
Semakin mendekati wilayah kota Batu, udara semakin terasa sejuk. Kota Batu itu letaknya di antara pegunungan. Sehingga jalan yang mereka tempuh semakin menanjak, juga berliku - liku.
Pada batas kota mereka berhenti sebentar. Dari Pajero itu keluarlah Leon yang membawa hape yang tercanggih di kelasnya. Kalau hape android Asti hanyalah kelas ibu rumah tangga biasa yang hanya untuk menelpon, WA atau nonton YouTube saja.
Mereka berunding sebentar. Setelah Lek No berhasil menghubungi Pakde Muin. Dada Asti entah mengapa seperti berdebar-debar tak menentu. Rasanya dia hampir tak percaya. Di usianya yang hampir melewati seperempat abad itu, barulah dia terhubung dengan salah satu dari keluarga ibunya yang berasal dari Pulau Borneo itu. Banyak hal yang menyebabkan mereka terpisah begitu lama. Bahkan bertahun-tahun kemudian. Hal ini tidak hanya disebabkan oleh musibah kebakaran yang memporak-porandakan keluarga ibunya di sana. Juga ada tangan orang lain, yang merekayasa. Selain faktor iri hati, dendam juga akibat tamak dan keserakahan dari para kerabatnya. Ditambah adanya seseorang yang mendapatkan kesempatan dalam kesempitan tersebut.
Tampaknya pembicaraan dengan Leon dengan Pakde Muin itu terlihat sangat biasa saja. Kota Batu sudah terlihat di depan mata. Mungkin tak sampai 10 km jaraknya dari dari titik tempat mereka berhenti sekarang. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih hampir 3 jam lamanya.
Para ART keluar dari toilet dari belakang bangunan SPBU. Lek No berpindah tempat setelah dia juga melihat perubahan di wajah Asti yang tampak semakin menegang.
" Dedek mau bobok lagi?" tanya Bu Jum. Qani tersenyum dengan memperlihatkan gigi kecilnya yang baru tumbuh dua buah. Bayi mungil itu ditidurkan lagi di Car seat- nya.
" Bu, Akbar mau ikut sama mobil Om Joko!" pinta anak sulungnya Asti itu.
Memang di Pajero Leon terasa lebih lapang dengan isinya hanya tiga orang saja di dalamnya. Sebab Bu Jum, Ninuk dan Mbak Ning suka ngobrol rame kalau mereka melihat sesuatu yang cukup menarik perhatian di balik jendela kaca mobil.
Seperti melihat ada arak- arakan rombongan pengantin, dengan para pengiringnya dengan membawa berbagai barang untuk keluar pengantin wanita. Sampai barisan para pekerja pabrik dengan warna baju seragam yang sama menuju tempat kerjanya. Ada yang naik sepeda ontel, motor sampai naik bus antar kota. Juga beberapa peristiwa lainnya.
Termasuk menikmati indahnya pemandangan di hadapan mereka. Saat melewati pengunungan dengan jalan yang berkelok - kelok.
__ADS_1
Kadang Pak Sugeng sering minta izin kepada semua penumpang untuk menyetel musik campur sari kesukaannya. Biar tidak sepi dan iseng, katanya... Sebab dia dan Mas Aji bergantian mengemudikan Elf itu,setiap dua jam sekali. Sedangkan yang di samping pak supir menjadi penunjuk jalan atau navigator. Berbekal GPS di hapenya.
Perjalanan tinggal sedikit lagi. Mobil yang mereka naiki harus berkeliling di kota Batu dengan melewati jalan-jalan utamanya yang lebih sempit dari jalan provinsi sebelumnya. Tampak di sana juga terlihat beberapa ikon objek wisata terkenal yang terdapat di jalan utama kota itu. Seperti di halaman depan dari tempat wisata Jawa Timur Park 2 dan 3 dengan bangunan yang sangat berbeda dari tempat wisata lainnya.
Sampai mobil itu bergerak menuju suatu tempat yang agak menanjak. Di sana terlihat sebuah bangunan besar dengan kaca-kaca jendela yang cantik. Bangunan mirip hotel yang gambarnya ada di brosur - brosur perjalanan di luar negeri. Sebab sangat cocok dengan letaknya yang berada di ketinggian tanah di sekitarnya. Di tengah bangunan itulah tempat untuk mereka semua menginap di sana.
Sebuah hotel dan resort yang cukup menarik karena pada aplikasi di hape Ninuk mempunyai rating yang cukup baik, sekelas dengan hotel berbintang tiga. Walaupun menurut Ninuk sewa permalamnya juga lumayan. Tetapi Pak Muin memilih tinggal di sana dalam beberapa hari ini.
Benar saja, dari arah loby gedung berlantai tiga itu, terlihat Pakde Muin datang menyambut mereka. Lek No segera memeluk pria itu karena selama beberapa hari ini, pria itu terus melacak keberadaan kakak tirinya Emilia, yaitu Yusuf dan adiknya.
Ternyata mereka ditempatkan kamar di lantai satu, Yaitu yang berbentuk resort. Dari tiap resort sedikitnya ada tiga atau empat kamar yang ada di dalamnya. Sedangkan yang di lantai atas berupa penginapan dengan satu kamar. Ada yang mempunyai yang single bed atau double bed.
Dari masing- masing jendela resort, terlihat pemandangan di bawah lembah yang hijau, subur dan indah. Tampak bangunan rumah penduduk, vila atau hotel bertebaran dengan keunikan bangunannya masing- masing di tanah dengan ketinggian yang berbeda-beda itu. Sehingga membuat takjub seluruh anggota keluarga Asti yang terbiasa tinggal di dataran rendah. Tentu dengan pemandangan sawah- sawah, pohon jati dan kebun-kebun buah yang ada di tanah yang datar atau rata saja.
" Kita makan siang di restoran penginapan sana!" Ajak Pak Muin yang tinggal di lantai dua bersama Bude Mayang.
Siang itu, Bude Mayang tampil sangat bersahaja. Dengan jaket tebal ala orang - orang yang lama bermukim di sebuah negara yang mempunyai 4 musim. Seolah - oleh dia sekarang sedang menghadapi dinginnya musim salju.
Tentu yang belum dia dipakainya saat ini adalah sarung tangan wol tebal, kacamata ala atlet ski dan sepatu luncurnya sekalian!
__ADS_1
" Pusing kepala Barbie!" Seru Pak Cakra gemas. Setelah melihat penampakan istri Pakde Muin itu. Justru Joko dan Mas Topan yang menahan tawa geli, mendengar komentar asistennya Pak Leon itu.
Bagi pria yang sudah lama tinggal di kota Metropolitan seperti Jakarta ataupun Surabaya. Cara dua wanita yang terakhir ditemuinya dalam seminggu ini menurutnya di luar perkiraan, saking nyelenehnya. Wanita seperti Tante Dian dan Bude Mayang. Kedua wanita itulah mempunyai tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi. Sehingga mampu berpenampilan seperti itu. Juga tidak mempedulikannya penilaian atau pendapat dari orang-orang di sekelilingnya. Walaupun pakaian mereka mahal sekalipun! Tetapi mereka kurang memahami situasi dan kondisi di tempat mereka berada. Jadi terlihat terlalu berlebihan atau norak!
Ternyata di atas restoran ini ada bangunan untuk toko oleh-oleh yang sangat besar. Juga di halaman parkir yang sangat luas itu terlihat ada beberapa bus dan mobil yang berasal dari daerah lain untuk berwisata ke Kota ini. Termasuk tiga buah bus dengan logo yang mewah, berplat nomor polisi Jakarta.
" Mbak nanti kita lihat jajanan dan makanan yang ada di toko oleh-oleh di atas, ya?"
" Boleh!" sahut Asti kalem.
Mereka makan siang dengan menu pilihan yang cukup lengkap. Di meja tersendiri sudah disiapkan sayur sup satu mangkok mangkok besar yang isinya komplit . Ada potongan bakso, suwiran daging ayam dan telur puyuh. Lauknya perkedel kentang -daging, tempe orek, sambal dan kerupuk udang. Juga ada potongan buah berupa pepaya dan melon yang disediakan di piring lebar.
Ternyata Pakde Muin yang memesan pada pihak restoran dengan porsi rombongan. Jadi hanya dihitung jumlah orang yang makan saja. Mungkin karena cukup kelelahan, sajian itupun itu dapat memuaskan juga dan diterima oleh seluruh anggota keluarga Asti.
Saat setelah selesai makan itulah, mereka dikejutkan dengan kedatangan seorang pria berpakaian seperti seorang santri atau ustadz. Pria itu memakai baju koko putih panjang seperti tunik, celana katun lebar dan kopiah tenun putih. Wajahnya menyiratkan ketampanan seseorang pria yang mempunyai darah keturunan yang berasal dari negara di kawasan Asia Barat atau Arab.
" Assalamualaikum!" sapanya lembut.
" Walaikum salam!" Jawab Mereka hampir bersamaan.
__ADS_1
Asti tertegun ketika melihat langkah kaki pria itu agak sedikit pincang. Tetapi senyuman pria itu seperti mengisyaratkan kalau dia baik-baik saja, dengan keadaanya itu. Dia bahkan bersikap normal seperti orang kebanyakan. Jadi tidak mau dikasihani!
Semua bertanya - tanya. Siapakah pria itu? Namun Leon lebih dahulu mendorong kursi kosong di sisinya. Lelaki itu duduk sambil menatapi satu demi satu wajah orang- orang yang duduk di satu meja itu. Sampai dia menatap wajah Asti agak lama. Tiba- tiba ada air mata laki- laki itu menetes di sudut matanya dengan bola mata kecoklatan yang jernih. Wajahnya yang tampan, putih bersih seketika memerah menahan segala rasa dan emosi di jiwanya.