Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 192. Sebuah Pilihan yang Sulit


__ADS_3

Kata -kata yang diucapkan oleh Leon itu seperti sebuah tembakan yang satu- persatu pelurunya menghujam ke jantung mereka. Terutama kepada para tamunya yang datang siang itu, tanpa konfirmasi kepada tuan rumah!


Bola mata Nurwati melotot dari balik cadarnya. Wajah Ibu Atiek menjadi pucat pasi... Apalagi Ayahnya Nur dan Qosim jadi tertunduk antara rasa malu, tak percaya, sekaligus takut.


Mas Qosim semakin pasrah dengan kenyataan yang sebenarnya ... Ternyata itulah fakta itulah yang diputarbalikkan oleh Almira. Sebagian besar adalah untuk menarik simpati Nurwati, teman lamanya . Agar temannya itu dan keluarganya dapat menerima kehadiran dirinya di Solo. Sebab dia harus menghilang dari desanya guna menutup rasa malu dengan kasusnya yang viral kemarin. Almira juga tak mampu menerima semua ujaran kebencian yang ditujukan kepadanya, lewat media sosial miliknya.


Hidupnya sudah tidak sama lagi ketika Pak Leon dan Joko memutar rekaman CCTV di sebuah ruang perawatan di rumah sakit. Di sana terlihat jelas wajah cantik Almira yang menatap penuh kebencian pada sosok wanita yang sedang terbaring sakit dan tak berdaya... Ucapan itulah yang menjadi tanda! Bahwa Almira pandai bersandiwara dan berdusta.


Sejak kasusnya viral, hidupnya sudah dipenuhi dengan segala hujatan, kesialan dan yang terakhir diceraikan oleh Mas Pram, suaminya. Dalam sekejap kehidupan nya dibalikkan kembali ke awal semula. Sebagai gadis desa yang miskin dan tak punya apa-apa. Namun diberi segala kemudahan karena dia punya otak yang cerdas dan sangat tekun belajar! Segala keberuntungan dan nasib baik itu pupus. Sejak dia menyukai Pak Leon Narendra Murti! Sampai dia menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya cinta dan perhatian lelaki itu. Bahkan tidak peduli ketika dia lebih memilih Asti. Janda muda beranak satu yang hanya hidup dari usaha membuka toko pakaian di pasar desa.


Bagi Seorang Pram, nama Almira pun jadi semakin buruk imagenya. Jadi dia bukanlah wanita yang tepat untuk menjadi pendamping hidup dan kemajuan karier dalam dinas ketentaraannya. Apalagi jelas- jelas, dalam video itu Almira mengatakan kalau dia tidak mencintai suaminya!


Secepatnya lelaki mapan dan berpangkat tinggi itu mengajukan gugatan dan menceraikannya! Iya, mereka menikah karena perjodohan yang diusahakan oleh kedua pihak keluarga mereka. Walaupun semua itu dengan berbagai kepentingan dan pertimbangan bersama. Mereka melakukan ikatan pernikahan sebagai pria dan wanita yang telah lebih berpikir dewasa dalam bertindak. Istilahnya menimbang untung dan ruginya.


" Maaf... saya hanya sekedar menawarkan berbisnis saja! Jadi saya akan sangat menghargai kalau persoalan pribadi tidak termasuk di dalamnya." Ulang Leon lagi.


" Tolong menjauh lah dari keluarga kami! Racun Almira sangat mematikan! Lain kali Anda semua akan saya jadikan saksi di pengadilan nanti, bila saya akan melaporkan kasus ini ke pengadilan!"


" Nggak bisa begitu, Nak!" Tolak Ibu Atiek keras.


" Kenapa tidak bisa? Saya tidak mengundang Anda semua datang ke rumah Asti ini! Saya hanya mau berbicara bisnis dengan Mas Qosim! dan bukan di rumah ini. Tampaknya kita memang tidak berjodoh untuk melanjutkan kerjasama itu, kalau keluarga Mbak Nur masih mau ikut campur dalam masalah ini!" Kata Leon keras.


Pria alim itu tersentak... Dia tak menyangka kalau impian terbesarnya dihancurkan oleh kecerobohan Nurwati Fatimah tunangannya!


Sebelumnya, Qosim menjalankan berbagai pekerjaan serabutan untuk membiayai hidup dan kuliahnya di Yogyakarta. Bahkan dia dan kakak. perempuannya dibiayai oleh adik ayahnya. Sejak sang ayahnya wafat. Padahal ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa.


Qosim dimasukkan ke sebuah pesantren terkenal di pinggiran kota kelahiran, Magelang ... Sayangnya si Om, memaksa Qosim ikut membantu usahanya untuk meneruskan kembali perusahaan milik keluarga. Yaitu membuka kembali pabrik untuk memproduksi keramik dan tegel, yang sudah lama terbengkalai. Bangunan pabrik itu tidak terlalu besar. Juga tahap produksinya hanya menengah saja hasilnya...


Jadilah Mas Qosim itu ikut menawarkan kerjasama di proyek milik pak Leon setahun yang lalu... Banyak juga industri kecil penghasil berbagai keperluan pembangunan rumah diajak bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga Murti itu untuk keperluan proyek pembangunan tahap 2 dan 3.


Perusahaan Abadi Murti property itu memerlukan berbagai bahan bangunan dan pelengkapnya yang berkualitas bagus, untuk pembangunan hunian rumah mewah di proyek mereka. Jadi mereka mereka memberi kesempatan dari para pengusaha industri rakyat tingkat menengah yang menyediakan berbagai bahan pembangunan rumah yang bermutu baik.


Sebelum rombongan mereka pergi, Mas Yanto turut mendengar kesulitan mereka soal tempat menginap. Jadi dia menawarkan kamar -kamar di rumah Pak Sembodo yang biasa disewakan. Paviliun itu dulunya juga ditempati Leon dan para asistennya, di depan rumah Pak RT yang kosong itu .

__ADS_1


Setelah Pak Leon dan Pak Cakra menikah, mereka tinggal dengan keluarga masing-masing. Sedangkan Damar dan Dimas menempati sebuah rumah contoh di rumah tahap satu, sebagai mes para pekerja pria di kantor pak Leon. Malah di sana ada sepasang suami istri yang mengurus semua keperluan Damar dan Dimas ditambah dua orang pria pegawai di kantor yang jadi penghuni tambahan.


" Aneh, banget Mbak Nur itu... Sepertinya mereka satu frekuensi dengan Almira. Tetap angkuh dan sombong. Walaupun mereka berbuat salah! Mau bilang maaf saja nggak mau, gengsi setinggi langit!" Ucap Asti perlahan.


" Sudahlah, sayang! Pokoknya jangan pikirin manusia seperti itu... Tidak ada faedahnya buat kehidupan kita ...." Kata Pak Leon berusaha menenangkan pikiran Asti yang mulai gelisah.


Segera dipeluknya wanita itu yang sekarang sudah semakin tenang dan kuat menghadapi berbagai persoalan yang datang di kehidupan rumah tangga mereka.


Satu jam kemudian datanglah, rombongan para pekerja dari arah perumahan sana. Mereka dijamu oleh Leon dan Asti untuk makan siang bersama. Untuk acara kumpul bersama ini, telah disediakan menu soto ayam dengan isian yang komplit... Mereka yang hadir adalah sebagian adalah para pekerja di kantornya, dua asistennya, dan para mandor proyek yang sedang membangun beberapa rumah tingkat. Mereka juga sedang mempersiapkan fasilitas yang cukup lengkap untuk warga di pemukiman itu nanti.


Suasana di taman samping sangat ramai... Setelah acara makan siang itu selesai... Tak lama Leon bergabung sambil membawa Qani dalam gendongannya. Mereka ngobrol santai sambil ditemani gorengan, es buah dan puding dingin.


Mereka bubar setelah selesai sholat berjamaah Ashar di mushola di rumah keluarga Asti. Ruangan mushola pribadi itu tidak terlalu besar. Jadilah mereka sampai bergantian sholatnya.


Pak Cakra mengendong Qani ketika mereka keluar rumah. Banyak dari pekerja akan ke kampung masing masing. Setelah mereka besok libur bekerja di hari Minggu.


Sampai, Asti dikejutkan dengan kedatangan Bu Ani menjelang pukul 19.00. Karena sudah biasa datang ke rumah itu, Bu Ani melipir lewat pintu samping.


" Bu RT, ya? " tanya Putri yang melihat wanita itu berdiri di dekat pintu samping. Dia sedikit ketakutan tadi melihat sosok wanita itu yang nongol di luar rumah.


" Maaf, Bu... mari masuk!"


" Kok, sepi... ya. Pada kemana orang-orang?" tanya Bu Ani lagi.


" Mereka ngumpul di lantai atas, Bu! Biasa... lihat Qani dan Akbar punya mainan baru. Jadi semua ikut melihat."


Dari atas tangga, Asti turun sambil mengendong Qani. Dia tersenyum melihat kehadiran tetangga baiknya itu. " Ayok, masuk saja, Bu RT!"


" Ini, soal tamu yang tadi dibawa Yanto untuk menyewa kamar di rumah untuk dua hari ... Apa mereka tamu Mbak Asti, ya ?"


" Iya, tamu tak diundang, Bu!" Sahut Bu Jum. Wanita itu sedang menyiapkan susu Qani di meja dapur. Sekarang botol susu itu siap diberikan ke bayinya dengan suhu yang pas.


" Maksudnya, dia datang ke sini nggak kasih kabar atau berita, begitu?"

__ADS_1


Asti tersenyum sabar.. " Sebenarnya, pria yang muda itu mau ikut kerjasama dalam proyek Pak Leon, Bu. Justru dalam pertemuan bisnis mereka, saya bertemu dengan tunas itu di sebuah restoran di Solo. Nggak ada angin, nggak ada hujan, perempuan muda yang bercadar itu memarahi saya, karena membela Almira... Padahal saya juga tidak mengenalnya!"


" Pantas, si Ibu itu ngomel-ngomel nggak jelas! Dia ngeluh kamarnya sumpek, panas! Dia juga nggak bilang minta disiapkan makan malam... Ya, saya cuma sediakan teh manis hangat saja di depan kamar... Dikasih tahu, kalau sepupunya Mbak Asti membuka warung tenda dan menyediakan berbagai makanan berat untuk makan malam, tetap nggak mau tahu!"


" Maaf, Bu Ani... Mas Yanto mungkin yang berinisiatif sendiri untuk membantu mencarikan mereka tempat bermalam... Katanya mereka datang dari Magelang, begitu!"


" Nggak apa-apa, Mbak Asti! Pantas Mbak Asti nggak peduli dengan mereka itu. Si Ibu itu bawelnya minta ampun... Padahal mereka juga naiknya mobil Avanza seperti miliknya Mas Joko juga. Hanya gayanya saja sudah seperti Sultan Andara!'


Asti bingung. " Eh, Bu Ani... memang ada kerajaan baru lagi di Indonesia?"


" Kerajaan apa, sih. Mbak Asti?"


" Itu tadi, nama kerajaannya, Andara, begitu..."


Bu Ani tertawa geli... " Mbak Asti buka Tik Tok atau lihat berita tentang artis Indonesia, deh! Sultan Andara itu sebutan untuk Rafi Ahmad! Itu lho, nama artis yang terkenal kaya raya itu..."


Waduh, Asti tanpa sadar memukul dahinya, karena kurang update dengan berita terbaru masa kini... Ternyata dunia di luar sana berkembang dengan sangat cepat dengan berbagai informasi tentang kehidupan orang lain, terutama kehidupan seorang artis.


" Maaf, bukan maksud saya ngatain Mbak Asti. Lho?"


" Nggak apa-apa, Bu Ani! Sejak punya Qani... saya jadi jarang lihat berita atau gosip artis...."


" Iya, apalagi setelah buka mini market baru, ya. Mbak. Jadi lebih sibuk! Sekarang semakin ramai saja orang -orang dari kampung lain berbelanja ke sini."


" Alhamdulillah, Bu Ani atas segala doanya..."


" Nah, kan ... Aku jadi ngelantur! Ini Mbak, kami sudah mau buka lapak di depan mini market besok pagi. Bisa?"


" Bisa, Bu... Silahkan saja!"


" Soal uang sewa, bagaimana?"


" Terserah, ibu-ibu ... Kalau ramai jualan di lapaknya saya malah senang, karena sudah bisa membantu para ibu di sini untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

__ADS_1


" Cincai-cincai, ya, Mbak Asti!" Tutur Bu Ani lagi.


" Ya, terserah... Yang penting dijaga kebersihan dan sampahnya di kumpulkan di tempat yang tertutup rapat. Biar nggak banyak lalat! Itu Tugas Pak Rob untuk membuangnya!"


__ADS_2