
Sejak mendengar berita dari Asti tadi, kedua wanita itu jadi heboh sendiri. Saat Asti berada di kamar Akbar, kedua wanita itu beranjak ke halaman samping. Para pemuda itu juga masih membicarakan topik yang sama... Dania yang tertangkap dengan seorang laki-laki yang merupakan satu dari lima orang yang merupakan tersangka dari pembobol toko di pasar kecamatan itu.
" Berita ini sudah ramai juga, ya?" tanya Bu Jum ragu- ragu.
" Ramai banget, Bu Jum! Orang satu pasar sudah pada tahu semuanya ... Tadi Joko ke kantor Polsek sama Mas Danu. Mau mencari informasi yang akurat!" Seru Mas Kancil.
" Karena belum yakin dengan berita itu , Mas Firman tanya sama adiknya dong. Puspita malah melihat pasangan itu yang ditahan di kantor kepala pasar. Kalau mereka melawan, bisa habis dikeroyok orang satu pasar itu."
Ucapan Kancil itu menjadi perhatian para pendengar setianya. Sebab mereka juga sudah kesal dengan semakin banyaknya anak - anak muda nongkrong di dekat alun-alun kecamatan. Mereka yang tidak jelas asal-usulnya itu hampir tiap malam berada di sana dan sering membuat keributan.
Kehadiran anak- anak dengan berpakaian ala Punk Rock itu semakin membuat wilayahnya itu menjadi terlihat kian kumuh.
Ujung alun- alun yang Kecamatan yang dulu dibangun taman dengan menghabiskan dana yang sangat besar itu sekarang terbengkalai. Halaman rumputnya pun menjadi semak- semak yang tumbuh liar. Bahkan beberapa patung penghias di taman sudah copot dengan bentuk yang tak karuan.
Mbak Ning masih menikmati kue buatan ibunya Kancil, yang dibawanya dari desanya pagi tadi. Sebenarnya nama pekerja di warung tenda itu adalah Rano Subiantoro. Karena perawakannya tubuhnya yang masih saja kecil walaupun sudah dewasa , ditambah kulitnya yang gelap. Banyak orang yang memanggil dengan nama sebutan kancil.
Itu adalah nama sejenis bintang seperti rusa yang badannya lebih kecil dengan kulit sedikit gelap. Kancil ini biasanya untuk sebutan nama orang yang cerdik dan banyak akal.
Kedatangan Pak Leon sudah ditunggu Akbar yang telah makan dan mandi sore. Pria itu hanya sempat mencopot sepatu dan kaos kakinya, ketika Akbar datang memeluknya
" Ayah!" Panggilnya lucu.
Gemas Leon mengangkat bayi gemoy itu di atas kepalanya. Ada tawa ceria dari bibir bocah tampan itu, ketika tangan bayi itu sampai menyentuh lampu hias di ruang tengah. Lampu itu dipasang agak lebih panjang tangkainya dari plafon untuk menambah estetika.
Sekarang Leon menciumi perut Akbar yang bulat. Sampai anak itu terkekeh kegelian. " Sudah?"
" Sudah!"
Ucapan - ucapan orang dewasa itu sudah ditiru Akbar dengan jelas. Beruntungnya, lingkungan di rumah ini adalah orang-orang dewasa yang berbicara lembut dan sopan. Walaupun semuanya berasal dari desa. Apalagi Asti yang sangat menjunjung tata krama dalam pergaulan dan agama.
" Ayah mau mandi. Akbar ikut sama ibu dulu, ya?"
__ADS_1
" Ndak!" tolak Akbar kekeh. Tampaknya dia masih ingin bermain dengan ayah barunya itu.
Bu Jum dengan cepat turun tangan. Sebab dia tahu, Pak Leon sudah hampir seharian berada di proyek pembangunan itu. Selain lelah juga tubuhnya kotor terkena debu, pasir dan udara panas menyengat.
Pria itu tetap mengawasi berbagai fasilitas yang sedang dikerjakan di proyek pembangunan perumahan itu. Kalau lengah sedikit saja, akan merugi ratusan juta rupiah. Sebab semua proyek itu dikerjakan untuk melengkapi berbagai fasilitas di perumahan itu, yang semuanya itu memerlukan dana yang sangat besar.
Asti menyiapkan semua keperluan Leon di atas ranjang. Biasanya istrinya itu akan menuju dapur untuk melihat persiapan Mbak Ning yang akan masak untuk makan malam.
" Terimakasih, Sayang!" Bisik Leon sambil mengecup kedua pipi istrinya yang menghangat.
Benar kata orang, Asti termasuk wanita yang kurang lihai dalam menggoda lawan jenis. Padahal dia sudah pernah menikah dan punya anak. Kata orang, dia adalah gambaran perempuan Jawa yang didik oleh orang tua dan adat yang berlaku, agar menjadi istri yang patuh dan nrimo terhadap suaminya.
Sebenarnya wajah Asti yang cantik itu bisa menjadi modal utama baginya untuk menggoda perhatian para pria mapan lainnya. Namun Asti justru menjauhi kaum pria setelah berstatus janda. Pernikahannya yang gagal itu memberinya banyak pelajaran berharga bagi langkah hidupnya saat itu.
Kecantikan wajah seperti Asti itu agak jarang dimiliki oleh perempuan Jawa pada umumnya. Kecuali mereka yang terlahir dari orang tua yang mempunyai darah percampuran dari daerah di Indonesia atau negara lain. Sebab selain hidung Asti yang mancung, kulitnya putih dan mulus. Sedangkan matanya sangat ekspresif, besar dan coklat gelap menggambarkan isi jiwanya.
Meskipun Pak Leon tahu, Asti selalu merawat wajahnya itu dengan skincare yang bermutu cukup baik. Wanita itu hanya memulas wajahnya dengan bedak tipis dan lipstik warna nude, bila keluar rumah. Sehingga seluruh penampilan Asti yang sederhana itu bagi orang lain terlihat biasa- biasa saja. Kecuali dirinya yang menjadi teman hidupnya dalam beberapa minggu ini. Istrinya itu cantik luar dalam.
Anak buah Joko akan bergiliran makan. Apalagi kalau sudah ada pembeli yang datang. Seperti Mas Danu yang akan makan lebih dulu sebelum sholat untuk memberinya banyak tenaga... Sebelum berperang dengan kompor panas dan alat- alat masak di depannya beserta bumbu dan berbagai bahan makanan yang diolahnya sesuai menu.
Kancil yang akan mengurus pembayaran atau kasir sambil berjaga dengan stok bahan makanan, bumbu dan cucian piring kotor. Joko yang akan memantau semuanya. Termasuk menerima komplain dari pelanggan. Dari pelayanan yang kurang cepat, minuman dingin yang tidak sesuai dengan permintaan. Sampai saos , kecap dan sambel di meja mereka yang habis.
" Yang, Pak Cakra dan Damar mau gabung makan malam di sini, boleh?"
" Boleh aja, Mas... Hitung aja, ya. Mbak Ning! Satu porsi sepuluh ribu sampai lima belas rupiah... Nanti Si Bos yang bayar!" Ledek Asti.
Leon tertawa geli. Karena masakan Mbak Ning yang enak, biasanya mereka sering nambah lagi. Maklum kerja di lapangan, tenaga banyak terkuras sehingga memerlukan makan dan energi yang lebih banyak lagi.
Setelah selesai sholat , Pak Leon dan dua asistennya sering berdiskusi di ruang tamu. Kadang Akbar pun ada di antara mereka. Sampai bocah itu terkantuk- kantuk di pelukan salah satu dari pria itu.
" Ini, calon insinyur kita!" bisik Leon sambil mengecup pipi gembul Akbar. Rasa sayang mereka terhadap Akbar semakin besar saja. Apalagi Akbar juga mau saja digendong siapa saja. Anak ini sepertinya lebih suka bergaul dengan pria manapun.
__ADS_1
Asti sudah menyiapkan cemilan untuk mereka. Juga satu teko keramik yang berisi kopi susu buatan Bu Jum yang dapat menenangkan hati dan tubuh.
" Bu Jum, ini Akbar sudah bobo. " panggil Pak Cakra. Bayi yang terlelap itu digendong Bu Jum untuk ditidurkan di kamarnya.
Warung tenda semakin ramai. Walaupun bukan malam Minggu. Tiba-tiba ada serombongan perempuan muda yang tinggalnya tidak jauh dari rumah Dania, datang ....
Ternyata mereka juga sudah mendengar berita penangkapan itu. Tambah ramai juga obrolan mereka, karena berita itu sudah menyebar dari satu teman, ke teman lainnya lewat postingan berita di medsos.
Joko terkejut. Berita itu sudah viral di tangan para kaum muda masa kini yang sangat mudah menerima kemajuan zaman. Termasuk mengoperasikan teknologi seperti handphone.
" Mas, sudah seramai ini, soal penangkapan Dania dan pacarnya itu?" bisik Mas Danu pada Joko.
Tadi di kantor polisi mereka hanya ditemui oleh anak buah Pak Hermawan saja. Sebab Pak Bos, mulai sibuk menggurus kedua orang itu, untuk ditindaklanjuti perbuatan mereka.
Pak Nasrun, wakilnya Pak Hermawan cukup bersimpati ketika tahu, semua info pembobolan toko itu didapat dari rekaman CCTV dari toko Asti, karena bantuan Joko.
" Maaf, Mas Joko tahu nama dan alamat kedua orang tua Dania?"
" Tahu, Pak!" jawab Joko. Dia menuliskan alamat rumah Dania juga nama kedua orangtuanya.
Dari balik jendela ruang pemeriksaan, terlihat wajah Dania terus tertunduk lesu... Lainnya halnya dengan pria muda yang ada di sebelahnya. Wajahnya agak menyeramkan seperti ada aura gelap yang menyelubunginya . Ada anting besar di telinga kanannya.Juga ada sebuah tato yang pernah Joko lihat sebelumnya di leher kanan pemuda itu. Seperti gambar berbentuk burung dengan sayap terbuka lebar.
" Boleh Izin, Pak. Tolong saya minta foto wajah yang laki-laki itu boleh? Sebab saya pernah lihat tato itu yang sama, pada orang lain yang saya temui di jalan. Apakah mereka masih satu gerombolan dengan dia atau bukan. Nanti saya akan cari informasinya!"
Pak Nasrun membawa kamera Joko dan mengambil foto si laki- laki dengan cermat. Joko segera mengirim foto wajah itu kepada Bambang dan Barep. Tak lama muncul balasannya dari teman baiknya itu.
" Nih, Pak. Tolong beritahu kepada Pak Hermawan. Teman-teman mereka masih berada di markas di kota ini" Joko menyebutkan sebuah kota kecil. " Ini dari Joko Winangun anak Pak Sarno." Pesan Joko pada petugas kepolisian itu.
Mereka pamit dari kantor polisi di dekat kantor kecamatan itu. Bambang sudah lama memantau pergerakan gank motor yang satu ini. Karena perbuatan mereka itu sangat meresahkan masyarakat di sana. Juga membuat jelek kalangan anak gank motor lain yang hobi dengan kendaraan roda dua itu.
Tangan yang berwajib mungkin yang hanya dapat menumpas gerombolan mereka karena tindakan mereka sudah termasuk perbuatan kriminal.
__ADS_1