
" Mas, Mas Leon. Bangun!" Panggil Asti lembut.
Wanita itu agak ragu-ragu membangunkan lelaki yang sekarang ini sudah menjadi suaminya itu secara lahir dan batin.
Waktu sholat Subuh sudah hampir usai. Namun suara lembut Asti bukannya membuat Leon terbangun. Malah baginya , terasa seperti buaian yang meninabobokannya tidurnya yang sesaat. Sampai tangan Asti mengguncang bahu Leon agak sedikit kuat.
" Ya, ada apa sayang?" tanya Leon dengan suara parau, khas orang yang bangun tidur. Tak lama dia terpana memandangi wajah ayu sang bidadarinya di pagi ini.
" Ayo, cepat bangun, mandi dan segera sholat Subuh!" Perintah Asti pelan tetapi tegas.
Leon terkaget-kaget mendengar suara Asti yang terdengar jengkel. Karena usaha membangun lelaki itu hampir gagal. Namun Leon lupa, kalau dibalik gulungan selimut yang menyelubungi tubuhnya itu, tak ada secuil kain pun untuk menutupinya.
Lelaki itu bergerak sangat cepat dan segera bangun dari ranjang yang menjadi tempat ternyaman selama hidupnya ini. Gerakan tergesa-gesa Leon, malah membuat selimut itu merosot dan hampir memperlihatkan seluruh tubuh kekarnya yang polos.
Asti cepat menutup kedua matanya. Tetapi bunyi pintu kamar mandi yang ditutup di depannya, seperti memberi tanda kalau suaminya itu sudah berada di dalam sana.
Sejenak dia menghembuskan napasnya. Lega... Asti masih berusaha menenangkan irama jantungnya yang begitu kuat, memukul dadanya. Cepat dia mengambil selimut yang teronggok di lantai depan kamar mandi. Tangannya segera merapikan seprei yang acak-acakan. Juga bantal dan guling yang sudah berjatuhan dari ranjangnya yang berukuran king size itu.
Belum sempat Asti merapikan sisi lain di tempat tidurnya, yang memperlihatkan pertempuran mereka yang cukup hebat dini hari tadi. Leon sudah keburu datang, setelah menyelesaikan mandinya paginya yang super kilat. Kini, sehelai handuk berwarna merah dan berukuran agak besar melingkari pinggangnya.
" Yang, mana pakaian gantiku?" panggilnya agak manja.
Haduh, selain kaget, mata Asti hampir saja teralihkan dengan kehadiran lelaki ini. Leon berdiri di hadapannya, dengan memamerkan dadanya yang terbuka, basah dan menyebar harum segar berbau mint dan kayu cendana.
Tanpa berkata apapun, Asti segera membuka pintu lemari yang ada di sampingnya itu... Wanita itu mengambil beberapa potong pakaian milik Leon yang tadi malam sudah ditatapnya rapi pada rak-rak di dalam sana. Ada ****** *****, t-shirt, celana panjang katun dan sebuah baju koko biru.
Asti menggelar sajadah di ujung ruangan yang lantainya sudah dilapisi karpet. Setelah dilihatnya Leon bersiap untuk melaksanakan sholat wajib yang dua rakaat itu, dia mulai menyingkir.
Langkah Asti agak pelan ketika dia meninggalkan kamar ini, sambil menutup pintu kamar itu dengan hati- hati . Lelaki itu tersenyum puas setelah selesai melaksanakan kewajibannya ini. Sesuatu yang pernah diungkapkan pada calon istrinya itu, kalau dia mempunyai kekurangan dalam ilmu pengetahuan agama Islam. Juga kurang memadai menjalankan sariat agama yang dianutnya itu sejak dia mulai remaja.
Suara - suara di dapur juga sudah ramai dengan sedikit percakapan. Juga bunyi- bunyian di atas kompor dua tungku yang menyala dengan panci dan wajan di atasnya. Di sana ada Bu Jum, Mbak Ning dan Asti bahu- membahu menyiapkan sarapan di pagi hari ini.
Bahkan kehadiran Pak Leon di bangku ruang tengah, seakan sudah menjadi pemandangan yang akan terbiasa mereka lihat mulai hari ini dan seterusnya.
__ADS_1
" Mbak Asti, Pak Leon mau dibuatin minum apa, itu?" Bisik Mbak Ning memberitahu tugas Asti selanjutnya sebagai seorang istri dari pria itu.
Agak canggung, Asti menghentikan pekerjaannya yang sedang memotong sayuran. Dia berjalan menghampiri pria itu. " Mas, mau dibuatin apa. Kopi atau teh?"
" Kopi saja, Yang. Tetapi jangan terlalu manis, ya?" Mata Asti menatap wajah santai pria itu seakan dia ingin menanyakan sesuatu . "Yang manis itu kan kamu!" ujar si suami itu dengan pandangan menggoda. Duh Gusti!
Bisikan penuh rayuan gombal itu langsung memerahkan kedua pipi Asti. Lelaki itu melihat betapa istrinya itu menjadi tersipu-sipu malu, hanya karena pujiannya yang tak seberapa. Rasa sayang dan cintanya semakin besar setelah Pak Leon melihat keseharian Asti di dapur dalam beberapa kali kunjungannya ke rumah ini, sebelumnya.
Mungkin cintanya harus diuji dulu dalam beberapa bulan yang lalu. Setelah melihat Asti yang berusaha bersikap sopan tetapi tetap menjaga jarak. Apalagi setelah Corinne datang ke rumah ini secara membabi buta, tanpa ada hujan.
Mantan istrinya itu mencari dan menyalahkan Asti. Entah setan manakah yang telah berbisik kepada Corinne itu? Tentang adanya wanita lain, di kehidupan pernikahan sebelumnya. Jadi dia tidak terima dan sakit hati, diceraikan Leon secara sepihak!
Padahal perceraian mereka sudah diputuskan hakim sebulan sebelumnya. Sidang itu berjalan sangat cepat, sebab Mbak Mesya sudah menyiapkan pengacara handal untuk perceraian adiknya itu. Kakak pertama Leon itu juga telah mendapatkan bukti perselingkuhan Corinne dengan seorang pejabat muda yang berkantor di Surabaya.
Tampaknya kemunculan nama Almira yang didengar Corinne, setelah jatuhnya ikrar talak perceraian mereka... Corinne pun nekat pergi dari Jakarta, untuk mencari seorang wanita yang telah membuat Leon berpaling. Apalagi Leon juga tidak mengabulkan harta gono-gini yang dituntut mantan istrinya itu. Dengan tuduhan melakukan selingkuh dan berzinah, kesalahan Corinne jadi sangat fatal di mata hakim yang memimpin sidang mereka di Pengadilan Agama.
Bagi Leon, Almira bukan Asti! Itulah penilaian Leon setelah team kantor pusat yang diketuainya, bekerja sama dengan Almira selama sebulan penuh. Pekerjaan itu untuk menyiapkan sebuah both di gedung yang menjadi ajang sebuah pameran perumahan terbesar di Jawa Tengah.
Mas Pandu mengikut sertakan perusahaannya itu dalam kegiatan itu dengan menyertakan berbagai hasil proyek pembangunan perumahan dari perusahaan mereka. Termasuk proyek terbaru yang juga sedang digarap Leon. Sebuah perumahan kelas menengah, di Barat desa Sidodadi. Desa tempat tinggal Asti sekarang.
Almira terlihat lebih modern dan bersikap bebas dan sedikit bergaya dengan fashion yang dikenakannya.
Gadis itu lebih berani lagi dalam menyampaikan pendapatnya. Tak peduli kalau orang yang dia tentangnya itu adalah orang yang sudah berpengalaman dalam bidangnya, dan seorang pakar dalam desain interior di kantor pusat
Padahal di dalam team kerja itu hampir semuanya didominasi kaum pria. Semua pria itu adalah lulusan terbaik dari kampusnya. Juga sudah bekerja lebih dari setahun di kantor pusat, yang dipimpin oleh Mas Pandu.
Mungkin karena Almira terbiasa berkompetisi sejak SD untuk mendapatkan beasiswa, dan dapat melanjutkan pendidikannya sampai menjadi lulusan terbaik di SMA- nya. Gadis itu pun berhasil menempuh pendidikan tinggi di sebuah kampus bergensi di Yogyakarta dan meraih gelar sarjana.
***
Kesibukan Asti bertambah karena dia punya mempunyai kewajiban baru, menggurus seorang suami. Walaupun sudah dua orang yang bekerja di rumah ini. Mereka hanya sekedar membantunya untuk meringankan pekerjaannya sebagai ibu rumah tangga. Tetap saja Asti adalah seorang ibu untuk Akbar, dan seorang istri bagi Leon Narendra Murti.
Makanan itu segera diletakkan di meja makan. Di halaman samping mulai ramai terdengar suara- suara berbagai percakapan dari Joko dan pekerja di warung tendanya.
__ADS_1
Tampaknya mereka semua kembali pada kesibukkan masing-masing. Seperti air yang mengalir , mengikuti arusnya untuk mencapai muara.
Begitulah kehidupan manusia, sudah ada garis hidup yang diatur oleh Yang Maha Kuasa. Tinggal kita yang menentukan langkah dan nasib kita sendiri menurut jalurnya.
Suasana rumah semakin hangat ketika Akbar sudah terbangun. Asti tadi yang melihat keadaan Akbar di kamarnya.
Pak Leon juga memindahkan kegiatannya di ruang tamu. Dia sibuk bertelepon dengan asistennya dan mandor di proyek itu. Di meja, ada tumpukan laporan yang harus diperiksanya.
Akbar sudah dimandikan Asti. Sambil memakaikan baju, Asti mengajaknya bercakap-cakap. Anak itu sudah menghabiskan separuh dari berbagai obat yang kemarin ditebus Pak Leon di apotek yang ada rumah sakit itu.
" Akbar di rumah dulu, ya? Sama ibu... Sampai Akbar sehat betul. Baru kita ke pasar, ke rumah Mbah No, juga nengok Mbah Kakung di Semarang .."
Bocah lelaki itu dengan cepat menghabiskan suapan nasi terakhirnya. Bu Jum segera mengambil alih Akbar setelah wanita itu juga selesai sarapan.
" Sudah selesai semua Mbak Ning?" tanya Asti di dapur.
Sayur bening bayam jagung sudah dipindahkan ke mangkok. Di sana juga ada nasi goreng komplit. Ada sisa masakan oseng- oseng daging. Nasi putih hangat tersedia di magic com. Juga telur dadar yang dibumbui lengkap dengan irisan daun bawang, bawah merah dan putih juga sedikit terigu.
Kata Ninuk , telur dadar seperti itu biasanya disebutnya omelette. Sebab Asti sering membuat dadar seperti itu dengan campuran isinya yang lebih lengkap lagi. Bahkan dengan menambahkan kornet.
Leon tentunya juga sudah merasa lapar, ketika dia melihat Asti sedang menata semua makanan di meja. Wanita muda itu sudah menyiapkan piring, sendok dan gelas yang telah diisinya dengan air putih.
" Ambil makan sendiri dulu, ya. Mas! Aku mau bujuk Akbar minum obat!"
Mbak Ning sudah memanggil Mas Yanto dan Pak Rob untuk ikut sarapan bersama. Tak ada kemewahan di sana. Tetapi kedua pria itu sudah mandi dan berganti pakaian bersih. Mereka agak sungkan makan bersama Pak Leo di atas satu meja. Akhirnya Asti yang menemani suaminya makan.
" Nanti sore kita bawa Akbar untuk kontrol ke dokter, ya?"
" Nggak usah, Mas! Dia kelihatanya juga sudah baik - baik saja, kok. Makanannya juga sudah dihabiskan..."
" Oke, Aku mau pantau proyek pembuatan jembatan dulu. Aku usahakan untuk makan siang di rumah!" Kata Pak Leon ketika pamit bekerja.
" Saya izin juga ke toko, ya? Mau lihat orderan yang dipesan Puspita kemarin!" Kata Asti meminta izin kepada suaminya.
__ADS_1
Izin Leon dengan mudah diberikan, sebab dia percaya Asti akan menjaga diri dan kehormatannya. Wanita itu tetap berjualan karena Leon mengizinkan. Sebab dengan berjualan itulah dia dulu bisa menghidupi Akbar, dan mengaji orang - orang yang bekerja di rumahnya.
Toko adalah usaha yang diberikan almarhumah Bude Ayu, agar Asti tetap berada dekat dengannya. Takut keponakannya ini pergi jauh meninggalkan warisan dan tanah leluhurnya... Karena dia pikir , Asti yang masih muda lebih tertarik dengan gemerlapnya kehidupan di kota besar.