
Leon sekarang menjadi pria yang sangat penyabar. Dengan adanya dua orang anak yang masih kecil-kecil dalam kehidupan rumah tangganya, Leon memaklumi kerepotan Asti dalam menjalankan perannya sebagai istri dan ibu rumah tangga. Namun ternyata Asti selalu berusaha memenuhi semua keperluan dan kebutuhan sang suami terlebih dahulu.
Di kantor, pekerjaan Leon juga semakin banyak... Sehingga dia tidak hanya dibantu oleh dua orang asisten untuk urusan di lapangan. Juga bantuan Joko dan Dimas di kantor. Mereka menggurus berbagai hal, dari surat menyurat, laporan sampai berbagai keperluan pribadinya. Seperti membawakan makan siang dari rumah, bila tak sempat pulang.
Pekerjaan Asti sehari-hari mengurus kedua anaknya dibantu Bu Jum dan Putri. Setiap pagi, Asti harus menyiapkan dua menu berbeda untuk sarapan, untuk orang dewasa dan untuk anak-anaknya.
Semua perempuan di rumah itu bahu membahu setiap pagi di dapur dan di ruang keluarga. Sehingga tidak banyak drama yang terjadi di ruang makan dan dapur, di setiap paginya. Semua sudah rapi dan beres setelah Pak Leon berangkat ke kantor.
Lainnya halnya, dengan mini market milik Asti yang prospeknya semakin hari semakin bagus. Nilai penjualannya sangat tinggi, untuk kebutuhan barang - barang seperti sembako. Setiap minggu mobil boks datang dari dari mini market pusat, yang membawakan stok barang sampai jumlahnya sangat banyak. Bisa puluhan kardus yang mereka kirim.
Akbar sangat senang bila diajak ibunya datang ke mini market itu. Walaupun satu dua makanan dapat diambil anak itu, tetapi tetap dalam pengawasan sang ibu. Mereka sampai menambah dua pegawai baru lagi atas usul Ibu Dewi.
" Mbak Asti, ada tamu! Mereka juga mencari Pak Leon juga !" Lapor Bu Jum siang itu.
Asti segera pamit kembali ke rumah nya kepada para pegawai mini market di sana. Qani masih berada dalam gendongannya. Bu Jum segera mengandeng tangan Akbar yang takut ketinggalan dengan langkah ibunya yang agak terburu-buru.
" Siapa tamunya, Bu Jum?" tanya Asti setelah mereka sampai di dekat pintu penghubung antara ruko dan halaman samping.
" Ada empat orang, Mbak! Dua pria dan dua wanita... Satu perempuan muda berhijab , seperti yang pernah kita temui di restoran sewaktu di Solo itu, Mbak. Sebab wanita itu berhijab dan memakai cadar!"
Deg! Dada Asti langsung seperti kena hantam palu. Agak kaget dan kurang nyaman rasanya dengan berita ini... Di rumah, siang ini Mbak Ning dibantu Putri sibuk menyiapkan makan siang dalam porsi yang lebih banyak .
Biasanya Leon akan mengundang para asisten, pegawai di kantor dan beberapa mandor untuk ikut makan siang bersama di rumah, di hari Sabtu. Sekalian berdiskusi tentang kendala yang mereka temui di proyek pembangunan maupun di kantor saat para tamu datang untuk survey ke lokasi proyek. Pak Leon membiasakan merek berdiskusi l secara bebas dan kekeluargaan di rumahnya ini.
Leon sangat menghargai para pekerja dan anak buahnya yang tetap bekerja di hari Sabtu dan Minggu. Walaupun mereka hanya masuk kerja setengah hari. Sebab mereka juga harus menyelesaikan target untuk pemasaran tahap ketiga.
Bu Jum langsung mengambil alih Qani. Sebab wanita paruh baya itu mengenali sosok seorang wanita yang berhijab lebar dan bercadar itu, di antara ketiga tamunya yang lainnya. Takut timbul permasalahan lagi! Meskipun Mbak Asti biasanya mampu menghadapi segala apa pun... Apalagi sekarang mereka berada di rumahnya sendiri. Selain banyak orang di bangunan tambahan yang menjadi basecamp para pegawai warung tenda. Para ART pun siap mendengarkan dan berjaga di ruang tengah dan dapur.
" Assalamualaikum!" sapa Asti saat menemui mereka di ruang tamunya. Tentu saja Putri sudah menghidangkan teh manis hangat dan sedikit cemilan dalam dua toples kecil. Semua sudah di letakkan di meja tamu yang lebar di sana.
" Wa Alaikum salam, " Jawab mereka hampir bersamaan.
__ADS_1
Di ruang tamu itu, Asti mengenali sosok Mas Qosim, pengusaha muda yang tadinya akan diajak bekerja sama dengan Leon. dalam proyek tahap tiga. Sedangkan yang lainnya, adalah seorang pria dan wanita paruh baya itu yang terlihat sangat sopan dan sangat bersahaja penampilannya.
Asti sedikit agak susah mengenali wajah wanita yang bercadar itu lewat tatapan matanya yang sangat tajam. Yang pasti dia bukan Almira!
" Bu Asti, maaf! Kedatangan kami ini agak menganggu kebersamaan ibu dan keluarga...Sebab kami datang pada waktu yang kurang tepat! Perkenalkan... ini Orang tua Nurwati Fatimah!" ucap pria itu perlahan tetapi jelas.
Asti hanya menerima uluran tangan dari wanita yang lebih tua itu. Genggaman tangannya terasa hangat dan menuntut perhatian. Sedangkan si anak dan si bapak hanya mengatupkan kedua tangannya mereka di depan mulut, tanda mengucapkan salam perkenalan tetapi tak mau bersentuhan tangan.
" Soal yang Nur lakukan, waktu itu... Kamu mohon maaf yang sebesar-besarnya !" ujar wanita paruh baya, yang tadi memperkenalkan dirinya dengan sebutan Ibu Atiek
" Iya, Nak Asti... Salah besar kalau Nur dan Almira menyerang mu tanpa alasan yang masuk akal!" ujar sang bapak juga buka suara.
" Saya menerima permintaan maaf itu... Tetapi apa Mbak Nur,
nggak bisa mengucapkan sendiri kata maaf itu kepada saya? Baru kali ini, lho. Saya dicaci maki orang yang nggak saya kenal!" Kata Asti kesal. Ini yang salah siapa? yang minta maaf malah orang tuanya.
" Bukan, begitu! Maksud saya... Nur terlalu malu untuk melakukannya!" Jawab si Ibu penuh diplomasi.
" Kok enak benar ngomongnya, ya? Sedangkan saat Mbak Nur mencaci maki saya di tempat umum saja tidak malu! Apa Mbak Nur yakin, kalau teman yang Mbak bela itu adalah orang yang sudah bertindak dengan benar? Jangan-jangan nasib Mbak sama seperti saya! Kena prank oleh Almira! Kata-kata manis Almira yang penuh racun kebohongan, semuanya dilakukan untuk mengamankan kepentingan pribadinya!" Jelas Asti tegas.
Wajah perempuan bercadar itu langsung tertunduk... Aneh saja tindakan perempuan yang bersahabat dengan Almira ini. Nggak ada nyali untuk mengakui segala kesalahannya. Seharusnya dengan berpakaian tertutup seperti itu , dia harus lebih berhati-hati dalam menyikapi suatu hal. Ya, sudah! Toh Asti berlapang dada dengan semua peristiwa itu.
Pria tua itu tersenyum malu, sambil menatap Asti seakan-akan memohon pertolongan. Tetapi Leon adalah orang yang berhati sangat keras. Walaupun mereka hanya dilibatkan oleh Almira secara tak sengaja. Tetapi sikap mereka sudah berat sebelah.
" Mbak Asti apa tidak bisa menolong kami?"
" Menolong apa ya, Pak? " Tanya Asti bingung.
Sejak peristiwa dengan Almira! Asti mulai punya pandangan berbeda kepada beberapa wanita muda yang mempunyai kesempata melanjutkan pendidikannya sampai jenjang ke perguruan tinggi. Bahkan dapat mencapai gelar sarjana. Kok, mereka terkesan angkuh dengan sesama wanita lainnya. Apalagi berhadapan dengan wanita yang pendidikannya tidak setara dengan mereka... Contohnya dengan Almira dan Nurwati ini! Mereka yang berbuat salah kepadanya, dengan engan meminta maaf! Justru orang tuanya yang harus meminta maaf atas perbuatan anaknya itu.
Fenomena apa ini? Apa wanita seperti itu adalah permata dan kebanggaan dalam keluarganya? Sehingga mereka akan menerima segala tindakan yang dibuat anaknya itu, walaupun tindakan itu sangat salah!
__ADS_1
" Tolong, Mbak Asti! Tolong bujuk Pak Leon agar meneruskan kerjasamanya dengan calon menantu saya, ya. Mbak! Kami akan berusaha memenuhi segala syarat dan ketentuan dari Pak Leon! " Ucap Bapak itu perlahan.
" Lha, Kok, saya, Pak? Untungnya buat saya apa, untuk membujuk suami saya dengan perkara bisnis itu? Maaf saya tidak ada kepentingan apa - apa pada urusan pekerjaan Pak Leon!" Ucap Asti tegas.
" Ya, banyaklah untungnya buat kehidupan Mbak Asti dan anak-anak!" Sambar Si Ibu Atiek yang tampak gemas. Sebab wanita itu menilai, karena kesalahan anaknya , Asti tak mau diajak berkompromi.
" Tentu hidup Mbak Asti punya nyaman dan lebih makmur seperti sekarang ini. Tidak hanya sekedar bisa tinggal di ruma bagus dan bertingkat. Ada mobil di garasi yang siap dipakai berpergian ke mana pun! Malah saya lihat, banyak ART yang diperkerjakan Pak Leon untuk melayani semua keperluan keluarga Mbak Asti! Karena ada uang yang banyak! Bahkan Pak Leon juga memberikan bangunan empat ruko itu investasi Mbak Asti di masa depan!" Ujar Ibu Itu lagi memberikan penjelasan yang masuk akal menurutnya. Hanya ucapan wanita paruh baya itu terdengar bernada agak sinis, sambil memandang Asti.
"Maksud Ibu, kalau Pak Leon tidak berbisnis dengan Mas Qosim, saya nggak bisa menikmati rumah, mobil dan investasi dari ruko itu kan?"
" Bisa begitu, Mbak! Apalagi Nak Qosim ini sudah yatiam sejak dia berusia sepuluh tahun. Nggak baik Mbak! Menutup kesempatan dan rezeki untuk anak yatim yang sedang berikhtiar ... Ini tentu menjadi prestasi tersendiri buat dia... Nurwati pun akan membantu suaminya nanti untuk mengelola bisnis lainnya. Jika usaha itu semakin berkembang. Jadi nggak akan sia-sia, karena punya ijazah sarjana bisnis!"
" Jadi menurut ibu, kepentingan anak ibu dan calon menantu ibu itu yang lebih utama daripada kepentingan saya dan anak-anak, begitu? Jadi nggak perlu dong Bapak, Ibu dan Mas Qosim meminta bantuan kepada saya... Meminta maaf dengan benar saja, anak ibu tidak mau! Kok, bisa - bisanya saya yang harus repot dengan kepentingan kalian... Apalagi saya cuma wanita yang lahir di desa, berpendidikan rendah dan hanya sebagai ibu rumah tangga saja!" Jawab Asti santai.
Wanita yang mengenakan cadar abu- abu itu semakin tertunduk. Huh, angkuhnya! Bela sana, kepentingan Almira! Wanita seperti Almira itu memang cocoknya menjadi artis sinetron pendatang baru! Dia bisa mengambil peran sebagai tokoh antagonis yang merasa dirinya kalah dan teraniaya oleh tokoh protagonis karena mendapat balasan atas semua perbuatan kejinya itu. Ha,ha, ha. Mungkin judul sinetron itu adalah, 'Yang Jahat yang Teraniaya!'
Kedatangan Leon sudah terdengar dari suara mobilnya yang memasuki garasi depan. Tadi Joko sempat berangkat ke kantor Leon dengan mengendarai Honda jazz, karena ada suatu keperluan. Sehingga di sana hanya ada mobil milik Asti saja yang terparkir di garasi samping rumah.
Leon mengucapkan salam, setelah melihat banyaknya tamu yang ada di ruangan ini. Sedangkan istrinya hanya duduk sendirian... Cepat dia menghampiri Asti. Sambil menepuk bahunya dengan lembut.
" Maaf, sebelumnya! Saya nggak perlu berbasa-basi lagi! Saya sudah menekankan pada mas Qosim. Tolong jangan libatkan lagi istri saya dalam urusan bisnis ini! Saya tidak mau urusan pribadi tercampur dengan urusan pekerjaan! Sudah lama saya berusaha untuk menjaga kesehatan mental istri saya setelah perkara Almira. Eh, kemarin istri saya kembali diserang wanita jahat yang lainnya. Hanya karena hasutan temannya itu. Percayalah kepada kami, Almira akan selalu memanfaatkan kebaikan kalian! Tolong pikir lebih teliti lagi. Kalau dia nggak bersalah, mengapa diceraikan suaminya dan harus melarikan diri dari rumahnya di kampung?"
Wanita yang bercadar itu terhentak mendengar ucapan tajam Leon... Mata Mas Qosim berkaca-kaca. Kesalahannya kali ini sangat menyusahkan pikirannya dalam seminggu terakhir ini.
" Bapak dan Ibu sudah dengar kan? Prinsip Pak Leon sangat tegas, bukan? Sekarang silakan Bapak dan Ibu berbicara sendiri kepada beliau!" Kata Asti tak peduli.
" Bicara apa, Pak?" tanya Leon.
" Saya mohon, Nak Leon. Karena masalah ini, Nak Qosim jadi batal untuk menikahi Anak saya, Nurwati!"
" Bukankah itu kepentingan pribadi Mas Qosim sendiri? Kalau saya tidak suka berbisnis dengan orang yang tidak fair, kurang menghargai orang lain ... apalagi itu melibatkan uang yang sangat banyak. Juga Mas Qosim hatinya mudah disetir oleh kepentingan orang lain... Walaupun itu adalah calon istrinya..."
__ADS_1
" Maafkan saya, Pak Leon!"
" Sekarang Anda sedang berbicara bisnis dengan saya! Tetapi mengapa harus melibatkan calon istri dan calon mertua Anda? Apa ada untungnya bagi saya? Saya sudah bilang kalau membicarakan bisnis datang ke kantor saya. Bukan datang di rumah istri saya ini. Kalian sudah mengganggu ketenteraman keluarga saya di rumah ini !"