
Persiapan untuk warung tenda sudah hampir selesai. Lahan untuk warung itu sudah diberi paving blok.
Di balik pintu pagar besi itu ada bangunan dapur dan gudang sementara. Bangunan itu ada di halaman belakang rumah Asti.
Di bangunan itu ada lemari es besar untuk menyimpan sayur, daging, ikan juga bumbu untuk masakan yang akan dijual di sore harinya.
Joko juga menyiapkan meja panjang untuk meracik bahan makanan. Ada rak piring dan tempat cuci piring dengan dua keran air. Malah disiapkan kamar untuk para pegawainya beristirahat. Saat ini Joko hanya merekrut tukang masak dan para pegawai dari kaum laki- laki saja.
Ruko sudah mulai dipasarkan setelah lantai dipasang keramik dan tiap bangunan ruko dicat dengan warna terang. Bahkan ada tembok pembatas antara lahan parkir ruko dengan trotoar jalan raya di depannya agar ada jarak aman. Karena jalan raya itu banyak dilalui truk- truk besar besar yang mengangkut berbagai barang, dari sembako, bahan bangunan sampai motor dan mobil.
Bu Haji Anissa sudah memesan ruko yang mempunyai dua lantai saja. Ruko itu terletak di bangunan yang paling kiri. Hampir dua sisi dari ruko itu berdinding kaca lebar dan tinggi, sehingga mudah memajang barang - barang dagangan. Juga cukup jelas terlihat dari beberapa sudut di luar ruko dengan penataan cahaya yang baik.
Beliau tetap berjualan pakaian dan kain ihram untuk berhaji atau umroh di lantai atasnya, sedangkan di lantai bawah, dipenuhi berbagai barang dan oleh-oleh untuk orang pulang dari Mekkah. Bau harum rempah- rempah khas dari timur tengah itu memenuhi ruko saat pengunjung masuki toko itu.
Kemarin, Asti kembali memanggil Pak Gunarsa S.H , ke rumah setelah ada tiga penyewa yang datang . Mereka menandatangani surat perjanjian sewa menyewa, jenis pembayaran dan lain - lain.
Para penyewa sebagian sudah cukup puas dengan berbagai fasilitas yang mereka dapatkan dari ruko tersebut. Tetapi untuk mengatur ulang tata ruang dan dekorasi , juga pengecatan, mereka akan menggunakan bujet pribadi. Namun mereka menggunakan jasa dari kantor Mas Adam yang sudah terpercaya.
" Bu Jum, Akbar diberi topi ya, kalau mau lihat mobil truk di pintu belakang!"
" Iya, Mbak!"
Kesukaan Akbar setelah mandi sore adalah melihat keramaian lalu lintas dari pintu belakang. Bayi berusia 9 bulan itu sudah berani turun ke lantai dan berdiri agak lama. Dia akan melambaikan tangan pada bus dan truk- truk besar yang lewat.
" Dada, dek.!" Pinta Bu Jum, agar Akbar mengikuti suaranya.
Kadang kalau ada Joko yang sedang mempersiapkan warungnya, dia akan menggendong Akbar. Sering juga ada Mas Adam di sana. Sebab dia juga mengontrol pekerjaan anak buahnya yang sedang mengecat ulang dan mendekor dua ruko di sana.
__ADS_1
Akbar akan senang digendong oleh para pria yang menyayanginya. Suara bayinya yang lucu akan menjadi pemandangan tersendiri di pojok ruko itu setiap sorenya.
" Pulang ya, Dek. Dipanggil, Ibu!" Bujuk Bu Jum. Sebab Asti mewanti-wanti kalau Akbar harus sudah ada di dalam rumah sebelum Magrib.
Bahkan ada sepasang mata pria yang agak sendu melihat bayi yang sedang diasuh wanita itu. Sesekali dia mengambil gambar dengan kamera mahalnya. Pria itu sudah empat kali datang ke warung nasi itu yang ada seberang jalan depan ruko Ayu Sulaksmi Center.
Sebisa mungkin dia menutupi jati dirinya. Walaupun banyak pengunjung di warung nasi itu menerka kalau dia seorang Intel atau orang yang bertugas mengawasi keadaan di daerah mereka. Sebab dia selalu mengambil posisi yang sama di sudut warung nasi itu.
" Permisi, Bu! " Pamit lelaki itu setelah membayar sepiring makanan , dan dua gelas kopi.
Ibu Sri, wanita yang mempunyai warung itu mulai mengenali pria tersebut. Wajahnya tampan dan masih muda. Namun matanya berpendar sedih setiap melihat ke arah ruko di seberang jalan di depan warung.
" Anak siapa itu, Bu?" tanya pria itu saat pertama kali datang ke warung nasinya. Tangannya menunjuk pada seorang bayi yang digendong wanita separuh baya.
" Anak Mbak Asti, rumahnya yang ada di belakang ruko itu, Mas!"
Lalu, semua omongan orang yang tidak baik tentang Mbak Asti itu lenyap. Setelah mendengar desas - desus kalau dia masih cucu seorang Winangun. Dulu ada seorang tokoh di daerah mereka yang juga berbesan dengan Winangun. Jadi para pendatang itu diam. Tak berani mengusik si pemilik rumah besar berlantai dua juga empat ruko yang berdiri megah tepat di persimpangan jalan itu.
Sehari- hari Asti mengurus toko pakaian muslimnya dan perlengkapannya di pasar dekat kecamatan. Setelah ruko dibuka dan semua dagangan Ibu Haji Anissa berpindah ke ruko yang telah disewanya. Sayangnya Bu Haji lebih suka memperkejakan sepasang suami istri yang masih berkerabat dengan dia dan suaminya di rukonya yang baru tersebut.
Atas usul Bu Haji Anissa juga, Asti memesan beberapa model gaun muslim untuk wanita dewasa dan wanita muda di langganan jahitnya. Ibu Tuti.
Wanita itu sudah lama membuka usaha konveksi itu yang sebagian hasil produksinya di kirim ke kota- kota besar di Pulau Jawa. Hanya untuk Asti, Ibu Tutik membuat gaun hijab dengan model yang hampir sama tetapi dengan mutu bahan yang lebih rendah agar harga gaunnya tidak mahal saat di jual ke pasar.
Joko sudah lama mengusulkan agar Asti membeli mobil sendiri. Setelah beberapa minggu ini, Joko mengajarkan Asti mengendarai mobilnya. Mereka latihan di lahan kosong yang akan digunakan sebagai perumahan. Lahan itu dulu berupa sawah yang sudah diuruk agar permukaannya rata.
Joko sudah sering berpergian setiap harinya, dari berbelanja ke beberapa pasar di daerah tertentu untuk mendapat bahan makanan yang lebih murah dan segar. Jadi agar kerepotan kalau harus mengantar Asti bepergian ke mana- mana. Sementara dia juga harus bepergian untuk berbelanja keperluan warungnya yang buka di sore hari.
__ADS_1
Asti sekarang dibantu Dania untuk menjaga tokonya. Wanita itu lebih suka membawa motornya ke pasar. Selain mengontrol pekerjaan Dania dan persediaan barang. Asti juga berbelanja kebutuhan dapur untuk di rumahnya. Juga dibawa ke rumah Bulek Ratih.
"Mbak Asti stok hijab untuk anak - anak tinggal dua. Hijab besar habis..."
Begitulah laporan yang disampaikan Dania kepada Asti. Kadang baru keesokan harinya Asti dapat berbelanja. Biasanya minta diantar Lek No, karena Joko sudah terlalu lelah di pagi harinya, setelah berjualan di malam hari. Padahal Lek No mengantar Asti mengambil pesanan barangnya itu dengan mobil bak terbukanya yang sudah tua.
" Masih belum berani bawa mobil sendiri? Kurang canggih apa si Joko ngajarin kamu nyetir mobil?"
"Belum terlalu yakin, Lek. Apa tidak jadi omong orang lagi, kalau aku membawa mobil sendiri?"
" Jangan dengerin omongan orang! Kamu punya usaha dan uang. Joko sudah repot dengan urusan sendiri. Apa uangnya masih kurang kalau mau beli mobil ? Lek No masih ada dana cadangan untuk beli bibit, bulan depan. Mau dipakai dulu?"
" Jangan Lek! Aku ada uang. Kapan Lek mau antar aku ke showroom Haji Yassin?"
" Kenapa nggak beli yang baru aja, Asti? Yang seperti punyanya Ibu Anggita bagus itu. Jadi kamu bisa sering bawa Akbar ke rumah!"
Dua hari kemudian, Asti diantar Lek No dan Joko ke Showroom itu. Ternyata banyak jenis mobil yang cocok dibawa oleh wanita. Karena mobil itu bentuknya lebih kecil dengan kapasitas angkut 5 orang.
Mas Dedi, pegawai kepercayaan pemilik showroom, merekomendasikan sebuah mobil berwarna merah yang umurnya paling muda. Baru dua tahun. Setelah mendapatkan harga yang sesuai Asti mengambil mobil Honda Jaz itu berwarna merah itu.
Warung tenda milik Joko juga semakin diminati orang. Terutama kaum muda, apalagi kalau menjelang malam Minggu dan Minggu sore. Lahan parkir sampai dipenuhi kendaraan pengunjung yang rata- rata membawa motor. Ada satu- dua mobil yang mampir, biasanya mereka bukan berasal dari daerah ini. Karena cukup tertarik dengan keramaian itu.
Ruko pun jadi ikut tutup malam hari juga. Karena banyak orang-orang datang untuk melihat dan berbelanja di ruko yang letaknya ada di samping Warung Tenda.
Di sana selain ada ruko perlengkapan Haji dan Umroh, lengkap juga dengan barang oleh -oleh dari Mekah milik Bu Haji Anissa. Ada ruko yang menjual sembako, ada juga yang membuka foto kopi dan alat- alat tulis di lantai duanya. Sedangkan satu ruko lagu dipakai untuk berjualan sepatu, tas dan berbagai jaket untuk kaum laki- laki.
Terkadang, Bulek Ratih dan Lek No ikut membantu di dapur dan di tempat cuci piring. Lek Yanto dan Ismu sekarang yang menjaga keamanan ruko dan parkir kendaraan pengunjung.
__ADS_1
Keadaan itu juga membuat para pedagang kecil ikut berjualan di tanah kosong di sebelah warung tenda. Joko pun tak segan- segan meminta bantuan pemuda setempat dan kawan- kawan baiknya. Agar daerah itu tetap , aman dan tertib.