak lama, Akbar pun mulai tertidur lelap. Asti mengusap - usap kepala, leher dan dahi Akbar yang agak hangat.


Hati- hati Asti memindahkan Akbar ke boks bayi di sisi jendela. Leon bergantian menjaga Akbar. Terlihat Asti bersiap untuk sholat Isya. Setelah selesai, wanita itu mengambil Alquran kecil dan mengaji di dekat boks Akbar. Suara Asti terdengar pelan, lembut dan syahdu.


" Akbar nggak apa - apa, Yang?" tanya Leon cemas, setelah melihat istrinya itu sudah merapikan mukena dan sajadahnya.


" Nggak apa-apa, Mas ! Yah begini, namanya punya anak bayi. Capek dan kurang enak badan, tubuhnya agak hangat sedikit..."


Pelan dipeluknya tubuh istrinya dengan lembut. " Maaf, ya. Yang! Setelah melihat tadi, baru aku tahu tugas menjadi seorang ibu itu ternyata tidak mudah. Tetapi aku janji, kamu dan anak - anak kita nanti adalah prioritas utama dalam hidupku. Kalian tidak akan aku sia- siakan. Pokoknya harus hidup bahagia dan selalu sejahtera karena menjadi bagian dalam hidupku".


Asti mengusap dagu Leon. " Ada apa, Mas?"


" Mama tadi membisikan padaku kalau kamu sepertinya sedang hamil, deh?"


" Kok, Mama bisa tahu ya, Mas? Aku memang sudah telat lebih dari seminggu. Tetapi belum mau periksa. Biasanya juga setiap bulan agak telat juga, cuma dua atau tiga hari, terus datang haid juga..."


Telapak tangan Leon mengusap perut Asti yang masih datar dengan lembut. " Mamaku itu sangat berpengalaman soal kehamilan perempuan. Bukan karena Mama telah melahirkan tiga orang anak. Tetapi karena ikut suaminya yang ditugaskan di daerah yang terpencil. Di tempat itu tidak mudah mendapatkan akses pelayanan medis. Apalagi kalau pemukiman mereka jauh di pelosok, banyak kendalanya. Sehingga Mama yang dulu pernah sekolah perawat, banyak belajar dari para paraji atau dukun beranak setempat. Keterampilannya itu digunakan untuk menolong para istri anak buah Papa yang sedang hamil atau mau melahirkan."

__ADS_1


Lembut diciuminya wajah cantik istri nya itu dengan mesra. Sesungguhnya, Asti itu bukanlah tipe wanita idaman Leon yang selama ini menjadi pacar atau kekasihnya.


Leon selalu kagum pada wanita muda modern dengan pendidikan tinggi, punya karier dan berpandangan maju. Banyak wanita seperti itu yang dipacarinya. Yaitu para wanita cantik yang berpenampilan modis, pandai bergaul dan yang terpenting tidak memalukan bila menjadi partner pada pesta atau undangan formal. Mereka biasanya berasal dari kalangan bisnis atau wanita dengan karier cemerlang di perusahaan besar dan terkenal.


Kini, dia malah menikahi wanita sederhana, yang lahir dan besar dari desa, juga mengenakan berhijab tertutup. Walaupun demikian, Asti adalah wanita muda yang cantik, mandiri dan pekerja keras ... Tetapi sekarang Leon mulai dapat merasakan nikmatnya hidup berumah tangga dengan Asti.


Istrinya itu tidak pernah menuntut apa pun. Kecuali dia hanya meminta pada Leon untuk memperbaiki ibadahnya. Asti tidak pernah ribut soal besaran uang belanja bulanan yang diberikan oleh Leon sebagai kepala rumah tangga. Tidak ada tuntutan acara jalan- jalan untuk ke luar kota atau luar negeri setiap liburan akhir tahun. Mereka masing - masing bekerja, karena punya kewajiban dan tanggung jawab sebagai manusia untuk berusaha dan mempunyai kehidupan yang layak!


Saat ini, Leon menjadi pribadi yang selalu bersyukur. Proyek perumahan yang menjadi tanggung jawabnya itu, semakin dikenal dan banyak peminatnya. Sehingga rumah tipe menengah akan segera dimulai pembangunannya bulan depan. Sampai Mas Pandu pun takjub dengan mengalirnya dana yang sangat besar hanya dari hasil setengah proyek perumahan itu yang belum seluruhnya selesai dibangun.


" Besok kita, periksa ke dokter aja, Yang!" bujuk Leon hati- hati.


"Nggak usah, Mas! Nanti aku beli test peck saja. Di dekat rumah juga ada klinik dengan bidan yang cukup bagus..."


" Yang... ini akan menjadi penyemangat Papa untuk sembuh. Beliau ingin melihat cucu dariku dilahirkan!"


" Aamiin, Mas! Papa akan sehat dan panjang umur!" bisik Asti meyakinkan. Itulah yang selalu dilantunkan Asti dalam setiap sholat malamnya, kepadanya kedua mertuanya yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri.


Pukul 9 pagi, ada seorang ART wanita yang paling muda keluar dari rumah atas perintah Ibu Anggun. Mbak Sri disuruh membeli test peck di sebuah apotek terdekat di depan kompleks perumahan ini.


Air mata Ibu Anggun bercucuran ketika Asti menyerahkan hasil testpack itu. Tanda garis merah dua itu menunjukkan di rahim wanita muda yang cantik inilah bakal cucunya sudah bersemayam. Tambah cucu tambah rezeki. Bisik Wanita itu penuh rasa syukur.


Setelah sholat Dhuhur Asti dan Bulek Ratih dipanggil Ibu Anggun untuk masuk ke dalam kamarnya. Kamar tidur utama ini sangat luas... Mirip tatanan kamar di sebuah hotel berbintang lima.


Di sana ada seperangkat furniture yang serasi dan menyatu antara ranjang besar, sepasang meja laci kecil di kedua sisi ranjang itu. Ada juga meja kaca rias dengan cermin berukir besar. Ditambah lemari pakaian dengan pintu yang semuanya terbuat dari kaca yang berderet lebih dari 6 pintu.


Semua perabot itu mempunyai ukiran gaya klasik antara warna gold dan coklat tua. Bahkan ketika wanita itu membuka sebuah pintu lemari kaca. Tampak isi lemari itu berupa rak -rak kaca transparan yang memperlihatkan koleksi tas wanita dari berbagai model, warna dan merek.


" Pilihlah Bu Ratih, Asti! Buat kenang - kenangan dari saya!" Pinta Ibu Anggun.


Asti dan Bulek Ratih diam terhipnotis, melihat koleksi tas mahal itu. Benda-benda yang hanya ditenteng pada acara khusus itu, bahkan harganya bisa untuk membeli satu buah motor beat baru.

__ADS_1


Bulek Ratih kebingungan. Dia hanya memilih tas hitam yang paling sederhana dari banyaknya tas di sana. Karena wanita itu tak berani menolak permintaan dari besannya itu.


" Iya itu, Asti.. .Ambillah. Itu hadiah dari Papa Leon, waktu saya ulang tahun kemarin!"


Ibu Anggun menyetujui pilihan Asti, pada tas yang tidak terlalu besar ukurannya. Tetapi logo huruf yang menempel itu, membuatnya sedikit agak minder.


Wanita itu memilih dua tas tangan lainnya yang akan diberikan kepada Mbak Ning dan Bu Jum. Dua wanita yang membantu menantunya mengurus rumah dan cucunya.


Sebelum meninggalkan kamarnya, Ibu Anggun memakaikan sebuah kalung pada leher Asti. Kalung emas sederhana dengan liontin batu berwarna kehijauan.


" Kalung ini jangan dilepas, Asti! Insya Allah, ini akan menjaga cucu Mama, sampai dia dilahirkan!"


Air mata Asti berlinangan. Dia serasa menemukan ibu sejati, yang sejak lama tidak dapat memeluknya dengan penuh rasa sayang dan cinta.


" Sabar - sabar sama Leon, ya! Dia Kurang peka orangnya. Maklum anak bungsu, sukanya cari perhatian saja, tetapi tidak mau memperhatikan orang lain. Kalau ada apa - apa tentang Leon dan janin ini telepon Mama, ya. Nak!"


Kembali ibu itu menciumi pipi, dahi dan kepala Asti dengan penuh kasih sayang dan doa yang tulus untuk kebahagiaan pernikahan mereka.


***


Akbar minta duduk di depan, dipangku Dimas. Sementara Leon yang akan membawa mobil itu dalam perjalanan pulang. Karena tahu Asti dalam keadaan mengandung, Ibu Anggun sudah menyuruh supir pribadinya untuk membelikan dahulu oleh- oleh beberapa dus lumpia Semarang. Sebab dia ingin Leon langsung membawa keluarganya pulang ke rumahnya tanpa perlu mampir ke tempat lain, ataupun keliling kota Semarang lagi


Bulek Ratih duduk di pinggir jendela , agar Asti dapat meluruskan kedua kakinya. Sementara kepala Asti ada di pangkuannya.


Lucu juga keadaan Asti sekarang, tubuhnya lemas tak bertenaga setelah melihat hasil testpack pagi tadi. Padahal hari- hari sebelumnya dia punya banyak rencana untuk mengunjungi beberapa tempat wisata di sepanjang jalan pulang atau mencoba kulineran setempat.


Di tengah perjalanan mereka berhenti dua kali. Dimas yang meminta dengan amat sangat untuk memegang kemudi. Padahal dia juga selalu berhati - hati bila membawa mobil si bosnya ini.


Sekarang Bulek Ratih pindah ke depan. Akbar duduk di belakang bersama Bu Jum dan Mbak Ning.


Asti kembali tergolek di tengah, kepalanya ada di pangkuan Leon. Pria itu berusaha duduk tegak agar Asti dapat tidur dengan nyaman. Sesekali pria itu mengusap perut istrinya.

__ADS_1


Banyak harapan dan kejutan dalam kepergian mereka ke Semarang kali ini. Kehamilan Asti yang sudah diprediksi sang Mama. Juga keberhasilan proyek pembangunan perumahan di desa Sidodadi. Sebab Mas Pandu terus mendapat laporan dari bank tentang tingginya minat para pengunjung pada rumah bertipe di bawah seratus meter persegi itu ... Hampir semuanya sudah habis terjual ... Hanya tinggal dua atau tiga rumah dari tiap blok yang setelah dipasarkan.


__ADS_2