
Suasana siang itu, di rumah Joglo bertambah ramai. Para wanita makan di dalam ruangan di dekat gudang dan dapur bersih dengan alas tikar. Sementara para pria makan di halaman rumah joglo yang luas itu. Mereka dapat duduk di mana pun... ada yang di lantai yang diplester semen, tumpukan kayu bahkan di atas di tangga-tangga samping rumah joglo.
Tampaknya masakan Bulek Ratih dan adik-adik sepupunya itu sangat nikmat. Mereka makan dengan lahapnya. Padahal yang mereka sajikan hanyalah masakan yang biasa dimasak orang desa sehari- hari.
Di meja besar itu ada dua baskom besar berisi sayur lodeh terong ungu dan kacang panjang dengan kuah kuning, ayam goreng, kering tempe dengan sambal terasi dengan lalapan daun kemangi , timun dan kangkung rebus.
Dua termos es teh manis disediakan untuk penghilang lelah dahaga. Asti sudah membuka dua buah pepaya besar dan melon. Selesai makan dan beristirahat para pria bergerak menuju mushola untuk sholat dhuhur bersama. Mereka membawa salin berupa baju koko atau sarung.
Pekerjaan akan mereka lanjutkan lagi sampai pukul 15.00. Tetapi beberapa ibu tetangga yang membantu Bulek Ratih sudah pamit pulang ke rumah masing-masing.
Bulek Ratih sudah membungkuskan untuk mereka semua. Masing-masing mendapat satu kantong kresek yang isinya berupa nasi yang dibungkus daun pisang, sayur lodeh di kantong plastik, juga lauk dan sekantong kecil tengkleng. Bahkan ada tambahan kripik tempe atau rambak.
Para ibu itu berwajah ceria, karena mereka tidak perlu memasak lagi setelah sampai di rumah. Karena sudah membawa satu kantong kresek itu untuk makan siang suami dan anak-anak.
" Ayo turun, dek! Mbah No capek itu belum beristirahat! " pinta Asti. Bayi perempuan itu menggeleng. Sejak tadi Qani anteng dalam gendongan pria itu. Meskipun Lek No asyik ngobrol dengan Pakde Muin, juga dengan dua asistennya itu. Tetapi akhirnya Bu Jum berhasil membujuk Qani untuk lepas dari gendongan Lek No, dengan menyiapkan susu tambahan formula untuknya di botol kesayangannya.
" Kamu nggak sehat, Asti?" tanya Bude Mayang sedikit cemas. Karena sering melihat bayi perempuan itu lebih banyak diberi susu formula dibandingkan disusui ibunya dengan asi.
Karena wanita mendengar kalau umur Qani belum setahun. Tetapi lebih banyak minum susu formula itu seharinya bisa dua atau tiga botol.
__ADS_1
"Asti mengalami sakit yang agak berat sebelum melahirkan... Jadi air susunya agak berkurang karena pengaruh obat-obatan, yang harus diminum..." Ujar Bu Ratih berusaha menjelaskan keadaan Asti itu secara sederhana.
Mata istri Pakde Muin itu menatap sendu keluar jendela. " Setiap orang punya jalan hidupnya masing - masing , yang berbeda-beda. Saya sudah hampir 6 tahun merantau ke Purwokerto diajak Teh Lilis membantu mengelola rumah produksi yang membuat makanan untuk oleh-oleh... Hidup saya pun cukup sulit, karena suami menikah lagi dengan rekan satu kerjanya di pabrik di daerah kerawang!"
" Kok, Mbak mau sama Pakde Muin?" tanya Bulek Ratih menggoda.
" Pak Muin yang membiayai gugatan saya ke pengadilan! Suami dan keluarga saya yang masih tetangga di kampung. Tetapi dia adalah lelaki yang tidak bertanggung jawab. Saya tidak diceraikan, tetapi tidak juga diberi nafkah. Padahal kami sudah punya dua orang anak laki-laki yang mulai tumbuh besar. Mereka tidak hanya memerlukan biaya untuk makan, membeli berpakaian dan juga uang sekolah! Jadi anak-anak saya titipkan kepada orang tua, ketika mendapatkan tawaran di Purwokerto."
" Saya sudah lama mengenal Pak Muin. Sejak dia berbisnis dengan suami Teh Lilis. Malah beliau yang mendukung saya untuk bercerai dengan mencarikan pengacara! Pak Cahyadi dan Teh Lilis pun mendukung hubungan kami. Sehingga saya mau menerima lamarannya. Beliau pun membiayai kedua anak saya yang bersekolah di sebuah pesantren di Garut. Kasihan orang tua saya sudah tua, masih harus menjaga dan mengurus cucu-cucunya yang masih kecil!"
Cerita sedih itu mengalir di ruang makan. Asti cukup terharu... Apa kehidupan begitu menyedihkan dan menyusahkan bagi kaum wanita? Ada yang diselingkuhi, diceraikan bahkan tidak dinafkahi. Barulah para wanita berjuang untuk memberi kehidupan yang layak bagi dirinya dan anak-anak yang ditinggalkan.
Jadi Asti pamit pulang lebih dahulu. Lihat saja! Anak-anak sudah duduk manis di jok tengah, di dalam Inova itu. Lek No sempat memasukan satu tandan pisang raja ke bagasi mobil Asti itu. Mbak Ning hanya dapat geleng-geleng kepala saja... Pisang yang berisi lebih dari sepuluh sisir itu tampak kuning, matang dan menggugah selera untuk memakannya. Tadi juga Mbak Ning masih sempat minta dipetikkan beberapa buah kelapa kepada Kang Asmat dari kebun di belakang rumah Joglo.
Kepergian Asti yang mengemudikan sendiri mobilnya itu, juga disaksikan beberapa ibu tetangga lainnya... Terutama para tetangga yang tidak terlalu menyukai Asti dan keluarga Lek No yang semakin meroket perekonomiannya. Tetapi mereka sekarang tidak berani terlalu terang-terangan untuk membenci keluarga itu. Terlalu berisiko, sebab nama Winangun selalu dihormati oleh masyarakat sebagai pendiri dan tokoh desa Sendang Mulyo yang sangat dihormati.
Apalagi dengan Bulek Ratih yang Sekar sudah berani melawan, bila Asti dan keluarganya dihina atau difitnah! Setelah dengan beraninya dia melabrak Ibu Dian, Si Ibu yang paling suka bergosip di warung kue dan sembakonya itu.
Hampir satu jam kemudian, sebuah Fortuner bergerak meninggalkan halaman rumah joglo itu. Di dalam mobil itu hanya ada Pak Muin dan Lek No saja... Mobil berwarna hitam dan gagah itu bergerak melalui jalan desa ke arah timur, menuju desa sebelah yang hanya dibatasi oleh adanya lapangan rumput yang luas, kebun dan jalan berpagar pohon Jati di kanan -kiri jalan.
__ADS_1
Di dalam rumah, Bulek Ratih masih asyik ngobrol dengan Bude Mayang, juga kedua sepupunya itu. Mereka juga sambil bekerja untuk persiapan makan besok siangnya. Pekerjaan memanen tinggal 3 hari lagi. Tetapi sebagian padi sudah dijemur kering di halaman rumah sebelah. Biasanya itu tanggung jawab Kang Slamet dan dua pekerja lainnya.
Bagi keluarga Lek No sekarang, berbagai upacara adat dari kebiasaan masyarakat lama di desa ini mulai dihilangkan. Padahal ada rentetan tradisi yang harus dijalani oleh seorang petani pemilik sawah. Dari mereka mulai mengolah tanah, menyebar benih padi, menanam sampai memanen padi itu. Hal itu berkaitan dengan kepercayaan lama. Tentang Dewi Sri yang diyakini sebagai penjelmaan padi...
Biasanya ada beberapa ritual berupa menyiapkan sesajian berupa bunga setaman, air kelapa hijau sampai jajanan pasar dan ayam dimasak Ingkung. Yang diletakkan di jalan pertama untuk masuk ke lahan sawah.
Sejak Pak Harjo Winangun mulai menerima tanggung jawab ketika mewarisi sawah dan kebun Dar orang tuanya itu. Segala tradisi yang tidak sesuai dengan syari'at agama pun ditinggalkan. Sebab Pak Winangun sendiri adalah lulusan sebuah pesantren terkenal di daerah Magelang Jawa Tengah , bersama ayah pak Anwar Zahid.
Sekarang upacara adat itu berganti dengan acara doa bersama atau mengadakan tasyakuran. Lebih mudah lagi, Bulek Ratih akan mengirimkan banyak makanan ke mushola di depan rumahnya pada malam Jumat... Terkadang Bulek menyiapkan hidangan dalam wadah stereo foam berisi nasi gurih, ayam bakar dengan sambal dan lalapan berupa timun, kol mentah dan kemangi. Selain orang tua, anak - anak pun semakin rajin datang ke mushola itu untuk yasinan di kamis malam setelah sekian Sholat Magrib berjamaah.
" Apa Bude Ayu hidup susah sewaktu menikah dengan Pak Kushari?" tanya Bude Mayang lagi.
Wajah Bulek Ratih jadi sedih. " Sejak kembali ke desa ini, pernikahan Bude Ayu dengan suaminya pertamanya sudah bermasalah... Bude Ayu mengalami dua kali keguguran, bahkan yang terakhir hampir merenggut nyawanya karena hampir tidak tertolong. Sebab rumah dinasnya itu jauh puskesmas ataupun rumah sakit. Tetapi saat itu suaminya lebih mengutamakan kepentingan orang lain. Terutama pada gadis muda anak seorang kepala desa di tempatnya bertugas... Jadi Bude Ayu memilih mundur! Karena suaminya tidak mau menjemput Bude Ayu yang berencana tinggal di desa ini sampai Asti berumur satu tahun. Niatnya dia akan membawa Asti, ke rumah dinas suaminya yang ada di daerah Bengkulu. Tetapi suaminya menolak!"
" Ya, Allah!" bisik Bude Mayang terkejut. " Pantas Bapak merasa sedih karena belum bisa mendapatkan data atau fakta dari peristiwa kepergian Ibunya Asti itu. Bude Ayu sudah memberikan dana yang cukup untuk mencari keberadaan Emilia ataupun kerabatnya di daerah itu!"
Mereka terdiam... Mungkin karena Pakde Muin saat itu masih berdinas di kesatuannya jadi tidak leluasa bergerak mencarinya kebenaran itu. Apalagi ada sesuatu yang disembunyikan oleh seseorang dengan sebuah kepentingan pribadi yang terselubung.
Asti terlahir sudah yatim dan hampir piatu, karena kabar keberadaan ibunya semakin tidak diketahui. Pak Harjo Winangun sangat khawatir dengan keberadaan menantu perempuannya itu. Apalagi ada bayi berumur dua bulan itu yang telah ditinggalkannya di rumah ini.
__ADS_1
Sayangnya, perasaan Mbah Sri Sumiarsih, istrinya lebih parah lagi. Dia menjadi sangat tertekan dengan gosip miring masyarakat di desanya itu. Karena keluarganya mengalami musibah yang terus bertubi-tubi. Sampai wanita itu ketakutan sendiri tentang pembalasan dari para penguasa hutan bambu itu yang telah mengutuk keluarga Winangun... Sebab suami dan anak laki-lakinya telah mengusik keberadaan mereka di hutan itu yang sudah lebih dulu berada di hutan itu beratus-ratus tahun lamanya....