Asti Gadis Pembawa Kutukan

Asti Gadis Pembawa Kutukan
Bab 122. Mencari Fakta


__ADS_3

Kebun di samping kanan rumah Asti sudah dibersihkan oleh bapak - bapak secara gotong royong pada hari Minggu. Rencananya tempat itu nanti akan dijadikan lahan parkir mobil dan juga dapat didirikan tenda tambahan untuk acara pernikahan Asti tiga minggu yang akan datang


Sebab lahan di sepanjang kiri ruko pun boleh dijadikan tempat parkir moto, karena sudah mendapat izin dari si pemilik tanah. Untungnya tempat itu pun sudah sering dibersihkan oleh Pak Roh apabila sudah terlalu banyak sampah daun yang bertebaran tertiup angin.


Biasanya Mbak Ning yang cepat tanggap soal menyiapkan konsumsi untuk warga yang sedang bergotong royong itu. Terkadang Dibantu Asti, mereka menyiapkan adonannya di pagi hari, sebelum Asti berangkat ke pasar jam 7.30.


Saat itu, Mbak Ning membuat pisang goreng, bakwan dan tahu isi untuk orang-orang yang bekerja bakti. Bu Jum akan membuat es teh manis sebagai penghilang ras dahaga. Es itu disediakan di termos besar dengan gelas- gelas plastik bertumpuk yang diletakkan di atas meja di depan rumah Asti.


" Pak RT, boleh Izin dibuat portal untuk jalan masuk di kampung ini?" tanya Joko.


" Untuk apa, Mas?"


" Jaga- jaga saja, Pak! Nanti kita tempatkan satu anak muda untuk membantu Mas Yanto di sini. Portal akan kita buat beroda agar dapat mudah dibuka tutup dengan cepat. Sebagai antisipasi terhadap tindak kejahatan, pak!."


" Boleh, Mas!"


Kebetulan masih ada roda yang tersisa ketika Joko membuat meja dapur dan kotak wadah gas elpiji 12kg untuk warung tenda. Dulu dia membuatnya benda itu diberi roda agar mudah dipindahkan, setelah warung tutup.


Tinggal minta tolong Pak Ayip, yang mempunyai usaha las di seberang ruko. Nanti roda dipasang di ujung portal penutup. Sedang tiang portal didapat dari sisa besi untuk palang pintu masuk dan keluar ruko.


Siangnya pekerjaan membersihkan kebun sudah selesai. Para bapak- duduk-duduk beristirahat di lahan yang sudah dibersihkan dari semak-semak dan tumbuhan liar berduri. Mereka asyik menikmati gorengan buatan Mbak Ning disela minuman es teh dingin. Terasa segar sekaligus menghilangkan lelah.


Sementara Pak Rob menebar garam krosok hampir 5 kilogram ke seluruh pinggiran kebun untuk mengusir ular. Terutama ular kecil yang berbisa. Takut membahayakan anak- anak atau warga yang sering melewati jalan di depan kebun itu setiap harinya.


Sementara Pak Ayip sedang bekerja menyambung dua tiang besi menjadi seukuran dengan lebar jalan di depan rumah Asti. Tiang itu dipasang dekat dinding ruko dengan kokoh.


Portal akan dibuka pagi hari sebelum pukul 05.00 dan akan ditutup malam hari. Kalau pun ada warga yang lewat di malam hari , anak muda yang memantau keamanan ruko akan cukup mengenalinya warganya. Sebab mereka sudah bertetangga bertahun- tahun lamanya, kecuali untuk pendatang baru.

__ADS_1


" Wow, ide Mas Joko boleh juga ini! Kampung kita aman," Seru Pak Sembodo ketika tiang portal sudah dipasang Pak Ayip. Portal mudah ditutup dan dibuka karena menggunakan roda. Jadi tinggal didorong saja. Tingginya pun hanya 50 cm.


Tak lama Joko mendapat pesan dari Mas Bambang. Ternyata si itu penguntit terus dicari oleh anak geng motor dengan usaha yang sangat keras. Bahkan tak sampai tiga hari, mereka sudah dapat melacaknya keberadaan pria iseng itu.


Motor itu berasal dari salah satu penghuni rumah di kompleks tempat tinggal Satrio. Joko menatap foto kaki Satrio yang dikirim Barep setelah mendapatkan fakta di lapangan. Jadi tak mungkin mantan suami Asti melakukannya. Lelaki itu agaknya mengalami patah tulang kakinya akibat menzolimi mantan istri dan anaknya itu. Karena dia mengalami cacat permanen pada kakinya akibat kecelakaan motor beberapa bulan sebelumnya. Jadi siapakah orang yang naik motor sport itu untuk menyelidiki rumah Asti?


Pada saat ini, sangat lazim pengendara motor mengunakan helm full face, juga bermasker. Jadi Joko belum bisa mengenali wajah orang itu. Sudah saatnya dia bergerak kembali ke kota itu.


" Mau jenguk kita, Bro? Aku tunggu!" Jawab Bambang ketika mendengar Joko akan datang ke kota mereka.


Pagi harinya, Joko mengajak Firman untuk ikut dengannya pergi ke kota sebelah. Sengaja dia meminjam mobil Asti untuk menyamarkan kedatangannya ke kota itu. Dia punya alasan kuat untuk datang ke kompleks perumahan dinas itu. Terutama menemui Ibu Anggita.


Tentu saja Ibu si kembar sangat senang dengan kedatangan Joko ke rumahnya itu. Dua bulan yang lalu, suami Bu Anggita pernah mampir ke warung tenda. Setelah beliau pulang dari Yogyakarta menuju ke rumahnya. Dia datang ke warung bersama keponakannya istrinya yang seorang Dokter muda. Mereka makan di warung itu untuk melepaskan lelah sekaligus ngobrol sampai lama lama dengan Joko dan beberapa pekerja di sana.


" Masuk Mas Joko!" sapa Bu Anggita dan Eyang Uti ramah. Firman sampai bengong menatap kecantikan wajah ibu dari dua anak kembar itu yang wajahnya mirip artis film Indonesia yang terkenal cantik dan awet muda.


Firman tertunduk malu. Sebab begitu canggung berhadapan dengan Ibu Anggita yang tertawa geli melihat ulahnya.


" Ada kabar apa Mas Joko sampai sudi mampir ke rumah kami?" tanya Ibu Anggita.


" Ini, Bu Anggita, Eyang Uti. Asti berencana mau menikah pada tanggal 27 nanti. Kalau ada waktu luang mohon datang ke rumah Asti yang di Simpang Tiga."


" Lho, ini beneran, Toh? Bukan hoax, kan? " Ujar Eyang Uti gembira.


" Maaf, kamu tidak mengunakan kartu undangan yang selazimnya. Sebab Asti hanya ingin mengadakan syukuran saja. Sebagai doa saja agar pernikahannya kali ini berjalan langgeng."


" Aamiin!" seru Ibu Anggita cepat.

__ADS_1


" Katakan pada Asti, kami akan datang. Ini privat party, ya? Tentu tidak akan saya sebar kemana pun."


" Sebenarnya juga bukan rahasia juga, Bu! Hanya Asti kurang enak menyebarkan berita bahagia ini, kalau didengar oleh orang tertentu, terutama keluarga Satrio yang baru. Baginya, asalkan pernikahan itu sah karena tercatat di KUA dan diakui negara!"


Secara gamblang Ibu Anggita itu juga menuliskan beberapa nama temannya yang dekat dengan Asti, untuk ikut datang ke acara pernikahan itu. Tentu Asti tidak keberatan bila Ibu Anggita akan mengajak Mbok Bayah, Ibu Imelda dan orang - orang yang ada di kantor firma hukum itu.


" Maaf, sebelumnya Bu Anggita. Apa Satrio masih bertugas di kota ini?"


" Masih, Mas Joko! Malah dia hanya ditempatkan di kantor saja. Tidak lagi bertugas di lapangan. Sebelah kakinya masih ditopang dengan kruk! Kemarin saja Satrio menolak dirujuk ke rumah sakit besar di Semarang. Karena ada bagian pada tulang di kakinya yang tak tersambung sempurna pada operasi sebelumnya. Jadi mau di operasi ulang. Hanya saja, biaya tidak bisa dicover dari instansi. Terlalu mahal!"


" Apa ada penghuni lain di rumah itu. Kok, Kelihatannya agak sepi?"


" Ada banyak orang di sana, Mas... Hanya saja semakin lama rumah itu semakin menakutkan bagi kami. Zahra melahirkan bayi yang mengalami cacat karena kepalanya agak membesar beberapa bulan ini. Ada ibunya Zahra dan seorang perempuan yang mengurus rumah dan bayinya. Juga ada sepupunya Zahra yang dulu mengantar dan menjemput Satrio bekerja dengan menjadi sopirnya. Sebab Satrio masih menggunakan tongkat untuk berjalan!"


Firman dan Joko bertatapan. " Apa sepupunya Zahra itu suka menggunakan motor sport hitam, Bu?"


"'Ma, motor hitam besar itu punya Ryan bukan?" tanya Ibu Anggita pada ibunya, Eyang Uti.


" Ryan sepupunya Zahra? Iya kayaknya." Jawab Eyang Uti tanggap. " Suaranya motornya itu, lho. Mas Joko! Menggelegar bikin kaget semua orang. Untung saya nggak jantungan. Padahal di rumah itu juga ada bayi.."


" Kata pak penjaga keamanan di masjid depan, Ryan pernah dicegat gank motor di tengah kota. Jadi ribut - ribut di depan kompleks." kata Ibu Anggita lagi.


" Entahlah dengan keluarga itu, selalu saja membuat masalah. Dulu Zahra yang menginap di rumah itu walaupun Satrio masih berstatus suami Asti. Sekarang anak muda yang lontang- lantung dengan motor mahalnya itu buat perkara dengan anak-anak muda di kota ini."


Laporan Ibu Anggita sudah cukup jelas bagi Joko. Mereka pamit pulang. Bersamaan dengan si kembar yang berlarian pulang dari sekolahnya. Kedua anak kembar itu memeluk Joko erat karena sudah lama tidak pernah bertemu dengannya.


" Nanti ke rumah Akbar, ya? Main sama Akbar di sana."

__ADS_1


Ibu Anggita mengangguk setelah menyuruh wanita muda itu membawa si kembar masuk ke dalam rumah dan berganti baju. Namun si kembar bertahan di teras depan untuk melihat kepergian Joko yang kali ini membawa mobil Honda Jazz merah milik Asti.


__ADS_2