Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 98. Berita Simpang-siur


__ADS_3

Asti dan Puspita agak terkejut ketika baru datang ke pasar pagi itu, menghadapi peristiwa pembobolan salah satu toko di sana. Sebab selama beberapa tahun ini Asti membuka usaha tempat ini selalu  aman. Jarang ada peristiwa kriminal seperti perampokan atau pembobolan toko.


Apalagi letak pasar kecamatan itu sangat strategis. Bangunan pasar itu  berada sisi kiri pada sebuah perempatan jalan  yang menghubungkan empat  kecamatan yang berbeda-beda. Selain itu, pasar dengan bangunan utama menghadap ke barat, selalu ramai karena jalan raya di depannya dipenuhi kendaraan besar yang tidak berhenti selama 24 jam setiap seharinya.


Toko Koh Edy yang paling  banyak didatangi petugas dari kepolisian setempat. Sebab di toko emas itu terpasang banyak cctv. Kamera itu memantau di sekitar pertokoan itu sampai ke seberang jalan besar di depannya. Yang paling mengejutkan dari rekaman di laptop  Koh Edy itu adalah wajah - wajah pembobol itu terlihat jelas di depan toko Asti. Malah mereka terlihat begitu santai saat membuka gembok toko yang menjual pakaian wanita dan hijab dengan anak kunci yang mereka pegang.


Asti yang akhirnya diwawancarai oleh Pak Hermawan secara langsung. Walaupun wanita muda itu adalah mantan istri teman baiknya, pria yang menjabat sebagai kepala Polsek setempat tetap menghormati Asti.


"Apa penjaga toko Ibu Asti ini masih baru, ya?"


" Iya, Pak! Baru seminggu ini bekerja di sini ..."


" Yang dulu  kemana, Bu ?" tanya Pak Hermawan masih sopan.


" Kurang jujur, Pak! Karena saya juga baru sembuh setelah dirawat di rumah sakit. Jadi kurang kontrol..."


"Boleh saya minta nomor hape penjaga toko itu , ya. Bu!"


" Boleh, Pak!" Jawab Asti cepat.


Dia segera menuliskan nama Dania, alamat rumah dan nomor teleponnya. Mungkin kalau para petugas itu bekerja lebih teliti lagi, Dania bisa didakwa ikut terlibat pada peristiwa pembobolan itu.


Beberapa pedagang di sana pun semua ditanya satu persatu oleh para petugas untuk mendapat fakta. Tanpa sadar, Asti menghubungi Joko. Sebab terlihat jelas di rekaman cctv Koh Edy, toko pakaian Asti yang jadi sasaran pertama dari pembobolan itu. Namun gagal.


Siangnya, Lek No dan Bulek Ratih menemui Asti di tokonya. Wajah Istri Lek No itu tampak pucat dan khawatir. Sebab baru mendengar peristiwa itu dari seorang tetangga yang baru pulang berbelanja dari pasar, siang tadi.


" Tokomu nggak apa- apa kan?" tanya Bulek Ratih masih sangat was-was. " Waduh berita dari tetanggaku yang paling lemes itu kok jadi  nakutin, sih!"


" Maksud Bulek Ratih, mereka cerita apa saja ?"


"Ya, katanya kamu dicariin pak polisi dan akan  dijadikan saksi. Sebab ada orang yang melihat rekaman cctv itu, kalau mereka merencanakan pembobolan itu dari tokomu ini..."


Astaga! Asti segera memberi minum kepada wanita itu. Bulek Ratih ternyata masih mudah terpengaruh dengan omongan orang lain. Padahal mereka  belum meneliti kebenaran dari  berita tersebut.


" Apa dipikirnya  aku ini otaknya dari  perampok itu? Dasar ... Tetangga kita itu kalau ngomong nggak diperhatikan dulu mana awal mula peristiwa sampai akhir. Ini malah menyimpulkan sendiri.. " Omel Asti kesal.

__ADS_1


" Gini, Bulek ... Setiap pedagang yang jualannya dekat  toko yang dibobol itu pasti ditanyain satu persatu oleh petugas untuk mendapat fakta atau bukti. Mereka memang masih menyelidiki peristiwa itu dengan sangat teliti. Siapa yang ngomong ngawur begitu, Bulek? Biar dicari Pak Hermawan sekalian. Ada- ada saja..."


 Lek No menikmati kopi yang tadi dibawakan oleh Puspita dari warung Yu Yemi. Gadis itu juga ikut tercengang, karena ada nama Asti yang dikaitkan pada peristiwa itu.  Jadilah  berita pembobolan itu jadi simpang- siur. Memang tadi ada beberapa pedagang yang melihat rekaman cctv dari toko Koh Edy. Rekaman itu sudah diminta petugas untuk diselidiki lebih lanjut.


" Joko pasti tahu soal ini, biar Lek No ke rumahmu, ya?" kata Lek No setelah melihat istrinya lebih tenang.


Mereka cukup lama berada di pasar. Sambil bertanya - tanya tentang kejadian semalam. Tentu saja para pedagang menceritakan hal itu kepada Lek No secara lebih jelas lagi.


" Kok orang itu ngomong seenaknya, ya. Mbak! Petugas polisi saja masih menyelidiki peristiwa ini. Tetangga Bulek Ratih sudah menyimpulkan sendiri. Pake nuduh direncanakan dari toko ini. Memang kita ketua geng motor apa?" Suara Puspita jadi lebih keras karena geram menahan emosi.


" Itulah, Pita... Kalau pendidikan kita kurang tinggi sedikit,  pengetahuan umum juga lemah... Ditambah penyakit hati, jadi mulut berbicara sesukanya tanpa pikir panjang..."


" Takutnya Dania tersangkut deh, Mbak. " Ucap Puspita agak hati-hati. " Bukankah wajah si Jago tampak jelas terekam. Orang itu yang memakai helm merah itu ..."


" Biar saja, Puspita! Inilah akibat dari perbuatannya sendiri. Kita itu juga harus pilih-pilih teman kalau bergaul Apalagi pilih pacar, bukan karena gagah saja tongkrongannya, yang dia kerjakan dia itu apa?"


" Dania itu kayaknya kurang perhatian dari orang tua gitu, Mbak! Dia juga agak norak .. Dulunya kita sangat kasihan kalau melihat keadaan dia, semasa sekolah. Tetapi dia itu kalau berbicara nggak mau kalah sama orang lain. Ada temanku yang sudah ngasih tahu ke Dania Agar jangan berhubungan dengan Jago. Mana mau dengar Dania saat itu.."


" Kita tutup toko jam tiga saja, Pita. Kamu tadi naik motor?"


Tepat pukul 15.00. Mereka bahu- membahu menutup toko. Gembok dibawa Asti. Tadi Asti sudah menitip berbagai belanjaan berupa sayuran dan lauk-pauk untuk di rumah kepada Bulek Ratih. Sebab Lek No membawa mobil bak terbukanya.


Sempat Asti membeli beberapa barang keperluan Akbar di toko kebutuhan sehari- hari di toko yang lain. Sebab toko yang dibobol itu sedang diperbaiki. Ada kerusakan pada kuncinya, juga bagian rolling door itu rusak. Akibat dibuka paksa dengan benda tajam seperti linggis, yaitu alat pencongkel yang terbuat dari batang besi yang kokoh dan kuat.


" Toko Mbak Asti, aman kan?" tanya Mas Jun. Pria yang sejak tadi sibuk melayani beberapa barang yang dibeli Asti. Ada pampers, susu dan biskuit bayi.


" Alhamdulillah.. Aman. Mas. Memang sudah ketemu pelakunya?"


" Ya belum, Mbak! Kita saja terus ditanya- tanya tadi oleh beberapa petugas. Saya juga lihat kemarin, Mbak Asti tutup toko agak cepat, ya? Boleh dong , Mbak Asti. Kenalan sama pegawai barunya itu. Anaknya manis juga, lho..."


" Mau dikemanakan si Fitri, Mas Jun? Bukannya kalian sudah mau menikah setelah lebaran tahun ini?"


Wajah Mas Jun jadi agak tersipu malu." Ih, Mbak Asti. Kan cuma kenalan saja... Masak nggak, boleh!"


" Iya, kenalan... Lama-lama tebar pesona, deh? Anak gadis orang di PHP terus ..."

__ADS_1


Terdengar tawa dari petugas toko yang lain, mendengar Mas Jun diledek Asti. " Iya, Mbak... Benar, tuh! Mas Jun ini kan play boy cap pasar Kulon. Ha, ha." Ledek Mas Apin. Ditambah lagi dengan suara berat Pak Yatno pemilik toko sembako itu.


" Mbak Asti itu, ya? Pendiam orangnya, tetapi kalau sudah sekalinya ngomong bisa pas begitu."


Sedikit obrolan dan candaan dari mereka, ternyata cukup mampu menghilangkan rasa stres karena peristiwa pagi tadi.


" Bu Dian tadi belanja kulakan di sini, Mas?"


" Yang wong Sendang Mulyo itu, ya ? Biasa saja, Mbak.. Tapi dia juga heboh nanya- nanya juga soal pembobolan toko. Eh, si Limbuk itu sepertinya agak, kepo! Karena ikut-ikut nimbrung sama bapak- bapak Ketika Koh Edy memperlihatkan  rekaman cctv yang dipasang di tokonya. Di sana juga ada Pak Yatno dan Pak Polsek Hermawan. "


"Itulah dia, Mas. Setelah sampai rumah langsung lapor sama Bulek Ratih. Katanya para pembobol itu direncanakan dari tokoku. Katanya aku sedang diselidiki polisi.." Kata Asti pelan.


" Dasar si gembrot itu selalu bikin rusuh... Mungkin tadi si Ibu itu dengar sedikit dari omongan Koh Edy , Pak Yatno juga Pak Hermawan. Karena cctv yang di depan toko Mbak Asti sangat jelas merekam wajah orang yang dicurigai itu..." Balas Mas Apin, si pegawai yang paling lama bekerja di toko Sembako itu.


" Jangan- jangan,  si Ibu Dian itu nanti bilang kalau kita yang bobol  toko itu, gara-gara persaingan bisnis, kan seru itu! " Teriak Mas Jun lagi nggak mau kalah.


" Pantas aku lihat tadi Pak No dan istrinya datang ke sini terburu- buru. Oh, dengar ocehannya Bu Dian itu... Untung mereka sehat- sehat kan, Mbak?"


" Ya, sehat. Aku pamit pulang ya, mas- mas semua..."


Mereka melihat Wanita muda itu membawa sekantong plastik belanjaan dan tas selempang kecil di pundaknya, setelah membayar belanjaannya. Tak lama, datang seorang petugas parkir yang membawakan motor Asti dari halaman parkir di belakang pasar yang cukup jauh. Pria tua itu tersenyum senang saat melihat wanita muda itu memberikan selembar uang dua puluh ribuan.


" Mbak Asti itu seperti wanita pilihan! Sudah orangnya cantik, berbudi luhur dan baik dengan semua orang. Tetap saja diselingkuhi suaminya. Kasihan kan?" Bisik Mas Apin saat menatap kepergian wanita itu dengan motornya.


" Kamu naksir Mbak Asti, Mas?" ledek Mas Jun. " Kejarlah..."


Dua jari pria yang dipanggil Mas Apin itu mendorong dahi lawan bicaranya."Kamu nggak dengar dan nggak lihat , tentang kesuksesan Mbak Asti sekarang?"


" Yah, kalau ada jalan, kenapa nggak? Apalagi dia sudah menjadi janda dengan satu anak..."


" Cah edan, Kowe, Yo! Mbak Asti itu janda bermartabat, Jun. Dia itu sekarang sangat kaya. Rumahnya di pertigaan simpangan sana besar dan bagus. Belum empat ruko besar di depannya itu punya dia, lho!"


" Ya, baguslah ... Sudah jadi Janda kaya pulak!" Ledek Mas Jun nggak mau kalah.


Pak Yatno jadi tertawa mendengar pertengkaran receh di antara pegawainya. "' Mbak Asti itu pilih-pilih orang juga, Jun. Nggak semua lelaki cocok sebagai suaminya. Memang kayak si Fitri itu, dirayu kamu aja langsung klepek-klepek. Besoknya minta dikawin. Dasar si janda warung kopi..."

__ADS_1


Mendengar ocehan si pemilik toko, tawa mereka semakin meledak. Mas Jun sampai tersipu- sipu. Maklum bujang lapuk, sering gampang merayu cewek di sana- sini. Tentu Asti sudah hapal sepak terjang Mas Jun yang sudah dua tahun lebih bekerja sebagai pegawai di toko sembako milik Pak Yatno itu.


__ADS_2