
" Mbak, Mbak Asti!" Panggil Puspita. Kali ini, suara wanita muda itu agak lebih keras.
Lihat saja, Asti sampai terperangah karena terkejut. Sejak kedatangan wanita yang dipanggilnya Mbak Asni tadi, Ibunya Akbar itu jadi sering melamun.
" Eh, ada apa, Pita?" tanya Asti masih agak bingung.
" Harga gamis ini boleh 50 ribu, nggak? Ibu itu nawarnya segitu."
Di tangan Puspita ada gantungan sebuah gamis hitam dengan bahan campuran kain brokat dan bahan Jersey. Sederhana namun elegan.
" Harganya berapa tadi?" tanya Asti lagi.
Agak hati- hati, Pita menarik tulisan di kerah gaun panjang itu. " Tujuh puluh ribu, Mbak?"
" Bu, belum bisa! Kalau enam puluh lima ribu. Kamu berikan. Nggak mahal, kok?"
" Nggak bisa kurang lagi, Mbak Asti?"
" Belum bisa, Bu. Kami punya warna lainnya. Kalau Ibu mau memilih?"
Dengan cepat Puspita membongkar tumpukan jenis model baju yang sama dari dalam etalase. Semua model itu dibuat dengan warna-warna dasar, seperti coklat, biru navy , hijau botol sampai merah maroon. Supaya gaun yang bermodel sederhana itu tampak elegan, dengan paduan potongan kain brokat dengan warna yang senada. Jadi tidak norak!
Transaksi selajutnya dilakukan oleh Puspita. Sampai si Ibu tadi mengambil dua potong baju yang lain. Tentu dengan warna berbeda.Tadi Asti memberitahukan kalau gaun gamis itu dapat dipadukan dengan outer yang berbeda warna dan bahan agar gaun itu dapat tampil dengan gaya yang berbeda.
" Sudah langganan kan, Bu Tia. Kami korting sepuluh ribu, ya. Untuk semua belanjaannya," Kata Asti untuk menyenangkan wanita itu. Ibu Setia atau dipanggil Tia setiap sebulan sekali selalu mampir ke tokonya dan membeli gaun yang modelnya paling terbaru.
" Mbak Asti mengapa melamun terus?" tanya Puspita pelan. " Pita lihat sejak Mbak Asni datang pagi tadi, dan menceritakan kalau Bule Ratih melabrak warung Bu Dian...."
" Itulah, Pita... Yang membuat saya terus kepikiran. Takutnya gosip itu sudah menyebar ke seluruh desa. Sehingga mereka tidak tahu mana yang berita salah dan mana yang benar dari berita itu."
" Kan kita juga sudah tahu, kok. Mbak? Pelakunya saja masih menjadi kejaran pihak yang berwajib..."
__ADS_1
" Di dekat rumahmu juga rame soal ini, ya?"
" Wuih makin seru, Mbak! Lucunya anak- anak geng motor yang biasa nongkrong di alun- alun juga ikut menghilang. Sekarang warga di sana jadi bisa hidup lebih tenang. Kalau malam nggak ada anak mabuk atau teriak - teriak nggak jelas di lapangan atau ngamen di warung sepanjang jalan sana."
" Mereka yang nongkrong di alun-alun itu , apakah semuanya anak buahnya Jago?"
" Bukan, sih! Tetapi mereka juga nggak mau ambil resiko. Sejak Jago menjadi tersangka sebagai otak dalam pembobolan itu. Sebab banyak bekas - bekas bungkusan kotak rokok menumpuk di ujung pos jaga yang terbengkalai itu. Itu yang sedang diselidiki polisi."
" Sebelum kabur, mungkin Jago dan kawan-kawannya sempat membagi hasilnya di sana.." Tambah Pita.
" Apa kamu juga dengar, Pita. Dania pun pergi dari rumah. Dia ke kota itu katanya dapat kerjaan jaga di sebuah ruko."
Mata Puspita mengerjab sedikit bingung. "Apa mereka sudah merencanakan hal ini sejak lama, ya. Mbak? Sebab Mas Firman pernah lihat Jago sering boncengan cewek lain. Katanya cewek itu juga tinggal di desa Selo Wringin. Bukannya itu letak desa itu bersebelahan dengan Desa Sendang Mulyo, kan?"
" Ya, sudahlah, Pita... Kalau Dania sudah memilih jalan hidupnya seperti itu, kita bisa apa? Pokoknya kamu harus punya tekat kuat untuk hari depanmu. Malah Mbak punya rencana, kalau kamu bisa jadi rekanan di toko pakaian ini. Kamu mau belajar banyak kan untuk usaha pakaian hijab seperti ini?"
" Mau, Mbak. Mau banget..
Memang Mbak Asti mau buka cabang di tempat lain, atau pakai ruko Mbak untuk usaha sejenis?"
Baru mendengar separuh penjelasan Mbak Asti saja, mata Puspita Sari saja sudah berbinar - binar penuh semangat dan kebahagiaan. Dia tahu, Mbak Asti orang baik. Selalu memberi kepercayaan penuh pada orang yang mau bekerja dengan sungguh- sungguh dan jujur.
"Mbak mau pakai satu ruko yang sewanya tahun ini selesai. Sebab Akbar sudah mulai protes kalau ditinggal bepergian agak lama. Kasihan Akbar sudah nggak ada perhatian dari Bapaknya, dia pun harus ditinggal ibunya seharian untuk bekerja."
"Di sana kan, sudah ada toko pakaian muslim milik Bu Haji Anissa, Mbak?"
" Nah itu dia! kamu bisa nggak kasih ide ke Mbak. Usaha apa yang sebaiknya untuk berjualan di ruko itu?"
" Buka usaha model mini market aja, Mbak? Di sana kan belum ada. Walaupun ada, tetapi jauh... Letaknya di dekat SPBU. Sebentar, Mbak! Waktu aku di SMK, pernah diajak teman magang di sebuah mini market, yang katanya milik Omnya begitu. Mereka sudah punya beberapa cabang usaha yang sejenis. Aku juga masih punya no telepon, ya.."
" Wah, boleh itu. Daripada berjualan barang - barang untuk kado dan jasa pembungkusnya? Sebab pasarnya masih sulit di daerah ini."
__ADS_1
" Usul dari Ninuk, ya. Mbak? Kalau dekat perumahan, kampus atau sekolah. Bisa, Mbak! Tetapi kita di daerah kampung pinggiran begini. Susah. Sebab memberi kado itu bukan tradisi orang kampung sini... Mereka lebih suka masukan uang ke amplop atau memberikan bahan makanan pokok kalau ada tetangga yang mengadakan acara pernikahan atau selamatan."
" Ya sudah, Pita. Kamu belajar jadi partner kerja yang baik, ya! Mbak lebih sreg buka mini market. Nanti Mbak minta nomor Om temanmu itu. Boleh?"
" Apa Mbak Asti nggak mau menikah, lagi! Sepertinya Mbak Asti terlalu bekerja keras. Nggak gampang sepertinya, ya .Mbak. Jadi Single Parent?"
Asti terdiam. "'Siapa yang mau sama saya, Pita. Sudah janda punya anak satu lagi?"
"Adalah, Mbak... Itu si Abang Lee Ming Hoo?" Ledek Puspita semakin berani.
"Ih, memang ada ya aktor Korea yang akting sampai mencari lokasi pengambilan gambar sampai ke pasar sini?"
Puspita tertawa geli. "Itu, yang jaga toko emas di samping. Sudah mirip aktor itu bukan?"
" Ya, ampun... Itu sih, saudaranya Andy Lau .Puspita!"
"Memang beda ya, Mbak?" tanya Puspita bingung.
Dengan kesal, Asti mencubit lengan Puspita." Memang kamu nggak bisa bedain orang dari negara Korea Selatan dan Negara RRC?"
"Ih, bagi aku, mereka itu sama aja, Mbak. Mas Kusno kulitnya bersih, matanya sipit. Pokoknya dia sering cari- cari kesempatan untuk memperhatikan Mbak Asti secara seksama."
"Seksama lagi! Memangnya aku ini kertas ujian kali..." jawab Mbak Asti meledek.
" Ya, iyalah... Ujian cinta? Gosip yang aku dengar, nih! Mas Kusno sering nongkrong di mesjid dekat kantor kecamatan, Mbak. Mungkin dia mau jadi mualaf karena sering ngobrol dengan salah satu pengurus mesjid di sana."
" Sudahlah, Puspita! Jangan kebanyakan berhalusinasi. Tuh, rapikan etalase depan. Sebentar lagi kita tutup. Kamu bawa motor, kan ?"
" Bawa, Mbak. Kalau nggak bawa, Mbak Asti mau nganter?"
" Siapa bilang! Aku cuma mau ngomong selamat Jalan kaki sampai rumah, ya."
__ADS_1
" Ih, Mbak Asti balasnya parah, nih, " ujar Puspita sambil memanyunkan bibirnya.
Tawa Asti terdengar merdu sekali, karena kali ini dia bisa membalas ledekan Puspita tentang Mas Kusno. Ternyata Mbak Asti itu diam-diam, kalau balas omongan orang langsung kena, alias cespleng.