
Kegiatan rekontruksi pembobolan toko di pasar kecamatan semakin ramai saja didatangi oleh orang-orang. Para pengunjung di pasar malah lebih tertarik menonton peristiwa itu daripada berbelanja kebutuhan mereka hari ini. Karena sangat jarang terjadi pembobolan toko sebesar itu, sehingga pemilik toko hampir bangkrut setelah semua barang dagangan ludes.
Bahkan menonton rekontruksi itu lebih seru... Bila dibandingkan menonton acara pawai pembangunan yang sering diadakan tiap tahunnya, di jalan raya di depan kantor kecamatan. Atau diizinkannya ada kegiatan pasar malam di lapangan kecamatan.
Di sana juga terlihat Dania hanya duduk-duduk saja, di salah satu mobil patroli polisi yang berbentuk bak terbuka itu. Dia Juga ditemani oleh seorang petugas polwan. Tetapi warna bajunya yang mencolok itu, dengan tangan yang diborgol di depan , sudah menandakan kalau dia adalah salah satu dari anggota kelompok kejahatan tersebut.
Novelita masih dijadikan saksi. Jadi dia hanya memakai daster biasa. Tetapi Bulek Ratih menatap wajah perempuan muda itu agak lama. Seakan berusaha mengenalinya. Maklum wanita berambut kusut itu terlihat tak nyaman dengan keadaan perutnya yang sedang hamil besar itu.
"'Yuk, bukannya itu mantan anak tirinya, Bude Ayu, ya ?" bisik Mbak Mar. Hati - hati dia menunjuk kepada Novelita.
" Kok, kamu kenal dia, Mar?" tanya Bulek Ratih lagi.
" Dia kan anak bungsunya, Bu Condro kan? Itu lho, yang dulu ngatain- ngatain Bude Ayu pada acara tujuh belasan di depan gedung kelurahan. Padahal Bude Ayu dan ibu- ibu PKK dari Sendang Mulyo yang menang dalam lomba membuat tumpeng itu. Nah, anak perempuan itu yang protes keras. Dia menjadi provokator warga desa sebelah. Sampai berani menyebut Bude Ayu pelakor atau perusak rumah tangga orang tuanya!"
" Iya, mulutnya sampe ditampar sama Bu Parjo karena kesal dengan ucapan kasar anak perempuan yang masih bau kencur itu!' Balas Mbak Isni.
"Walah, benar memang itu Lita, kan? Kok, sekarang malah mirip kayak ibu- ibu yang punya anak tiga, ya? Padahal dia itu seumuran dengan Ninuk, deh!" ujar Bulek Ratih kaget.
Kasak- kusuk pun segera terjadi di antara para ibu- ibu yang menonton di sana. Mereka datang dari berbagai desa di pelosok kecamatan ini. Mereka tentu mengenal sosok Novelita. Sebab gadis itu suka nongkrong di alun- alun dengan penampilannya yang kurang pantas. Kaos ketatnya mencetak di tubuhnya yang padat dan berisi.. Belum lagi celana jeans robek-robek yang justru memperlihatkan paha mulusnya. betis dan lututnya. Malah rambut dicat pirang dengan campuran pink tidak jelas.
Novelita ternyata tidak menyelesaikan sekolahnya di bangku SMP. Terus hidup liar di terminal kota dan bergabung dengan gank anak motor itu. Bahkan diperkirakan wanita muda itu juga hamil anaknya Jago.
Suasana pasar di siang itu bertambah panas. Beraneka macam bau menyeruak dari parkiran di belakang pasar itu, tempat mobil - mobil petugas polisi diparkir. Di sampingnya ada bak penampungan sampah besar , dengan tumpukan bermacam aneka buangan sampah pasar yang menggunung di sana.
Tanpa sadar Bulek Ratih seperti menemukan benang merah dari akar segala peristiwa ini. Apa Novelita masih juga menyimpan dendam terhadap keluarga Winangun? Lalu, anak bungsu almarhum Pak Kushari itu mendekati Dania untuk diajak bergabung dengan kelompok Jago. Sampai Dania terpikat dengan rencana kerja mereka yang menurutnya menguntungkan, karena bisa menghasilkan uang banyak dalam sekejap.
Bulek Ratih diam- diam mengambil foto wajah Novelita dengan hapenya. Dia mengirimkan gambar itu ke grup arisan ibu- ibu di desanya. Sambil menanyakan sosok gadis itu yang mengaku anak dari almarhum Kushari itu.
Tak sampai 5 menit, WA Bude Ayu dengan foto Novelita mendapat jawaban, berbagai tanggapan dan pendapat dari para ibu- ibu pun bermunculan. Malah ada dua ibu- ibu yang segera bersiap-siap naik motor untuk berangkat menuju ke pasar kecamatan.
__ADS_1
Mereka juga tak mau ketinggalan dengan informasi terbaru dari rekontruksi pembobol toko sembako, di pasar Kecamatan. Sedangkan Ibu -ibu yang lain tetap memantau berita heboh itu dari rumah.
" Ini benar berita itu ,Yuk?" tanya Mbak Mar lagi. Sambil menunjuk beberapa foto sepasang pengantin dalam acara yang sangat sederhana sedang mengucapkan ijab kabul.
Ternyata Jago pernah menikahi Novelita secara siri dua bulan yang lalu. Mereka dinikahkan di rumah Bu Condro, di desa sebelah. Ada foto - foto pasangan itu memakai baju pengantin. Tetapi Bulek Ratih hapal wajah dua wanita tua yang turut hadir di sana. Mereka itulah kedua istri dari almarhum Kushari.
Bisik- bisik terjadi antara Mbak Mar dan Mbak Asni. " Lha, kalau nikahnya baru dua bulan lalu, itu perut Novelita sudah mau meletus begitu! Apa nggak buat warga desa sebelah 'kebakaran Jengot' malah? Padahal semboyan masyarakat desa sebelah adalah " desa santun, hidup rukun, dengan warga desa berakhlak mulia!"
"'Jangan - jangan Pak Kyai Mustofa Abidin ngamuk nanti? Desa yang dikelolanya dengan pagar agama dan kemuliaan itu dikotori oleh Novelita dengan tindakannya ini?"
Mbak Isni tersenyum miris. Memang desa di sebelah selalu mengedepankan nilai- nilai luhur dari Agama Islam. Sebab Pak Kyai Mustofa yang dikenal santun dan agamais itu telah mendirikan masjid besar di sisi Jalan raya antar kota. Di sisi masjid itu juga berdiri gedung megah berlantai tiga. Gedung Yayasan pendidikan miliknya itu menyelenggarakan sekolah berbasis agama Islam dari tingkat TK, SD sampai SMP.
" Apa Asti perlu diberitahu berita ini, Yuk?" tanya Mbak Isni
" Jangan!" Bisik Bulek Ratih. " Biar nanti belakangan saja tahunya. Kalau sekarang agak menganggu kestabilan emosinya. Sepertinya dengan kehamilannya itu membuatnya Asti kurang nrimo dengan keadaan.. "
" Maksud, Yuk Ratih?"
" Susah, ya.Yuk? Kalau perempuan muda, cantik , dan terlalu pintar karena mempunyai pendidikan tinggi seperti Mbak Almira itu. Padahal cara dia masuk ke hubungan Asti dan Leon itu sangat menggangu, walaupun secara halus dan berkelas. Dasar calon pelakor! Apa dia tidak mengoreksi dirinya sendiri? Mengapa Pak Leon lebih memilih Asti menjadi istrinya daripada dirinya. Nggak Nrimo, ya?" Papar Mbak Mar.
" Biar Asti menguatkan dirinya dulu. Maklum bawaan bayi. Nanti juga dia dapat mengatasi semua permasalahan rumah tangganya itu ..."
Bulek Ratih mendapatkan semua informasi itu dari Bu Jum. Tampaknya pengasuh Akbar itu terlalu hapal dengan cara bersikap Mbak Almira yang agak berbeda bila ada Pak Leon. Tentu Bu Jum lebih berpengalaman, karena banyak makan asam garam kehidupan dalam pernikahan. Apalagi Bu Jum merantau dan bekerja di Bandung dan Jakarta... Suami majikan Bu Jum pada umumnya adalah pengusaha. Sehingga Bu Jum sering menghadapi intrik dan munculnya perempuan lain yang menjadi orang ketiga yang hadir dalam rumah tangga majikannya. Untungnya, saat ini Leon lebih fokus terhadap pekerjaan dan kehamilan Istrinya.
" Semakin ke sini, dunia kok semakin edan, ya. Isni! Ini Novelita yang kena karmanya sendiri! Karena dulu sering ngatain Bude Ayu di depan orang satu kecamatan. Kini kita nggak perlu teriak - teriak saja, dia sudah mempermalukan dirinya sendiri! Mana hamil besar, suami mati kena tembak lagi... Duh, kasihan kamu, Nduk! " Ujar Mbak Mar lagi wajahnya tampak melas.
" Maksudnya, apa kita tunggu ulah Mbak Almira selanjutnya, begitu?
Untuk menjadi orang ketiga di rumah tangga Asti dan Leon?" bisik Mbak Isni tak mau kalah.
__ADS_1
Suara toa itu terus memberi aba- aba pada kelompok pembobol itu, untuk melakukan berbagai kegiatan sesuai yang ada di BAP. Pantas kelompok pembobol itu bergerak dengan cepat, setelah mengamankan hampir 3 dus besar berisi rokok dan lainnya. Sebab di dekat pintu gerbang belakang, sudah diletakkan sebuah meja kayu bekas dagangan. Dari meja itu mereka melompat dan membawa hasil jarahan itu ke sebuah rumah kosong di belakang pasar. Sedangkan bekas pembungkus dusb rokok itu mereka tumpuk di dekat alun- alun untuk menyamarkan lokasi penyimpanan barang jarahan sebenarnya. Sebelum diangkut ke tempat lain yang lebih aman.
Di sana tampak seorang wanita tua bertubuh tambun menyeruak di antara penuhnya penonton. Dia Ibu Condro Kushari. Sebuah payung dan air minum dalam botol disodorkan wanita itu kepada anak perempuan bungsunya itu. Ada satu dari beberapa penonton itu yang merekam kegiatan wanita yang merupakan ibu kandung dari Novelita.
Mata tajam Bulek Ratih terus mengamati kegiatan itu. Dulu kedua istri Pak Kushari itu terpaksa menerima kehadiran Bude Ayu sebagai madunya juga karena ancaman suaminya itu. Sebab kelima anak -anaknya dari dua orang istrinya tersebut selalu membuat ulah yang sangat meresahkan warga di sana. Tentu dengan berbagai masalah yang mengurangi rasa hormat warga desa terhadap kredibilitas dirinya, yang mau maju lagi dalam pemilihan kades periode berikutnya. Dia meminta bantuan Pak Harjo Winangun, sahabatnya. Saat itu dia membutuhkan pendamping yang mempunyai nama baik seperti Ayu Sulaksmi. Anak perempuan Pak Harjo Winangun yang menjanda sejak mengurus Asti yang masih bayi sampai kelas 5 SD.
Anak - anak itu Pak Kushari tumbuh dan dibesarkan oleh kedua istri Pak Kushari yang saling berseteru. Tentu guna mendapatkan perhatian lebih dari Pak Kushari, yang sangat kaya dan hidup makmur dengan berbagai pabrik dan usahanya di desa sebelah.
Anak-anak mereka itu pun terbiasa hidup dari kecil dengan berkelimpahan harta, suka berfoya-foya dan suka menghujat antar sesama saudara lain ibu itu. Sehingga membuat mereka menjadi terperdaya. Mereka malas sekolah, tidak mau bekerja dan hidup santai. Sekarang harta mereka pun ludes, setelah Pak Kushari wafat.
Anak- anaknya yang telah tumbuh dewasa itu selalu memberi rasa malu pada keluarga almarhum Kushari dengan perbuatannya negatifnya. Dimulai dari Mas Timbul sekarang si bungsu Novelita. Entah besok siapa lagi?
Padahal masih ada tiga anak lagi dari almarhum pak Kushari, yang hidupnya luntang-lantung tanpa pekerjaan yang layak. Semua anak- anak itu sudah berkeluarga. Mereka hanya mempunyai rumah yang masih ditinggali, masing-masing isteri. Segala harta peninggalannya dan semua warisan kekayaan ayahnya karena dijual untuk kebutuhan hidup dan mencoba berbagai usaha yang kadang tak berjalan lancar.
Tiba- tiba tatapan Bulek Ratih dan Bu Condro saling bertemu. Wanita bertubuh subur itu tertunduk malu. Segera dia menutup wajahnya dengan kerudung di kepalanya, mundur dan masuk ke dalam kerumunan orang banyak.
" Lihat Bude Ayu! " Bisik Bulek Ratih pelan sambil menengadah kepalanya ke langit. " Satu persatu orang yang menjatuhkan mu, mempermalukan dan menghina jati dirimu telah mendapatkan balasan dari Gusti Allah. Terimakasih, Ya Robb! Bahwasannya perbuatan yang salah akan tetap salah sedangkan yang benar akan tetap menjadi kebenaran!"
Toa kembali mengumandangkan suara si bapak pemimpin team rekonstruksi itu, memberitahukan kalau kegiatan itu telah dihentikan. Suasana siang semakin panas menjelang pukul 12.00. Beberapa mobil patroli polisi yang membawa para pembobol toko itu, keluar dari parkiran di belakang pasar. Mereka, para tertuduh itu duduk di dalam mobil bak terbuka, dikawal oleh anggota polisi dengan bersenjata lengkap.
Dania menatap mata Bulek Ratih tanpa berkedip saat mobil yang dinaikinya bersama Novelita melewati toko mereka. Justru Puspita dan Ningrum yang berteriak heboh sambil melambai- lambaikan tangannya. Dania tertunduk ketika melihat Ningrum, pesaing hebatnya sejak mereka sekolah di SD dan SMP!
" Eh, dia kenal kamu tuh, Ningrum!" ujar Puspita mengingatkan.
" Biar Pita... Dania itu sudah miskin, sombong, banyak gaya, tukang nyolong lagi !"
" Maksudnya, kamu tahu tentang Dania yang suka mencuri?"
" Iyalah, dia sering pamer pakai baju- baju baru dan bagus hampir setiap minggunya. Pastinya Mbak Asti nggak tahu, kalau baju baru itu diambilnya dari toko ini. Setiap bulan selalu berganti model. Kita tahulah berapa gaji penjaga toko itu jumlahnya ? Dia juga kan harus membantu ekonomi keluarganya!"
__ADS_1
Bulek Ratih, Mbak Isni dan Mbak Mar terdiam. Mereka agak kaget mendengar ucapan Ningrum yang ceplas - ceplos. Sebab dia tinggal di rumah orangtuanya yang bertetangga dengan rumah orang tua Dania di desa belakang pasar.
.