Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 81. Kehidupan Sehari-hari


__ADS_3

Para wanita itu masih duduk bersimpuh di bangku sofa atau di karpet tebal yang digelar di ruangan tengah. Justru televisi yang tadinya mereka tonton malah dimatikan.


"Pak Ustad Jauhari, baik banget ya Bu! Sampai jauh- jauh datang ke sini hanya untuk menolong Mbak Asti!"


" Begitulah kalau orang yang mempunyai ilmu agama yang tinggi, selalu membantu orang tanpa pamrih! " kata Bulek Ratih memperjelas tujuan Pak Ustadz muda itu. Wanita lalu memandang wajah Asti agak lama. " Asti apa kamu memang masih kepikiran soal ini?"


" Saya sudah berusaha ikhlas menghadapi semua ini, Bulek. Mau diapain lagi, yang sudah terjadi. Yah, terjadilah. Mungkin ini adalah takdir dan ketentuan dari Allah yang harus saya jalani! " Ucap Asti perlahan. "Tetapi yang membuat saya heran, pada zaman maju seperti ini. Masih ada saja orang yang menggunakan ilmu hitam untuk menghancurkan orang lain!"


Mereka semua terdiam. Apalagi setelah mendengar terjadinya kesibukan di belakang rumah. Tanda warung tenda sudah mulai dirapikan dan ditutup. Semakin hari semakin malam saja tutupnya warung itu. Semakin banyak orang yang datang ke warung itu yang dibuka sampai menjelang jam sepuluh malam.


" Serahkanlah semua ini kepada Allah, Mbak Asti. Justru banyak orang baik yang juga selalu mau membantu Mbak Asti!" Ujar Bu Jum yang ikutan juga berbicara.


Biasanya pengasuh Akbar itu tidur paling lama jam sembilan malam. Sekarang hampir pukul 23.00, entah mengapa mata wanita paruh baya itu bertambah terbuka lebar, karena sangat tertarik dengan berbagai peristiwa yang terjadi di keluarga ini.


Ninuk jadi ikut merenung. "Aku jadi mau tahu alasan Mbak Zahra yang tidak tinggal di rumah dinas, Mas Satrio. Dosa apa yang akan didapatkannya setelah berbuat keji seperti itu? Main pelet suami orang! Coba aku tanya ke Mas Susanto aja, ya. Bu?"


" Jangan Ninuk! Pria itu sibuk dengan usahanya. Bukan seperti kita ini yang kaum perempuan, selalu suka mau tahu urusan orang lain!" Cegah Asti.


Kini semua orang bersiap - siap untuk tidur. Bulek Ratih akan tidur dengan Ninuk di kamar di lantai atas. Bu Jum juga memilih akan tidur di kamar lainnya di sana. Setelah dia menyadari ketakutannya itu tidak berguna.


Bahkan Pak Roh saja, sering tidur siang di sana. Hanya dengan mengelar kasur tipis. Setelah bekerja keras, menggurus taman samping juga kebun liar di sebelah rumah Asti. Agar jangan sampai ada ular atau binatang liar lainnya masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Tentu ruang dan kamar- kamar di lantai atas semakin aman. Mungkin selama ini dia membuat tidur Mbak Ning tidak nyaman karena ikut tidur di ranjangnya yang tidak terlalu lebar itu. Sebab Mbak Ning orang pertama yang bekerja di rumah ini, dan mendapat kamar di sebelah kamar Asti.


 -----


" Ibu nggak balik ke desa? Tumben..." ledek Ninuk . Sebab dia melihat pagi itu, Ibunya sibuk di dapur menyiapkan sarapan. Dibantu Mbak Ning.


" Mau diantar, Asti. Nanti! Sekalian belanja mingguan di pasar kecamatan."


" Ikut!" jerit Ninuk cepat. Dia Segera bersiap- siap naik ke atas kamarnya, setelah menyelesaikan sarapannya.


Dia takut kalau terlalu lama berganti baju dan berdandan akan ditinggalkan. Sebab dia hanya sendirian di rumah selama libur semesteran ini. Tanpa ada kegiatan apa pun. Yang kemarin saja dia harus memaksa Mbak Asti istirahat sejenak. Sebab Mbak Asti pun sehari- hari sibuk berjualan di pasar.


Pak Roh sudah selesai menyapu halaman belakang dan membuang sampah yang berasal dari warung tenda. Pria paruh baya itu sarapan di teras samping bersama Mas Yanto dan dua pegawai Joko Warung Tenda.


"Aku yang bawa mobilmu, Asti. Kalau mau nganter Ibu pulang!" Pinta Joko yang pagi itu sudah mandi, berpakaian rapi dan wangi. Cakep layaknya pengusaha rumah makan terkenal!


Asti menyerahkan kunci mobilnya, setelah melihat Joko yang memang berniat mengantar ibunya kembali pulang. Pasti mobilnya kali ini dipakai Mas Danu lagi, untuk menengok orang tua di desa seberang. Biasanya Mas Danu memakai mobil Joko itu untuk membawa ayahnya berobat secara rutin ke puskesmas di kelurahannya.


" Pakai stroller?" tanya Joko ketika melihat Bu Jum membawa masuk benda itu ke dalam bagasi. " Suruh jalan saja terus, Akbar sudah gede kan?"


Asti menatap anaknya yang sedang digendong Ninuk. Walaupun sudah bisa berjalan, tetap saja Akbar sering meminta gendong kalau dia merasa capek. Asti kasihan melihat Bu Jum yang sering kepayahan mengendong Akbar, karena berat tubuh anaknya itu terus bertambah, sejak berusia setahun lebih.

__ADS_1


Ninuk duduk di depan, di samping pak Supir. Dia malah memangku Akbar. Jadi para penumpang dapat diangkut semua dan duduk manis di bangku tengah.


Pasar cukup ramai menjelang liburan sekolah siang ini. Ninuk ikut masuk ke dalam pasar berbelanja dengan ibunya. Joko yang mengendong Akbar segera menuju halaman belakang pasar. Dia beralasan mau mencicipi masakan di Warung Yu Yemi yang banyak menyediakan aneka makanan rumahan yang nikmat.


Padahal Asti tahu, Joko menjauhi Dania dengan cara seperti itu. Sekedar untuk menunjukkan kalau dia hanya bersikap baik kepada orang lain. Jadi dia tidak mau lagi memberi harapan dan perhatian berlebih kepada penjaga toko pakaian muslimah milik Asti itu.


Tampaknya Joko mulai belajar bersikap dan memberi jarak. Segala kebaikannya selama ini hanyalah menghargai gadis itu yang masih ada hubungan kekerabatan dengan ibunya.


Bu Jum terpaksa ikut masuk mobil karena Akbar menangis. Bayi itu tidak mau ditinggalkan oleh Ninuk maupun Joko. Apalagi Neneknya, Bulek Ratih yang sangat sayang padanya. Mobil itu bergerak meninggalkan pasar menuju desa Sendang Mulyo.


Wajah Dania tampak suram, saat melihat Joko pergi dengan sikap yang sangat biasa saja. Malah terkesan datar. Asti pura-pura tidak melihatnya. Nanti jam tiga siang Joko akan menjemputnya untuk pulang.


Kesibukan menghadapi pembeli mengalihkan perhatian Asti sesaat. Biarlah Dania belajar menghadapi kehidupan mulai saat ini. Lebih baik seperti ini, merasakan sakit karena cinta yang tidak bisa dimiliki. Daripada dirinya yang dihempas oleh kenyataan pahit, karena bukan wanita yang dicintai oleh Satrio. Sehingga ikatan pernikahan dan hadirnya seorang anak, tetap saja dihancurkan oleh kehadiran wanita lain.


" Mbak! itu Mas Joko sudah datang menjemput!" Panggil Dania.


Awas juga mata anak perawan yang satu ini! Asti juga sudah memasukan semua uang setoran penjualan seminggu ini dari Dania. Dia akan berbelanja ke kota untuk membeli pernak- pernik berbagai keperluan untuk wanita berhijab dari atas rambut sampai ke kaos kaki.


" Aku tinggal, ya. Nia! Kunci toko dengan baik. Di tas kresek itu ada sedikit oleh- oleh kami dari Yogyakarta kemarin!"


Asti sengaja tidak memberi tahu kepada Dania. Selain ada sedikit makanan, dua buah kaos lengan panjang dengan tulisan Kota Gudeg itu. Ada juga amplop berisi uang sebagai imbalan untuknya karena kejujuran Dania dalam membuat laporan dan menyimpan uang penjualan itu dengan cermat.

__ADS_1


__ADS_2